السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Senin, 08 November 2010

HUMANIS YANG TERCERABUT



Halimi Zuhdy



Manusia dicipta untuk bercinta

Menemukan jadi diri yang mulai renta

Manusia selalu berpesta

Tak sadar, ia kembali pada maha pencipta



Oh manusia, kini mengembara

Berjuang siang malam menemukan harta

Tak puas dengan semua, mengaku Tuhan, maha karya

Kesombongnnya semakin meraja lela

Tak mengenal diri dan Tuhan-Nya



Harta pun terengkuh dalam pelukannya

Pangkat berikutnya, jadi tujuannya

Memburu, menyikut, membunuh dan dusta



HAM diangungkan

Dibelakang menikam

Tuhan didzikirkan

Pedang ia pegang paling depan

Cinta ia ucapkan

Semua ia bantai atas, nama Tuhan



Atas nama Tapi

wakil Rakyat tangan-tangannya merengkuh, melahap, mengeruk

uang rakyat

kaki-kaki merangsung kesinggasana

meraup kekuasaan



bosan dalam celoteh. buku putih tergeletak

di ransel kebiadaban.

katanya kau rajin shalat

tapi mengapa kau masih menjilat

katanya kau istiqomah berdzikir

tapi mengapa kau masih kikir

katanya kau sudah naik haji

tapi kau sering mencuri gaji

katanya kau puasa

tapi mengapa kau senang berkuasa

katanya kau hafal al-qur’an

tapi mengapa matamu jelalatan

katanya kau sering mengkajinya

tapi mengapa kau bohongin tetangganya

katanya kau pengasih

tapi nyatanya kau pilih-pilih kasih

katanya kau penyayang

tapi nyatanya kau sendiri ingin kenyang

katanya mahasiswa

tapi nyatanya kau tak mengenal peradaban

sama saja!

katanya kau dosen

tapi nyatanya otakmu penuh sen

katanya kau alim

tapi mengapa kau dholim

sama saja!



kasak-kusuk, kodok ngorek, lenger blenger,

otak transaksional melaju.

ikhlas hampa berganti kejenuhan, material sering terbanyang

jujur kehimpit gunung kidul, sabar pemulus nafsu,

jidat gosong mengibuli. lelah kupandang alam. bisu

kuterbenam. tak ada harapan.

di sana kebisuan yang terselubung. tak ada

hamparan kehormatan.



Dunia kau pertaruhkan

Demi nafsu yang terangkai

Dalam hati, pikiran bahkan badanmu

Tak lagi tahu

Kau hanya sekejap, kemudian menemukan maut-mu



Semua yang berujud

Akan fana

Yang kau sangka abadi, tak lebih dari sebagai abdi

Fana dalam kefanaan adalah hekekat diri

Mengapa mengunggulkan diri

Kau hanya sepatu, yang tak pernah naik dari kaki

Jika wajah hatimu hanya sekedar pencari hati

Bukan penemu diri

Kau tak akan pernah menemukan ke-dirian-mu

Jika kau masih berada dalam keabadian diri



Hai manusia

Siang-malam tak ada lelah

Menyusuri wajah-wajah yang punya kuasa

Membelai ucap dengan seribu kata dan janji

Menganggukkan rasa demi pundak yang semakin tinggi



Para pencari muka di sini dan di sana

Berkelebat

Ikhlas pun berupah warna

Bahkan menjadi hitam kelam

Yang ada hanya tipu, tipu kata dan tubuh berlakon malaikat

Yang sebenarnya adalah syaitan yang terus di laknat



Pencari muka

Yang suatu saat muka yang kau cari menjadi laknat

Dan hilang ditikam kiamat



Pencari muka

Sadarlah.......

Bahka mukamu, suatu saat akan dipertanggung jawabkan

Dihadapa muka yang sebenarnya.



Pencari muka

Carilah muka yang tidak pernah lapuk

Dan itu tempat mencari muka yang sebenarnya

Ketika muka-muka hancur

Muka-Nya abadi dan memberikan kesejukan.

Dan dihadapan Muka-nya kecintaan dan rahmat selalu mengalir.



Dan ingatlah,

mencari muka selain mukanya

hanya menambah kesengsaraan dan petaka

Bahkan kehancuran



وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ



Salam, bagi yang punya hati

Salam, bagi manusia yang masih tahu diri

Salam, bagi manusia yang masih punya Tuhan dan mau berdikari

Salam, bagi semua yang hari ini, bernafas cinta….memuntahkan rindu, bernostalgia menemukan harga diri..menuju Allah sang ilahi….



Malang, 8 November 2010