السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Selasa, 31 Mei 2022

Makna Humazah dan Lumazah dalam Al-Qur'an

Mencela dan Mengumpat di Medsos
(Makna Humazah dan Lumazah dalam Al-Qur'an)

Halimi Zuhdy 

Asyik membully, senang membuat meme dengan wajah dan kata-kata mencela, komentar-komentar tak beraturan dengan nada-nada menghina, seringkali dianggap biasa. Apalagi di dunia medsos yang berkembang pesat. Serasa jari-jari ingin menari-nari, tak sabar untuk menggunjing orang. Perilaku mencela, sangat tidak disukai oleh Allah. "Wailun likulli humazatil lumazah".

Al-Qur'an menggunakan kata wailun (ويل celakalah..!). Kata yang tidak main-main, sebuah harapan dan doa agar celaka. Kecelakaan dan kenistaan. Dan, terdapat nama neraka dengan nama neraka "wail". Kemudian disusul dengan dua kata "humazah" dan "lumazah". 

Sebelum kata "humazah" dan "lumazah", didahului dengan kata likulli (لكل), bermakna "bagi setiap orang" akan celaka yang melakukan dua hal di atas, humazah dan lumazah.

{ وَیۡلࣱ لِّكُلِّ هُمَزَةࣲ لُّمَزَةٍ }

Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela
[Surat Al-Humazah: 1].

Kata Humazah dari kata hamaza yang bermakna mendorong, menyodok, mendesak dengan kuta dan menolak. Humazah adalah bentuk jamak dari hammaz (هماز), yaitu mendorong atau berbuat sesuatu dengan lisan atau mulut, dengan mengumpat, mencela atau menghina. 

Humazah adalah bentuk penghinaan, celaan, atau umpatan seseorang dengan lisannya. Misal, lewat suara lewat WA, atau lewat vedio di youtube, IG atau media lainnya, atau juga secara langsung.

Bagaimana dengan Lumazah (لمزة)?
Dalam kamus "Lamaza" bermakna 'abahu (عابه), mencela, memaki. Ada juga yang memaknai dengan memberi isyarat mata dan tangan disertai dengan bisik-bisik. Dan juga bermakna, mencela seseorang dengan disertai dengan tertawa.

Lumazah, diartikan dengan mencela atau mengejek seseorang dengan perbuatan. Dengan isyarat mata, mulut, tangan atau gerak yang lain. 

Humazah dan lumazah bermakna mencela. Humazah lebih kepada ucapan, sedangkan lumazah pada perbuatan.

قال سفيان الثوري: يهمز بلسانه ويلمز بعينه ومثله قال ابن كيسان: الهمزة الذي يؤذي جليسه بسوء اللفظ، و اللمزة الذي يومض بعينه ويشير برأسه ويرمز بحاجبه.

Palangka Raya, 31 Mei 2022

Sombong Gesture dan Ucapan


Halimi Zuhdy

إِنَّ ٱللَّهَ لَا یُحِبُّ مَن كَانَ مُخۡتَالࣰا فَخُورًا

Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.

Dalam Ayat di atas ada dua kata, mukhtal dan fakhur. Mukhtal adalah melakukan kesombongan dengan sikap, perilaku, tubuh. Sedangkan fakhur adalah sombong dengan ungkapan atau kata-kata, seperti meremehkan, menghina.
Ada pula mengungkapkan bahwa mukhtal (مختال), adalah membanggakan dirinya, kebanyakan dengan perilaku. Sedangkan fakhur (فخور), adalah meremehkan orang lain, menganggap orang lain lemah, tidak punya kemampuan, dan ini biasanya dengan ucapan. 

المختال : ينظر إلى نفسه بعين الافتخار ويكن أغلبه في الأفعال 
 الفخور : ينظر إلى الناس بعين الاحتقار ويظهر أكثره في الأقوال

Makna Takbir dan Takabbur

Halimi Zuhdy

Takbir melahirkan kerendahan hati, takabbur melahirkan kehinaan diri. Apa perbedaannya?

Kata "takbir" dan "takabbur" berasal dari satu akar yang sama yaitu ka-ba-ra. Dari akar ini, muncul beberapa kosa kata seperti; akbar (lebih besar) kibar (keagungan), kabara (lebih tua), kabura (lebih besar), takabbur (sombong), takbir (memperbesar, mengumandangkan takbir), istikbar (sombong), kibrit (belerang, korek api), kubro (besar) dan beberapa kata lainnya yang memiliki satu akar yang sama.
Takbir dengan sighat taf'il (تكبير), bermakna membesarkan. Dan kata ini bisa digunakan untuk kata/kalimat apa pun, misalnya kabbir al-shaut (keraskan suaramu). Tetapi, yang sering kita dengar adalah, kata takbir yaitu melafalkan Allahu Akbar (Allah Maha Besar, membesarkan nama Allah). 

Takbir yang bermakna membesarkan Allah, pada hakekatnya adalah menjadikan diri kita kecil, tidak ada artinya, tidak ada apa-apanya di hadapanNya, tak punya kuasa, dan tak ada daya. Allahlah yang Maha Besar, Maha segalanya. Pengakuan ini bukanlah dibuat-buat, tetapi sebuah pernyataan diri, bahwa kita sebagai makhluk tidak ada apa-apanya dibandingkan kuasaNya, kebesaranNya, dan keagunganNya. 

Dari ucapan takbir "Allah Akbar" seharusnya manusia menjadi rendah hati (tawadhu'), meletakkan diri pada tempatnya sebagai makhluk ciptaan (wadha'a) yang tidak punya kuasa. Semuanya hanyalah kebesaranNya. Takbir yang diulang-ulang setiap hari, dari shalat, dzikir, wirid, istighasah, tahlil untuk mengecilkan diri sebagai makhluk. Tidak sok. Tidak sombong. 

Dan juga, dengan ungkapan takbir "Allah Akbar". Bahwa Allahlah yang kuasa, permasalahan apa pun hanyalah sesuatu yang kecil, Allah yang Maha Besar. Minta kepada yang Maha Besar. Maka, akan selesai. 

Tidak ada sesuatu yang besar dalam kehidupan, seperti jabatan, kehormatan, pujian, kekayaan, keturunan dan apa pun di muka bumi, bahkan yang kita anggap besar, pada hakekatnya adalah kecil. Hanyalah Allah, Maha Besar. 

 Bagaimana dengan kata "Takabbur"?, kata ini menggunakan bentuk (sighat) tafa'ala (تَكبَّر), yang bermakna sombong, membesarkan diri, menjadi angkuh, congkak, menjadi bangga. Sebenarnya kata ini dari dasar yang sama, dan juga bisa digunakan untuk sesuatu yang sesuai dengan maksudnya. Tetapi, makna takabbur yang dinisbatkan pada seseorang yang sombong menjadi sesuatu yang lain. 

Mengapa? Karena kebesaran Allah yang dipakai, kebesaran Allah yang sandang. Manusia yang tidak punya kuasa, mengambil nama kekuasaan tuhan. Manusia yang lemah, mengaku diri besar, di sinilah kesombongannya. Ketika kebesaran Tuhan diambil alih, maka ia akan merasa hebat, merasa besar, bangga, congkak, dan angkuh. 

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas RA, bahwasanya Nabi Muhammad bersabda, Allah berfirman :

الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي وَالْعَظَمَةُ إِزَارِي فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا أَلْقَيْتُهُ فِي النَّارِ

Kesombongan itu adalah selendang-Ku dan keagungan adalah pakaian-Ku maka barangsiapa yang mencabutnya dari-Ku salah satu dari keduanya, maka Aku akan melemparkannya ke neraka. (HR Ibnu Majah).

Orang sombong, memakai pakaian yang bukan miliknya. Yang patut dan pantas hanyalah Allah. Syaitan yang memiliki ilmu, ketenaran nama, keta'atan pun mendapatkan murkanya karena kesombongannya, hanya menggunakan kata "Aku lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.”

Bagaimana dengan orang yang melakukan kesombongan lebih dari syaitan? 

Takabbur (sombong) itu pada hakekatnya adalah ketidakmampuan dirinya untuk hebat, sehingga dirinya harus menjadikan dirinya hebat dengan berbagai cara, membanggakan dirinya, membesarkan dirinya. Tidak hanya dengan ucapan (fakhur), tetapi juga dengan tindakan (mukhtal). 

المتكبر كالصاعد فوق الجبل يرى الناس صغارا ويرونه صغيرا

Orang yang sombong itu seperti orang yang naik ke atas gunung, ia melihat orang lain kecil sementara (tidak disadarinya bahwa) orang lainpun melihatnya kecil. 

Manusia yang sombong, ia akan terhina. Sedangkan yang bertakbir (membesarkan Allah), ia akan menjadi pemenang. 

Allhu'alam bishawab

Jetak Mojokerto 28 Mei 2022

Kamis, 26 Mei 2022

Guru Kreatif dan Sabar...

Halimi Zuhdy

"Tidak ada siswa yang bodoh, hanya belum menemukan guru yang cocok dengannya". Itu kata-kata motivator yang sering saya dengar.

Dan tidak ada siswa atau mahasiswa yang ingin tidur di kelas, hanya saja guru yang belum bisa membuat mata siswa menahan kantuk. 
Dan tidak ada siswa yang males belajar, hanya saja guru yang belum mampu membangun semangat siswa untuk belajar.

Berat ya tugas pengajar!. Benar, berat sekali. 

Guru harus kratif, benar. Guru harus pintar, benar. Guru harus ini dan harus itu. Benar. Tuntutannya banyak, karena guru bukan menjaga hewan ternak, tetapi ia menjaga makhluk yang berfikir. Tugasnya buanyak sekali. 

Jadi teringat kisah Imam Syafi'i yang sampai mengulang pelajar 36 kali untuk sang murid, Ar-Rabi bin Sulaiman'. Setiap kali Imam Syafi'i menjelaskan, ia selalu tidak bisa menangkap pelajaran yang diberikan. "saya belum paham" ungkapnya. Tetapi, sang Imam tak pernah lelah, sampai-sampai ia mengundang Ar-Rabi' ke rumahnya untuk  belajar secara privat di rumah beliau, agar muridnya yang bersuara merdu itu mengerti apa yang disampaikannya. Demikian kesabaran sang guru.  

قال للربيع: لو استطعت أن أطعمك العلم لأطعمتك.. 

Kata Imam Syafi'i pada Ar-Rabi', "Andai Aku dapat menyuapi ilmu ke mulutmu, maka akan Aku suapi ilmu itu....

*****
Kemarin ketika keliling di salah satu desa di Jawa Timur. Dan kebetulan yang menjadi sopirnya adalah seorang sarjana, tapi pekerjaannya bukan menjadi sopir lo, ia hanya menemani saja. Ia seorang bisnisman yang berhasil. 

Iseng-iseng saya tanya, "Mas juga ngajar kan?". Ia menjawab dengan senyum yang tertahan, "injih tadz, hanya beberapa jam dalam satu minggu, karena tidak kuat di kelas". 

"Loh, kenapa tidak kuat?, bukannya masnya sehat wal afiyat, sehat, seger dan kuat" sambil saya guyoni.

"Ia tadz, tapi tidak betah duduk lama, ngomong, apalagi muter-muter dalam kelas, lama-lama sumpek, tak bisa ngopa-ngopi". Kemudian ia diam.

Dalam hati, saya berbisik. Ternyata tidak semua orang bisa menjadi guru, ia butuh betah di kelas, butuh sabar diteriaki, butuh jiwa yang tahan dibentak oleh anak-anak PAUD, terkadang membersihkan pipis dan eeknya, belum lagi urusan gajinya. Belum lagi dia harus menjadi teladan bagi siswa-siswinya, beban keilmuan yang dipikul, karena setiap apa yang diajarkan akan dipertanggung jawabkan. 

Saya jadi teringat Kyai di pondok dulu, bisa bertahan duduk luaaama banget, tanpa kopi, tanpa minum, dan sabar melihat santri yang terkadang bergelimpangan satu persatu, karena tidak kuat menahan ngantuk. Allah yarhamhum.

Halimi Zuhdy
(Guru yang belajar menjadi guru)


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0n9UyTRWjcSau3XkXRdiyLuwoZQ2NJSuqsUK3j5bJQnBUT9Lr32UkKDLoNJW4Awttl&id=1508880804

Sabtu, 21 Mei 2022

Kriteria Lembaga Pendidikan yang Baik


(dalam Kajian Hadis, Wanita Dinikahi karena 4 Perkara)

Halimi Zuhdy

"Tadz, bagaimana cara memilih lembaga pendidikan yang baik?", tanya salah seorang jamaah tahlil di masjid. 

Saya jadi teringat apa yang disampaikan Prof Muhaimin (Allahuyarham) ketika mengajar materi Idarah Al-Ta'lim (managemen pengajaran) di kelas magister dua puluh tahun yang lalu. Kata beliau, "Melihat sekolah atau lembaga pendidikan itu bisa menggunakan cara yang disampaikan Rasulullah ketika melihat seorang wanita untuk dinikahi;

تنكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَلِجَمَالِهَا، وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Wanita dinikahi karena 4 hal: hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Pilihlah yang memiliki agama, maka kalian akan beruntung.”
Kemudian beliau tersenyum dan mengambil nafas panjang. "hanya sebagai qiyas lo, atau pertimbangan, bukan satu-satunya cara memilih lembaga pendidikan dengan 4 hal di atas, tetapi ini sangat penting untuk diperhatikan. Pertama, lihat kekuatan finansialnya, dan di antara kekuatan finansialnya kita dapat melihat gedungnya, fasilitas bangunannya, gaji pendidiknya, tentunya modal sekolah yang cukup, karena sekolah yang berkualitas tinggi memerlukan modal yang sangat besar, dan modal yang tinggi dengan fasilitas yang memadai, maka lembaga itu masuk katagori bagus ". 

Kalau gedungnya bagus, tertata rapi, megah, luas, maka dapat dipastikan sekolah tersebut memiliki mal (kekayaan), atau harta yang cukup. Dan dengan kekayaan itulah sekolah bisa berkembang, dan mengembangkan sayapnya".

Mungkin di benak teman-teman kelas berkecamuk, benarkan pilihan pertama adalah finansialnya finansial yang bagus? Dalam pikiran saya juga sama, tetapi dapat dibenarkan. Bila lembaga pendidikan bagus finansialnya, maka lembaga tersebut dapat membuat kelas yang bagus, perpustakaan dengan refrensi yang lengkap, laboratoriumnya, dan lainnya. Sehingga pendidikan yang memadai dalam fasilitasnya (walau hanya sebagai pendukung) akan dapat mengantarkan anak didiknya dalam pemerolehan sesuatu yang baru. 

"Kedua, memilih wanita itu dilihat dari nasabnya, maka dalam sekolah, tenaga pendidik dan tenaga kependidikan di dalamnya harus jelas nasabnya, bukan nasab keturunan siapa lo, tetapi nasab keilmuannya. Kita memasukkan anak di lembaga yang jelas nasab keilmuan gurunya, dosennya, ustadznya. Karena ini sangat berpengaruh pada karakter dan keilmuan anak didik kita".

Mungkin di antara yang dimaksudkan oleh Prof Muhaimin adalah “Al-Isnad minad din; laulal isnaad laqala man sya’a ma sya’a. Artinya, “Sistem sanad bagian dari fondasi agama. Andaikan tidak ada sanad, orang akan berbicara agama sesuai hawa nafsu dan kepentingannya saja". 

Selain sanad keilmuan yang juga penting dalam lembaga pendidikan, perguruan tinggi misalnya, adalah gelar akademik, walau ini bukan satu-satunya lo, tetapi dari gelar akademik itulah di antara indikator bahwa pengajar tersebut sudah melalui jenjang pendidikan dan siap untuk mengajar.

Berikutnya adalah "lijamilaha", kecantikannya. "Kecantikan dalam sekolah atau lembaga pendidikan itu secara kasat mata, dapat dilihat dari bangunan yang bagus dan tertata rapi, kebersihan yang terjaga, kemegahan bangunannya. Demikian juga ruang-ruang kelasnya" kata beliau.

Dan kecantikan ini, tidak hanya dilihat dari gedungnya dan fasilitas yang memadai. Tetapi, juga dapat dilihat dari kurikulumnya. Infrastruktur yang bagus, perangkat teknologi yang canggih, alat peraga yang lengkap dan lainnya.

Apa kata Prof Muhaimin, dalam kriteria yang keempat, li diniha, agamanya. "Lembaga pendidikan yang paling penting adalah melihat li diniha, apa yang diajarkan di lembaga tersebut? Dan generasi unggul, berkarakter dan berakhlak adalah harapan bangsa dan agama, di sinilah pentingnya visi, misi, tujuan dari sekolah tersebut, arahnya ke mana?. Kurikulumnya bagaimana? Apa saja materi pelajarannya?. Lihat terlebih dahulu, takutnya mengajarkan sekularisme, atau ideologi-ideologi yang tidak sesuai dengan agama dan dasar-dasar bangsa kita, maka carilah agamanya (ajaran didalamnya), itulah yang paling penting dari sekian kriteria yang tiga di atas".

Maka, "fadzfar bidzati ad-din, kalian akan beruntung" pilihan ke kempat inilah yang paling penting dari sekian pilihan di atas. Agamanya, ideoligi lembaga pendidikan tersebut. Fasilitas penting, keilmuan guru penting, tetapi ada yang lebih penting dari semua itu adalah ajaran dari sekolah atau lembaga pendidikan itu. 

Menarik bila kita renungkan dengan empat kriteria tersebut. Tentunya cara melihat dengan 4 kriteria di atas bisa berbeda-beda, dan hasilnya juga bisa berbeda-beda. Lembaga yang baik, modal yang cukup, pengajar yang punya kompetensi dan profesional, managemen yang baik, sarana prasaran yang memadai, dan kurikulum yang jelas. 
****
Beberapa kalimat yang ada di atas hanyalah rekaman pikiran saya secara umum, memaknai dari apa yang disampaikan Prof Muhaimin 20 tahun yang lalu, dan baru teringat hari ini (21/5/2022) ketika ada seseorang yang bertanya tentang kriteria sekolah yang bagus. 

Al-Fatihah untuk Beliau, Prof Dr. Muhaimin (Guru Besar Pendidikan Agama Islam UIN Maulana Malik Ibrahim Malang), mudah-mudahan segala amalnya diterima oleh Allah swt.

