السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Sabtu, 05 Januari 2008

DI MANA KUCARI KEBAHAGIAAN


DI MANA KUCARI KEBAHAGIAAN

Halimi Zuhdy LS*)
Suara angin mendesir menelusuri semak-semak dan
bertiup lembut menerpa rambut panjang seorang pemudi
yang lagi duduk termenung dengan suara gemuruh
dadanya.
Ia menatap rerumputan hijau dihadapannya, dengan
tatapan kosong. Sesekali ia memukul-mukulkan tangannya
yang lembut ke pahanya. Kadang ia tundukkan kepalanya
dengan tetesan air matanya, kadang menengadah
kelangit dengan menarik nafas panjang.
Sudah lama ia duduk-duduk, namun belum menemukan
noktah-noktah yang ia cari, yang ia temukan hanyalah
bayangan dirinya yang sesekali menghilang karena
matahari tertutup awan, ia hanya menemukan kesedihan
dalam gerak lembut hatinya, sekelilingnya yang penuh
dengan bunga-bunga mekar nan indah tidak membuatnya ia
tersenyum. Sesekali ia torehkan isi hatinya pada daun
jati yang berguguran disekelilingnya
Kukejar angan
Kukejar cita
Kukejar hasrat
Datanglah lelah dan payah
Hatiku rapuh
Bait-bait puisi yang ditulisnya, terkadang membuat ia
tenang sejenak, namun sesekali ia berteriak keras dan
melemparkan larik-larik puisinya diarus sungai yang
gemercik membuat musik tersendiri. Namun musik-musik
sungai itu tidak mampu menenangkan gejolak jiwanya
yang mulai lelah. Ia tuliskan kegundahan hatinya pada
arus air sungai itu…….
Aku ingin menangis
Namun air mataku kering
Aku ingin berteriak
Namun suaraku habis
Aku hanya menginginkan
Ketenangan dan kebahagiaan
namun dimanakah kau……..
kekosongan makin senyap, “anakku!” ada suara menyapa
dari balik rerimbunan pohon dibelakangnya, “sedang apa
kau di sini?”. Pemudi itu kaget, ditempat yang sepi
dan senyap ternyata ada orang lain, pak tua itu
bertanya lagi, “nak apa yang kamu lakukan ditempat
yang sepi dan senyap ini?.
Pemudi itu menarik nafas panjang“Pak tua..!, aku
capek..!, aku lelah..!, aku sesak..!, berhari-hari,
berminggu-minggu, berbulan-bulan aku terjang pagi dan
petang. Aku tempuh lautan, lembah, gunung, bahkan
duniapun sudah ada dalam genggamanku, demi untuk
mencari setitik kebahagian, namun, aku belum temukan
kebahagiaan itu dalam diriku, aku belum merasakan
kebahagiaan yang hinggap dalam hatiku, aku pusing pak
pak tua..! aku lelah..!. matanya berkaca-kaca,
seakan-akan ia ingin menuangkan kekesalan dan
kekecewaan hidupnya, pak tua..!, kapan aku mendapatkan
rasa itu?”.
Pak tua itu diam dan membelai-belai rambut pemudi yang
kusut terurai panjang itu, ia mendengarkan keluh kesah
sang pemudi dengan penuh perhatian, sesekali ia
menganggukan kepalanya, sesekali menatap pemudi itu
dengan keheranan. Dari rona wajahnya kelihatan lelah
dan tidak mempunyai gairah hidup. Ia pandang kembali
wajah pemudi itu, lalu berkata, “Nak jika kamu ingin
menemukan apa yang kaucari, dan ingin merasakan apa
yang kau inginkan, di sana ada taman penuh bunga dan
beraneka ragam kupu-kupu, tangkaplah kupu-kupu itu
buatku.”
Pemudi itu menatap pak tua. Tidak percaya. Pak tua itu
menganggukkan kepalanya, ”ya..tangkaplah kupu-kupu itu
untukku dengan tanganmu,” pak tua itu mengulang
kata-katanya.
Pemuda itu mulai menuju taman yang tunjuk pak tua
tadi, benar, ia menemukan taman yang indah yang
disekelilingi dengan sungai-sungai, ditaburi
bunga-bunga harum semerbak, ia lihat kupu-kupu
menari-menari seakan mengajaknya untuk berdansa. “oh
..disana ada kupu-kupu bergerombol,” ia bergumam.
Ia mulai memasang kuda-kuda, mengendap-endap. Menuju
gerombolan kupu-kupu yang lagi asik bercengkrama. Hap!
Luput. Segera ia mengejarnya, hap!, luput. Takut
kehilangan buruannya, ia kejar. Ia arahkan tangannya,
di mana ada kupu-kupu yang terbang.,
hup!,Hup!,hup!…luput. gagal!.
Ia ingin menemukan apa yang ia cari yang dijanjikan
pak tua tadi, ia mulai bergerak cepat, berlari tak
beraturan. Menerjang ke sana ke sini. Bunga-bunga yang
indah pun rontok, daun-daun yang menghiasi taman itu
muali berguguran, rerumputan mulai layu. Ia merobek
ilalang, menerjang perdu, mengejar kupu-kupu itu.
Gerakan semakit gesit dan liar.
Seluruh taman ia jelajahi, kupu-kupu kebingungan. Ia
tidak menyerah, sejam, dua jam, ia terus mengejar
kupu-kupu itu, namun belum satupun kupu-kupu
tertangkap. Ia mulai kelelahan, gerakannya mulai
lamban, keringatnya bercucuran. Namun tidak ada
tanda-tanda ia ingin berhenti untuk menangkap. Ia
terus memburu, terkadang ia jatuh sempoyongan.
Nafasnya mulai naik-turun dengan cepat. Taman yang
sebelumnya indah kini berubah tidak beraturan.
Tiba-tiba, “berhenti dulu anakku, istrihatlah!” pak
tua itu menghentikannya, dengan lahkah penuh wibawa
raut wajah penuh rona kebijaksanaan, ia menghampiri
pemudi tadi, dipundaknya ada dua kupu-kupu yang
hinggap.
“ Nak…., kau sudah lelah, kau sudah capek..,
berjam-jam kau berlarian, kau robek taman-taman yang
indah dengan gerakanmu, tapi kau belum dapat menangkap
kupu-kupu satupun untukku, begitukah caranya kau
mengejar kebahagiaan? Berlari dan menerjang? Merusak
pesona taman? Kau injak-injak rerumputan hijau? Kau
tidak peduli apa yang ada disekelilingmu? hanya
dengan waktu sekejap taman ini sudah berantakan,
beginikah caramu mencari rasa kebahagiaan itu?,”. Pak
tua menatap pemudi itu dengan penuh kasih.
Pak tua, memegang pundak pemudi itu. Lalu berkata,
“Nak…mencari kebahagiaan itu seperti menangkap
kupu-kupu. Semakin kau terjang, ia semakin lari dan
menghindar. Semakin kau buru, maka semakin ia menjauh
dari dirimu.”
“Tangkaplah kupu-kupu itu dalam hatimu. Karena
kebahagiaan itu itu bukan benda yang dapat kau genggam
atau sesuatu yang dapat kau simpan. Carilah
kebahagiaan dalam hatimu, telusuri rasa itu dalam
kalbumu, ia tidak akan lari, bahkan tanpa kau inginkan
ia muncul dan menampakkan,”. Ia mengulang
kata-katanya, “Nak..carilah kebahagiaan dalam hatimu”,
sambil ia memegang dada kirinya, “kebahagiaan itu
disini, bukan di sana, dia selalu menyertaimu, selalu
berada dekat denganmu!, kenapa kau jauh-jauh
berpetualang hanya demi kebahagiaan yang tidak pasti
kau dapatkan, mengapa kau sibuk siang malam dengan ego
mu, yang tidak pasti kau dapatkan, Nak..! carilah
dihatimu, karena ruang hati cukup luas, apa yang kau
inginkan akan kau dapatkan dalam hatimu!,”.
Shobat, mencari kebahagiaan itu seperti mengejar
kupu-kupu, semakin kita bernafsu untuk menangkapnya,
semakin ia menjauh dari kita, semakin kita memburunya,
ia semakin gesit dan sulit kita tangkap. Namun kadang
sangat mudah kita menangkapnya, bahkan tanpa kita
tangkap ia akan hinggap, bagi kita yang tahu caranya.

