السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Rabu, 25 Mei 2016

Azab Besar yang Tak Tampak

 Setiap hari kita jalani kehidupan ini dengan penuh gembita, gembira dan bahkan tak pernah merasa kita berselimut azab. Seakan-akan bunga selalu mekar, semerbak harumnya merasuk nusuk kesanubari, indah sekali.

Suatu hari seorang kyai ditanya oleh santrinya,"kyai, berapa banyak kita berbuat dosa, dusta, dan maksiat, tetapi mengapa Tuhan tidak mengazab kita?".

Kyai menjawab,"Nak, berapa banyak Allah mengazab kita, tetapi kita tidak mengetahui".
Santri tadi terkaget kaget, azab apa? Kehidupan yang berjalan indah, azab hanya ada pada masa para nabi terdahulu, sekarang kalau ada azab hanya di daerah daerah tertentu yang orang orangnya berprilaku tidak waras. Mereka yang ditimpa azab yang tidak  shalat, tidak menuaikan zakat, dan dosa dosa lainnya. 

Kyai menjawab dengan tenangnya, "Nak, azab yang tersembunyi tidak kau rasakan itu lebih besar dari apa yang kau rasakan". 

Santri semakin bingung, "masak ada azab yang tidak dirasakan, azabnya pun besar, pasti kyai ngarang", sambil menggerutu.

"Nak, tidakkah hari hari kita, selalu kita lalui dengan hati kering, gersang, tak ada kenikmatan dalam beribadah, berdoa pun sama Allah hanya sebatas mengisi kekosongan, tak ada yang diminta, namun hanya rutinitas doa belaka" Apakah itu bukan azab?

"Nak, kita lalui detik, menit, jam dalam hari hari kita, tapi kita enggan membuka lembaran lembaran Ayat Allah, gunung pun akan tunduk terpecah belah jika al Quran diletakkan di atasnya, ("Kalau sekiranya kami menurunkan Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah-belah, disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk manusia, supaya mereka berpikir.") (QS.59:21). Apakah hati kita lebih keras dari pada batu gunung, dan lebih karat dari cadas gunung, sehingga enggan memegang al Quran apalagi membacanya?. Apakah ini bukan azab yang sesungguhnya? 

"Nak, sulitnya bangun malam, lebih menikmati indah berselimut pekat dengan ricau musik di telinga. Apakah itu bukan Azab?, kita jauhkan tubuh kita dari bersungkur, menangis, mengiba di tengah malam, sebagai mana Nabi yang sampai bengkak walaupun dijamin masuk sorga, tapi kita,lebih memilih nafsu untuk pulas bersama mimpi mimpi indah. Apakah ini bukan azab besar?"
"Nak, kita harus bekerja, bahkan harus selalu semangat bekerja. Tetapi apakah kita juga semangat ketika waktu ibadah datang, apakah kaki selalu ringan untuk shalat, melangkah ke masjid, tepat waktu, atau kita lebih suka mengobrol, menikmati pemandangan, hidangan, dan keindahan. Apakah ini bukan azab?".

"Mulut tertahan untuk dzikir kepadaNya, yang telah memberikan segalanya, kering dari menyebutNya, lupa bahwa Dia yang telah memberikan kehidupan dan kenikmatan.Apakah ini bukan Azab anakku?"

"Nak, kita selalu lemah berhadapan dengan syahwat,  takluk dengan godaan kemewahan dunia, harta dan lebih suka jabatan, senang kemasyhuran. Nak, Adakah azab yang lebih besar dari ini wahai anakku?"

"Nak, kita sering lupa membicarakan diri kita, kita lebih mudah menggunjing orang lain, senang adudomba, suka membuang buang waktu dengan sesuatu yang tidak penting, dunia lebih kita dahulukan dari pada akhirat, mengejar kepentingan dunia, lupa urusan akhirat. Nak, inilah azab yang besar Nak!!!!.Tapi kita selalu lupa, sebelum azab yang tampak datang.

"Hati hatilah nak, azab yang tampak sering datang pada  anak, harta dan kesehatan".

"Kerasnya hati adalah azab yang paling besar nak, dan ia tidak tampak, maka waspadalah selalu dari azab ini".

Mudah mudahan Allah selalu menolong kita dari azab yang tampak dan yang tidak tampak.

Halimi Zuhdy
PP. Darun Nun Malang

Diadaptasi dari maqulah ihdzaru aliqob ghair almahsusah