Rabu, 18 Mei 2022

Memahami Makna Taufiq

Memahami Makna Taufiq

Kata taufiq sangat akrab di telinga kita, bahkan menjadi doa sehari-hari. "Mudah-mudahan kita mendapatkan taufiq dari Allah". Dan juga sering kita menggunakan doa "wallahul muwaffiq ila aqwamittariq" atau "wabillahi taufiq wal hidayah" dan kalimat lainnya yang di dalamnya ada kata taufiq. 

والله الموفّق إلى أقوام الطريق

Taufiq itu apa?

Secara bahasa kata "taufiq" bermakna "kesesuaian, kesamaan, keberhasilan (najah), kemaslahatan dan beberapa makna lainnya". 

Tetapi kata taufiq yang sering buat untuk memanjatkan doa (Taufiq dari Allah), adalah bermakna "menahan, menutup atau menghalangi dari jalan keburukan, dan mempermudah menuju jalan kebaikan"
سَدُّ طريق الشَّرّ وتسهيلُ طريق الخير

Taufiq adalah permohonan kepada Allah agar dipermudah dalam melakukan kebaikan, dipermudah dalam menemukan, mendapatkan, dan memperoleh kebaikan-kebaikan. 

Ada keterkaitan antara kemudahan menuju kebaikan dengan hidayah. 

Apa perbedaan taufiq, hidayah, ma'unah, iradah dan lainnya. Dapat disimak secara singkat🤭 di sini👇

https://youtu.be/w76PZw7OxWw

Senin, 16 Mei 2022

Nurudz Dholam Sampang dan Ra Moh. Holil Asy'ari

Halimi Zuhdy

"Sekolah akan hebat, bila sudah melakukan dua hal; mendatangkan guru yang punya kompetensi di bidangnya dan literatur yang memadai" kata Ra Holil dalam sambutannya di acara wisuda YPI Nuzudz Dholam Kedungdung Sampang. 
Dua kata yang menginjeksi itulah yang membawa sekolah Nurudz Dholam yang berada di pelosok desa di Kabupaten Sampang ini mendapatkan banyak penghargaan dan memenangkan banyak kompetisi, baik daerah dan nasional. 

Pertama yang dilakukan Nurudz Dzalam adalah menghadirkan guru-guru yang sesuai dengan bidang kemampuannya dan dibutuhkan oleh sekolah. Hal tersebut dibuktikan dengan semua guru-guru yang mengajar di sekolah ini sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya, dan mata pelajaran yang diampu oleh setiap guru sesuai dengan bidangnya, bahkan di antara guru di tempat ini sedang  menyelesaikan S3 di sebuah perguruan tinggi ternama. 

"100% guru-guru di sini mengajar sesuai dengan bidang keahliannya" kata ketua Yayasan dalam sambutannya di acara wisuda YPI Nurudz Dzolam ke 16. 

Ini gila, tetapi nyata. Mampu menghadirkan guru-guru terbaik itu tidak mudah, apalagi di tempat yang sulit diakses oleh kendaraan umum, dan berada di pelosok desa. Karena mereka tidak hanya berkhidmah, tetapi juga butuh bisyarah, dari mana bisyarah itu? Ini yang masih menjadi pertanyaan saya. Apakah ada unit usaha yang dikelola YPI? Atau SPP-nya tinggi?, yang kedua ini tidak mungkin, karena keinginan yayasan untuk para siswanya adalah digratiskan dari semua biaya, bahkan yang ingin melanjutkan kuliah akan dibiayai sampai selesai. Keren kan?!. 

Syiar yang terpampang di background prosesi wisuda ke 16 adalah "Nurudz Dholam Menembus Batas", dan ini bukan hanya kecap manis, tetapi sebuah karya nyata. Sekolah di pelosok desa ini mampu menciptakan berbagai produk atau karya siswa yang diperhitungkan. Di antaranya adalah Batik Fitrah sudah mau menembus Eropa dan Amerika. Belum lagi produk makanan khas Madura yang laris manis di beberapa Online shop. 

Maka tidak heran, jika YPI Nurudz Dholam akan mendirikan pesantren gratis, dengan fasilitas terbaik untuk para dhuafa. Hal ini langsung diamini oleh kepala Kemenag Sampang, Drs. Irsyad yang juga hadir dan memberi sambutan pada acara wisuda tersebut. Pesantren ini insyallah mampu diwujudkan, karena sekolah ini memiliki pengelolaan prekonomian yang baik. 

Kedua, literatur yang memadai, sekolah ini memiliki 6 ribu literatur. Bahan literatur yang cukup melimpah berada di sebuah desa yang terpencil adalah sesuatu yang luar biasa. Bagaimana buku-buku itu dihadirkan?, Ini pasti ada usaha ekstra dari pengelola lembaga. Dan buku-buku ini akan membuka cakrawala berfikir siswa dalam mengarungi berbagai ilmu pengetahuan. 

Awalnya saya tidak menduga ada sekolah berprestasi di sebuah dusun yang terpencil,  dengan akses jalan yang tidak terlalu bagus. Saya diundang untuk menyampaikan orasi ilmiah pada Wisuda Nurudz Dholam yang ke-16 ini oleh Ra Holil sebagai ketua YPI. Jam 18.00 saya sampai di terminal Sampang, dengan hati dag dig dug dor, karena di Blega Bangkalan tidak membuat lega, macet. Sedangkan jadwal penyampaian orasi dijadwalkan jam 19.00. Tapi, Alhamdulillah jam 19.20 sudah naik panggung, dan menyampaikan orasi sesuai tema yang disuguhkan panitia "Peluang dan Tantangan Lembaga Pendidikan Islam di Era Modern"

Dalam perjalanan dari terminal, panitia yang menjemput dari terminal banyak bercerita perihal sekolah dan pengembangannya ke depan, serta sosok Ra Holil, walau saya sendiri sudah cukup lama mengenal sosoknya di kampus dahulu, yang kebetulan satu kampus di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Orangnya smart, istiqamah, dan sungguh-sungguh dalam memperjuangkan sesuatu. Ternyata, Ra Holil kembali ke tanah kelahirannya benar-benar mewujudkan keinginan itu. Banyak sekali terobosan-terobosan yang telah dilakukan, dan beberapa program yang akan dilakukan. Tidak hanya berskala nasional, tapi internasional. Mudah-mudahan terkabul segala keinginan YPI dan menjadi kebanggaan Sampang dan Indonesia.

Kemajuan sebuah lembaga itu memang tidak lepas dari sosok seseorang yang selalu menginpirasi, punya daya gedor, dan pikiran-pikirannya inovatif, kreatif dan tentunya selalu aktif dalam mengawal lembaga tersebut. Ra Kholil adalah sosoknya. Ia yang banyak menginisiasi berbagai kegiatan sekolah, dibantu dengan pengurus dan guru-guru yang jebat tentunya, serta dukungan berbagai pihak, sehingga sekolah ini tidak hanya lagi dilirik oleh kemenag dan Kemendikbut kabupaten Sampang, tetapi sudah dilirik oleh masyarakat luas. 

Dan sekolah ini,  telah banyak menjalin bekerjasama dengan berbagai universitas negeri dan swasta di Madura dan di Luar Madura. Luar biasa. 

Sampang, 15 Mei 2022
Pukul 22.00 wib 
Bajuh Kadungdung Sampang Madura

Sabtu, 14 Mei 2022

Menjadi Bahagia Itu Pilihan

.njHalimi Zuhdyn

Saya ditanya tentang bahagia oleh rondoniyat dan joblowiyun, "apa resep agar selalu bahagia pak ustadz?". 

Secara spontanitas saya jawab, "emang saya selalu bahagia tah? tidak juga. Ya... terkadang0m sedih, kadanuztj.g bahagia, tapi selalu diusahakan untuk bahagia, karena kita akan rugi kalau hidup selalu dibuat sedih".

Dalam bahasa Arab, kata bahagia itu di antaranya adalah surur (سرور), sa'adah (سعادة), farah (فرح) dan lainnya, dan setiap katanya memiliki filosofis yang indah, surur itu tidak tampak, maka kebahagiaan itu tidak pernah dapat dilihat, ia bisa dirasakan dan yang merasakan adalah dirinya. 
Mengapa bahagia itu pilihan? Karena setiap orang pasti menghadapi masalah, dan dalam setiap masalah akan menemukan bahagia atau  kesedihan. Dari masalah yang dihadapi, misalnya. Ia akan menghadapi dengan bahagia atau dengan sedih. Disinilah cara pandang sangat memengaruhi diri seseorang. Pilihannya, adalah  bahagia atau sedih. Atau, ia tidak berhadapan dengan masalah apa pun, tetapi ia merasa. Dan rasa inilah yang kemudian akan menggiring seseorang pada rasa bahagia atau sedih. 

Ada resep menjadi bahagia dan agar selalu bahagia dari Sayyidana Ali dalam "Qawaid Al-Sa'adah al-Sab' li Amiril Mu'minin Ali bin Abi Thalib", tujuh kaidah atau prinsip bahagia yaitu

١. لاَتكْرِه أحَدا مَهْما اَخطَأ في حَقك
Jangan membenci siapa pun meski ia menyelisihi hakmu.

٢. لاتقْلقْ أبَدا مهما بلغت الهُموم
Jangan panik dan sedih meski deritamu memuncak

٣. عِشْ في بسَاطَة مهما علا شأنك
Hiduplah sederhana meski statusmu atau pangkatmu lebih tinggi.

٤. توقع خيْرا مهما كثر البلاء
Berharaplah kebaikan meski ujianmu bertubi-tubi.

٥. أعْط كثيْرا ولو حرمت
Berikan sebanyak yang kau punya meski kau sedang dalam kesulitan

٦. إبْتَسِمْ وَلوْ القلب يقطر دما
Tersenyumlah meski hatimu mengucurkan darah (sedih)

٧. لاَتقطَع دُعاءك لأخيك المسْلم بظهر الغيب
Janganlah kau berhenti berdoa untuk saudaramu yang muslim, walau ia tidak tampak darimu

Melakukan tujuh prinsip ini, butuh latihan. Namanya latihan, terkadang sukses, terkadang gagal. Tetapi, istiqamah dalam mengamalkan akan merasakan kebahagiaan.

Rabu, 11 Mei 2022

Buku Nahwu dan Sharaf 📚


Alhamdulillah. Hadir kitab nahwu dan saraf "At-Taysir fi Nahwi wal Sharfi" hasil tirakat di bulan Ramadan.

Kitab kaidah nahwu dan saraf, bukanlah hal baru bagi pembelajar bahasa Arab. Kajian tentang kaidah bahasa Arab itu sudah ada sejak lama, demikian juga dengan kitab dan buku yang mengkaji tentang ilmu ini, baik; sejarah, metode pembelajaran, analisis, dan praktiknya.
Buku ini, juga tidak jauh berbeda dengan buku-buku nahwu dan saraf lainnya, baik susunan dalam setiap babnya, dan juga penjelasan yang ada di dalamnya. 

𝐊𝐞𝐥𝐞𝐛𝐢𝐡𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐤𝐮 𝐢𝐧𝐢 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐫𝐢𝐧𝐠𝐤𝐚𝐬 𝐝𝐚𝐧 𝐥𝐞𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩, 𝐝𝐢𝐬𝐞𝐫𝐭𝐚𝐢 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐜𝐨𝐧𝐭𝐨𝐡-𝐜𝐨𝐧𝐭𝐨𝐡 𝐬𝐞𝐝𝐞𝐫𝐡𝐚𝐧𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐚𝐤𝐫𝐚𝐛 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐬𝐞𝐡𝐚𝐫𝐢𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐫𝐚 𝐩𝐞𝐦𝐛𝐞𝐥𝐚𝐣𝐚𝐫. 𝐁𝐚𝐡𝐚𝐬𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐠𝐮𝐧𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐢𝐧𝐬𝐲𝐚𝐥𝐥𝐚𝐡 𝐦𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐝𝐢𝐩𝐚𝐡𝐚𝐦𝐢 𝐬𝐞𝐫𝐭𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐠𝐮𝐧𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐭𝐚𝐪𝐬𝐢𝐦 (𝐩𝐞𝐦𝐛𝐚𝐠𝐢𝐚𝐧) 𝐚𝐠𝐚𝐫 𝐩𝐞𝐦𝐛𝐞𝐥𝐚𝐣𝐚𝐫 𝐜𝐞𝐩𝐚𝐭 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐢𝐧𝐠𝐚𝐭𝐧𝐲𝐚. 📚

𝑫𝒂𝒏 𝒃𝒖𝒌𝒖 𝒊𝒏𝒊 𝒅𝒊𝒍𝒆𝒏𝒈𝒌𝒂𝒑𝒊 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒂𝒍-𝒌𝒉𝒂𝒓𝒂𝒊𝒕 𝒂𝒍-𝒅𝒛𝒊𝒊𝒉𝒏𝒊𝒚𝒂𝒉 (𝒎𝒊𝒏𝒅 𝒎𝒂𝒑𝒑𝒊𝒏𝒈) 𝒂𝒈𝒂𝒓 𝒑𝒆𝒎𝒃𝒆𝒍𝒂𝒋𝒂𝒓 𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕 𝒎𝒆𝒎𝒑𝒆𝒓𝒐𝒍𝒆𝒉 𝒈𝒂𝒎𝒃𝒂𝒓𝒂𝒏 𝒔𝒖𝒂𝒕𝒖 𝒃𝒂𝒃 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒌𝒊𝒕𝒂𝒃 𝒊𝒏𝒊 𝒔𝒆𝒄𝒂𝒓𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒚𝒆𝒍𝒖𝒓𝒖𝒉 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒘𝒂𝒌𝒕𝒖 𝒔𝒊𝒏𝒈𝒌𝒂𝒕.🖍️

Buku yang disajikan secara mudah dan ringan ini, dapat digunakan bagi pemula yang ingin mulai belajar Bahasa Arab dan kitab kuning. Dan juga dapat digunakan oleh guru, ustadz dan dosen sebagai buku pegangan dalam mengajar, selain karena contoh-contohnya yang sudah sangat akrab dengan keseharian santri juga mudah untuk mengingatnya. 

Kehadiran buku ini, bukan untuk menambah beban “keruwetan” terhadap pembelajar bahasa Arab yang sudah menganggap bahwa nahwu dan saraf itu sulit, tetapi akan memberikan anggapan bahwa belajar nahwu dan saraf itu asyik. Maka, selain kehqdiran buku ini, juga akan hadir buku pelengkap yaitu “Tamrinat”. Buku ini sebagai pelengkap buku Al-Taysir fi Nahwi wa Sarfi, yaitu praktik membaca, memahami teks dan menulis bahasa Arab. Dan juga, dapat dipratikkan untuk dapat berbicara bahasa Arab. Insyallah.

Mempelajari buku “Tamrinat”, agar pembelajar 
dapat menguasai kemahiran bahasa Arab dan juga dapat membaca kitab kuning. 

Mudah-mudahan kehadiran buku "At-Taysir fi Nahwi wal Sharfi" dapat menambah hazanah keilmuan dalam pempelajari bahasa Al-Qur'an.

*****
Dan yang ingin memesan kitab "Mudah Belajar Nahwu dan Saraf" dapat menghubungi kontak berikut +62 858-1654-0904 (Vina). Dan hasil dari kitab tersebut akan dijariyahkan untuk pembangunan Pondok Darun Nun Malang.

Maaf edisi terbatas. Insyallah 50 pembeli pertama hanya seharga 50rb, boleh dong lebih

***
Penulis

Halimi Zuhdy
Savinatun Najah

Senin, 09 Mei 2022

Training Ramadhan yang Gagal?

Halimi Zuhdy 

"Tadz, workshopnya sukses geh?", tanya seseorang, setelah workshop kepenulisan itu usai.

"Alhamdulillah, sukses. Sudah ada yang bisa menyusun kalimat dengan baik dan benar, bahkan sudah ada yang menulis makalah cukup bagus". Jawab pak ustadz, sambil tersenyum bahagia.
***
"Tadz, muktamar yang kemarin bagaimana?" Tanya seseorang yang terlambat datang di muktamar yang diadakan oleh FKPJ.

"Alhamdulillah sukses, beberapa keputusan di dalamnya telah dihasilkan, dan juga telah terpilih nakhoda baru", jawab pak ustadz.

***
"Tadz, kalau training yang kemarin sukses geh?" tanya mas Lukman Hakim.

"Training nopo?" tadz Halim, masih bingung menjawabnya.

"Loh, masak pak ustadz, boten paham?". Mas Lukman sambil tertawa.

"Bener, kulo tidak ikut traning beberapa bulan terakhir", tadz halim tambah bingung. Karena, ia sudah lama tidak ikut training apa pun dalam beberapa bulan terakhir ini. 

"Niku tadz, traning Ramadhan!" Jawab mas Lukman.

"Ya Allah, enggeh, kulo tidak sadar. Nopo geh hasilnya? Kulo juga bingung, kok selama 1 bulan ikut training Ramadhan sepertinya kulo belum merasakan hasilnya. Tidak ber-ghibah hanya bertahan selama Ramadhan, setelah Idul Fitri lanjut ghibah lagi. Sedih kulo" tadz Halim sambil menatap tembok yang bertuliskan La'lakum Tattaqun.

Tadz Halim terus melanjutkan renungannya, "Ngaji juga berkurang, seharusnya pasca Ramadhan tambah rajin ngaji dan taklim. Setelah Halal bi Halal sama tetangga, eh malah gunjing tetangga yang lainnya. Sampun minta maaf ke pak Ridha, beberapa menit, ngomongin pak Ridha. Ke kantor geh sami, baru mengucapkan mohon maaf lahir batin, eh ghibah lagi"

Tadz Halim menahan nafas panjang, dan...."Dan anehnya, yang seharusnya setelah training ramadhan kulo rajin ke masjid, malah setiap adzan memanggil tidak peduli panggilan itu, ketika bulan Ramadhan langsung ambil wudu' lo. Kemarin ketika Shalat Tarawih dan Shubuh rajin ke masjid, sak niki pun aras-arasen". Tadz Halim seperti merasakan penyesalan yang luar biasa, mengapa ikut workshop, seminar, muktamar yang hanya beberapa hari kelihatan hasilnya, tetapi pelatihan selamat satu bulan ini seperti tidak ada bekasnya.

