السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Senin, 27 Februari 2012

POLITIKUS MAKIN AUTIS



 (Kritik judul opini Jawa Pos untuk Arif Afandi)

Haimi Zuhdy

Setelah membaca judul opini Politikus Makin Autis di Koran Jawa Pos yang terbit hari ini, saya tergugah untuk menulis
beberapa catatan terkait dengan judul tersebut bukan tentang isinya, kalau dengan isinya yang dipaparkan oleh Arif sedikit banyak saya setuju, tapi dengan  Judul Opini yang ditulis oleh presiden derektur Jatim Group itu tidak layak untuk dijadikan judul apalagi sekelas Jawa Pos, apa mungkin tidak diedit atau didiskusikan oleh awak jawa pos, atau karena ada alasan lainnya, sehingga judul tersebut lolos sensor.

Judul yang mana yang salah?, pasti ini menjadi pertanyaan para pembaca, judulnya biasa-biasa aja tuh, tidak ada yang janggal, tidak ada yang perlu diedit, dari segi bahasa juga baik, kreteria judul opini mungkin juga benar, pendek dan praktis. Dari sisi mana yang dipersoalkan?, mungkin menurut pembaca biasa-biasa saja, tapi menurut pribadi saya, judul itu sunggu menyinggung dan semakin memantapkan kenigatifan para pecandang autis, bukan politikusnya!

Saya tidak berbicara para politikus, karena bukan kapasitas saya, tapi berbicara kata autis yang nempel dekat kata politikus tersebut. Kalau Arif menganggap itu tidak menjadi persoalan karena memang politikus adanya seperti itu, tapi apa tidak ada kata yang lebih pas untuk disandangkan kepada para politikus terkait dengan bahasa autis. Meskipun Arif menjelaskan “Autisme adalah istilah kedokteran, terutama kedokteran jiwa –terutama anak-anak- yang tidak mampu membentuk hubungan social atau komunikasi norma. Selanjutnya ia menjelsakan “dalam ilmu kejiawaan, autism digolongkan sebagai kelainan : perkembangan anak secara normal, seorang yang menderita autis biasanya sibuk denan dirinya sendiri, cenderung obsesif, tidak peduli terhadap orang lain, kurang bisa mengendalikan emosi, dan susah berkomunikasi” demikian ia memaparkan autis.

Dan beberapa kata yang juga dibahas di dalamnya adalah autisme politik, autisme kepemimpinan politik, politikus autis.  seakan-akan Arif ingin mempopulerkan kata-kata politik dengan autis.

Apa yang salah dalam kata-kata tersebut, menerut pribadi saya, autis adalah penyakit yang menimpa seseorang sejak lahir, dan ia harus mendapatkan perhatian lebih dibandingkan orang normal, perhatian fisik atau psikis, juga dibutuhkan perhatian khusus dan ekstra bagi mereka. Di samping memperhatikan juga mengangkat martabat mereka,  tidak menganggap mereka manusia yang terbelakang dalam kehidupan, apalagi mengganggap mereka sebagai manusia abnormal. Sebenarnya mereka adalah bagian kehidupan dunia yang harus dijaga, dipelihara, didukung, dimotivasi dan bahkan mereka adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Mereka juga manusia, tidak ada yang negative dalam diri mereka, mereka normal dalam kehidupa walau mempunyai kekuarang, tetapi itu pemberian Tuhan.
Ketika kata autis dijadikan sebagai label untuk para politikus yang tidak baik, seakan-akan Arif mendukung untuk memojokkan dan menigatifkan para penyandang penyakit autis tersebut, karena penyakit ini bukan dibuat oleh si penyandang tapi pemberian dari yang kuasa, beda dengan penyakit-penyakit lain yang memang dibuat secara sadar, misalkan penyakit pencuri, perampok, gila dll.

Mungkin catatan singkat ini juga saya tujukan kepada orang-orang yang suka menulis judul atau kalimat yang memojokkan para penyandang penyakit alami dan yang lainnya.

Malang, 25 Februari 2012