(Membaca Rahasia Taqdīm wa Ta’khīr dalam Al-Qur’an)
Halimi Zuhdy
Entah sudah berapa banyak bacaan yang membahas mitos, dongeng, kematian, dan akhirat. Pandangan manusia pun beragam: ada yang sama sekali tidak percaya, ada yang ragu, ada yang percaya berdasarkan wahyu, ada yang mengaitkannya dengan sains, dan ada pula yang meyakininya melalui tafsir yang sangat personal, bahkan terkadang aneh. Perbedaan ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan hanya percaya atau tidak, tetapi juga bagaimana manusia memahami sumber pengetahuan dan menafsirkan sesuatu yang berada di luar jangkauan pengalaman empiris.
Ada sesuatu yang menarik dalam cara Al-Qur’an berbicara tentang manusia. Ketika menyebut pendengaran dan penglihatan, Al-Qur’an berkali-kali menggunakan susunan:
السَّمْعُ وَالْبَصَرُ
"pendengaran dan penglihatan"
Bahkan dalam beberapa ayat, susunan itu diperluas menjadi:
السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ
"pendengaran, penglihatan, dan hati"
Tetapi ada satu ayat yang menarik karena urutannya justru berubah.
Dalam QS. as-Sajdah 32: 12, orang-orang yang dahulu mengingkari kebenaran berkata:
رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ
“Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan kami telah mendengar. Maka kembalikanlah kami, niscaya kami akan beramal saleh. Sesungguhnya kami sekarang benar-benar yakin.”
Mengapa kali ini mata didahulukan daripada telinga? Apakah ini sekadar variasi bahasa ? Ataukah ada sesuatu yang sedang dibangun Al-Qur’an melalui perubahan urutan tersebut?
Di sinilah keindahan balāghah Al-Qur’an mulai terlihat. Dari “Mendengar” Menjadi “Melihat” Dalam kehidupan dunia, manusia sering berada pada posisi mendengar sebelum melihat. Kita mendengar berita tentang sesuatu sebelum menyaksikannya. Kita mendengar tentang sebuah tempat sebelum mengunjunginya. Kita mendengar tentang sebuah peristiwa sebelum melihatnya sendiri. Demikian pula berita tentang akhirat.
Para rasul telah menyampaikan tentang kebangkitan, hisab, surga, neraka, dan pertanggungjawaban manusia. Semua itu terlebih dahulu hadir sebagai khabar—berita yang harus diterima dengan iman. Tetapi persoalannya, berita dapat dipercaya atau didustakan.
Inilah yang terjadi kepada orang-orang yang digambarkan dalam QS. as-Sajdah: 12. Mereka telah mendengar. Tetapi mereka tidak percaya.
Mereka telah memperoleh informasi. Tetapi informasi itu tidak mengubah sikap. Mereka mengetahui berita tentang akhirat, tetapi tidak menjadikan pengetahuan itu sebagai dasar amal.
Kemudian datanglah suatu hari ketika berita itu tidak lagi menjadi berita. Ia menjadi kenyataan. Apa yang dahulu hanya didengar, sekarang dilihat. Karena itu mereka berkata:
أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا
"Kami telah melihat dan kami telah mendengar"
Seakan-akan Al-Qur’an sedang memperlihatkan kepada kita sebuah perpindahan:
مِنَ الْخَبَرِ إِلَى الْعَيَانِ
dari berita menuju penyaksian
Menariknya, Ayat Itu sudah dimulai dengan “Melihat”. Ada detail lain yang membuat susunan tersebut semakin menarik. Sebelum ucapan mereka:
أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا
Allah terlebih dahulu berfirman:
وَلَوْ تَرَى إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُءُوسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ...
“Seandainya engkau melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepala mereka di hadapan Tuhan mereka....”
Perhatikan kata pertama:
تَرَى
“engkau melihat.”
Kemudian digambarkan:
نَاكِسُو رُءُوسِهِمْ
“mereka menundukkan kepala.”
Baru setelah itu muncul:
«أَبْصَرْنَا
“kami telah melihat.”
