السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Sabtu, 05 Desember 2009

CINTA DAN PRIMORDIALISME

Jam 06.00 wib Handpone (HP) Fauzan berdering, ia menunggu dari pukul 05.00 wib. Setelah berbunyi beberapa kali ia angkat, namun tidak ada jawaban, dan juga tidak ada pesan. “Ah..ini siapa, kok aku tidak kenal nomor ini?,” ia letakkan kembali HP dan melanjutkan bacaannya, sambil menunggu HP nya berdering kembali, ia menikmati cerita Pikx Cui yang penuh histeris karena kisah cintanya yang tidak pernah sampai pada titik kebahgiaan dan tidak dapat menikmati rasa cinta itu, karena perbedaan suku dan ras. “kok..masih ada orang-orang seperti ini ya, mereka masih primordialisme, kalau kaum berpendidikan tidak mungkin memandang ras atau suku sebagai alasan untuk tidak dapat menuai cinta, semua orang sama yang membedakan mereka adalah ketakwaannya”. Sesaat kemudian HP-berbunyi, “hallo.., ini siapa”, dari HP itu, “ini aku mas, Fauziya..!”, keduanya ngobrol cukup serius, setengah jam pun berlalu, kedua-nya tanpak lesu dan menyisakan seribu masalah.


Fauzan memecet HP-nya untuk menghubungi nomor tadi, “hallo, dik..gimana kometmen kamu, kamu udah janji pada aku, dan aku udah ngomong sama ortu, ada apa sih sebenarnya, kok kamu berubah gitu?”, tidak ada jawaban dari Fauziyah, ia menutup HP-nya kembali, ia termenung beberapa saat, dan mencoba menghubungi nomor itu lagi, “Dik..ngomong dong, atau kita bertemu dan café aba?,”. ia mendengar suara tangisan dan seseorang lagi marah-marah, kembali HP-nya putus dan tidak ada jawaban, ia mencoba menenagkan pikirannyaa.

Setelah satu hari berlalu, Fauzan bertemu Fauziyah tanpa sengaja, di dekat Sardo, ia ngajak berbicara tapi fauziyah menulaknya, “kenapa..dik?”, ia menjawab” malas aja mas, aku lagi kurang enak badan”, “ia sudah kalau gitu, kalau ada sesuatu jangan disimpan, ngomong aja, insya Allah aku tidak marah kok, kita sudah tiga tahun bersama, masak gara-gara hal yang aku tidak pahami membuatku marah, ”. Fauziyahpun membuka pembicaraan, “Mas sebenarnya, aku tidak ingin hal ini terjadi pada diriku, yang sekian lama aku mencintai mas dan mas mencintaiku, gara-gara ini, aku tidak lagi bersama mass!, Fauzan mengercitkan dahinya, “dik..ada apa sih, kok aku jadi penasaran”.

Fauziyah mulai merunduk, “Mas kemarin aku berbicara dengan Ibu, tentang mas dan perjalanan kita!,” ia mulai meneteskan air matanya, kemudian melanjutkan pembicaraannya, “Ibu ingin tahu tentang diri mas, setelah saya cerita panjang lebar tentang mas, ia pun tertarik dan ingin bertemu mas, karena saya bilang, mas itu pintar, baik dan sopan, namun setelah saya beritahu mas orang Bima, ibuku secara spontan tidak ingin aku melanjutkan pembicaraan lagi” tangisannya semakin menjadi-jadi, “Lanjutkan dik”, kata fauzan “Sudah..mas, aku tidak ingin mengecewakan mas, aku paham mas dan mas paham aku, namun ortuku belum memahami kita”. Fauzan menarik nafas panjang.

Ia mulai menenangkan Fauziyah, “Ia sudah, kalau gak, mau dilanjutkan mungkin besok atau lusa, kamu dapat melanjutkan-nya, dan kalau hal itu tidak memberatkan kamu”, Fauziyah menyela “Mas..!” ia menatap sedu pada Fauzan, sembari menyela air matanya yang terus mengalir, keduanya pun meninggalkan warung kecil dekat Sardo.

Fauziyah pulang dengan hati gundah, ia terus berfikir bagaimana caranya untuk menjelaskan pada orang tuanya, tentang hubungannya dengan Fauzan agar hubungannya direstui orang tuanya, namun setiap fauziyah ingin ngomong Ibu dan Bapaknya selalu menghindar. Di raut wajahnya menyimpan sejuta kekecewaan. Jawaban Ibu-nya yang ditunggu-tunggu belum kunjung tiba, “Mengapa ketika aku bilang, dia orang Bima, ibuku tidak mau melanjutkan pembicaraan lagi, ada apa ya.?” Ia berguman, sambil mencari-cari jawaban.

Beberapa hari setelah itu, Fauziyah sering melamun dan jarang keluar kamar, setiap ibunya ngajak makan Fauziyah selalu bilang sudah makan, “Nak..kenapa sih kamu?, sakit..ya?. Fauziyah diam dan hanya tetesan air matanya yang terus mengalir, ibunya bertanya lagi “Ada apa Fauziyah?, Fauziyah memeluk Ibunya, sambil terisak-isak menangis, “Ngomong kalau ada masalah, jangan disimpan” kata sang ibu.

