Halimi Zuhdy
Entah sudah berapa abad Fakultas Adab hadir dan berkembang, baik di dunia maupun di Indonesia. Sebagai salah satu disiplin ilmu tertua dalam tradisi pendidikan Islam, Fakultas Adab telah melahirkan banyak ilmuwan, sastrawan, sejarawan, ahli bahasa, dan budayawan yang memberikan kontribusi besar bagi perkembangan peradaban.
Di Indonesia, khususnya dalam lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), beberapa tahun terakhir fakultas-fakultas yang bergerak di bidang Adab berhimpun dalam Asosiasi Dosen Ilmu-ilmu Adab (ADIA). Organisasi ini menjadi wadah kolaborasi akademik, penguatan riset, serta pengembangan keilmuan di bidang Adab dan Humaniora. Saat ini, ADIA dipimpin oleh Prof Faisol Fatawi dari Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Menariknya, nomenklatur fakultas yang menaungi rumpun ilmu Adab di Indonesia sangat beragam. Ada yang tetap menggunakan nama Fakultas Adab, ada Fakultas Humaniora, Fakultas Adab dan Humaniora, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, Fakultas Adab dan Bahasa, hingga Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD). Keragaman nama tersebut menunjukkan dinamika perkembangan kelembagaan sekaligus upaya setiap perguruan tinggi dalam menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kebutuhan masyarakat, dan arah kebijakan pendidikan tinggi.
Toyyib. Saya lagi mengikuti Seminar di Fakultas Usuluddin dan Adab di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, sebagai tuan rumah kegiatan ADIA tahun ini. Tema yang diangkat adalah "Revitalizing Adab and Humanities in the Cyber Era for Strengthening Ecotheology toward National Civilization" menjadi sangat strategis karena menawarkan arah baru pengembangan Fakultas Adab yang memadukan kemajuan teknologi dengan etika, budaya, dan spiritualitas. Era siber membuka peluang besar bagi digitalisasi manuskrip, pengembangan humaniora digital, kecerdasan buatan dalam kajian bahasa dan sastra, hingga perluasan dakwah dan literasi digital. Namun, seluruh inovasi tersebut harus dibangun di atas fondasi adab, nilai kemanusiaan, dan kesadaran ekologis (ecotheology), sehingga kemajuan teknologi tetap berpihak pada keberlanjutan peradaban.
Toyyib. Fakultas Adab di Indonesia sedang berada pada titik krusial dalam menghadapi transformasi digital, perkembangan kecerdasan artifisial (AI), dan perubahan lanskap pendidikan tinggi. Disiplin-disiplin Adab seperti bahasa, sastra, sejarah, perpustakaan, dan peradaban Islam tidak lagi cukup berperan sebagai penjaga warisan intelektual, tetapi harus tampil sebagai produsen pengetahuan yang mampu menjawab tantangan zaman. Karena itu, revitalisasi Fakultas Adab menjadi kebutuhan mendesak agar tetap relevan, inovatif, dan mampu berkontribusi dalam pembangunan masyarakat berbasis nilai-nilai kemanusiaan.
Sehingga mahasiswa tidak bertanya-tanya lagi, saya kalau lulus jadi apa? He. Ya, tidak harus jadi apa-apa, yang penting dapat ilmu berkah dan manfaat.he. Aha.
Tuan rumah, Pak Dekan Anwar Sanusi, dalam sambutannya mengharap bahwa seminar ini dmenjadi forum strategis untuk merumuskan arah masa depan Fakultas Adab di Indonesia melalui kolaborasi antarpimpinan fakultas, dosen, peneliti, dan pemangku kebijakan. Dari forum ini diharapkan lahir rekomendasi mengenai penguatan kurikulum, agenda riset kolaboratif, transformasi digital, peningkatan publikasi internasional, serta jejaring akademik yang mampu memperkuat posisi Fakultas Adab sebagai pusat pengembangan ilmu humaniora Islam. Dengan demikian, Fakultas Adab tidak hanya mampu beradaptasi terhadap perubahan global, tetapi juga menjadi motor penggerak lahirnya peradaban Indonesia yang berkarakter, berkelanjutan, dan berlandaskan nilai-nilai Adab.
"Cirebon punya apa? Maka, ini yang harus digali" dalam sambutan Rektor. "Warisan itu mahal".
Cirebon, 22 Juli 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar