السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Minggu, 27 Juni 2021

Bayangkan!! Ketika Anakmu Sudah Besar

Halimi Zuhdy

Ketika anakmu sudah besar!
Suara-suara teriakan, tangisan, tengkar tak lagi terdengar di rumahmu. Sepi, senyap, hening dan lengang. Engkau akan merasa tenang,  tapi tidak tenang senang dalam riuh piuh. Maka, nikmatilah tangisan, teriakan, dan tengkar itu, anak-anak itu pasti berteriak dan bertengkar.....
Ketika anakmu sudah besar!
Coretan-coretan di dinding, gambar-gambar tak berbentuk, warna-warni di lantai,  robekan kertas yang berantakan, takkan lagi kau temukan. Apakah sekarang kau senang? Saya yakin, kau masih kangen dengan coretan-coretan dan celoteh itu terulang lagi.

Ketika anakmu sudah besar!
Ketika kau lagi tiduran, tidak ada lagi yang menginjakmu. Ketika kau shalat, tidak ada lagi yang gendong di atas punggungmu. Ketika kau membaca atau menulis, tidak ada yang merebut buku dan pensilmu. Ketika kau tidur, tidak ada lagi yang membangunkanmu. Apakah hari ini kau lebih asyik dengan duniamu? Atau kau ingin masa itu terus ada dalam hidupmu. Saya yakin, kau kangen dengan itu! 

Ketika anakmu sudah besar!
Tidak ada lagi riuh di kamar mandi, tidak ada lagi yang berebutan masuk menggedor pintu. Tidak ada lagi yang menyiram air dan membasahi rumahmu. Tidak ada lagi yang berciprat lantai indahmu. Tidakkah kau merindukan itu? 

Ketika anakmu sudah besar!
Kau sudah jarang ke alun-alun, ke tempat wisata, ke tempat-tempat bermain, kau sudah jarang berenang bersama di pantai, kolam, sungai. Kini, kau lebih khusyuk dengan dirimu, apakah kau lebih indah? 

Ketika anakmu sudah besar!
Kamu akan bermain sendiri, tidak ada lagi yang menarik tangan tuk bermain, berlari, bahkan kini kau hanya asyik dengan anak-anak orang di televisi.

Masih ingatkah ketika anakmu menangis, teriak-teriak, tertawa tanpa sebab, kadang kau membentaknya dan mencubitnya?!

Kini, mereka sudah jarang tampak di rumah. Sudah tak ada lagi ada tangisan, teriakan, bahkan riuh tawa mulai sepi. Mereka sudah punya teman sendiri, ngombrol dengan teman dekatnya, bahkan mwreka sudah jarang pulang. Kini, di rumah sudah tak lagi ada riuh. Teriakan tak lagi terdengar, mereka sudah punya alam sendiri di luar sana. Kini, kau berdua, atau hanya sendiri.

Ada nasehat menarik dari Dr. Muhammad bin Umar Bazmul;
"Aku membayangkan semua yang pernah terjadi pada anak-anakku dan diriku. Air mataku mengalir deras, maka dengarkan semua keluhan anakmu. Yang terjadi hari ini, akan menjadi kenangan esok, ajaklah mereka bermain..temani mereka selalu sebelum mereka hilang dari kalian... 

Sekarang..anak-anakmu cerewet bertanya padamu, jawablah!! Ketika mereka sudah besar kadang kau tak lagi menemukan satu patah katapun dari mereka. Duduklah di samping mereka! Ajaklah berjalan-jalan bersama mereka. Esok, mereka kadang enggan diajak duduk dan berjalan bersama. Sekarang hati mereka sepenuhnya untukmu. Esok hati mereka sudah bercabang...maka nikmatilah sekarang!!mumpung anak-anakmu masih kecil... Nikmatilah tangisannya, kegaduhannya, teriakannya, nakalnya. Jangan mudah marah!!Semuanya tidak akan pernah kembali lagi".

Nikmatilah mereka dengan sepenuh. Cintailah mereka! Ajaklah mereka bermain-main. Biarkan mereka melukis dinding itu, suatu saat kau akan merasakan betapa mereka ingin mengabadikan tulisan itu, agar kau tahu, mereka juga ingin berkarya. Mereka belum bisa menulis status sepertimu, maka mereka menulis status di tembok-tembok kadang mobilmu juga menjadi kanvas untuk diukir anak-anakmu.