Seakan-akan ayat tersebut sedang membangun sebuah adegan visual. Pembaca diajak untuk “melihat” terlebih dahulu. Kita diperlihatkan manusia yang dahulu sombong, tetapi kini kepalanya tertunduk. Kemudian dari mulut mereka keluar pengakuan:
أَبْصَرْنَا
“Kami telah melihat.”
Dalam perspektif balaghah, ini menarik karena kata "absharna/ أبصرنا" tidak berdiri sendirian. Ia hadir dalam sebuah jaringan makna yang sejak awal ayat telah dibangun melalui kata ترى dan gambaran visual ناكسو رؤوسهم.
Dengan kata lain:
تَرَى → نَاكِسُو رُءُوسِهِمْ → أَبْصَرْنَا
Melihat → menyaksikan keadaan mereka → mereka sendiri mengakui: “Kami telah melihat.”
Tetapi “Melihat” di sini bukan sekadar aktivitas mata.Di sinilah kita perlu berhati-hati. Jangan memahami أبصرنا hanya sebagai aktivitas biologis mata. Dalam konteks ayat, melihat memiliki dimensi epistemologis: mengetahui melalui penyaksian yang tidak mungkin lagi dibantah. Mereka bukan sekadar melihat sebuah pemandangan.
Mereka melihat kebenaran yang dahulu mereka ingkari. Mereka melihat kebangkitan. Mereka melihat akibat perbuatan. Mereka melihat kenyataan yang dahulu hanya mereka dengar dari para rasul.
Karena itu, setelah:
أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا
muncul:
إِنَّا مُوقِنُونَ
“Sesungguhnya kami benar-benar yakin.”
Perhatikan pergerakannya:
أَبْصَرْنَا → سَمِعْنَا → مُوقِنُونَ
Melihat → mendengar → menjadi yakin.
Di sinilah yaqīn memperoleh tekanan yang sangat kuat. Mereka akhirnya yakin bukan karena memperoleh berita baru, melainkan karena realitas yang dahulu mereka tolak kini telah hadir di hadapan mereka.
Tragisnya: Mereka Baru Yakin Ketika Sudah Terlambat. Barangkali inilah bagian paling menyentuh dari ayat tersebut. Setelah mengatakan:
أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا
mereka langsung meminta:
فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا
“Maka kembalikanlah kami, agar kami dapat beramal saleh.”
Perhatikan hubungan antara pengetahuan dan tindakan. Mereka kini telah melihat. Mereka kini telah mendengar. Mereka kini yakin. Maka mereka ingin kembali.
Untuk apa?
نَعْمَلْ صَالِحًا
“Agar kami dapat beramal saleh.”
Ini menunjukkan bahwa problem mereka dahulu bukan semata-mata tidak memiliki informasi. Mereka telah mendengar. Masalahnya adalah bahwa apa yang mereka dengar tidak mereka transformasikan menjadi keyakinan dan amal. Dan ketika keyakinan itu akhirnya sempurna karena realitas sudah tersingkap, kesempatan beramal telah berakhir.
Di sinilah ayat tersebut menjadi sangat relevan dengan kehidupan manusia hari ini. Sebab kita juga sering memiliki banyak pengetahuan. Kita tahu bahwa waktu terbatas. Kita tahu kematian pasti datang. Kita tahu bahwa setiap perbuatan memiliki konsekuensi. Kita tahu bahwa kehidupan tidak hanya tentang dunia. Tetapi mengetahui belum tentu berarti berubah.
Al-Qur’an tidak Mengatakan “Pendengaran selalu lebih utama”. Di sinilah kita perlu menghindari kesimpulan yang terlalu sederhana. Tidak tepat jika dari banyaknya ayat yang mendahulukan sam‘ kemudian disimpulkan: “Pendengaran selalu lebih penting daripada penglihatan.” Sebab Al-Qur’an sendiri menunjukkan variasi.
Dalam QS. al-A‘rāf 7: 195, misalnya, muncul:
أَمْ لَهُمْ أَعْيُنٌ يُبْصِرُونَ بِهَا أَمْ لَهُمْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا
“Apakah mereka mempunyai mata untuk melihat atau mempunyai telinga untuk mendengar?”
Di sini penglihatan didahulukan. Maka yang lebih menarik bukan bertanya: “Mengapa telinga selalu didahulukan?” tetapi: "Mengapa Al-Qur’an mendahulukan telinga pada konteks tertentu dan mata pada konteks yang lain?"
Jawabannya membawa kita kepada salah satu prinsip penting dalam ilmu balaghah:
مُرَاعَاةُ مُقْتَضَى الْحَالِ
memperhatikan tuntutan konteks. Artinya, susunan kata tidak harus mengikuti formula yang kaku. Ia mengikuti maqām—situasi, tujuan, dan konteks pembicaraan.
Ketika “Mendengar” menjadi awal pengetahuan. Dalam banyak ayat, sam‘ memang sangat dekat dengan proses menerima wahyu dan informasi. Manusia mendengar firman. Mendengar nasihat. Mendengar ilmu. Mendengar seruan para rasul.
Maka secara konseptual kita dapat menggambarkan:
السَّمْع → التَّلَقِّي
Pendengaran → menerima informasi.
Kemudian:
البَصَر → الْمُشَاهَدَة
Penglihatan → menyaksikan realitas.
Dan akhirnya:
الْفُؤَاد → الْفَهْمُ وَالْوَعْيُ
Hati → memahami dan menyadari.
Karena itu susunan:
السَّمْع → البَصَر → الفُؤَاد
dapat dibaca sebagai salah satu kemungkinan struktur epistemik: menerima → mengamati → memahami. Tetapi sekali lagi, ini adalah pembacaan balaghah dan tafsir, bukan formula ilmiah yang harus dipaksakan kepada setiap ayat.
Toyyib. Lalu mengapa di akhirat justru “Melihat” lebih dahulu?
Karena situasinya telah berubah. Di dunia:
مَسْمُوعٌ وَلَمْ يَكُنْ مُشَاهَدًا
Ia didengar, tetapi belum disaksikan.
Di akhirat:
مُشَاهَدٌ بَعْدَ أَنْ كَانَ مَسْمُوعًا
Ia disaksikan setelah sebelumnya hanya didengar. Maka sangat masuk akal jika dalam konteks QS. as-Sajdah: 12 muncul:
أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا
Yang dahulu hanya menjadi khabar, kini menjadi ‘iyān. Yang dahulu berupa informasi, kini menjadi kenyataan. Yang dahulu membutuhkan iman, kini tidak lagi membutuhkan pembuktian. Namun justru di situlah tragedinya: ketika kenyataan sudah terlihat, kesempatan untuk memilih telah berakhir.
Jangan Tunggu Sampai Semuanya Terlihat Ada pelajaran yang lebih luas dari ayat ini. Kita sering baru percaya setelah melihat. Baru menghargai kesehatan setelah sakit. Baru menghargai orang tua setelah kehilangan. Baru menghargai waktu setelah kesempatan berlalu. Baru memahami nilai nasihat setelah mengalami akibatnya. Padahal kehidupan yang matang bukanlah kehidupan yang selalu menunggu pengalaman pahit untuk memperoleh keyakinan.
«التقديم والتأخير في القرآن ليس ترتيبًا آليًّا، بل هو ترتيبٌ يخدم المعنى والسياق.»
Pendahuluan dan pengakhiran dalam Al-Qur’an bukan susunan mekanis, melainkan susunan yang melayani makna dan konteks. Dan QS. as-Sajdah: 12 memberikan contoh yang sangat kuat. Dahulu mereka mendengar tetapi mendustakan. Kemudian mereka melihat lalu meyakini. Tetapi keyakinan itu datang setelah kesempatan untuk mengubah kehidupan telah tertutup. Maka mungkin pesan terdalam ayat ini bukan sekadar tentang telinga dan mata. Ia tentang kesempatan. Tentang pengetahuan yang harus berubah menjadi keyakinan.
Tentang keyakinan yang harus berubah menjadi amal. Dan tentang sebuah penyesalan yang jangan sampai baru kita pahami ketika kita sudah tidak lagi memiliki kesempatan untuk berkata:
«فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا»
“Maka kembalikanlah kami, agar kami dapat beramal saleh.”
Sebab di dunia, kita masih memiliki satu karunia yang belum dimiliki mereka: kesempatan untuk mendengar sebelum melihat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar