السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Rabu, 14 Juli 2010

KESOMBONGAN, DAN PERGANTIAN PERAN HIDUP



(kajian hikmah)

Hidup dan kehidupan memiliki makna tersendiri, hidup adalah sebuah kenyataan dalam kehidupan, hidup adalah gerak, aliran, berkembang. Sedangkan kehidupan adalah hal, cara, yang berhubungan dengan hidup, sehingga pemaknaan atas kehidupan menyangkut pemahaman yang kita ciptakan sendiri atas hidup. Demikian juga mati dan kematian, mati adalah keniscayaan bagi kehidupan, sedangkan kematian adalah proses, cara, hal yang berkaitan dengan hidup.

Kesombongan memiliki dua makna yaitu menulak kebenaran dan merendahkan manusia ini berangkat dari sebuah hadis Rasul saw dari Abu Hurairoh radhiyallohu anhu bahwa Beliau Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan sekalipun sebesar biji dzarrah..Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan (meremehkan) manusia” (Riwayat Muslim, at Tirmidzi dan Abu Daud).

Dua kata di atas, kesombongan dan kehidupan memiliki kaitan yang sangat dekat meski pun tidak erat, karena tidak semua yang hidup memiliki kesombongan, tapi kesombongan dimiliki orang yang hidup, itu maksud dari kaitan yang sangat dekat.

Seringkali kita menyaksikan bahkan mungkin kita sendiri, ketika dalam posisi tertentu, entah jadi ketua panitia, ketua RT/RW, ketua Dekan, Rektor, Direktur, menteri, presiden dll, seakan-akan kita di atas awang-awang yang memiliki hak dan otoritas untuk menyuruh dan mengombang-ambingkan orang lain yang ada di bawah kebijakan kita, kadang tidak mengenal kemanusiaan mereka, seringkali melihat mereka sebagai bawahan yang tidak memiliki kecerdasan dan kepintaran, mereka kita remehkan dan bahkan dengan cara yang tidak terhormat kita singkirkan mereka, otoritas tertinggi yang kita miliki sering membuat kebijakan yang tidak proporsional, kita gampang mengutuk, dan mudang membungkam demi sebuah kepentingan kita, dan juga tidak jarang membuat mereka seperti hewan yang hanya dapat merengek seakan-akan mereka tidak memiliki daya, kadang kita tidak mengenal ampun pada kesalahan mereka seakan-akan hanya yang memiliki kebenaran, hal itu mungkin saya katagorikan kesombongan bagi seseorang yang lagi memiliki peran khusus dalam kehidupan yaitu jabatan, dan sifat di atas bias dilakukan oleh manusia-manusia yang tidak memiliki hati yang dipenuhi oleh kelembutan iman.

Kesadaran yang kemudian menjadi sadar untuk tidak melakukan kesombongan sangat sulit bagi seseorang yang memiliki watak berkepala batu, tapi yang memiliki kelembutan dan kemudian iman menyelimutinya yang dibingkai dengan ketawaduan akan sadar bahwa jabatan dll hanya peran yang sementara, dan tidak akan selamanya disandang, yang ketua panitia akan turun jika acaranya sudah selesai, kemudian ketua panitia menjadi anggota biasa seperti yang lain, demikin juga ketua RT/RW setelah habis masa kabatannya juga akan menjadi masyarakat biasa, yang kemudian digantikan dengan yang lebih layak, demikian jabatan-jabatan yang lain. Kesombongannya yang dilakukan sebelumnya hanyalah bersifat sementara, dan pada suatu saat akan menghancurkannya, dan ia akan merasakan kepedihan sedikit demi sedikit dan kemudian melumat dirinya. Dalam ayat Al-Qur’an “watilka al-yyamu nudawiluha baina an-naas” artinyadan pada hari itu kami tukar posisi manusia, agar manusia itu dapat berpikir”.

Pertukaran peran dan posisi sebuah keniscayaan hidup manusia, selalu ada pergantian dalam banyak hal baik jabatan, kaya-miskin, senang- sedih, duduk-berdiri dll. Ketika kesombongan hari ini memainkan peran sang maenstro, mungkin kehinaan akan menyelimutinya pada saat yang lain. Maka manusia harus selalu, memiliki keimanan dalam berbagai posisi, dan tidak memerankan sifat-sifat ketuhanan (kesombongan) ketika dalam posisi kejayaan. Karena kesomongan tidak akan mengangkat seseorang menjadi lebih hebat, tapi sebaliknya akan terpelanting dan kemudian jatuh. Berbeda dengan orang yang memiliki ketawadu’an (rendah hati) maka derajadnya akan diangkat oleh Allah sebagaimana sabda rasulullah saw “man tawadh’a rafa’ahullah” artinya “barang siapa yang rendah hati akan diangkat derajadnya oleh Allah. Wallahu ‘alam bi al-shawab.