Malang

Bunyi Kata yang Menggambarkan Makna

(I’Jaz Syauti dalam Al-Qur’an) 

Halimi Zuhdy

Al-Qur'an selalu menjadi magnet luar biasa. Bayangkan, tidak ada satu kitab pun di muka bumi yang dihafal sedemikian rupa dalam sejarah manusia seperti Al-Qur'an, dari anak kecil sampai dewasa. Belum lagi kaligrafinya yang diukir dengan berbagai bentuk. Belum lagi berbagai musabaqat dalam tilawah, tafsir, qira'ah, dan lainnya.
Al-Qur'an tidak hanya dikaji dari aspek maknanya (ilmu dalalah) yang melahirkan berbagai tafsir. Tetapi, ia dikaji dari berbagai aspeknya, lughawi, bayani, adady, ilmy, shauty, adabi dan lainnya. dalam kajian I'jaz Adady (bilangan) misalnya, Ayat yang menyebutkan angka 40 dalam salah satu Ayat, maka jumlah huruf dalam Ayat tersebut berjumlah 40 huruf.

Yang juga menarik perhatian pengkaji Al-Qur'an adalah ashaut (suara, bunyi). Sudah sangat mafhum dan terbukti bahwa al-Qur’an memberikan dampak (pengaruh) pada seseorang walau ia tidak mengerti Al-Qur'an dan belum memahami artinya. Seperti yang diceritakan oleh seorang Nasrani, bahwa suatu hari ia melewati seorang yang lagi melantunkan Al-Qur’an, tiba-tiba ia  berhenti dan menangis sesenggukan, kemudian ia ditanya apa gerangan yang membuat sang nasrani menangis?  Ia menjawab: karena ada syaja’ah  dan nadham (untaian kata-kata) yang indah di dalamnya. Diceritakan oleh Dhiyauddin Ibnu Athir. 

والله إن لقوله الذي يقول حلاوة، وإن عليه لطلاوة، وإنه لمثمر أعلاه مغدق أسفله، وإنه ليعلو وما يعلى، وإنه ليحطم ما تحته

Demi Allah! Apa yang ia ucapkan (Alquran) itu manis. Memiliki thalawatan (kenikmatan, baik, dan ucapan yang diterima jiwa). Bagian atasnya berbuah, sedang bagian bawahnya begitu subur. Perkataannya begitu tinggi dan tidak ada yang mengunggulinya, serta menghantam apa yang ada dibawahnya. Kata walid bin Mughirah, penyair Quraisy yang memiliki ketajaman lidah dan perajut kalimat-kalimat indah. ia sangat takjub pada al-Qur’an, walau sampai meninggalnya tidak mendapatkan hidayah Islam.

I’Jaz Syauti banyak dikaji oleh Al-Baqilani, Al-Khattabi, Al-Rummani, Ibnu Athir, dan beberapa ulama lainnya. Ibnu Athir memberikan kreteria I’jaz al-Syauti dalam al-Qur’an, di antaranya adalah jumlah huruf dalam kata, berat dan ringannya dalam ucapan, lafal sesuai dengan kalimat, lafal sesuai dengan konteks dan beberapa kreteria lainnya.  sedangkan menurut Al-Rafi’i, I’jaz Syauti dapat dilihat dari segi huruf dan suaranya, kata dan hurufnya, kata-kata dan kalimatnya. Berbeda dengan Sayyid Qutub dalam Al-Taswir al-Fanni fi al-Qur’an, ia menjelaskan tentang harmoni suara, ritme, diksi dan lainnya. 

Pilihan kata yang terkait dengan ritme dan shaut (fonologi), yang juga terkait dengan makna (dalalah) dan konteks; seperti 

وَإِنَّ مِنْكُمْ لَمَنْ لَيُبَطِّئَنَّ فَإِنْ أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَالَ قَدْ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيَّ إِذْ لَمْ أَكُنْ مَعَهُمْ شَهِيدًا [النساء:72] 

Perhatikan setiap kata dalam ayat di atas, terutama pada kata لَيُبَطِّئَنَّ . Ia benar-benar menggambarkan keseluruhan makna dari ayat  ini yang berbicara tentang "berlambat-lambat". Ketika kita membacanya, kita tidak akan bisa mempercepat, kalau kita mempercepat bacaan dalam Ayat ini akan kesulitan, bisa-bisa tergelicir dan tidak sesuai dengan kaindah tajwid. Membaca ayat ini harus bertatih-tatih, pelan-pelan dan membacanya dengan berlahan-lahan. Terutama pada kata لَيُبَطِّئَنَّ yang bermakna “sangat berlambat-lambat”.

