السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Sabtu, 26 September 2026

INDONESIA ITU MAHAL. SANGAT MAHAL.



Halimi Zuhdy

Kalau “negara terkaya” hanya dihitung dari uang, minyak, atau emas, Indonesia mungkin bukan nomor satu. Tapi kalau kekayaan dihitung dari manusia, bahasa, budaya, dan cara hidup, Indonesia berada di kelas yang sangat sedikit negara mampu menandinginya. Ia menjadi terkaya dan pemenang. 
Bayangkan: negeri ini tersusun dari 17.380 pulau. Di atas pulau-pulau itu hidup sekitar 1.340 suku bangsa, berdasarkan Sensus Penduduk BPS 2010. Dan kita tidak hanya berbeda wajah atau pakaian.

Indonesia memiliki 718 bahasa daerah yang telah diidentifikasi dan divalidasi Badan Bahasa. Bahkan 428 di antaranya berada di wilayah Papua. Badan Bahasa menyebut Indonesia sebagai negara dengan jumlah bahasa terbanyak kedua di dunia. 

Coba bandingkan.

Dalam data bahasa hidup internasional 2024, Papua Nugini sekitar 840 bahasa, Indonesia sekitar 710, Nigeria 530, India 453, China 306, dan Meksiko 293. Angkanya sedikit berbeda dari data resmi Indonesia karena metode penghitungannya berbeda, tetapi pesannya sama: Indonesia berada di jajaran teratas dunia dalam kekayaan bahasa.

Belum kita bicara tentang rumah adat, pakaian adat, tarian, musik, kuliner, sastra lisan, upacara, kepercayaan lokal, hingga cara masyarakat memandang alam dan kehidupan.

Aceh punya dunianya. Minangkabau punya dunianya. Jawa punya dunianya. Sunda punya dunianya. Dayak punya dunianya. Demikian juga Bugis, Bali, Maluku, Madura dan Papua punya dunianya, dan lainnya. Anehnya, terpeluk dan terengkuh dalam Indonesia.

Lhah Itulah yang mahal. Bukan karena kita sama. Bukan. Bukan banget. Karena perbedaan itulah, menjadi satu keindahan. Biarkan di medsos ramai, tapi mereka di kampung tidak tahu kebisingan medsos, mereka terus menikmati cinta bersama, gotong royong, dan mereka terus mesra dengan keindahan bahasa dan alamnya. 

Maka ironis sekali kalau sesuatu sebesar ini kemudian kita pertaruhkan hanya karena hal-hal kecil: beda pilihan, beda kelompok, beda organisasi, beda pendapat, saling sindir, saling merendahkan, atau sekadar ingin membuktikan siapa yang paling benar. 

1.340 suku tidak disatukan agar kita bertengkar karena satu perbedaan.
718 bahasa tidak diwariskan agar kita menggunakan lidah untuk saling melukai.
17.380 pulau tidak dirajut menjadi satu negeri agar kita sibuk membuat sekat di antara sesama. Indonesia terlalu besar untuk diperkecil oleh pikiran sempit. 

Indonesia terlalu kaya untuk dimiskinkan oleh kebencian. Dan Indonesia terlalu mahal untuk rusak hanya karena ego yang murah. Jangan tunggu kehilangan Indonesia untuk menyadari betapa mahalnya hidup bersama dalam keberagaman.

Karena mungkin kekayaan terbesar negeri ini bukan apa yang terkandung di dalam tanahnya, tetapi kemampuan orang-orang yang begitu berbeda untuk tetap menunjuk tanah yang sama dan berkata: “Ini rumah kita.”

Semoga kekayaan ini tidak habis, oleh hempasan-hempasan kebencian. Antar saudara ke tanah api. Bukan hanya setanah air.

***

Buku yang ada di tangan ini adalah memiliki kekayaan negeri lain yang juga tumbuh bersama kekayaan di Indonesia, dan yang tumbuh bukan hanya satu dan dua Negera, tapi banyak negara di dunia juga memberi warna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar