السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Kamis, 17 Desember 2009

GELOMBANG CINTA

“Aku berlindung, agar jangan kau belenggu tanganku
tanpa dosa yang dilakukannya
tanganku dibelenggu ke kudukku
padahal tak pernah khianat dan tak pernah mencuri
di antara tulang-tulang rusukku terdapat hati
yang kurasa telah terbakar
adalah hakmu, wahai harapan hatiku
berbuat benar dan jujurlah
kalau kau memutuskannya pasti terputus
dan adalah hakmu kembali” (syair As-Saqathi)


Cinta tidak bisa sirna hanya disebabkan ketidakmampuan pengungkapannya. Sebab bagian utama dari cinta itu adalah hati, bukan rasio : seorang anak kecil mencintai susu, dan susu menjadi makanannya, meski demikian, dia tidak dapat menjelaskan apa susu itu sebenarnya. Meskipun jiwanya menghasratkan; mustahil dia mampu mengungkapkan dengan lisan kepuasan yang diperoleh dari meminum susu atau bagaimana dia menderita apabila dijauhkan dari susu (Rumi)


CINTA yang dibangkitkan oleh khayalan yang salah dan tidak pada tempatnya bisa saja akan menghantarkannya pada keadaan ekstase. Namun kenikmatan itu, jelas tidak seperti bercinta dengan kekasih sebenarnya. Kekasih yang sadar akan kehadirannya akan hadirnya seseorang yang mencintainya. Ini sebagaimana kenikmatan lelaki yang memeluk tugu batu di dalam kegelapan sambil menangis dan meratap. Meskipun ia merasa nikmat karena berfikir bahwa yang dipeluk adalah kekasihnya, tapi jelas tidak senikmat orang yang memeluk kekasih sebenarnya. Kekasih yang hidup dan sadar (Rumi)

Pecinta sejati adalah seseorang yang hadir dalam kegelapan rasa dan prasaan kemudian membuat sinar damai dan ketenangan, dengan bingkai taqwa dan iman (Halimi Zuhdy)

Salaman


Sebelumnya, Ibnu Minta maaf atas kelancangan Ibnu merangkai kata-kata dan menyulam pikiran-pikiran yang berserakan diantara taman-taman kerinduan, namun ia utuh membentuk pernik-pernik yang menghiasi hati, hati yang tersentuh oleh imajinas-imajinasi yang dibangun dengan kekuatan kasih.
mulutku bisu tak ada ungkapan, pikiranku buntu tak ada ide, tanganku beku tak ada kata yang dapat kuungkapkan dan tak ada rasa yang dapat ditampakkan dengan sempurna, karena ia bersemayam dalam ruh dan jiwanya, jiwanya saat ini lagi berperang melawan arus dan ombak yang mengalir deras –entah dari mana- dan ia berusaha untuk menghentikannya dengan sekuat tenaganya –meskipun itu bentuk penghianatan dan pembohongan pada dirinya- namun sampai tulisan ini terbaca gelombang itu belumlah berhenti, dan bahkan semakin berkecamuk menahan gelombang yang arusnya datang dari berbagai penjuru –maafkan jika terlalu lancang- doakan saja agar ia mampu membendung arus dan gelombang dahsyat itu meskipun dengan terseok-seok.

Maaf, hanya ini yang dapat terungkap, karena pikirannya tak lagi mampu menyeimbangi hatinya yang terbakar dan terhempas ombak, biarlah ia berjuang dan berdayung untuk memulihkan hatinya yang lagi tak dapat dapat didiamkan Entah ini nafsu birahi atau hakikat fitroh yang lagi bertengger -Ibnu tidak tahu-. Meskipun ombak itu bergelombang satu arah dan tak tahu arah tujuannya- itu tak jadi masalah-, asalkan gelombang itu terbaca dan syukur-syukur dibaca. Meskipun, pantai tempat gelombang itu akan berlabuh tidak merasa bahkan tak ada riak apalagi gelombang tak jadi masalah, yang penting ada ruang untuk mengungkapkan, itu cukup membuat Ibnu lega dan terbebasa dari belenggu yang menjerat.
Wassalaman