السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Jumat, 24 Maret 2017

Fatwa Cinta 56 : Kekuasaan Itu Cinta, Maka Berimanlah


Halimi Zuhdy

Jangan berebut kekuasaan, karena kekuasaan akan sirna. Berebutlah Pemilik kekuasaan, Ia abadi selamanya.

Jangan berebut pengaruh, karena pengaruh kan fana. Rebutlah Pemilik pengaruh, Ia kan mempengaruhi selamanya.

Untuk baik, tidak harus menjadi penguasa, rakyat yang baik, lebih indah dan bahagia.
Kekuasaan apapun tidak akan lama, ia hanya sebagai pemanis rasa, maka carilah kekuasaan hati agar mampu menguasai diri dan bertemu Ilahi.

Kekuasaan adalah pemberian Tuhan, maka serahkan kepada PemberiNya, jangan keluar dari garisNya, maka akan menjadi Fir'un, Namrud dan Hitler berikutnya.

Selalu manis bersentuhan dengan kekuasaan, karena ia dapat menentukan teman dan menumpuk segudang kekayaan, kecuali bagi yang benar-benar karena Tuhan, Ia serahkan dirinya *atas nama pengabdian.* 

Jangan takut turun jabatan, karena jabatan dan kekuasaan hanyalah titipan, *kalau Allah masih mempercayakan, seribu manusia tak mampu menurunkan.*

Jangan minta kekuasaan, mintalah yang terbaik pada Tuhan, jika berkuasa lebih baik dan bermanfaat, maka RidhaNya harapan.

Kalau berkuasa akan menghancurkan, mohonlah jadi orang biasa, yang tetap dalam keindahan. Jangan memaksakan kehendak atau melepaskan kehendak, *karena Pemilik kehendak yang akan memberikan Kehendak sesungguhnya*.


Kalau kamu yakin, berkuasa sebuah amanah dari Allah dan hanya untukNya, maka pasti menang. Setiap kebaikan pastilah dihadang keburukan, sebagaimana Nabi Musa AS dihadang Fir'un, Nabi Ibrahim AS berhadapan dengan Namrud, Nabi Muhammad AS dihalangi Abu Lahan dan Abu Jahal, tapi para penghalang, penghadang, dan paramusuh semuanya hancur, karena kebenaran kan selalu berkibar.

Tapi ingatlah, ketika kekuasaan hanya untuk kemewahan, ketenaran, keserakahan dan tidak untukNya, siap-siaplah tenggelam bersama Fir'un, hancur bersama Namrud, mengenaskan seperti Abu Jahal dan Abu Lahab, selamanya keburukan akan tenggelam.

Sayyid Quthb dalam Tafsir *Fi Zhilalil Qur’an* menyebutkan _bahwa tidak ada seorang pun yg memiliki kekuatan mutlak yang membuatnya dapat berbuat sekehendak nafsunya. Kekuasaan itu hanyalah pinjaman dengan syarat-syarat tertentu sesuai dengan ketentuan Pemilik kekuasaan yang mutlak dan harus memenuhi ajaran-ajaran-Nya. Bila si peminjam dalam menggunakan kekuasaan menyalahi syarat yang telah ditetapkan Pemiliknya, maka yang dilakukannya itu adalah batil_ (muhajirin).

Tidak ada teman abadi dalam kekuasaan, ada kalanya saat ia bermesraan, ada kalanya saling sikut, bahkan menjatuhkan hanya untuk mengambil alih kekuasaan.

Kadang, ketika pernah merasakan manisnya kekuasaan, gula itu akan selalu diperebutkan, dia tidak lagi mengenal kawan dan lawan, demi satu tujuan, kekuasaan.

Disinilah, kekuasaan yang berorientasi syahwat dan nafsu, maka mintalah sama Allah, kekuasaan yang hanya mampu mengkekalkannya di surgaNya, dan memberikan kemanfaatan di dunia, bagi yang membutuhkan payung dari terpaan hujan bala'nya.

Dan ingatlah, kekuasaan itu sebuah pemberian, jangan memaksa tuk berkuasa nanti penuh luka. Dan jangan halangi tuk berkuasa, Allah akan mengutus bala tentara tuk menjadi pembela.

Indahnya Ayat ini👇
_Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu_QS Ali Imron, 26.

Maka, pasrahkanlah kepadaNya.

Malang, 23 Maret 2017