السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Senin, 14 Mei 2012

Halimi Zuhdy: Si Inisiator


Menyimpan tulisan guru, sahabat, dan handai tolan (Halimi), ini tulisan dari pak Ersis

Melakukan sharing di suatu tempat, apalagi di banyak tempat, tentu tidak lepas dari jasa teman-teman. Itu suatu kepastian. Untuk itu berterima kasih kepada teman-teman yang menyupor penyebaran virus menulis ala Ersis Writing Theory (EWT) yang tidak mungkin ditulis orang per orang. Pertanyaannya, dari mana mulainya?

Alkisah, seperti ditulis pada bagian terdahulu, sampailah saya pada kesimpulan, EWT sudah saatnya menasional, kalau perlu mendunia. Seorang ‘sahabat’ dunia maya saya adalah Halimi Zuhdy. Saya heran juga, orang ini pikirannya ‘pikiran kiyai’ namun melakoni menulis lebih bebas. Kalau saya tulis bagaimana senang dan bangganya dengan ‘Kiyai Muda’ ini nanti dia kegeeran. Sudahlah,  disimpan di lubuk jiwa saja. Saya kagum sepak terjangnya di dunia tulis menulis.



Ndilalah.  “Pak Ersis, Sampeyan mengisi pembekalan calon wisudawan di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Maliki Malang, ya”. Begitu membaca pesannya, dari relung hati tercuat: Inilah saatnya. Saatnya memulai melakukan ‘tour’ penyebaran virus menulis agar lebih ganas.

Sekalipun mendapatkan cerita bagaimana sibuknya teman-teman di Malang, saya sangat kecewa, teramat kecewa, Si Halimi memakai ‘ilmu selisih’. Begitu sampai di Malang, justru dia kabur ke Bali. Meninggalkan orang yang diundang ke UIN Malang atas inisiasinya. Saya bersabar dan memaklumi karena kepergiannya dalam rangka memenuhi tugas kuliah S3. Bolehlah.

Sekadar pengingat, acara tersebut sangat sukses. Hanya saja, tanpa Halimi. Ya, Halimi yang menginisiasi dan mustahil gaung EWT sampai pendeklarasian Indonesia Menulis menjadi seperti sekarang tanpa inisiatifnya. Ibaratnya, lahan untuk pohon bertumbuhnya disediakan dan disirami Halimi. Tanpa inisitaifnya, mana bisa berkembang seperti ini, termasuk gebyar PNBB. Hal ini perlu disadari teman-teman. Jangan pernah durhaka kepada Pak Kiai yang tertawanya sangat menawan ini.

Halimi ‘Si Raja Dunia Maya’ dari UIN Malang telah malang melintang yang dapat ditelusuri sejak dia kuliah di King Abdul Aziz, Arab Saudi. Bagaimana dia ‘ngerjain’ pembaca diceritakan pada pertemuan di Malang Post.   Saya sangat bersyukur bertemu dengannya sekalipun dengan lontaran kekecewaan. Apa pasal?

Ketika rencana ‘Tour de Jatim’ semakin menyata, eit kok tidak ada tanda-tanda di UIN Malang. Tidak bisa dibiarkan. Saya warga UIN Malang lho (ngaku.com). Langsung mengirim pesan ke Halimi: “Pak Kiai, ini apa-apaan. Saya ke Malang, kenapa tidak ditampilkan di UIN?”. Saya marah besar, tetapi tidak berani marah-marah kepada Halimi.

Langsung diOkekannya dan menjadi bersemangat. Apa pun itu, sekalipun GPM tidak jadi dideklarasikan di Malang, tetapi di Bogor, Indonesia Menulis sebagai jiwanya dikumandangan di UIN Malang. Jangan coba-coba ya ‘mengusir’ saya darti UIN. Ntar kalau menjadi Mendikbud atau Presiden RI saya bubarkan itu UIN he he. Alhamdulillah talian jiwa tidak terputus. Terima kasih Halimi.

Tulisan ini saya buat sebagai testimoni betapa besarnya peran Halimi dalam gelegar gebrakan EWT dalam bingkai Indonesia Menulis, Inisiator awal sehingga menjadi seperti sekarang. Saya yakin, betapun model pertemanan kami yang terkadang saling meledek di dunia maya, ikatan batin kami mustahil dibuyarkan.

Saya sengaja tidak menampilkan sosoknya dalam tulisan ini karena pembaca bisa mengakses di blog atau FBnya. Yang lebih mencengangkan, dia terlalu muda untuk peran-peran penggairahkan menulis, juga mungkin sebagai kandidat doktor, namun hal tersebut yang menjadikan sah bahwa banyak harapan pantas digantungkan di lehernya. Semoga nanti menjadi intelektual handal yang menuliskan pemikiran melalui buku-buku.

Ya, sejatinya pada ranah tersebutlah paduan jiwa dan roh kepenulisan kami berpilin. Saya betul-betul berharap dengan doa tulus kepada Allah SWT agar dilapangkan jalannya. Sebagai pengagum HAMKA, ulama penulis yang sastrawan, saatnya posisi HAMKA diisi Halimi. Berharap dan berdoa tentu sah-sah saja.

Sekalipun demikian, semuanya terpulang kepada Halimi. Tanda-tanda zaman hanya bisa ditangkap, namun kejadian ditentukan oleh penyandang harapan manakala direstui Allah SWT.

Ya, Allah Yang Mahatahu. Mudahlan jalan bagi ‘adik’ hamba yang mengapit cahaya dakwa bil tulisan ini. Atas kuasaMu tidak ada yang tidak mungkin. Kabulkan doa hamba, Ya yang Maha Kuasa. Amin.

Bagaimana menurut Sampeyan?