السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Senin, 19 September 2011

KMK ! : Menggapai samudera mimpi dengan Ayam Betina


Halimi Zuhdy


Bermimpi ternyata tidak mudah, apalagi bercita-cita setinggi langit, kadang langit pun tidak pernah di pandang. Seringkali cita-cita hanya sebatas khayalan (tamanni) bukan sebuah keseriusan untuk dicapai dan benar-benar dilakukan. Banyak orang yang bermimpi, bercita-cita dan menghayal, tapi untuk meraihnya hanya sebatas wacana, cita-citanya tidak pernah ia mulai dengan gerak apalagi berjalan dan berlari. Cita-cita hanya sebatas cita-cita, bukan cita-cita untuk diraihnya.

Lah, cerita ini tentang cita-cita saya untuk melanjutkan kuliah di dalam dan luar negeri, cerita yang sederhana tapi buat saya adalah sebuah kenangan tidak pernah terlupakan seumur hidup, karena di sana ada proses yang sungguh indah bagaimana meraih sebuah cita-cita.

Ayo kita mulai……

Ketika masih SD saya selalu diberi uang saku oleh ibu, biasanya 5 rupiah, kalau dibelanjakan 1 rupiah dapat satu permen, kalau 3 rupiah sudah dapat mengisi perut yang keroncongan. Teman-teman saya kebanyakan membawa uang saku sampai 25 rupiah, sungguh banyak menurut ukuran saya, tapi dengan 5 rupiah saya sudah merasa cukup untuk mengisi nutrisi badan di pagi hari sambil menikmati mata pelajaran yang diberikan pak guru. Kadang dengan 5 rupiah saya membeli lembaran-lembaran foto copy puisi-puisi Khairil Anwar, menikmati deraian kata D.Zawawi Imron, dan buku-buku motivasi.

Sejak kelas 3 SD, saya mulai memenaj uang saku itu demi untuk meraih cita-cita setelah saya lulus Aliyah nanti, yaitu melanjutkan kuliah di luar Madura, karena ayah melarang  saya keluar pulau Madura sebelum lulus Aliyah, apa pun alasannya. Mengapa kuliah, itu pilihan langka ketika itu, di desa saya hanya ada satu orang yang melanjutkan ke jenjang kuliah, itu pun anaknya orang kaya. Sedangkan saya hanya orang yang mampu bercita-cita, berkeyakinan dan optimis, bukan dengan kekayaan. Kekayaan yang saya miliki hanya untuk hidup sehari-hari.

Uang yang diberikan Ibu setiap hari saya atur sedemikian rupa, kalau dikasih 5 rupiah, 3 rupiah untuk jajan, sisanya saya simpan di celengan bambu, kalau dikasih 10 rupiah, 7 rupiah saya simpan sisanya saya belanjakan. Tidak pernah saya membelanjakan uang saku sampai habis, pasti menyisakannya walau hanya 1 rupiah.

Kelas 4 SD, saya tergoda untuk membeli sebuah sepeda angin, teman-teman saya sudah memiliki sepeda semua, apalagi jarak antara rumah dan sekolah cukup jauh. Keinginan hanya tinggal keinginan, karena uang tidak mencukupi, saya hanya menikmati indahnya mentari dan rimbunnya pepohonan setiap hari, dengan langkah kaki penuh pasti, dan komitmen saya untuk tidak membelanjakan uang simpanan sampai kelas 6, kalau toh saya gunakana hanya untuk investasi.

Godaan demi godaan semakin dahsyat, tergoda untuk membeli mainan seperti kebanyakan teman, sedangkan ortu melarang saya untuk membeli mainan dengan alasan banyak bermain akan mengakibatkan lalai dan membuang-buang uang, namun semangat kreativitas saya tidak bisa disembunyikan, walau tidak membeli, saya membuat mainan dari tanah liat untuk membuat peluit, boneka, mobil-mobilan, kalau ingin layang-layang saya gunakan daun ubi yang dikeringkan dengan seutas benang dari pohon pisang.ya… proses yang cukup lama memang, tapi sangat mengasyikkan, berbeda dengan kebiasaan sekarang yang serba ada dan serba instan, hanya menggunakan lembaran kertas uang semuanya sudah ada di tangan, dan kebanyakan yang dilakuan orang tua sekarang suka membeli dan mengajak anaknya shopping  dari pada menunggu untuk berproses, akhirnya banyak anak yang juga tidak mau berproses, inginkan serba instan dan serba lengkap.

Kelas 5 SD uang saya sudah cukup banyak, tapi semangat menggapai cita-cita itu tidak luntur, selalu yang terbayang dalam pikiran saya harus mempertahankan uang itu sampai kelas 6 SD. Alhamdulillah, walau tidak cukup uang membeli banyak buku untuk memperkaya wawasan, tapi buku-buku itu selalu ada diruang belajar saya, yang saya peroleh dari berbagai lomba. Kelas 5 SD, saya sudah banyak memenangkan beberapa lomba; sepert baca puisi, pidato, qiraah, baik tingkat; SD, desa dan kecamatan. Bahkan pernah, saya menjuarai tiga lomba sekaligus, dengan juara yang berurutan, juara 1 baca puisi, juara 2 pidato, dan juara 3 baca al-Qur’an, yang lucu dalam lomba yang diikuti ratusan peserta itu, dewan juri yang seharusnya menghentikan saya pada menit ketujuh, ia lupa memencet tombol merah, wal hasil saya berpidato  sampai 15 menit.he..he..he..! terpesona kale. Dunia action memang paling saya suka, suka tepe-tepe di depan umum.he..he…!

Kelas 6 SD, waktu yang paling saya tunggu-tunggu, sebuah mimpi yang harus saya mulai, mimpi tidak akan perna turwujud kalau hanya mimpi dalam mimpi. Celengan bambu sudah mulai membeludak, tidak sabar untuk digelontorkan. Koin-koin itu akan segera menemui tugasnya, mencapai mimpi. Beberapa hari saya menghayal dan merenung, kira-kira koin itu saya buat apa, atau dibelikan apa, atau…….! Tak ada jawaban….. saya membaca beberapa buku cerita yang ada di perpustakaan SD, bagaimana menjadi orang kreatif, berhasil, dan mencapai mimpi-mimpi juga tidak saya temukan, karena buku motivasi waktu itu sarang jarang apalagi sekolah SD Prenduan II kec.Pragaan bukanlah sekolah SD mewah, dan perbendaharaan buku yang hanya sedikit. Yach…sekolah desa!  kebanyakan hanya buku pelajaran. Untuk memperoleh buku baru pun kadang harus menunggu satu tahun dua tahun, ya..kadang ke perpustakaan sering membaca dan mengulang buku yang sama.

Ketika dalam kondisi memecahkan rahasia celengan bambu belum ditemukan, saya mendapatkan buku kecil tapi cukup membuat saya merenung sekian jam, buku itu berjudul Beternak Ayam.wah….apa bisa saya beternak ayam, wong saya tidak punya kandang ayam, apalagi belum pernah punya ayam. Tapi, tidak ada sesuatu yang tidak mungkin. Kebetulan saya punya nenek di sebuah desa yang sangat terpencil, dan beliau suka beternak ayam. Uang yang saya miliki ingin sekali untuk saya belikan seekor ayam. Alhamdulillah nenek meresponnya dengan sangat gembira, karena pada waktu itu, untuk seumuran saya, jarang sekali  seorang anak yang memiliki peliharaan sendiri baik ayam, sapi dan lainnya.
Celengan bambu pun saya belah, dan Alhamdulillah isinya cukup banyak untuk ukuran  waktu itu, dan ayam waktu itu juga sangat mahal. Saya membeli 4 ayam, semuanya betina. Bukan tanpa alasan saya membeli yang betina, kalau jantan tidak mungkin bertelur, kalau betina kemungkinan besar bertelur dan beranak pinak. Saya bermimpi dengan telur itu saya bisa nyelengi lagi dan membeli banyak ayam.

Benar! Setiap minggu telur-telur ayam betina itu dijual ke pasar, dan uangnya saya simpan. Tapi saya berfikir lain, kalau uang telur hanya saya simpan cukup lama, tidak mugkin menghasilkan apa-apa, kemudian saya belikan mas berlian, karena pada bulan-bulan tertentu harga mas naik cukup tajam, Alhamdulillah, dari ide membeli mas dan menjualnya pada bulan-bulan mahal, saya mendapatkan keuntungan cukup besar.

Dua tahun kemudian, saya menginjak kelas 2 MTs (Madrasah Tsanawiyah/SMP), ayam-ayam sudah mulai banyak, simpanan juga sudah lumayan. Saya berfikir untuk memutar lagi, bagaimana lulus aliyah nanti uang saya cukup untuk biaya kuliah, katanya orang-orang kampung saya, hanya orang yang berharta yang bisa mengkuliahkan anaknya keluar Madura, sedangkan saya hanya anak seorang guru ngaji.

Ketika kelas 2 MTs semua ayam, berlian dan simpanan saya keluarkan, kemudian saya belikan kambing. Sama seperti ayam, saya membeli kambing betina agar nantinya bisa beranak pinak dan bisa saya putar kearah yang lebih baik. Namun pada waktu itu godaan sebagai anak muda cukup banyak, kebanyakan anak di kampug saya kalau lebaran membeli sarung, baju, sandal dan songkok yang harganya sangat mahal, sedangkan orang tua saya tidak pernah membelikan yang mahal-mahal, kecuali dengan syarat; saya bisa meraih rangking satu pada setiap semester dan setiap kenaikan kelas, kalau saya bisa meraih hal itu dari MTs sampai Aliyah kelas tiga, maka saya berhak untuk mendapatkan sarung yang cukup mahal  dengan merek Lamiri (sarung sutra kebanggaan orang Madura waktu itu), pernah saya katakan pada orang tua, kalau saya mau  menggunakan uang saya sendiri untuk membeli sarung, tapi orang tua tetap tidak membolehnya. Ya..apa boleh buat, saya hanya bisa memakai pakaian ala biasa (sarung putih, baju koko putih dan songkok putih).he..he..he…itu juga awal mimpi menuju negeri Arab.

