السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Senin, 04 Juni 2012

Tuhan, Punya Tempat?




Kalau Tuhan ada di lagit, bagaimana aku menggapaiNya, kalau Tuhan ada di mana-mana, bagaimana aku mampu menyatu denganNya, kalau Tuhan dekat mengapa aku sering tak mampu berkomunikasi dengaNya.

Beberapa hari ini saya dibrondong pertanyaan tentang Tuhan oleh anak saya. Pertanyaan biasa, namun cara menjawabnya yang tidak biasa, membutuhkan energi untuk berfikir, jawabannya harus bisa memahamkan, dan juga benar.  Saya harus mengingat-ingat kembali ilmu kalam di Madrasah dulu, atau Teologi Islam yang diajarkan di Perguruan tinggi, tapi pertanyaan itu juga menggelitik pikiran, karena ditanyakan oleh anak sekecil seperti Nayif Azmy. Namun, beberapa hari ini, pertanyaan itu agak sedikit terobati oleh Film di MNCTV Raden Kian Santang, film anak kecil yang cukup baik, yang semuanya dimuarakan pada Tuhan.


Pertanyaan-pertanyaan yang terlontar adalah; 1) Tuhan itu di mana, kalau di Surga berarti Tuhan tidak di neraka, kalau Tuhan di langit, berarti di bumi tidak ada Tuhan, kalau Tuhan di mana-mana berarti Tuhan banyak dong?, 2) Tuhan itu berapa, kalau Tuhan satu, bagaimana kalau tuhan mengurus sungai, lautan, manusia dan lainya?,  3) Tuhan itu dekat atau jauh, kalau dekat mengapa ada yang berkata, saya sudah jauh dari Tuhan?.
Saya mencoba untuk menjawab pertanyaan anak saya tentang “ Tuhan itu di mana, kalau di Surga berarti Tuhan tidak di neraka, kalau Tuhan di langit, berarti di bumi tidak ada Tuhan, kalau Tuhan di mana-mana berarti Tuhan banyak dong?”. Dialog lengkapnya tentang Tuhan seperti berikit ;
Saya bertanya, “Nayif, Tuhan itu di mana?”
“Tuhan itu di Surga bi” jawabnya
“kalau Tuhan di Surga, berarti di neraka atau di luar surga itu tidak ada Tuhan?”
“oh, Tuhan itu di langit bi” ia mencoba untuk mencari jawaban yang paling benar baginya, karena ia melihat langit yang luas, dan juga banyak orang yang berdoa menengadah tangannya ke langit, ketika kecil pun saya juga menjawab dengan jawaban yang sama, ketika ditanya tentang Tuhan saya sering menjawab bahwa Tuhan di atas, kalau di atas berarti di langit.
“ Nayif, kalau Tuhan itu di langit, berarti Tuhan itu jauh dari kita, dan Tuhan  juga jauh dari bumi, sedangkan kita di bumi, bagaimana Tuhan mengatur kita” jawabku.
“berarti Tuhan itu, ada di mana-mana
“kalau Tuhan di mana-mana, berarti Tuhan punya tempat?” sanggaku
“kalau seperti itu, Tuhan itu tak punya tempat bi?” dia masih mengejar saya untuk menemukan jawaban.
Saya diam sejenak, mengingat-ingat puisi yang pernah saya tulis “Tuhan Pun Berdzikir”, yang mungkin masih ada hubungannya dengan ilmu Kalam, dan juga wihdat al-wujud, walau hal ini tidak pantas saya terangkan pada anak saya.
“Nayif, tahu air dan gula?”
“Tahu bi, gula itu manis, dan air itu tawar? jawabnya dengan tegas
“kalau saya bisa mengandaikan, Tuhan itu gula, dan air itu kamu, apakah kau bisa membedakan antara air dan gula?”
“tidak bisa bi”?
“Nayif, tapi itu hanya pengandaian dan bukan itu maksud saya”! saya memberikan pengandaian tersebut, agar dia hanya berfikir tentang sesuatu yang lain.
“berarti Tuhan itu ada di setiap diri manusia dan menyatu” jawaban ini, tidak saya inginkan, tapi muncul juga dari mulut si kecil, bagaimana menjawab keberadaan Tuhan dan Tuhan itu satu. Saya teringat perkataan Rumi “Uangkapan “Aku adalah Tuhan” bukanlah timbul dari sifat meninggikan diri. Melainkan suatu kerendahan hati yang total. Seseorang yang berkata “Aku adalah Hamba Tuhan” menyebutkan dua keberadaan, dirinya dan Tuhan. sedangkan ungkapan “Aku adalah Tuhan” berarti peniadaan diri, yakni, dia menyerahka keberadaan dirinya sebagai kekosongan. Dikatakan “Aku adalah Tuhan” bermakna : “Aku tidak ada; segala sesuatu adalah Dia. Keberadaan adalah Tuhan sendiri, aku bukan keberadaan sama sekali; bukan apa-apa. “ pernyataan ini luar biasa, lebih dari pengakuan segala kemulyaan. Sayangnya, banyak yang tidak memahami.
Saya bukan penganut wihdah al-wujud, tapi mencoba untuk memahami penyatuan diri dengan TuhanNya, dan manusia tidak bisa lepas dengat Tuhan di mana pun ia berada.
Jawaban di atas untuk anak si kecil nayif, ternyata masih belum menangkap begitu jelas apa yang dimaksud Tuhan di mana-mana, Tuhan itu satu tapi ada di berbagai tempat. Saya mencoba mengilustrasikan lagi.
“Nayif, Tuhan itu satu apa dua” tanyaku
“Katanya abi dulu satu, ia satu dong” jawaban yang polos
“kalau satu, apa Tuhan bisa berada dalam setiap manusia”
“ia, berarti Tuhan itu banyak dong bi, Tuhan sungai, Tuhan laut, Tuhan Manusia, dan setiap Tuhan memiliki tugas tersendiri, seperti film Krisna, ada Dewa Matahari, dan dewa-dewa yang lain, betul tidak bi?” ia masih ragu
“Nayif, coba sekarang keluar!” ia bergegas keluar rumah
“coba lihat di atas sana, ada apa?”
“ada matahari bi!” jawabnya
“coba nayif, telpon temannya di Sumenep dan di Mojokerto!, tanyakan pada mereka lagi lihat matahari di atas tidak, apakah menyinari kampunya juga’ suruhku. Kemudian ia menelpon temannya, dan bertanya seperti yang saya suruh.
“bi, katanya mereka, mataharinya sama menyinari kampungnya” jawabnya masih kebingungan.
“Nayif, matahari itu satu, tapi bisa menyinari berbagai tempat, seperti itulah Tuhan, Ia tidak harus banyak untuk berada dalam setiap diri manusia, Ia tidak harus banyak untuk bisa menggerakkan semua yang ada di bumi, di langit dan lainnya”
“ oh, gitu ya bi” ia mulai memahami apa yang di maksud Tuhan Satu, dan Tuhan itu di mana.

Pembaca yang lagi termenung, masih banyak pernyataan-pertanyaan yang muncul dari si kecil, tapi kadang kita mampu memjawabnya, kalau dijawab dengan penuh filosofis, mereka juga kebingungan, kalau dijawab dengan terlalu sufistik mereka juga semakin bingung, apalagi dengan ilmu kalam dan teologi. Maka, kita menjawab sesuai dengan kemampuan mereka.
Berlanjut pada edisi berikutnya