السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Senin, 12 Juli 2010

STOPAN


(sebuah kajian sign, menemukan hikmah)

Dua hari ini saya menikmati liburan bersama keluarga, dari satu tempat ke tempat yang lain, saya benar-benar menikmati perjalanan dengan mencoba berfikir hikmah apa yang bisa saya tangkap dari perjalanan saya. Kemudian saya mencoba merenungkan berbagai hal yang saya dapatkan dari Tubles, Tambal Ban, Terminal, spanduk, jalanan yang berkelok-kelok, dan naik turun dan juga saya menemukan lampu-lampu yang oleh orang disebut STOPAN. Dan setopan ini yang menjadi renungan saya kali ini, lampu yang tak pernah padam, yang selalu saya temui di pertigaan dan perempatan, warna lampu yang selalu seragam merah, kuning dan hijau, ketiganya selalu silih berganti, terkadang dari arah depan bergerak berbagai kendaraan yang ditandai warna hijau sudah menyala, dan mirah menggantikan posisi yang lain sehingga saya dan kendaraan lain harus berhenti, demikian selalu silih bergnati tampa henti.

Warna-warni lampu itu sungguh memberikan hati saya tenang dan mendapatkan keindahan, ketika lampu merah menghadang saya menikmatinya dan memuji kebesarannya dengan subhanaallah, yang telah memberhentikan dan mengatur jalan saya, dan juga memberikan ruang untuk mengistirahatkan diri yang sudah lelah dari perjalan menuju perjalanan lain, dan member waktu untuk mengatur nafas dan mengatur stategi berikutnya, dengan lampu merah pula saya mencoba untuk taat, karena itu larangan yang harus saya jahui dan saya hindari, kalau tidak akan berakibat fatal bagi diri saya dan juga orang lain. Seandainya saya langgar saya akan bertabrakan dengan kendaraan lain, yang kemungkinan dalam tabrakan itu dapat mencelakai diri saya, atau kendaraan-kendaraan itu saling bertabrakan sehingga saya haru menanggung akibat dari apa yang saya perbuat bagi diri saya dan akibat yang luar biasa juga kepada orang-orang yang lain, bahkan orang yang tidak melanggarpun juga akan celaka, karena akibat berbuatan yang saya langgar. Lampu merah, memberikan warna dalam diri ini, merah menyala yang sekali-kali tidak boleh ditembus oleh siapa pun termasuk saya, karena itu adalah batasan yang diberikan oleh peraturan lalu lintas, dan dalam kondisi terburu-buru pun kita harus sabar, menunggu karena nafsu selalu akan menerjang gara-gara hanya kepentingan pribadi, kadang tidak berfikir bahwa kepentingan pribadi hanya buaian nafsu belaka, jika hal itu dituruti akibatkan akan menjadi prahara besar.

Selain bermakna larangan, merah memberikan warna tersendiri bagi diri saya yaitu tuma’ninah. Kalau dalam gerakan shalat, setiap ingin berpondah dari satu gerakan menuju gerakan lain, dia harus tuma’ninah (berdiam sejenak), kalau tidak maka shalatnya menjadi batal dan sia-sia. Demikian juga, perjalan yang tanpa berhenti, maka akan menglami kejenuhan dan keegoisan diri (pembahasan ini saya akan bahasa panjang lebar di renungan TERMINAL). Lampu merah juga memberika sebuah keberaniaan seseorang untuk menahan nafsu, bukan malah membarakan nafsunya yang meledak-ledak, keberaniaannya bukan membunuh dan mencelakai orang lain, tapi keberaniaanya untuk memberikan ketengan, pertolongan, kesejahteraan dan kesejukan kepada orang lain.

Warna kuning juga tidak kalah menarik dengan warna merah, yang menandai (simbol) persiapan : baik berangkat atau berhenti, warna kuning sangat penting dalam kehidupan manusia, seandaninya tidak ada warna kuning (persiapan), apalah jadinya kehidupan ini, dan juga tidak dapat menikmati hikmah berhenti dan hikmah berangkat dalam perjalanan. Warna kuning tidak hanya memberikan kita untuk persiapan untuk berangkat, tapi juga persiapan untuk berhenti. Persiapan menuju pemberangkatan sangat dibutuhkan, baik persiapan metal, spiritual dan kedirian (jasad : kesehatan), jika seseorang dalam perjalanan tidak punya persiapan maka penyesalan akan terjadi, perjalanan di dunia atau perjalanan di akhirat, perjalalan di dunia tidak punya kesehatan mental ia akan disebut gila, atau spritula kering maka ia akan mengalami kegersangan hidup dan kesehatan yang tidak dipersiapakan maka diperjalanan tidak dapat menikmatinya dan tidak mampu memberikan hadiah hikmah dalam kehidupannya. Warna kuning, cukup berarti bagi siapa pun untuk menuju kehidupan yang sesungguhnya, kehidupan yang dipenuhi oleh keindahan dan kebahagiaan. Dan persiapan berhenti tidak kalah pentingnya, bagaimana dari jarak yang cukup jauh dia mengatur kecepatan kendaraan, dan bersiap-siap untuk berhenti, dia tidak lagi mengerem kendaraannya dengan sekaligus, tapi dengan berlahan-lahan, yang dipenuhi dengan kelembutan dan penghayatan, dengan melibatkan perasaan dan rasa. Dia dapat melakukan ancang-ancang berhentinya kendaraan yang nantinya dapat melaju dengan indah dan tepat sasaran, sehingga tidak menemukan kemacetan kembali, atau malah menemukan kendala dengan berhenti sesudah berhenti, bukan berhenti kemudian berangkat.

Bersambung………