السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Jumat, 04 Februari 2011

MENUJU REVOLUSI DIRI

Halimi Zuhdy

Kehidupan selalu fluktuatif, tidak akan pernah tetap, selalu ada perubahan, perubahan yang mengarah pada perbaikan dan juga perubahan yang menuju keburukan. Kalau hari ini Mesir dalam gejolak yang luar biasa, karena ia bagian dari kehidupan, pembrontakan dari rakyat yang meminta sang presiden untuk turun dari jabatannya yang sudah bercokol sekian lama, di sana ada kejenuhan dalam kepemimpinan, keterpurukan, kelemahan, tak berkarakter, dan ketidak pedulian pada sebuah tugas yang diembannya.

Revolusi bukan hanya dilakukan di Mesir, tapi berbagai negera di Dunia sudah pernah melakukan revolusi misalnya Tunisia, Prancis dan lain-lain, di Indonesia pun tahun 1998 juga telah melakukan itu meskipun dengan bahasa yang berbeda “reformasi. Revolusi menghendaki sebuah perubahan dari kejumudan menuju pencerahan, revolusi ingin bangkit dari keterpurukan ekonomi, politik, keamanan, keadilan dan kesejahteraan. Revolusi sebenarya bukan hanya merubah, tapi membongkar keburukan untuk melenyapkannya sampai ke akar-akarnya. Baimana jika kejumudan, keterpurukan, kerusakan itu terjadi pada diri kita?

Dunia selalu berputar, setiap putaran memberikan arti sendiri, setiap detik dari putaran itu adalah makna, setiap menit dari perputaran adalah hikmah, setiap jam mengandung nikmah atau niqmah tergantung cari menyajikannya, dan setiap minggu adalah bukti dari proses detik, menit, dan jam. Kalau dunia selalu berputar, Negara selalu terjadi sebuah reformasi atau revolusi, bagaimana dengan diri kita? Maka jawabannya adalah merevormasi diri menuju kesejahteraan dunia dan akhirat. Kenapa dini harus direvormasi? Lah ini yang menjadi pertanyaan mendasar tulisan ini.

Diri lebih penting dari pada Negara, karena Negara adalah kumpulan dari diri-diri itu sendiri, tanpa diri Negara tidak akan pernah ada, untuk merevormasi Negara, maka diri harus direvormasilebih dahulu. Rusaknya Negara karena rusaknya diri, apakah rusaknya diri karena hancurnya tubuh, tentu jawabannya, bukan! Karena tubuh kadang tidak bergerak, namun kerusakan terjadi dimana-mana. Berarti diri (jiwa) inilah yang harus dibenahi. Kalau pertanyaan tadi mengapa diri harus direvolusi? Karena adanya stagnasi dalam diri, kejenuhan, kejumudan, kema’siatan, kedhaliman, kegilaan, kehampaan, kemelaratan, kedustaan, penghianatan, kegelapan, kesombongan, keiria-an,kedengkiaan, dan sifat-sifat lainnya yang tidak mampu mengantarkan diri menuju sebuah kemenangan (muflih) kemenangan melawan nafsu amarah yang selalu ingin mengobarkan kerusakan dimuka bumi, bahkan mengorbankan diri sendiri terperosok menuju sebuah kehancuran.

Revormasi diri dapat dilakukan dengan mendemonstrasi diri setiap menit, bahkan setiap detik, mendemo diri dengan selalu menuntut diri untuk belajar mencari hikmah, menuntut ilmu, bertadabbur, merenung atas kesalahan diri, menyesali kesalahan. Meruntuhkan diri dari egoisme tinggi yang dapat merusak diri. Demo dilakukan dengan sesering munggin untuk meruntuhkan keotoriteran diri yang sangat sulit untuk diturunkan. Demo diri (bertaubat) dan demo kepada Tuhan (berdoa) agar keberhasilan merevormasi diri menjadi seimbang, tidak hanya memperbaiki diri menuju sebuah kepentingan diri yang bersifat sementara,namun juga merevormasi diri menuju sebuah keindahan di akhirat. Ada beberapa tahapan yang memungkinkan diri untuk merevormasinya :

