Gagasan tersebut menjadi salah satu penekanan Dr. Halimi Zuhdy, M.Pd., akademisi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, dalam Webinar Series bertajuk “Masa Depan Linguistik dan Sastra Arab di Indonesia” yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom, Senin, 24 Agustus 2026.
Dalam pemaparannya, Halimi Zuhdy membawa diskusi mengenai sastra Arab pada pertanyaan yang lebih mendasar. Menurutnya, tantangan sastra Arab di perguruan tinggi saat ini bukan sekadar bagaimana mempertahankan keberadaan mata kuliah sastra, tetapi bagaimana mereposisi sastra Arab agar mampu menjawab perubahan zaman tanpa kehilangan akar keilmuannya.
Ia memandang bahwa pengajaran sastra Arab di PTKIN tidak dapat berhenti pada sejarah sastra, pembacaan teks, pengenalan tokoh, balāghah, ‘arūḍ, ataupun penerapan teori sastra secara berulang pada objek yang berbeda.
Seluruh fondasi tersebut tetap penting, tetapi harus menjadi pijakan untuk mengembangkan bentuk kajian yang lebih luas dan relevan.
Dalam konteks tersebut, sastra Arab perlu bergerak menuju apa yang dapat disebut sebagai Arabic Humanities, yakni suatu ekosistem kajian yang mempertemukan sastra dengan sejarah, budaya, agama, politik, masyarakat, media, penerjemahan, manuskrip, teknologi, hingga dinamika hubungan Indonesia dengan dunia Arab.
Halimi menempatkan transformasi tersebut sebagai peluang besar bagi PTKIN. Sebab, perguruan tinggi keagamaan Islam di Indonesia memiliki modal akademik yang tidak sedikit. Tradisi pembelajaran bahasa Arab, kajian kitab, pesantren, manuskrip Islam Nusantara, aksara Arab-Melayu dan Pegon, hingga jaringan intelektual Indonesia-Timur Tengah merupakan kekayaan yang dapat menjadikan kajian sastra Arab di Indonesia memiliki karakter tersendiri.
Dari Konsumen Menuju Produsen Pengetahuan
Salah satu gagasan penting yang mengemuka dari pemaparan Halimi adalah perlunya perguruan tinggi Indonesia mengubah posisinya dari sekadar konsumen pengetahuan sastra Arab menjadi produsen pengetahuan.
Selama ini, kajian sastra Arab di perguruan tinggi Indonesia banyak menjadikan teks dan sastrawan Timur Tengah sebagai objek utama. Kajian terhadap tokoh-tokoh besar seperti Naguib Mahfouz, Nizar Qabbani, Mahmoud Darwish, Taha Husayn, Tawfiq al-Hakim, dan berbagai sastrawan Arab lainnya tetap diperlukan sebagai bagian dari fondasi akademik.
Namun, menurut arah pemikiran yang dikembangkan Halimi, perguruan tinggi Indonesia juga harus berani mengangkat kekayaan yang berada di lingkungannya sendiri.
Di sinilah kajian tentang sastra Arab di Indonesia, sastra Arab karya orang Indonesia, manuskrip Arab-Nusantara, tradisi Pegon dan Jawi, sastra pesantren, penerjemahan Arab-Indonesia, serta interaksi kesusastraan Indonesia dan dunia Arab memperoleh posisi yang sangat strategis.
Dengan mengembangkan wilayah tersebut, PTKIN tidak hanya mengulang penelitian yang telah banyak dilakukan di pusat-pusat studi Arab di Timur Tengah. Sebaliknya, Indonesia dapat menawarkan perspektif dan objek penelitian yang justru tidak dimiliki negara lain.
Halimi melihat bahwa kekayaan Arab-Nusantara dapat menjadi distingsi keilmuan sastra Arab Indonesia di tingkat internasional.
AI Bukan Akhir Sastra Arab
Perhatian besar juga diberikan terhadap kehadiran kecerdasan artifisial.
Perkembangan AI saat ini memungkinkan mesin melakukan pekerjaan yang beberapa tahun lalu identik dengan kompetensi mahasiswa bahasa dan sastra: menerjemahkan teks, merangkum novel, menjelaskan kosa kata, menemukan tema, bahkan menghasilkan analisis sastra dalam waktu singkat.
Kondisi tersebut, menurut arah pemikiran Halimi, seharusnya tidak membuat sastra Arab merasa terancam.
Sebaliknya, AI memaksa pendidikan sastra untuk kembali mempertanyakan nilai khas manusia dalam membaca karya sastra.
Mesin mungkin mampu menjelaskan arti sebuah kata. Namun pembacaan sastra tidak berhenti pada arti kata. Di dalamnya terdapat majāz, isti‘ārah, kināyah, simbol, konteks sejarah, pengalaman budaya, emosi, ideologi, serta intertekstualitas yang membutuhkan kemampuan interpretatif secara mendalam.
Karena itu, tugas perguruan tinggi bukan menjauhkan mahasiswa dari AI, tetapi membekali mereka dengan literasi AI yang kritis.
Mahasiswa sastra Arab masa depan perlu mampu menggunakan teknologi sekaligus mempertanyakan hasilnya: dari mana informasi diperoleh, apakah teks dan kutipannya benar, apakah interpretasinya sesuai konteks budaya Arab, apakah mesin mampu membaca balāghah dengan tepat, dan bagian mana yang tetap membutuhkan keputusan ilmiah manusia.
Dengan pendekatan tersebut, hubungan sastra dengan teknologi tidak lagi diletakkan dalam pola pertentangan. Bukan: tradisi atau teknologi, melainkan:tradisi dan teknologi.
Sastra Arab Memasuki Era Digital Humanities
Lebih jauh, Halimi melihat digital humanities sebagai salah satu ruang baru yang perlu mendapat perhatian serius dalam studi sastra Arab di PTKIN.
Dalam paradigma konvensional, seorang peneliti mungkin menganalisis satu novel atau satu kumpulan puisi. Perkembangan teknologi memungkinkan penelitian dilakukan terhadap ratusan bahkan ribuan teks melalui korpus digital, text mining, analisis semantik, pemetaan jaringan, digital philology, hingga computational literary studies. Namun, penggunaan teknologi tersebut bukan dimaksudkan untuk menggantikan kegiatan membaca secara mendalam. Sebaliknya, masa depan penelitian sastra Arab dapat mempertemukan:close reading, distant reading, dan human interpretation.
Dengan kata lain, komputer dapat membantu menemukan pola dalam ribuan teks, tetapi manusia tetap dibutuhkan untuk memahami mengapa pola tersebut muncul dan apa maknanya dalam konteks sejarah, budaya, maupun estetika. Potensi ini menjadi semakin menarik apabila diterapkan pada ribuan manuskrip Arab, Jawi, dan Pegon yang tersebar di Indonesia.Manuskrip yang selama ini hanya ditransliterasi dan diedit secara filologis dapat dikembangkan menjadi arsip digital, korpus, edisi kritis digital, serta basis data penelitian Arab-Nusantara yang dapat digunakan oleh akademisi dunia.
PTKIN Harus Berani Membangun Distingsi
Menurut Halimi, masa depan sastra Arab tidak akan cukup kuat apabila semua program studi hanya mengikuti arah yang sama. PTKIN membutuhkan distingsi. Dan salah satu distingsi yang paling potensial adalah: Arab – Islam – Indonesia – Nusantara – Teknologi. Keunggulan perguruan tinggi Indonesia terletak pada kemampuannya mempertemukan tradisi Arab-Islam dengan pengalaman kebudayaan Nusantara.
Karena itu, pengembangan sastra Arab ke depan dapat meliputi kajian sastra pesantren, karya berbahasa Arab yang ditulis ulama Nusantara, jaringan kesusastraan Makkah-Nusantara, manuskrip Arab Indonesia, sastra Jawi dan Pegon, hingga representasi Indonesia dalam karya sastra Arab dan representasi dunia Arab dalam sastra Indonesia.
Dengan arah tersebut, kajian sastra Arab Indonesia tidak lagi berada di pinggiran perkembangan sastra Arab global. Indonesia justru berpeluang menjadi salah satu pusat penting studi sastra Arab di Asia Tenggara.
Kurikulum Sastra Arab Perlu Bertransformasi
Perubahan tersebut tentu membawa konsekuensi terhadap kurikulum.
Halimi menekankan pentingnya mempertahankan fondasi seperti bahasa Arab, naḥwu, ṣarf, balāghah, ‘arūḍ, sejarah sastra, kritik sastra, dan teori sastra. Akan tetapi, di atas fondasi itu diperlukan lapisan kompetensi baru.
Mahasiswa perlu diperkenalkan dengan Arab-Nusantara Studies, digital humanities, corpus studies, digital philology, AI for Arabic Studies, penerjemahan sastra, media, jurnalistik, industri kreatif, diplomasi budaya, hingga kajian Timur Tengah kontemporer.
Dengan struktur tersebut, lulusan Bahasa dan Sastra Arab tidak hanya diarahkan menjadi guru, dosen, atau penerjemah. Mereka dapat berkembang sebagai peneliti, diplomat, analis budaya, jurnalis, editor, penerjemah sastra, pekerja industri kreatif, pengembang konten Arab, kurator manuskrip, spesialis komunikasi lintas budaya, hingga profesional yang bekerja dalam ekosistem teknologi bahasa dan AI.
Transformasi kurikulum tersebut bukan berarti menjadikan sastra sebagai pendidikan vokasi. Sebaliknya, kompetensi profesional dibangun di atas kekuatan utama humaniora: kemampuan membaca manusia, bahasa, budaya, simbol, narasi, dan perubahan masyarakat.
Menuju Pusat Studi Sastra Arab Asia Tenggara
Pada bagian yang lebih visioner, gagasan Halimi mengarahkan PTKIN untuk tidak hanya memikirkan kondisi sastra Arab lima tahun mendatang, tetapi hingga Indonesia Emas 2045.Indonesia memiliki jaringan PTKIN, pesantren, program studi Bahasa dan Sastra Arab, tradisi manuskrip, serta hubungan historis dengan dunia Arab yang sangat besar.
Modal tersebut memungkinkan Indonesia membangun jejaring penelitian sastra Arab yang tidak hanya bersifat nasional. Ke depan, Indonesia berpeluang menjadi salah satu pusat: الدراسات الأدبية العربية في جنوب شرق آسيا atau Studi Sastra Arab di Asia Tenggara.
Untuk mencapai posisi tersebut, perguruan tinggi perlu memperkuat riset bersama, publikasi internasional, digitalisasi manuskrip, pertukaran akademik, joint supervision, konferensi internasional, korpus sastra Arab-Asia Tenggara, serta penerjemahan dua arah antara sastra Indonesia dan Arab.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan sastra Arab di PTKIN kelak tidak lagi hanya ditentukan oleh berapa banyak mahasiswa yang masuk program studi.Keberhasilannya juga dilihat dari berapa banyak pengetahuan baru yang diproduksi, manuskrip yang diselamatkan dan didigitalkan, karya Indonesia yang diperkenalkan ke dunia Arab, penelitian internasional yang dipimpin akademisi Indonesia, serta teori dan perspektif yang lahir dari pengalaman Arab-Nusantara.
Webinar “Masa Depan Linguistik dan Sastra Arab di Indonesia” akhirnya menghadirkan satu pesan penting dari pemikiran Halimi Zuhdy: sastra Arab tidak sedang menuju akhir, tetapi memasuki fase baru yang menuntut keberanian untuk bertransformasi.Transformasi tersebut bukan dengan meninggalkan turāts, melainkan membawa turāts memasuki dunia baru.
Bukan dengan menjadikan AI sebagai pengganti manusia, tetapi menjadikannya alat untuk memperluas kemungkinan penelitian.Dan bukan dengan terus menempatkan Indonesia sebagai pembaca perkembangan sastra Arab dari kejauhan, tetapi dengan mendorong perguruan tinggi Indonesia menjadi produsen pengetahuan dan salah satu pusat kajian sastra Arab yang diperhitungkan di dunia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar