السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Sabtu, 05 Januari 2008

JERITAN SEORANG PEREMPUAN

Halimi Zuhdy Ls* 
Saya katakan, rahim-rahim kami telah terisi dengan janin akibat perkosaan yang dilakukan keturunan kera dan babi itu. Mereka telah menodai tubuh kami, meludahi muka kami, dan merobek-robek Al-Quran untuk digantungkan ke leher-leher kami. Allahu Akbar. (Fatimah) Saya saudaramu karena Allah!!. Mereka memperkosa saya lebih dari sembilan kali dalam satu hari. Bisakah kau bayangkan? Bayangkan salah satu saudaramu diperkosa. Bersama saya ada 13 gadis, semuanya belum menikah. (Fatimah) 

Sungguh, kata-kata di atas menggungah hati, membelalakkan mata, mengiris-ngiris dada, betapa berat cobaan dan siksaan yang ditanggung Fatimah, salah seorang tahanan Abu Gharib, yang sudah berbulan-bulan berada dalam sangkar harimau AS. Fatimah, begitu ia dipanggil, ia ditangkap sebagai umpan saudaranya, agar menyerahkan diri. Sudah berbulan-bulan AS mencarinya, namun hanya kekecewaan yang mereka dapat. Saudarannya itu, dianggap pembangkang, penyebar kerusakan, pengacau keamanan, mekipun menurut keyakinan dirinya adalah pejuang sejati (mujahid), karena membela kehormatan agama dan negaranya dari tangan-tangan laknat, AS. 

Fatimah dari kalangan terhormat, keluarganya dikenal kebaikan dan ketakwaannya. Ia salah-seorang perempuan di antara perempuan-perempuan Iraq yang masih suci dan perawan. Namun, ia menjadi korban pelampiasan nafsu bejat tentara AS, ia menjadi pemuas syahwat hewani mereka, ia menjadi korban kebejatan dan keganasan keangkuhan mereka. Mereka yang tidak akan pernah puas dengan meminum darah muslim, mereka yang tidak akan pernah tunduk dibawah bendera kebenaran, mereka yang tidak akan pernah takluk oleh jeritan-jeritan anak dan perempuan-perempuan tak berdosa. Mereka tidak akan pernah sadar akan kegilaan-kegilaannya, dan jiwa-jiwanya akan selalu mencari korban-korban demi pemuas nafsu bejatnya, selama mereka masih berada dibawah bendera-bendera syaitan. 

Sebagaimana yang disinyalir dalam Al-Qur’an, bahwa orang Yahudi dan Nasrani, tidak akan pernah (Lan) rela padamu sehingga kamu mengikuti agama mereka. (Al-Baqoroh :120) Kebejabatan mereka sudah bukan rahasia lagi, bukan hanya hari ini mereka berbuat mungkar, makar, dan kehancuran. 

Perbuatan laknat itu dilakukan sejak dahulu kala, dan mereka tidak akan pernah berhenti sampai orang-orang muslim tunduk dibawah kaki mereka. Naghuzubillah. Fatimah, hanya salah satu dari perempuan-perempuan muslimah yang kehormatannya ditelanjangi oleh laknatullah-laknatullah dan sekutu-sekutu syaitan itu. Seperti di Bosnia, beribu-ribu perempuan suci ternodai, mereka mengandung keturunan—meminjam bahasanya Fatimah—babi dan kera. Perempuan-perempuan yang setiap harinya menjaga kehormatannya, kesuciannya dan kegadisannya, direnggut dengan paksa, diperkosa secara massal di depan keluarganya, bahkan kemaluannya disetrum dengan listrik, dialiri timah, kemudian berondongan tembakan menyertainya. 

Mari kita resapi jeritan panjang Fatimah, lewat suratnya, yang sempat menghebohkan Bahgdad. Suratnya itu berhasil diselundupkan keluar dari penjara Abu Gharib di tengah malam yang sunyi, di mana para tentara AS dan sekutunya terbuai dengan anggur, alkohol dan perempuan-perempuan simpanannya. Fatimah menulis suratnya dengan tetesan-tetesan keringatnya yang mulai mendidih karena amarah, ia menulis dengan air matanya yang mulai mengering karena tak ada tetesan air yang mengalir ditubuhnya, ia menulis dengan darahnya yang mulai menghitam karena kehormatannya dicabik-cabik. 

Salinan suratnya berhasil ditemukan oleh Mafkarat al-Islam. Yang Isinya sebagai berikut : Bismillahirrahmanirrahiim. *Say He is God the One; God the Source [of everything]; Not has He fathered, nor has He been fathered; nor is anything comparable to Him.* [Qur*an, Surat 112 *al-Ikhlas*] Saya menulis surat Al-Ikhlas ini karena mempunyai arti yang mendalam bagi saya, dan menimbulkan getaran di hati orang-orang yang beriman. Saudaraku mujahidin di jalan Allah* Apa yang dapat kukatakan padamu? Saya katakan, rahim-rahim kami telah terisi dengan janin akibat perkosaan yang dilakukan keturunan kera dan babi itu. Mereka telah menodai tubuh kami, meludahi muka kami, dan merobek-robek Al-Quran untuk digantungkan ke leher-leher kami. Allahu Akbar. Tidakkah kau mengerti tentang kejadian yang menimpa kami? Betulkah kau tidak tahu ini terjadi pada kami? Kami saudaramu, dan Allah akan meminta tanggungjawabmu tentang kejadian ini kelak. Demi Allah, tidak semalam pun kami lewatkan di penjara ini kecuali mereka mendatangi salah satu dari kami untuk melampiaskan nafsu setannya. Padahal kami selalu menjaga kehormatan kami karena takut kepada Allah. Takutlah pada Allah! Bunuhlah kami bersama mereka! Hancurkan mereka bersama kami! Jangan biarkan kami di sini agar mereka bisa bersenang-senang memperkosa kami, sesungguhnya ini adalah sebuah perbuatan dosa besar di sisi Allah. Takutlah pada Allah akan urusan kami. Biarkan (jangan serang) tank dan pesawat mereka. Datanglah pada kami di penjara Abu Ghurayb. Saya saudaramu karena Allah. Mereka memperkosa saya lebih dari sembilan kali dalam satu hari. Bisakah kau bayangkan? Bayangkan salah satu saudaramu diperkosa. Bersama saya ada 13 gadis, semuanya belum menikah. Semuanya telah diperkosa didepan mata kami semua. Mereka melarang kami untuk sholat. Mereka mengambil pakaian kami, dan membiarkan kami telanjang. Saat surat ini saya tulis, seorang diantara kami telah bunuh diri setelah diperkosa beramai-ramai. Seorang tentara memukulnya di dada dan paha setelah memperkosanya, lalu menyiksanya. Gadis itu kemudian bunuh diri dengan memukulkan kepalanya ke tembok penjara, karena dia sudah tidak sanggup menerima ini. Meskipun bunuh diri dilarang oleh Islam, saya memaklumi perbuatannya* Saya hanya berharap, semoga Allah mengampuninya, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Saudaraku, saya katakan padamu lagi, takutlah pada Allah. Hancurkan kami bersama para tentara itu, agar kami bisa beristirahat dalam damai. Tolonglah kami, tolonglah kami, tolonglah kami* Waa Mu’tasimah!. 

Surat ini telah berakhir, namun penderitaan penulisnya dan para muslimah belum berakhir. Hatta mataa haadza s-sukuut !! Ini yang sudah kesekian kalinya terjadi.. Entah berapa lagi akan segera menyusul Kemarin, hari ini dan besok Begitu seterusnya.. Ya Rabb nasyku ilaika da'fa quwwatina Wa qillata hiilatina Allahumma n-shurna nashran adziima Allahuma 'alaika bil haaula l-kuffar Allahuma 'alaika biman adzaa l-muslimin. Fatimah, dari tahanan Abu Gharib Tetesan-tetesan tinta Fatimah di atas, sungguh menghentakkan jiwa-jiwa yang masih punya rasa; rasa kemanusiaan, dan rasa persaudaraan, persaudaraan Islam. 

Mereka sekutu-sekutu syaitan, dengan kedok demokrasi, jiwa leberal, nafas kemanusia, menghancurkan masa depan perempuan-perempuan tak berdosa, perempuan-perempuan yang selalu menjaga mahkota terindah dan terhormat, mereka hancurkan begitu saja, demi kepuasaan hasratnya.. sungguh aneh, tapi itu adalah sebuah kenyataan pahit yang harus ditelan oleh umat Islam. Lagi-lagi perempuan yang tidak berdosa menjadi makanan empuk mereka. 

Sungguh biadab; mereka tidak punya hati nurani, mereka tidak punya rasa kemanusiaan, mereka yang tidak punya kehormatan. Mereka yang mengatas namakan HAM, berani meluluhlantakkan negeri-negeri Islam. Negeri yang hanya ingin menerapkan hukum-hukum Islam, negeri di mana penduduknya menginginkan kedamaian dan ketentraman. Negeri yang ingin menerapkan hukum rajam, potong tangan, dan hukuman mati, mereka anggap menyalahi demokrasi, demokrasi paham mereka. Dan dianggapnya, hukum Islam adalah hukum yang tidak berprikemanusiaan, prikemanusiaan paham mereka. 

