السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Kamis, 04 Januari 2024

Bahasa Jawa, Bahasa Paling Detail di Dunia?

Halimi Zuhdy

Ada teman dari Jawa, agak sedikit pamer bahasa Jawa, "Tadz, satu-satunya bahasa di dunia yang paling detail itu bahasa Jawa!" Katanya.

"Loh, masak sih!" Saya tanya balik. 
"Ia tadz, tentang beras misalnya, bahasa Inggris "rice", bahasa Arab "ruz", hanya itu saja, berbeda dalam bahasa Jawa. Dalam bahasa Jawa ada beberapa istilah untuk nasi, saat masih di sawah disebut "pari", saat dipanen dan dilepas dari tangkainya disebut "gabah", setelah diselip (dipisahkan isi dari kulitnya) disebut "beras", jika saat diselip ada butiran beras yang tidak terkelupas kulitnya disebut "las". Hasil selipan yang hancur menjadi butiran kecil-kecil disebut "menir". Beras direndam lalu diselipkan jadi tepung disebut "glepung". Apabila beras dimasak untuk dimakan disebut "sego", sebutir nasi saja disebut "upo". Jika nasi dijemur dan kering disebut "karak" (gurusiana. com) katanya. 

"Itu tidak benar lo akhi, kenapa urusan nasi atau beras di Jawa itu detail sekali, karena beras/nasi itu makanan orang Jawa, ini hanya persoalan makanan dan budaya saja. Kalau di Arab, kurma itu sangat kaya sekali, di Jawa kata "kurma" ia kurma saja." Saya sambil tersenyum. 

"Coba jelaskan lebih detail tadz!" Ia mulai penasaran.

"Kata kurma, dari variasinya saja ada 2000, belum namanya, belum lagi dari kurma mentah, kurma masak, kurma kering dan lainnya, itu bisa ratusan macam lo. Di Yordania misalnya ada; Barhi, Bou Maan, Khadrawi, Khalas, Tigris Cahaya, Zuhdi, Sukari, Maktoumi, Zaghloul, Ahmar Talal, Zainab jari, Khastawi, Hayani. Belum tentang unta, kambing, dan lainnya. Urusan tidur saja, dalam bahasa Arab itu sangat kaya lo; pengantar tidur "sinah", awal tidur "nu'as, ngantuk", tidur yang tidak nyenyak/terputus "huju", tidur nyenyak banget "ruqud", tidur di siang hari "qailulah" dan lainnya" saya jawab sedikit saja tentang kekayaan bahasa Arab. 

"Benar juga ya!" Ia terdiam, dan mencari-cari kata-kata lain. "Yes, pasti kalau urusan bau yang lengkap hanya bahasa Jawa tadz", rupanya ia masih belum puas, dan menganggap bahasa Jawa, bahasa terkaya di Dunia. 

"Tadz,  bau istilahnya banyak lo di Jawa ada; tengik, penguk, badheg, amis, arum, apek, sengak, wangi dan lainnya, caba dalam bahasa Arab apa!?, pasti hanya satu!" Katanya dengan bangga. 

"Akhi, bau dalam bahasa Arab itu juga kaya:  
طيب (tayyib) - harum, enak
رائحة (riḥlah) - bau, aroma
نفحة (nafahah) - hembusan angin, aroma
عبق (ʿubq) - aroma yang kuat
كريه (karīh) - busuk, menjijikkan
نتن (naṭn) - busuk, bau busuk
منتن (muntan) - busuk, bau busuk
خبيث (khabīth) - busuk, buruk
مقيت (maḳīṭ) - menjijikkan, menjijikkan

"Itu masih belum seberapa akhi, intinya, setiap bahasa di dunia, memiliki kekayaan sendiri dan kekhasan sendiri, maka jangan menyepelekan bahasa apa pun" sambil saya tersenyum dan menutup perbincangan.

Setiap bahasa di dunia memiliki kekayaannya sendiri. Kekayaan ini dapat dilihat dari berbagai aspek, salah satunya adalah kosakata. Kosakata bahasa mencerminkan budaya dan kehidupan masyarakat pengguna bahasa tersebut. Dalam bahasa Indonesia, kita dapat melihat kekayaan kosakata yang berkaitan dengan beras.

Istilah-istilah beras tersebut menunjukkan betapa pentingnya beras dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Beras merupakan makanan pokok yang dikonsumsi oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, bahasa Indonesia memiliki kosakata yang sangat detail untuk menggambarkan beras, mulai dari bentuk, warna, cara memasak, hingga cara penyajiannya.

Berbeda dengan kurma dalam bahasa Arab. 
Istilah-istilah kurma menunjukkan betapa pentingnya kurma dalam kehidupan masyarakat Arab. Kurma merupakan buah yang sangat populer di Arab dan sering dikonsumsi sebagai makanan pokok maupun camilan. Oleh karena itu, bahasa Arab memiliki kosakata yang sangat detail untuk menggambarkan kurma, mulai dari jenis, warna, hingga cara pengolahannya.

Kekayaan kosakata bahasa Indonesia dan bahasa Arab tersebut menunjukkan betapa kayanya budaya dan kehidupan masyarakat pengguna bahasa tersebut. Kekayaan ini merupakan aset yang berharga yang harus dilestarikan. 

Solo, 4 Januari 2024

Tidak ada komentar:

Posting Komentar