"Berarti pak ustadz, juga merasakannya geh?" Mas Lukman memancing jawaban tadz Halim yang lagi terdiam cukup lama.

"Apa saya termasuk orang yang sia-sia melakukan puasa ya, seperti hadis Nabi, banyak orang yang berpuasa tetapi hanya memperoleh lapar dan dahaga. Ya Allah, mungkin saya harus memperbaiki diri, terkadang kuantitas ibadah tidak dibarengi dengan kwalitasnya, ini saatnya untuk selalu menjadikan Ramadhan di luar Ramadhan, karena Allah bukan hanya Tuhan di bulan Ramadhan tetapi Tuhan di seluruh bulan", tadz Halim berterima kasih pada Mas Lukman yang telah mengingatkan traning dahsyat, tetapi tidka banyak yang berhasil dan keluar sebagai pemenang yang sesungguhnya.

"Berarti niku benar-benar kembali Fitrah Tadz?!" Mas Lukman, sepertinya memancing tadz Halim untuk berbicara.

"He..he.., kembali ke fitrah sebelum Ramadhan, atau kembali ke masa anak (bayi)?! Jenengan niku wonten mawon. Yang dimaksud kembali ke Fitrah niku adalah kembali suci, karena telah melakukan pensucian dan pembersihan diri selama bulan Ramadhan, bukan kembali kepada kejelekan seperti sebelum Ramadhan". Tadz Halim, paham yang diinginkan Mas Lukman. 

"Mas Lukman, mari mumpung masih bulan Syawal, kita renungkan kembali La 'Alakum Tattaqun, kita jaga kwalitas ibadah, perbaiki akhlak kita, dan traning selama Ramadhan kita jaga dengan baik syukur-syukur kita bertambah baik dan menjadi manusia yang bertakwa pada Allah". Tadz Halim menutup perbincangannya.

Malang, 7 Syawal 1443 H (9 Mei 2022)

***
Baca tulisan sebelumnya "Hari Raya, Kok Masih Ribut"

Sabtu, 07 Mei 2022

Hari Raya, Kok Masih Ribut

Membina Keluarga Sakinah

Halimi Zuhdy

"Kok bisa ya, mulai dari Ramadan sampai sekarang, di hari raya ini, ia masih saja ribut sama istrinya?" Kata seorang tetangga kampung. 

"Ribut dengan keluarga, tidak mengenal waktu kok, kadang juga tidak pilih-pilih tempat, di hari yang indah seperti ini saja bisa ribut, apalagi setelahnya", teman di sebelahnya menimpali, sambil menyeruput kopi hitamnya ditemani rokoknya yang masih separuh.

"Embuh, kadang gayanya saja mesra, tetapi di rumahnya saling pukul, saling cakar, dan keduanya tidak ada yang ngalah, seperti radio rusak setiap hari, bising sekali!". Totok yang tidak terlalu peduli dengan perbincangan tadi, juga ikut nimbrung. 

Perbincangan seperti di atas, banyak menghiasi rumah tangga yang masih labil. Masih selalu ribut dalam keluarganya. Karena belum kuat akar cintanya, dan lebih kuat akar nafsunya. Jika, hal tersebut terus dipelihara "akar nafsu yang lebih kuat", maka yang terjadi adalah keributan tanpa jeda.

Cara membedakan cinta dan nafsu, mungkin agak sulit, tapi sekilas dapat dilihat dari cara memandangnya, kalau ia melihat kebaikan dari dirinya, maka itu cinta. Tetapi, kalau ia selalu melihat kekurangannya, maka lebih pada nafsu.

Contoh sangat sederhana, seorang suami yang cinta sama istrinya, maka melihat bekas jerawat di wajah istrinya seperti bekas bintang yang pernah bersinar di pipinya. Tetapi kalau suami melihat dari kacamata nafsu pada bekas jerawat istrinya,   ia seperti melihat lubang sumur hitam, atau bekas las listrik yang menghitam, jelek sekali. Dan selalu mengatakan padanya, "kalau pakai bedak yang benar, tutupi tuh joroknya, agar saya tidak malu bersamamu". 

Memandang pasangan, seperti memandang vast bunga. Istri ketika melihat suami dengan pandangan jelek, maka apa pun yang terlihat olehnya akan terlihat jelek. Demikian juga sang suami ketika melihat istrinya. Tetapi, sebaliknya kalau mengedepankan cinta (mawaddah), maka akan muncul kasih sayang (rahmah). Dan tercipta kedamaian dan ketenganan (sakinah).

Tidak ada pasangan yang sempurna, baik sang suami atau sang istri. Pastilah keduanya punya kekurangan, bahkan kalau dilihat dan diteliti lebih mendalam dengan ukuran nafsu, yang terlihat adalah kekurangan dan kekuranganya, mengapa? Karena manusia lebih suka mengukur dan membandingkan dengan orang lain yang dianggap lebih sempurna. 

Memandang pasangan akan terlihat indah dengan segala kekurangannya, jika setiap kekurangannya selalu ditutupi kelebihannya. Dan setiap kesalahan yang diperbuat pasangan, akan dimaafkan apabila yang terlihat adalah kebaikan-kebaikan suami/istri sebelumnya. 
Meminjam bahasa Al-Qur'an,

 إِنَّ ٱلۡحَسَنَـٰتِ یُذۡهِبۡنَ ٱلسَّیِّـَٔاتِۚ

Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan.[Surat Hud: 114]

Kalau beduk cinta sudah ditabuh, maka takbir harus selalu dikumandangkan. Takbir akan kebesaranNya, yang telah menciptakan makhluk yang berpasang-pasangan. Merawat rahmah yang dititipkanNya, merawat sakinah yang telah termaktub dalam AyatNya, dan memeluk mawaddah bersama.

