السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Rabu, 09 Agustus 2017

WANITA BERHIAS, MENGABDI PADA TUHAN

Halimi Zuhdy

"Wanita berhias janganlah untuk menarik perhatian laki-laki, tapi berhias karena ia dicipta senang keindahan" William Shakeapeare

Menarik sekali perkataan sastrawan masyhur dari Inggris di atas, "berhias" atau "mempercantik diri" itu tidak untuk dipertontonkan, tetapi ia adalah bagian dari kefitrahan diri. Seperti berperilaku bersih bukan untuk dipuji, tetapi sudah menjadi kewajiban setiap orang untuk membersihkan diri, pikiran, hati, tempat tinggal dan lainnya. Demikian juga berbuat baik, bukan juga untuk menuai pujian dan sanjungan, tapi sudah menjadi sebuah keharusan manusia berbuat baik kepada diri, sesama dan lingkungannya, yang pada akhirnya semuanya kembali kepada kefitrahan alam. 


Mungkin menggunakan kata lain adalah "ikhlas", manusia berbuat kebaikan bukan untuk pujian, tetapi untuk Tuhan. "Ada" dan "tidaknya" orang yang memuji, ia tetap melakukan kebaikan itu, sehingga disanalah letak keprofesionalnya. Jika orang sudah "ikhlas" atau "profesional" dia tidak lagi butuh sanjungan, tetapi hasil yang maksimal dan hanya Ridha Allah yang diharapkan. Seperti orang yang ditugaskan untuk menyapu halaman rumah, ia "diawasi" atau "tidak", tetap ia membersihkan dengan sepenuh hatinya.

Wanita yang berhias dalam Islam dan bukan untuk suaminya dikatagorikan tabarruj, di antara hadis itu adalah  “Seorang wanita dilarang berhias untuk selain suaminya.” (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, dan al-Nasaaiy). 

Beberapa ulama memasukkan katagori tabarruj adalah ; 
1) memakai pakaian tipis, ketat dan merangsang, 
2) mengenakan wewangian di hadapan laki-laki, dari HR Imam Nasai  “Siapapun wanita yang memakai wewangian kemudian melewati suatu kaum agar mereka mencium baunya, berarti ia telah berzina.”
3) berdandan berlebihan seperti; memakai bedak menor dan tebal, eye shadow, lipstik dengan warna mencolok dan merangsang, dll. 
4) menghilangkan tahi lalat, 
5) meratakan gigi, 
6) membuka sebagian aurat dan masih banyak lagi yang jelaskan para ulama.
Jika tabarruj atau berhiasa menjadi sebuah perlombaan, kebanggaan, dan trend.maka akan dapat mengubah persepsi muslim dan muslimah, bahwa; 1) hidup yang seharusnya berlandaskan ketaqwaan, dapat berubah menjadi "ajang kebutuhan dan kepuasan bilogis". 2) hidup yang seharusnya untuk menjaga pandangan, berubah hanya untuk "sek semata, dan kepuasan nafsu belaka". Yang pada akhirnya, dapat meruntuhkan tujuan penciptaan yang sesungguhnya "mengabdi" pada Allah.

Berhias itu boleh, "Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan (HR. Muslim), tetapi "tabarruj" itu yang dilarang. 

Bukan lagi "berhiasnya" yang dilarang, tetapi bagaimana ia berhias untuk kemuliaan dirinya, mengabdi kepada tuhannya, tidak semata untuk kepuasan nafsunya dan untuk memamerkan dirinya. Betapa indah berhias itu, untuk sebuah rindu, pada Allah Yang Maha Tahu.