Perhatikan beberapa kata, kalimat dan frase dalam Ayat berikut;
(فَكُبْكِبُوا فِيهَا هُمْ وَالْغَاوُونَ (الشعراء/94. 
(يا أيها الذين آمنوا ما لكم إذا قيل لكم انفروا في سبيل الله اثاقلتُم إلى الأرض) التوبة/38 .
(مُذَبْذَبِين بين ذلك لا إلى هؤلاء ولا إلى هؤلاء) الأحزاب/11
 (وزلزلوا زلزالا شديدا ) الأحزاب/11
(فدَمْدَمَ عليهم ربهم ) الشمس/14 
(وهم يَصْطَرِخُون فيها )فاطر/37 .

Beberapa kengerian yang digambarkan dalam neraka, suara-suara gaduh, teriakan-terikan, sesembahan yang dijungkir balikkan dalam kalimat “Fakubkibu”. Dan Al-Qur’an menggambarkan mereka dalam neraka dengan jeritandan teriakan-teriakan yang dahsyat “Yastharikhuna” dengan cukup berat, pada kalimat ini dengan tambahan “tha” yang menunjukkan mubalaghah (sangat).  Dan beberapa huruf yang diulang-ulang seperti “fadam dama”, “wazul zilu zilzalan”, “mudzab dzabina” adalah gambaran dari realitas yang ada, ada keserasian fonem (syaut) dengan makna dalam Ayat tersebut.  

Ketika berbicara tentang “lapang”, baik dilapangkannya rizki atau dada, maka bunyi Ayat-Ayat tersebut seperti memberi gambaran keluasan, lapang, mudah dan ringan. 

Perhatikan Surat Al-Insyirah; أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ
Dan juga dalam Ayat 
وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

Menurut Sayyid Aly, ada hubungan yang sangat erat antara aspek bayani dan aspek fonetik (shaut) dalam mengungkapkan makna. Pembentukan citra artistik kalimat dalam Al-Qur’an didasarkan pada pencampuran aspek bayani dengan suara (shaut) dan aspek irama (iqa’i).

Malang, 27 Juni 2021

#Ijaz_Al_Qurany 50

Selasa, 22 Juni 2021

Perbedaan Kholil dan Habib

(Ibrahim Khalilullah, Muhammad Habibullah)

Halimi Zuhdy

Siapa yang tidak mengenal Khalilullah?. Pasti semua umat Islam mengenalnya, dan kalimat Khalilullah mengarah kepada Nabi Allah,  Ibrahim AS. Nabi dari semua agama langit, Kresten, Yahudi dan Islam. Sampai-sampai semua agama merujuk kepada Nabi Ibrahim, atau agama Abrahamik.

Khalilullah (Kekasih Allah, Kesayangan Allah) demikian gelar yang selalu disandangkan kepada beliau. Dalam setiap shalat, nama Nabi Ibrahim selalu disebut dalam tasyahhud akhir, yang juga selalu bersanding dengan Nabi Muhammad SAW. Dan kita mengenalnya dengan nama "Shalawat Ibrahimiyah".

Tapi, apakah kita sudah tahu perbedaan Khalil dengan Habib? Habib yang sering dinisbatkan kepada Nabi Muhammad, Muhammad Habibullah (kekasih Allah). Berbeda dengan Nabi Ibrahim, Ibrahim Khalilullah. Keduanya diartikan sama, kekasih Allah, kesayangan Allah.

Tayyib. Mari kita lihat perbedaannya, menurut beberapa Mufassirin dan ahli bahasa. Menurut pengarang Kitab Ruhul Adab, Syekh Ibrahim Niyas, kata "Khalil" dan "Habib" memiliki maksud yang berbeda. Khalil Yu'tha ba'da thalab (cinta diberikan setelah mencari), sedangkan Habib Yu'tha duna thalab (cinta diberi tanpa mencari). Sama-sama memiliki arti kesayangan dan kekasih, tetapi khalil dicinta setelah ada usaha untuk dicintai dan dikasihi, sedangkan Habib, dicintai tanpa harus  mencari dan berusaha.