*****
Foto hanya pemanis😁 tanpa istri (sebagai fotografer)

Kamis, 05 Mei 2022

Menisbatkan Tulisan pada Penulisnya

Halimi Zuhdy

Ketika seseorang membaca tulisan seorang penulis atau seorang penceramah, atau siapa pun yang mengantarkan ide itu terengkuh, terkadang ada yang enggan mencantumkan ide sang penulis di dalam tulisannya, seakan-akan idenya adalah lahir dari dirinya, atau seakan-akan tulisannya murni dari dirinya. 

menarik apa yang didawuhkan Syekh Ibnu Abdi al-Bar terkait dengan keberkahan ilmu, yaitu ketika seseorang menisbatkan ilmu pada penulisnya, 

"Termasuk dari keberkahan ilmu, adalah engkau menisbatkan/mencantumkan sesuatu (ilmu) pada orang yang mengatakannya. Maka, janganlah engkau menisbatkan ilmu pada dirimu sendiri, bahkan apabila ada seseorang yang mengutip sesuatu darimu, katakanlah "ilmu ini saya dapatkan dari seorang alim yang bernama fulan, atau ilmu ini saya baca dari kitab karya fulan". Demikianlah, bila hal tersebut dilakukan, engkau akan mendapatkan keberkahan ilmu itu".

 نسبة العلم إلى أهله:

قال ابن عبد البر: (إن من بركة العلم أن تضيف الشيء إلى قائله)، فلا تنسب العلم إلى نفسك بل إذا أفادك أحد بفائدة فقل هذه الفائدة استفدتها من العالم الفلاني، أو هذه الفائدة قرأتها في الكتاب الفلاني، وهكذا، فعند ذلك تحصل لك البركة في العلم.

Dan di dunia perWAG-an, banyak tulisan-tulisan yang tersebar di grup tanpa penulis dan bahkan dengan sengaja menghapus penulisnya, dan ada yang menggantinya dengan penulis lainnya.

Senin, 02 Mei 2022

Dingin tidak Cukup Menyelamatkan Nabi Ibrahim


Halimi Zuhdy

Setelah kata Bardan (dingin) diikuti kata Salaman (selamat). Mengapa?

 قُلۡنَا یَـٰنَارُ كُونِی بَرۡدࣰا وَسَلَـٰمًا عَلَىٰۤ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمَ 
Kami (Allah) berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!” (Al-Anbiya', 69).

Seandainya api yang lagi membara itu hanya dibuat dingin, maka mungkin tubuh Nabi Ibrahim akan beku dan kemudian meninggal dunia. Sebagaimana kata Sayyidina Ali, kemudian Api itu menjadi dingin baginya, hampir-hampir membuat Nabi Ibrahim meninggal. Kemudian terdengar salam (keselamatan), dan selamatlah Nabi Ibrahim.
Demikian pula kata Ibnu Abbas, andai dingin itu tidak diikuti dengan salaman (keselamatan), maka Nabi Ibrahim akan merasakan dingin yang luar biasa, dan niscaya ia akan meninggal dunia. Dan mungkin, tidak akan ada lagi nyala api di muka bumi karena dinginnya. Dan setelah api itu padam, tiba-tiba mereka ( menyaksikan dibakarnya Ibrahim) melihat seseorang keluar bersama Nabi Ibrahim dari dalam kobaran api, dan ia mengusap dahi Ibrahim yang berkeringat. Seseorang itu adalah Malaikat Al-dhil, dan kemudian Allah menurunkan api yang dapat memberi manfaat pada anak cucu Adam. Demikian dengan salaman. (Al-Tabari).

Banyak riwayat, di balik kisah dibakarnya Nabi Ibrahim, sebagaimana yang diceritakan Abi Al-'Aliyah, dengan As-salam (keselamatan), dinginnya tidak membuat Nabi Ibrahim sakit. Dan andai tidak ada "salaman", maka dinginnya akan terasa lebih dahsyat dari bara apinya. 

Sungguh betapa Allah memberikan keindahan dalam dinginnya Nabi Ibrahim dengan keselamatan. Laksana hujan yang menetes dari langit, ditemani angin, dan ditemani  rahmatnya dan manfaatnya. Allahumma shaiban nafia, demikian ajaran doa Nabi Muhammad. 

Maka, mengaca dari kisah Nabi Ibrahim, tidak cukup meminta ilmu yang banyak kepada Allah tanpa melanjutkan dengan bermanfaat. Demikian pula dengan rizki, keturunan, dan permohonan lainnya. 

Memiliki segudang ilmu itu penting, tetapi ilmu yang bermanfaat. Maka dalam doa yang sering kita panjatkan kepada Allah "ilman nafian" (ilmu yang bermanfaat). Karena tidak cukup banyak ilmu, atau bahkan ilmunya sundul langit tetapi ia hanya bagai gundukan sampah, tidak berguna untuk masyarakat. Kealimannya, kepintarannya, hanya untuk dirinya atau hanya kepentingan pribadi atau untuk akal-akalannya saja, bukan untuk memberikan kemanfaatan pada orang lain. Atau hanya untuk dunianya, tidak untuk akhiratnya. Atau ilmu hanya untuk ilmu, bukan untuk diamalkan. Sehingga ilmu menjadi penghalang masuk surganya. 

Demikian pula dengan memohon rizki kepadaNya. Rizqan halalan Tayyiban wa sian (rizki yang halal, baik dan melimpah). Banyak orang diberikan rizki yang melimpah, tapi tidak halal, ada pula yang halal, tapi tidak baik untuknya. Belum lagi keberkahan dari rizki yang dimintanya. Allahumma barik lana fi arzaqina. 

Demikian juga dengan memohon keturunan padaNya, keturunan yang baik (shaleh). Tempat tinggal, kendaraan, teman, pasangan, orang tua, dan lainnya. Allahumma bariklana fima a'thaitana (Ya Allah, berkatilah apa yang telah Engkau berikan pada kami). 

Tidak cukup dengan dingin menyelamatkan Nabi Ibrahim, maka butuh salaman. Demikian pula dengan apa yang kita mohon padaNya tentang sesuatu, maka butuh sesuatu yang lain yang menyertainya. 

******

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

“Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal, dan amal yang diterima.” (HR. Ibnu Majah)

Sumenep, 1 Mai 2022 (29 Ramadhan, 1443 H)

****
Kajian Al-Qur'an, Sastra Arab, Kajian Ramadhan 30 hari, dan Mutiara Hikmah lainnya 👇🏻

🌎 www. halimizuhdy. com
🎞️ YouTube: Lil Jamik
📲  FB: Halimi Zuhdy
📷 IG: Halimizuhdy3011
🐦 Twitter: Halimi Zuhdy
🗜️ Tiktok:  ibnuzuhdy