Kelas 3 MTs, kambing-kambing  saya jual untuk dibelikan pohon kelapa, dengan harapan mendapatkan keuntungan lebih banyak, benar….! Setelah satu tahun, hasil dari buah kelapa itu sungguh mengagumkan, saya bisa membeli domba dengan jumlah yang cukup banyak. selain persiapan untuk kuliah di luar Madura, saya gunakan untuk membeli kitab-kitab  di luar pelajaran, setiap bulan minimal saya membeli 3 kitab, setelah lulus kelas 3 Aliyah, lemari sudah penuh dengan kitab-kitab, ibu saya sampai marah-marah, karena kitab-kitab yang menggunung dan jarang bicara.he..he..he…!dikiranya Ibu saya, setiap buku harus saya hatamkan, dan kebiasaan membeli buku itu sampai sekarang tetap saya lakukan, minimal setiap bulan lima buku, tak punya uang pun harus pinjam, demi nutrisi otak dan kesehatan tubuh.

Alhamdulillah……domba-domba itu  pun berkelindan mencari teman. He…he…

Kelas 1 MA, domba-domba itu pun saya jual, untuk dibelikan sapi. Awalnya saya merasa kesulitan, karena tidak ada orang yang menggembalanya, tapi setelah pertengahan tahun, Alhamdulillah ada orang yang sanggup membesarkan dan menganak pinakkan dengan akad bagi hasil.

Waktu demi waktu pun merangkak, pembiayaan sapi tidak terlalu sulit,ia berkembang dengan cukup baik, sehingga pada tahun berikutnya, ketika saya kelas 2 Madrasah Aliyah….sudah memiliki 2 sapi.

Kelas 3 MA, saya mempersiapkan diri untuk melancong dan mencari kuliah yang sesuai dengan jurusan yang saya inginkan, jurusan yang langka menurut kebanyakan orang, yaitu sastra Arab. Pilihan tersebut bukan tampa alasan; pertama, saya suka kajian-kajian al-Qur’an. Kedua, saya suka sastra Arab terutama syi’ir Arab, dan beberapa alasan lainnya.

Ujian akhir pun tiba, dengan segala kemapuan saya robek malam dan siang untuk belajar, Alhamdulillah hasilnya tidak sia-sia, saya mendapatkan nilai terbaik. Mimpi-mimpi itu pun semakin kokoh “melanjutkan kuliah di luar Madura”, pilihan awal adalah Mesir, kemudian Maroko. Tetapi, informasi ke dua Negara itu belum saya dapatkan sampai akhir pendaftaran ujian masuk di beberapa perguruan tinggi Islam yang ada di Indonesia. Pilihan pun jatuh ke Yogyakarta, jurusan Sastra Arab, namun ada beberapa kendala terkait ijazah, sehingga saya tidak bisa melanjutkan kuliah di sana. Pilihan berikutnya adalah Malang, waktu itu masih STAIN Malang, saya mengambil jurusan sastra dan bahasa Arab…..alhamdulillah…setelah mengikuti ujian, saya pun lulus, namun nasib hampir tidak memihak pada saya, keuangan yang orang tua miliki tidak mencukupi…….lah saya jadi teringat bahwa mimpi saya adalah kuliah di luar Madura dan mimpi ini tidak boleh lenyap begitu saja gara-gara tidak ada uang, akhirnya saya jadi teringat bahwa ayam adalah motivasi terbesar dalam kehidupan akademik saya yang sekarang sudah berubah menjadi sapi. Alhamdulillah…..setelah sapi terjual dengan harga yang lumayan tinggi saya bisa memasuki ruang akademik di perguruan tinggi di Malang, semua pada senang. Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin kalau Allah sudah berkehendak, walau kuliah adalah sesuatu yang langka bagi saya dan bagi kebanyak orang di kampung, tapi Allah selalu memberikan solusi yang indah. Walau hanya bermodalkan ayam yang berubah menjadi sapi kuliah pun bisa diraih dengan penuh keindahan. Dari proses panjang itulah, banyak orang dikampung saya yang menirunya, bahkan setelah itu kuliah bukanlah hal yang asing lagi. Sungguh proses yang luar biasa.

Setelah lulus dari S1, kebiasaan baik itu pun tidak pernah lenyap dari kehidupan saya, sehingga saya bisa kuliah sampai S3 dengan waktu yang cukup cepat, …dan juga pernah mengenyam kuliah di King Saud University Riyadh. Sehingga saya selalu optimis bahwa uang bukan segala-galanya yang penting ada mimpi, dan kometmen untuk meraih mimpi itu, pasti Allah selalu memberikan jalan keluar.

Sebenarnya cerita cukup panjang, karena keterbatasan waktu penulis untuk mengurainya lebih panjang, maka penulis mencukupkannya samapai pada mimpi di dermaga kuliah S1. Insyallah pada kesempatan lain, akan diceritakan dengan cukup indah…sampai meraih beasiswa ke luar negeri. biidznillah

Sumenep, Mojokerto - Malang