السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Minggu, 28 Mei 2023

Asal kata Maghfirah (Ampunan)

Halimi Zuhdy

Membidik satu kata, seperti menelisik banyak kata, dan akan bertemu dengan berbagai kata yang seakar dengan asal katanya. Seperti kata Magfirah (ampunan) dan Istighfar (permohonan ampunan), maka akan mendapatkan kata yang seakar dengan maghfirah, yaitu mighfarah, ghufran, ghaffar, ghafir dan lainnya. 

Maghfirah (مغفرة) dan istighfar (استغفار) dari kata al-ghafr( الغَفر), yaitu tutup, menutupi dan menyembunyikan. Maka, tutup atau pakaian untuk kepala dalam bahasa Arab disebut dengan al-Mighfar (المغفر), yaitu pakaian dari besi yang diletakkan prajurit di bawah helmnya, untuk melindunginya dari hantaman senjata (seperti dalam gambar). Sebagaimana dalam hadis sahih riwayat Bukhari; "bahwa Nabi Muhammad  memasuki Makkah pada Fathu Makkah beliau memakai al-mighfar (penutup) di kepalanya". 

أن النبي ﷺ: (دخل مكة عام الفتح وعلى رأسه المِغْفَر).

Dan yang menarik, bila seseorang memohon Maghfirah Dzunub (ampunan dosa-dosa) seakan-akan memohon untuk menutupi dosa-dosanya (yastur dzunub), dan (menutupi dengan tabir-Nya) mengabaikannya dan tidak menghukum atau menyakitinya.

Kata Maghfirah adalah menutupi. Seperti doa "Allahummaf fir dzunubana", Ya Allah tutupilah dosa-dosa kami, atau sering diterjemah dengan ampunilah dosa-dosa kami. Apa yang dimaksud dengan Allah menutupi dalam kata ini?

Ada beberapa arti dari makna menutupi, yaitu menutupi keburukan atau kejelekan seseorang. Karena tidak ada manusia yang tidak punya cela, kejelekan atau keburukan, maka seseorang yang dapat maghfirah, adalah mereka yang ditutupi keburukannya. Atau juga menutupi dosa-dosa yang telah dilakukan seseorang. 

Betapa manusia dipenuhi keburukan, baik secara fisik atau dhahir. Kalau seandainya dibuka kulit yang menyelimuti tulang dan isi perut, maka akan tersingkap kotoran-kotoran fisik manusia. Belum lagi kotoran hati; iri, dengki, dan lainnya, yang seandainya dibuka, maka akan terlihat semua keburukannya. Belum lagi keburukan dari perilaku-perilaku manusia. Maghfirah min dzunub menutup dosa-dosa.


Memperbanyak istighfar, seolah-olah memohon kepada Allah untuk menutupi dosa-dosanya. Al-Mighfar 

An-Nuqayah Guluk-guluk, 28 Mei 2023

Sabtu, 13 Mei 2023

Seperti Biji Kopi, Dipanaskan, baru terasa lezatnya

(Terkadang berbahagia, orang yang didengki)

*Halimi Zuhdy

Orang yang didengki dan dibicarakan keburukannya sering kali dianggap sebagai pohon gaharu yang semerbak baunya menyebar karena dibakar, atau seperti biji kopi yang melalui proses pemanggangan, penumbukan, dan pemasakan untuk menghasilkan kelezatan yang dapat dinikmati. Meskipun pada awalnya mungkin terdapat penderitaan dan kesulitan, mereka akhirnya mampu menghadirkan manfaat dan kebaikan kepada orang banyak. 

وَإِذَا أَرَادَ اللهُ نَشْرَ فَضِيْلَةٍ طُوِيَتْ أَتَاحَ لَهَا لِسَانَ حَسُوْدِ
لَوْلاَ اشْتِعَالُ النَّارِ فِيْمَا جَاوَرَتْ مَا كَانَ يُعْرَفُ طِيْبُ عَرْفِ الْعُوْدِ

“Bila Allah berkehendak menyebarkan keutamaan yang tersimpan, maka Dia memberi kesempatan lidah pendengki untuk ikut menyebarkan. Seandainya bukan karena rayapan nyala api, maka wanginya kayu gaharu tidak akan diketahui” (Diwan Abu Tammam)

Orang yang didengki seringkali menjadi sasaran kecemburuan atau ketidakpuasan orang lain terhadap kesuksesan, kelebihan, atau prestasi yang mereka miliki. Mereka mungkin memiliki bakat istimewa, kecerdasan, keterampilan, atau kualitas pribadi yang menonjol, sehingga menimbulkan rasa iri atau tidak nyaman pada orang lain. Namun, sikap yang berbeda ini dapat menjadi berkah baginya, orang yang sebelumnya tidak mengenal kebaikannya, kemudian masyarakat tahu, bahwa ia tidak seperti keburukan yang dibicarakan orang. 
Seperti pohon gaharu yang semerbak baunya menyebar karena dibakar, orang yang didengki memiliki kemampuan untuk menghadirkan perubahan positif dan menginspirasi orang lain melalui kualitas dan prestasi mereka. Ketika mereka dihadapkan pada kesulitan atau kecaman, mereka tidak membiarkan hal tersebut meruntuhkan semangat mereka. Sebaliknya, mereka memanfaatkannya sebagai dorongan untuk menjadi lebih kuat dan mencapai kesuksesan yang lebih besar. Mereka berjuang melawan hambatan dan menjadikan pengalaman negatif sebagai kesempatan untuk tumbuh dan berkembang.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02Q6ijrXSA1T163iP9HbLR5vhbMduE9mTxAm7gDNz63YeTsz5WkUCssSckVvuEMbDWl&id=1508880804&mibextid=Nif5oz

Selain itu, seperti biji kopi yang melalui proses pemanggangan, penumbukan, dan pemasakan untuk menghasilkan kelezatan yang dapat dinikmati, orang yang didengki juga mengalami transformasi melalui perjuangan mereka. Mereka belajar dari pengalaman-pengalaman sulit dan tantangan yang mereka hadapi, dan dengan tekad yang kuat, mereka berhasil mengatasi rintangan tersebut. Setiap penderitaan dan ketidakadilan yang mereka hadapi menjadi bahan bakar bagi mereka untuk menjadi lebih baik, lebih bijaksana, dan lebih memahami.

Lebih jauh lagi, ketika orang yang didengki memilih untuk tidak membalas kebencian atau kejahatan yang dilakukan terhadap mereka, mereka memperlihatkan integritas yang luar biasa. Mereka menggunakan kebaikan dan keadilan sebagai senjata mereka. Meskipun mungkin tergoda untuk membalas dendam atau melibatkan diri dalam siklus kebencian, mereka memilih untuk mempromosikan kedamaian, pengertian, dan persaudaraan. Dalam menghadapi cemoohan dan omongan buruk, mereka tetap menjaga martabat dan kebajikan mereka.

Dalam mengenalkan kebaikannya kepada orang banyak, orang yang didengki mampu memberikan inspirasi, motivasi, dan teladan bagi orang lain. Keberhasilan mereka dan perjalanan hidup mereka yang penuh tantangan menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang yang menghadapi kesulitan.

Kopi pahit, menjadi indah dan terasa lezat, bagi mereka yang merasakan perihnya ditumbuk dan dipanaskan. Lidah-lidah pendengki sering kali menyebarkan keburukan, tetapi terkadang menghasilkan kebaikan pada orang yang didengki.

***""
_Kajian-kajian Al-Qur'an, Mukjizat Al-Quran, Balaghah, Sastra Arab, Turast Islamiyah, Keagamaan,  Kajian Bahasa dan asal Muasal Bahasa, dan lainnya._

🌎 www.halimizuhdy.com
🎞️ YouTube *Lil Jamik*
📲  Facebook *Halimi Zuhdy*
📷 IG *Halimizuhdy3011*
🐦 Twitter *Halimi Zuhdy*

Senin, 01 Mei 2023

Pergeseran makna Halal bi Halal

(Mengurai Kata Halal)

Halim Zuhdy

Setiap bulan Syawal kata Halal bi halal menjadi tren dan trending di Nusantara. Kata bahasa Arab yang bukan susunan atau ungkapan Arab ini sangat unik untuk dicermati, walau berasal dari bahasa Arab, tetapi susunannya adalah Nusantara. Sebelum melihat pergeseran makna halal, mari kita urai arti kata halal.
Halal (حلال), adalah masdar (kata verbal/kata benda grundial) dari Hal-Yahillu. Kata yang terkait dengan kata Halal yang sering kita dengar adalah tahallul, hilal (tandu untuk perempuan), tahlil, muhallil, hillu dan hallu (waktu tahallul), hullah (pakain), ibnu halal (anak sah), al-sihru al-halal (permainan sulap), dan halal dalam hukum syariah adalah sesuatu yang diperbolehkan.

Dan kata yang terkait dengan "halla" adalah bermakna memerdekakan diri (حل من), bebas, solusi (حَل), berdiri (حل ب), berhenti (حل), tetap (حل عليه), dicairkan (حُل الجامد), melepaskan, benar, dan masih puluhan kata yang berasal dari kata ini.

Kata halal ini tidak hanya digunakan untuk makanan (yang selama ini hanya ditemukan pada logo halal), tetapi juga pada hewan, pakaian, muamalah, dan sesuatu yang terkait dengan hukum syariat. Maka kata al-syar’i ada yang memaknai adalah dengan kata al-halal (seperti di atas).

Syekh Ratib misalnya, “Mengapa harta halal disebut halal, karena ia sesuai dengan yang diharapkan jiwa, atau jiwa merasa senang dan tenang. Mengapa harta haram, disebut haram. Kerena ia menghalangi seseorang untuk bahagia”.

لماذا سمي المال الحلال حلالا، لأنه تحلو به النفس، والمال الحرام حراما لأنه يحرما السعادة.

Dan dalam Al-Islam;
سمي الحلال حلالا لانحلال عقدة الحظر عنه

Mengapa disebut Halal, karena mengurai dan melonggarkan (inhilal) tali/ikatan yang terlarang.

Dari beberapa kata yang terkait dengan kata halal di atas adalah, bahwa halal memberikan solusi, kemerdekaan/kebebasan, terurainya sesuatu yang terlarang, dan melepaskan sesuatu yang mengikat.
Rasulullah saw. bersabda, “Mencari sesuatu yang halal adalah kewajiban bagi setiap Muslim.” (H.R. Al-Thabarani dari Ibnu Mas’ud). Persoalan halal, bukan hal yang main-main dalam Islam, karena halal adalah bagian paling mendasar dalam agama. Sehingga kata halal disebut juga al-syari, yaitu syariat itu sendiri.

Mengapa harus halal?, agar mendapatkan ridha Allah, terjaga kehidupannya, mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan, dan memiliki akhlak yang baik.

Dalam hadits Nabi saw disebutkan, ”Setiap tubuh yang tumbuh dari (makanan) yang haram, maka api neraka lebih utama baginya (lebih layak membakarnya).” (H.R. At-Thabrani).

. قال سهل بن عبد الله: “النجاة في ثلاثة: أكل الحلال، وأداء الفرائض، والاقتداء بالنبي -صلى الله عليه وسلم

Sahl bin Abdullah berkata, keberhasilan seseorang disebabkan tiga hal; mengkonsumsi yang halal, melaksanakan kewajiban dan mengikuti Nabi Muhammad.

Pergeseran Makna Halal bi Halal

Tradisi halal bi halal (الحلال بالحلال) adalah salah satu tradisi yang sudah lama dilakukan di Indonesia. Tradisi ini biasanya dilakukan setelah Hari Raya Idul Fitri, di mana keluarga, teman, dan tetangga saling mengunjungi dan saling memaafkan satu sama lain. Pada awalnya, tradisi halal bi halal lebih dikenal sebagai suatu upaya untuk mempererat tali silaturahmi dan memperbaiki hubungan antar sesama. Dan sejarah halal bi halal cukup banyak bisa dilirik di berbagai sumber. 

Namun, seiring dengan perkembangan zaman, makna dan cara pelaksanaan tradisi halal bi halal telah mengalami pergeseran. Di era modern ini, tradisi halal bi halal lebih sering dijadikan sebagai ajang networking, baik dalam ranah bisnis, politik, maupun sosial. Banyak acara halal bi halal diadakan oleh perusahaan atau organisasi sebagai ajang untuk mempererat hubungan dengan karyawan, pelanggan, atau mitra bisnis.

Di tahun politik seperti tahun ini (2023-2024), adalah moment paling istimewa untuk mengadalan halal bi halal. Mengapa? Dalam konteks tahun politik, tradisi halal bi halal juga bisa menjadi momen yang tepat untuk mempererat hubungan antara sesama warga negara, apalagi di saat suasana politik yang cenderung memanas dan memecah belah. Tetapi, di sisi lain, ia menjadi momen konsolidasi massa, kampanye, dan lain-lainnya. 

Selain itu, pelaksanaan tradisi halal bi halal juga seringkali disertai dengan acara makan-makan atau pemberian souvenir, sehingga tradisi ini juga menjadi ajang untuk memperlihatkan kedermawanan atau kemakmuran seseorang atau sebuah organisasi.

Maka, tergantung pada panitia Halal bi Halal, mau dibawa kemana acara ini, tetapi ruh dari halal bi halal tidak boleh hilang, yaitu menghalalkan untuk  memberi maaf, dan orang yang dimintai juga menghalalkan untuk memberi maaf. 

Meskipun demikian, tradisi halal bi halal tetap menjadi suatu tradisi yang penting bagi masyarakat Indonesia. Meskipun maknanya telah bergeser, namun tradisi ini masih dianggap sebagai suatu ajang untuk mempererat tali silaturahmi dan memperbaiki hubungan antar sesama. Dan suasana fitri, jangan terkotori untuk berbagai kepentingan, agar pergeseran halal bi halal tidak terlalu jauh. 

Allahu alam bishawab.