السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Sabtu, 23 Juli 2011

KEJUTAN DI BULAN SYA’BAN (1)


“subhanallah ia telah datang berdendang, bercerita tantang dunianya, berteriak dengan penuh makna, dzikir yang tak penah berhenti lewat tangisnya, kerinduan pada dunia fana seakan-akan ia luapkan dengan tatapannya, ia datang berdendang bersama mentari yang lagi menyengat, hangat”

Kawan-kawan FB, maafkan daku yang lama tak bersua dengan coretan-coretan yang biasa terpanpang. Beberapa hari ini saya dinenabobokkan dengan tangisan yang begitu menggoda, membuat hati berdzikir atas kuasa-Nya, yang telah menyalakan ribuan nikmat pada keluarga kami, dengan hadirnya sang buah hati.
Ia terlahir dengan sangat indah, benar-benar kejutan. Mengapa saya beri tema Kejutan di Bulan Sya’ban, karena ia terlahir di bulan tersebut, dan kejutannya ia terlahir dengan sangat mudah, sesuai dengan doa pada Allah swt yang kami panjatkan setiap hari.
Hari Selasa, kami berniat jalan-jalan dengan istri sambil mampir ke Bidan untuk memeriksakan kehamilan istri yang sudah mulai melewati batas waktu yang telah ditentukan bidan. Pagi itu, suasana sungguh senyap, hanya lalu-lalang beberapa kendaraan di depan kami, tak ada firasat apapun, kami memasuki lorong waktu, sambil bersenda grau dengan istri tentang kelahiran anak kita nanti.
                “Mah’, mudah-mudahan anak kita lahir satu menit saja”, saya mulai pembicaraan.
                “bibi, guyon saja.., mana mungkin” istri saya menimpali, sambil tersenyum
                “lah, tidak ada kata tidak mungkin dalam sejarah hidup manusia, kalau Allah sudah berkehendak “kun fayakun” ya sudah terjadilah, karena hidup itu bukan mungkin tidak mungkin, tapi Qodak dan Qodarnya yang lebih berkuasa”
                “ia…bi, saya percaya itu, tapi dari pengalaman anak pertama, agak sulit, tapi Alhamdulillah juga berjalan dengan lancar”
                “mungkin karena gak ditemani bibi kali ya”
                “ia mungkin” istri sambil tersenyum”
                “Mah, setiap waktu saya berdoa pada Allah muda-mudahan umah diberikan kelancaran, mudah, kalau bisa tanpa sakit sedikit pun, atau satu detik saja umah sudah melahirkan”
                “amin…amin..ya mujibassailin” istri sambil mengangkat tangannya
                “saya yakin, umah pasti lahir dengan sangat mudah, karena umah sabar, setiap hari istiqomah ngaji dan berdoa, umah kalau malam jarang tidur, pagi berjalan sambil baca al-Qur’an, setiap shalat baca berbagai doa tertama doa yang dikasih Gus Is, insyallah Allah mempermudah, saya sungguh yakin” dengan nada semangat, dan memberika semangat.
                “tapi bi” sambil menahan nafas “kemaren mbak Jumriyah bercerita kalau dah terlambat harus periksa, takut terjadi apa-apa, katanya ia punya saudara, sebelumnya diprediksi mudah dan normal, ternyata harus dioprasi” dengan wajah yang agak sedu
                “mah, yakinlah pada Allah dan mintalah, Dia tempat meminta, insyallah diberikan kemudahan, jangan pernah menyerah pada cerita, bisa saja ia hanya godaan untuk membuat iman melemah, toh apa pun yang diberikan Allah pada kita adalah sebuah keindahan, hanya kita yang bisa menikmati itu, pasrahkan secara total, semua akan selesai, faidza ‘azamta fatawakkal alallah
Mobil yang kita kendarai mulai berjalan dengan pelan, karena banyak polisi tidur menuju rumah bidan.
                “bi, kita pasrahkan pada Allah geh, apa pun yang terjadi, dan bibi jangan kecewa kalau anak kita laki-laki” istri sambil meyakinkan akan kesungguhan dirinya untuk melahirkan
                “ia mah…bibi doakan umah” sambil saya kecup keningnya
                “bi, nanti kalau dioprasi gimana?”
                “saya yakin mah, umah akan lancar-lancar saja, tidak usah mikir apa-apa, konsentrasikan pada kelahiran uma”
Mobil sudah berada di depan papan nama “Hj. Indriani, jalan flamboyan”.
                “Assalamu’alaikum” dengan sedikit berteriak, beberapa kali kami panggil salam, namun tak ada jawaban dari dalam rumah.
                “Assalamu’alikum” kami panggil sekali lagi, sambil melangkahkan kaki untuk pulang. Namun tiba-tiba dari dalam rumah, ada jawaban “wassalamu’alikum” seorang laki-laki keluar dengan wajah penuh rona.
                “Pak, apa bu Indrinya ada?”
                “ada Mas” sambil membuka pintu.
                “maaf pak, mengganggu, kita terlalu pagi ke sini”
                “tidak kok mas” sambil mempersilahkan kita masuk keruangan pemeriksaan.
kita menunggu di ruang pemeriksaan sambil membaca beberapa poster tentang pertumbuhan anak dan perubahan anak dari umur satu sampai Sembilan bulan
                “Salam” bu Indri datang dengan senyuman yang khas
                “wassalam, bu.” Kita menjawab agak kaget
                “ada keluhan apa bu?”
                “bu bidan, saya diprediksi melahirkan tanggal 17 Juli, bisa maju atau mundur satu minggu, tapi kok belum ada tanda-tanda ya bu” keluh istri
                “oh..itu bisa bu, kadang maju, ya kadang mundur!”
                “tapi yang nayif maju satu minggu bu, ini kok tidak ya bu” dengan nada resah, tapi masih bisa tersenyum.
                “oh gini saja bu, nanti ibu kembali sekitar tanggal 24 Juli, baru kalau belum keluar tanggal tersebut, maka ungkin jalan yang lain bisa kita tempuh” bu Indri sambil tersenyum
                “ oh..gitu ya bu” istri sambil mengangguk-angguk
                “mah, tanang saja, semuanya ada yang mengatur” saya menimpali, kalau belum waktunya keluar masak dipaksa, sambil saya melempar tawa padanya
                “coba saya periksa dulu bu” sambil menyuruh istri untuk berbaring, bu Indri pun mulai memerikasa perut istri dan melihat posisi janin, sambil mengambil alat bantu sejenis radio kuno untuk melihat detak jantungnya
                “Alhamdulillah posisinya sudah baik bu, sabar saja menunggu”
                “ia bu terimakasih” sambil beranjak dari tempat pemeriksaan
Kami sudah mau beranjak dari tempat itu, dan mau berpametan, tiba-tiba bu dokter berkata.
                “bu, coba saya periksa dulu” ia mengambil alat-alat untuk memeriksa kembali istri saya
Istri saya pun berbaring, bu Indri memeriksa beberapa anggota tubuh istri saya, dan secara mengejutkan
                “ bu Sayyidah, ibu sudah buka 4”dengan suara lantang
                “apa bu, sudah buka empat” istri saya bingung, antara percaya dan tidak, karena dia tidak pernah merasakan sakit apapun sebelumnya, dengan tertunduk dan berucap subhanallah dengan dzikir yang bermunculan dari mulut istri saya, sambil memandang wajah saya, ia tersenyum. Saya pun juga marena heran, kon secepat itu….apa benar Allah mengabulkan doa kami….satu menit saja……..
Bersambung  KEJUTAN DI BULAN SYA’BAN (2)

Malang 22 Juli 2011