Shobat, kita terjang apa yang ada dihadapat kita, kita
sikat apa yang menghalangi kita, kita sikut yang
semua penghambat-penghambat. Namun kupu-kupu itu
terkadang belum kita dapatkan. Kenapa….? Demikian juga
dengan kebahagiaan!.
Setiap kita mengejar kebahagian dengan nafsu dan
kenginan yang meluap-luap, namun kebahagian belum
kunjung tiba, semakin kita bernafsu semakin sulit ia
hinggap dalam hidup kita.
shobat, kebahagiaan itu bukan benda yang dapat kita
indra, kebahagiaan itu bukan materi yang dapat kita
genggam, keindahan itu bukan barang yang dapat kita
simpat. Kebahagiaan itu bukan mobil yang mahal, bukan
rumah yang mewah, bukan istri atau suami yang cakep,
kebahagiaan itu bukan uang yang melimpah, kebahagiaan
itu bukan nasab yang agung, kebahagiaan itu bukan
wajah yang tampan, kebahagiaan itu bukan jabatan yang
tinggi. Kebahagiaan itu bukanlah barang yang dapat
digenggam,bahkan disimpan. Namun, kebahagiaan adalah
udara, kebahagiaan aroma harum dari udara itu.
Shobat, kebahagiaan itu ada dalam hati, ada dalam
hati, semakin kita bernafsu mengejarkan ia semakin
jauh.
Shobat, temukalah kebahagiaan dalam hati kita. Biarlah
ia merdansa dan menari-nari dalam hati kita,
biarkanlah ia terus bersemayam dan abadi dalam kalbu
kita. Maka temukanlah kebahagiaan dalam setiap langkah
apa yang kita lakukan. Dalam susah, dalam belajar,
dalam merenung, dalam sunyi, dalam kegembiraan, dalam
kesedihan. Temukanlah kebahagiaan itu, dia tidak akan
lari bahkan mendekat jika kita terus belajar mencari
kebahagiaan dengan hati lembut, dengan hati tulus dan
dengan hati tenang.
Shobat, buatlah ia hinggap selalu dalam diri kita,
karena ia ada dimana-mana, bahkan setiap langkah dan
kerdip kita ia selalu menyertai, namun terkadang kita
acuh dan cuek dengan itu, sehingga kita merasa tidak
pernah ada kebahagiaan yang hinggap dalam diri kita.
Temukanlah..! selalu kebahagiaan itu dalam hati kita,
jangan mengeluh karena tidak bahagia, namun
mengeluhlah kenapa hati tidak tulus mencari
kebahagiaan.