Sungguh aneh, mereka yang selalu berorasi dan bertindak atas nama HAM, namun di sana sini, mereka menghancurkan, memperkosa, mencuri bahkan membunuh dengan sadisnya. Ada orang yang mengatakan kalau membunuh secara mencicil, namanya teroris. Tetapi kalau membunuh masal, bukanlah terorisme, melainkan ‘tindakan keamanan’. Jadi, ketika pesawat-pesawat Israil masuk negara lain dan membunuh masyarakat di selatan Lebanon, Yordania, dan daerah lain, mereka tidak disebut teroris, karena pembunuhan bersifat masal dan demi pengamanan daerahnya. Di samping itu, tindakan mereka ditolerir dengan alas an melindungi perdamaian. 

Pembunuhan yang dilakukan mereka tidak hanya dengan membombardir negara-negara yang dianggap berbahaya bagi keutuhan mereka, namun mereka membunuh dengan pelan-pelan seperti yang disinyalir oleh buku American Shadow Government, “Bahwa mereka menyebarkan virus-virus penyakit yang mematikan keseluruh dunia, dan HIV/AIDS adalah salah satu dari jenis virus dan penyakit itu. Alasan dan landasan dasar untuk melakukan hal ini adalah untuk dengan sengaja melakukan “seleksi khusus” dalam upayanya mengurangi penduduk dunia. Kemudian dalam buku itu juga, “berhati-hatilah dengan program Organisasi Kesehatan Dunia/World Health Organization (WHO) dalam programnya memberikan imunisasi”, ketika mereka menjelajah dunia dengan program vaksinasinya, maka disitulah tersebar wabah AIDS atau pun wabah lainnya”. Lagi-lagi mereka yang tidak berdosa menjadi makanan empuk mereka. 

Rintihan Fatimah, adalah bukti kebobrokan demokrasi mereka, demokrasi yang digembar gemborkan mereka sebagai ediologi kedamaian, tapi nyatanya adalah pemerkosaan hak-hak dan kehormatan. Kalau kita sadar, masih banyak Fatimah-fatimah lain yang menjadi korban-korban keganasan mereka (oknum AS, Eropa, Ziones, salibis dan sekutu-sekutunya). 

Sebagaimana yang dinyatakan Herak, prajurit Serbia berusia 21 tahun, dalam pernyataanya; “disebuah ladang di luar kota Vogosca, satu pasukan Serbia menembaki ratusan orang, termasuk perempuan dan anak-anak. Mayat-mayat mereka diangkut truk sampah, dionggokkan di sumur besar dekat rel kereta api di Rajlovoc. Bensin disiramkan di atasnya, dan tubuh-tubuh muslim-muslimah itu berubah menjadi nyala api. Masih dengan wajah tanpa emosi, Herak menceritakan kejadian di Donja Bioca. Orang-orang Islam ditembaki dan dilemparkan ke tungku api pabrik baja. Sebagian di antara mereka dimasukkan ke sana hidup-hidup. (The New york times, 1992). 

Yang paling mengerikan adalah kisah kamp-kamp yang menyimpan kaum muslimat. Kamp-kamp dibuat oleh Serbia dan Kroasia, para prajurit diperintahkan untuk memperkosa mereka di depan umum, sering di depan keluarga mereka. “Lakukan apa saja terhadap perempuan-perempuan itu semau kalian. Kalian boleh bawa mereka ke mana pun, tapi jangan bawa mereka kembali ke sini,” perintah komandan kamp kepada para prajurit seperti masih diingat dengan jernih oleh Herak. Mereka menggiring tawanan Muslimah itu ke mana saja, memperkosanya (sering dengan cara yang kejam, seperti dengan membakar rambutnya), dan membunuhnya. 

Menurut Nina Kadic dan Yelijka Mrkic dari Zagreb, lebih dari 120. 000 muslimat mengalami nasib yang mengenaskan. (Kang jalal, 164 ). Bandingkan cerita Herak, prajurit Serbia Yerussalem 15 Juli 1099, yang berjudul Gesta Francorum : “ segera saja pasukan kami menguasai seluruh kota, merampas emas dan perak, kuda dan keledai, dan rumah yang penuh dengan segala macam kekayaan. Semua anggota pasukan kami bergembira dan menangis bahagia ketika berdoa di Gereja. Pagi hari, orang-orang kami menaiki atap rumah, menyerang semua muslim, laki-laki dan perempuan, dan memotong kepala mereka dengan pedang. Basah dengan darah dari ujung keujung, pedang kami menebas dan menancap sampai kepuasan menghentikannya.” 