Fauziyah mulai berbicara “Bu..! kenapa setelah Fauziyah ngomong kalau mas orang Bima, ibu tidak mau melanjutkan pembiacaraan, kenapa sih..bu?,” Ibunya tertegun “Mungkin selama ini Fauziyah sering diam gara-gara sikapku” ia berguman. “Nak..aku bukan tidak setuju dengan pilihan kamu, asalkan bukan orang Bima,” Fauziyah semakin tidak mengerti, “Kenapa sih..bu, kenapa orang Bima?”. “ kamu lihat tetangga sebelah?, setiap hari tengkar terus, ia orang Bima!, kamu lihat di seberang sana yang sering buat kerusuhan!, kamu lihat dibelakang terminal yang sering membuat onar, semuanya orang Bima”, Fauziyah pun menghelas napas panjang, dengat sikap ibunya yang begitu anti Bima dan kesal terhadap mereka, “Bu..! apaka ibu tidak pernah tengkar, apakah tetangga yang lain gak pernah buat onar, apakah di terminal seluruhnya yang mencopet, menjambret orang Bima”, Nada suara Fauziyah mulai tinggi “Sekarang Fauziyah paham, kenapa Ibu tidak setuju dengan mas Fauzan!, gara-gara dia orang Bima.., bu..!..tidak semua orang itu baik..dan tidak semua orang itu jelek, demikian juga orang Jawa, Bima, ,Sumatra, Madura, Malaysia, Mesir dan lainnya ..bu,”

Ibunya kesal dengan sikap Fauziyah yang ngotot itu, “ya..sudah kalau kamu memaksa ibu tidak akan merestui kamu, terserah kamu..! ikut ibu atau ikut orang Bima itu!.” Fauziyah pun diam seribu bahasa, dia tidak paham kenapa ibunya sampai bersikap sekeras itu.
Teman, kungkungan primordialisme cukup membuat nafas sempit dan seakan-akan dunia seperti daun kelor, kekuasaan dan ciptaan yang beraneka ragam dan begitu luas menjadi tidak berfungsi, ikhwah (persaudaraan) yang menjadi ajaran pokok agama hilang, keluasan ilmu menjadi mandek. Primordialisme menjadi firus yang dapat menghambat persaudaraan, persatuan dan kesejahteraan. Karena seakan-akan dunia seluas ini hanya dapat dinikmati sendiri (egoisme), diatur sendiri, dan kebenaran sendiri (privat trut) .

Ciri-ciri primordial, kaku, egois, subyektif, emosional, konflik disfungsional serta hal-hal lain yang tidak menguntungkan. Lain halnya dengan orang yang terbuka (luas pengetahuan) dan nonprimordial, mereka selalu bersikap rasional, objektif, keberpihakan pada kebenaran, non rasisme, tidak memjunjung kesalah diatas kebenaran.

Dari cerita tadi betapa kuatnya primordialisme disebagian dunia yang sulit untuk dihapuskan, terutama berkaitan dengan cinta, banyak kita saksikan dimedia massa, media elektronik, atau kisah nyata lain yang kita saksikan sendiri, mereka yang mempertahankan ego, mereka yang mempertahankan kekuasaan, mereka yang masih mempertahankan kehormatan diri dan menghancurkan kehormatan orang lain, mereka mengorbankan cinta orang lain dan ego pada cinta sendiri, mereka yang selalu merindukan kedamaian dibawah penderitaan orang lain.
Cinta yang begitu agung, ketika berhadapan dengan primordialisme menjadi sampah dan tidak berarti, namun,..kawan itu bukan cinta yang murni, karena cinta yang murni adalah menembus batas tutorial promordialisme.

Cinta adalah Kebebasan yang tidak satu orang pun berhak mengatur cinta apalagi memenjarakannya, cinta tidak ada aturannya, cinta tak ada undang-undangnya dan cinta adalah belantara yang penuh dengan teka-teki, teka keindahan dan teki kemesraan. Kalau Fauzan cinta Fauziyah... mengapa disalahkan ,...wong cinta bukan karena dibuat tapi muncul dari kuasa batin dan rahmat Tuhan. cinta adalah sebuah rahmat yang harus disyukuri oleh manusia yang masih punya rasa cinta...tapi ingat..! bukan cinta yang harus disalahkan tapi ekspresi cinta yang sering mengotori dan melumuri dengan noda-noda kehinaan, ekspresi cinta yang sejati tidak akan seperti anjing, yang menjilat kesana-kesini, bergandeng-kesana-kesini, cinta tidak seperti kucing yang hanya mencium dan menikmati itu kalau ia suka, namun kalau terasa kecut dibiarkan bahkan dibuang, cinta kadang tidak bernilai seperti bungkus kacang, cinta kadang seperti tim kesebelasan setelah diraba – disentuh-dilempar bahkan dibuang jauh-jauh. kesalahan bukanlah terletak pada cinta tapi pada ekspresi, ekspresi inilah yang membuat sebagian orang melarang bercinta, membelenggu cinta, menghujat cinta, mengharamkan cinta..bahkan membohonginya….wong cinta tidak akan pernah berbohong dan dibohongi... dan ekspresi yang saya maksud adalah pengungkapan yang kadang tidak sesuai dengan norma dan etika, kalau masih wajar dan tidak menyalahi norma siapapun tidak berhak melarang cinta bahkan memenjarakannya. Sudah sangat banyak kisah dan ibroh tentang hal ini, maka pahamilah…..!

Cinta adalah cahaya yang mengarungi samudera kegelepan menjadi debur sinar yang menyinari hati-hati yang kaku, beku, deku dan kelu, dan cahayanya mampu merobohkan keangkuhan dan kesombongan menjadi ketenangan dan kesejuaan. Cinta itu fitroh manusia, yang tak kenal pintar, bodoh, putih, hitam, suku, ras. Allah menjustifikasi bahwa cinta adalah bagian primordial Tuhan, bukan primordial manusia.