Ihsan, ikhlas dan Mahabbah. Dari ketiga hal ini, mungkin saya hanya akan menyinggung masalah ikhlas, insyaAllah kalau tuhan masih memberikan saya kesempatan akan aku tulis mahabbah dan ikhsan, mengutip bahasanya Ari Ginanjar “nilai-nilai ihsan berfokus pada dorongan (drive). Berbicara masalah ihsan berarti ia membicarakan masalah menghadirkan niat seseorang menjadi selaras serta harmonis dengan tindakannta. (Ari ginanjar,xlix:2004). Sederhananya adalah menyelaraskan serta mengkomonikasikan rasionalitas, mentalitas dan spritualitas. “Bagaimana cara menghadirkan motivasi abadi (the ulyimate intetion) seseorang menjadi selaras dengan perbuatan dan pemahaman seseorang?’. Pembahasan ihsan ini sangat panjang maka dilain kesempatan insaallah saya mencoba untuk memunculkannya. (maaf)

Untuk membantu merevormasi diri, ada 22 Kebiasaan Produktif yang saya kumpulkan dari beberapa nasehat orang-orang besar dan berhasil yaitu :
1. Sediakanlah lebih banyak waktu untuk membaca dan sediakanlah waktu 15 m untuk mengendapkannya.
2. Khususkan waktu untuk menyendiri dan merenung 20 m dalam sehari.
3. Pertahankan stamina spritual Anda melalui ibadah Wajib, sunnah, Dzikir dan membaca Al-Qur’an.
4. Jagalah kondisi fisik Anda dengan :
- Olah raga rutin
- Istirahat cukup
- Makanan yang bergizi
5. Tingkatkan emosional melalui seni dan alam.
6. Buatlah rencana perjalanan wisata untuk mendapatkan pengetahuan baru kemudian perhatikanlah keadaan dan kondisi daerah tersebut.
7. Luaskanlah wilayah perjalanan atau pergaulan Anda dengan :
- Bisa bergaul dengan semua orang
- Bergaul dengan orang yang lebih pinter, cerdas dan alim.
8. Tingkatkan kontrol terhadap pikiran-pikiran yang membebani benak anda. (marah dll)
9. Biasakan mencatat secara teratur, mencatat apa yang dilalukan dan melakukan apa yang dicatat.
10. Biasakan lebih banyak diam dan mendengar dari pada bicara.
(kekuatan diam sangat luar biasa) , kurangi perkataan refleks, berbicara jika butuh saja, menyembbunyikan kebaikan Anda.
11. Kontrol emosi agar tetap tenang (tidak mudah terpengaruh kritikan atau sanjungan).
12. Lakukan latihan pernafasan secara teratur.
13. Kemauan yang tidak di tunda-tunda.
14. Duduk, Merenung dan tulislah (biasakanlah …manfaat apa yang anda peroleh)
15. Tidak mudah marah maka sering-seringlah tersenyum, kalau marah tarik nafas panjang-panjang.
Tidak banyak bicara (ketika diam kita berfikir, ketika berbicara kita mengajak).
Tidak mencari penghargaan orang lain (saya dihargai atau tidak saya tetap hamba Allah), (meninggalkan hal-hal sepele karena masih ada yang lebih penting) , (kemauan untuk berkonsentrasi) , orang yang sering lupa karena tidak punya dorongan untuk mengingat.
16. Biasakan memberikan apa yang diminta atau dipinjamin dengan hati lapang, “ingat semuanya milik Allah dari dan akan kembali padan-Nya, dan Allah akan mengganti yang lebih besar.
17. Membiasakan untuk tidak puas terhadap, 1.Apa yang sudah dilakukan, 2.Apa yang sudah diketahui, 3.Apa yang sudah dibanggakan. (kepuasan akan mengakibatkan kebodohan)
18. Beranilah berbuat, memulai dan melaksanakan, dan orang yang takut resiko berarti takut maju.
19. Membiasakan untuk tidak menyia-nyiakan waktu, (isilah dengan kesibukan yang menantang, isilah dengan membaca fokus dengan kemamfaatan yang jelas, isilah dengan muhasabah.
20. Biasakan berniat atau meniatkan apa yang anda akan lakukan. dan biasakanlah untuk berfikir sebelum melaksankan karena pekerjaanmu tergantung pada niat dan hasil pikiranmu.
21. Meditasi dengan system Takhalli (mengkosongkan), Tahallli (mengisi/mengganti) Tajalli (maka akan tampak apa yang kau inginkan).
22. Biasakan minum air, berpuasa senin kamis dan sholat malam, dan dawamul wudu’.

Malang, 3 Pebruari 2011
http://halimizuhdy.blogspot.com