Masih ingatkah pembantaian-pembantaian lain yang dilakukan oleh mereka (yang tidak rela melihat Islam jaya), pada 1552, pasukan Rusia di bawah pimpinan Ivan the Terrible menyerbu Kazan dan menyembelih 30.000 orang muslim. Pada permulaan abad 18, pembantaian besar-besaran umat Islam terjadi di Monenegegro, orang-orang Islam disuruh memilih: dibunuh atau masuk Kristen. Peristiwa ini, dikenal dengan sebutan Istraga Poturica (pemusnahan Islam). Pertengahan abad 19 pembantaian besar juga dilakukan oleh Serbia, pembantaian massal juga terjadi pada bulan Maret 1807, ketika Serbia memperoleh status otonomi. Ketika Perang Dunia II meledak, pasukan kerajaan Yugoslavia berkampanye untuk memusnahkan kaum muslimin di seluruh Yugoslavia. Sejak tahun 1941 sampai 1943, lebih dari 103.000 orang Islam dibunuh. 

Siapa dibelakang mereka?. Anda sudah dapat menebak. AS, Eropa, dengan salibis dan zionisnya dengan mengendarai PBB ada dibelakang mereka. Lagi-lagi mereka!!! Sampai detik ini, mereka terus beraksi menghancurkan, mengobrak-abrik, membrangus, rasa-rasanya, mereka tidak senang melihat umat Islam hidup dalam ketenangan, kedamaian, dan kesejahteraan. Rotasi kejahatan mereka sekarang berada di tanah suci agama-agama langit, Baitul Muqoddas. Dan di tempat beradaban umat Islam berkembang, Iraq. Sudah berapa nyawa melayang, sudah berapa perempuan dan anak-anak yang menjadi tumbal keganasan mereka. 

Mungkin mereka (zionis) ingin bernostalgia, sebagaimana salibis-salibis sembilan ratus tahun silam, menjadikan Bait Muqoddas dengan banjir darah, sehingga tak ada satu jengkal tanah pun yang tanpa aliran darah Muslim-muslimah. Mereka benar-benar tidak akan rela umat Islam jaya dan merdeka, kapan pun dan di mana pun. Senyum mesra politis tampak dari mulut-mulut mereka, namun hasrat mereka tetap ingin menghancurkan umat Islam, lan tardho, tidak akan pernah rela umat Islam jaya di Dunia. 

Apakah kita rela berdamai dengan mereka (AS dan Eropa dengan salibisnya, Israil dengan zionisnya), sedangkan mereka bebas menghancurkan saudara-saudara kita (muslim), apakah kita rela bermesraan dengan mereka, sedangkan saudara-saudara kita di bantai habis-habisan, apakah kita rela bernostalgia dengan kedok kemanusiaa, sedangkan mereka selalu mencari kelemahan kita dan menghancurkan kita, relakah kita melihat saudara-saara kita diperkosa, diinjak, disembelih, diluluh lantakkan dan disingkirkan dari tanah kelahiran mereka, bahkan perdabannya tak lagi tampak. Hanya orang yang tidak punya hati nurani, yang bergembira melihat saudaranya dianiaya. 

Sungguh!!! betapa rendahnya kita, kita yang tidak dapat berbuat apa-apa untuk membantu saudara-saudara kita yang dibantai, malah kita bekerjasama dan mendukung gerakan mereka dengan kedok penumpasan teroris, menyuarakan kedamaian nisbi yang sengaja digulirkan mereka untuk menutupi kebejatannya, dan mendukung demokrasi bejatnya. 


Akankah kita terus bergembira dengan ketenangan, kedamaian, dan ketentraman kita, sedangkan kepala-kepala mereka dipenggal, kehormatan mereka dinodai, harta-harta mereka dirampas, dada mereka dicabik-cabik, lidah-lidahnya dipotong, kakinya dilepas, anak-anaknya dibakar, rahim-rahimnya dilumuri kehinaan sampai mengandung anak babi dan kera (bal hum adhl). Menggunakan bahasa Kang Jalal, kita ternyata hanya mampu berdo’a. itu pun kita lakukan diam-diam, sering kali tanpa disertai setes air mata pun. Tetapi, apakah doa saja cukup? Dapatkah Anda membela diri di hadapan Allah nanti hanya dengan doa itu saja? Tuhan, ampunilah kami semua. Tulisan ini bukan untuk mempropaganda agar membenci kaum salibis dibawah AS dan Eropa, Zionis dibawah yahudi Israel. Tapi memang, ini adalah sebuah kenyataan, mereka yang selalu menyulut api, dan membakar kita. apakah kita akan selalu rela kulit-kulit kita hangus, tubuh-tubuh kita dicincangnya, aqidah kita dibrangus, prempuan-prempuan kita ditelanjangi dan dicabuli. Jangan selalu meneriakan kedamaian nisbi, kalau jantung-jantung kita dirobek. “Kedamain di bumi”, hanya sebagai selogan, namun konspirasi-konspirasi penghancuran umat Islam terus mereka lakukan. Tapi sering kali kita tidak sadar, bahwa hari demi hari mereka semakin ganas, tidak hanya fisik yang mereka luluhlantakkan, namun kultur-kultur kita sudah diaduk-aduk kultur-kultur bejat mereka.