Syekh Ibrahim Niyas mendasarkan perbedaan tersebut pada beberapa Ayat dalam Al-Qur'an, di antaranya;

وَٱتَّخَذَ ٱللَّهُ إِبۡرَ ٰ⁠هِیمَ خَلِیلࣰا
"Dan Allah telah memilih Ibrahim menjadi kesayangan(Nya)".

Dari Ayat ini, Ibrahim Niyas menafsirkan perbedaan Khalil dan Habib. Kemudian beliau menyebut beberapa Ayat lainnya yang terkait dengan antara diusahakan dan tidak;

Perkataan Nabi Ibrahim (dalam Al-Qur'an) 
حَسْبُنَا اللّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
"Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.”

Firman Allah 
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَسْبُكَ اللّهُ وَمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

"Wahai Nabi (Muhammad)! Cukuplah Allah (menjadi pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu"

Perkataan Nabi Ibrahim
إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَى رَبِّي، انه سيهدين

Dan dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya aku harus pergi (menghadap) kepada Tuhanku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.

Firman Allah 
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَا
"Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa"

Menarik, dua Ayat terakhir misalnya, Nabi Ibrahim berusaha pergi menemui Tuhan dengan mengatakan "sesungguhnya aku harus pergi pada Tuhanku", berbeda dengan Nabi Muhammad, Nabi diisra'kan (dijalankan) oleh Allah menuju-Nya, bukan datang, tetapi didatangkan menuju-Nya. Ini yang melatarbelakangi Syekh Ibrahim Niyas, dengan membedakan antara Khalil dan Habib.

Perbedaan ini juga dijelaskan dalam kitab Mirqah al-Mafatih, Syarh Misykat Mashabib.

واعلم أن الفرق بين الخليل والحبيب أن الخليل من الخلة أي الحاجة ، فإبراهيم عليه السلام كان افتقاره إلى الله تعالى ، فمن هذا الوجه اتخذه خليلا ، والحبيب فعيل بمعنى الفاعل والمفعول فهو - صلى الله عليه وسلم - محب ومحبوب ، والخليل محب لحاجته إلى من يحبه ، والحبيب محب لا لغرض ، وحاصله أن الخليل في منزلة المريد السالك الطالب ، والحبيب في منزلة المراد المجذوب المطلوب

Kata "Khalil"  dari Khullah (خلة), yaitu membutuhkan. Nabi Ibrahim membutuhkan Allah SWT, maka dari itu, kata khalil ini dinisbatkan kepadanya. Khalil, mencintai karena membutuhkan kepada seseorang yang mencintainya. Sedangkan Habib, mencintai tanpa ada maksud apapun. Khalil, berada pada manzilah murid, salik dan talib (pencari). Sedangkan Habib, sebaliknya, yang dituju (dicari). 

Allahu'alam Bishawab 

Malang, 15 Juni 2021, 
                 4 Dzulqa'da 1442

Sabtu, 12 Juni 2021

Makna dan Asal Penamaan Dzulqa'dah, Bulan Mulia dalam Islam

(Keutamaan Bulan Dzulqa'dah)

Dr. Halimi Zuhdy, M.Pd, MA

Di tanah Jawa bulan Dzulqa'dah dikenal dengan nama Selo, sedangkan di pulau Madura dengan nama Takepek. Saya tidak akan mengkaji asal dan makna dua istilah di atas, yang keduanya mungkin memiliki makna yang berbeda dengan makna Dzulqa'dah, kecuali makna Selo (keseselan olo, kemasukan hal buruk) diganti dengan Silo (duduk bersila), maka makna yang kedua ini sama dengan arti Dzulqa'da yang artinya Qa'ada (duduk). Ada kesamaan makna bahasa Jawa Kuno dengan bahasa Madura dalam penamaan bulan ke-11 bulan Qamariah ini, yaitu Apit (Jawa) dan Takepek (Madura), yang bermakna kejepit atau terjepit, karena berada di antara dua hari raya, Idul Fitri dan Idul Adha.

Tayyib. Dzulqa'dah, pertama akan dilihat makna lughah (bahasa-nya), kedua asal penamaan bulan Dzulqa'dah, dan yang ketiga beberapa peristiwa penting yang ada pada bulan ini.

Dzulqa'dah (dalam Kamus Ma'ajim juga bisa dibaca kasrah, Dzulqi'dah) adalah terdiri dari dua kata, yaitu; Dzu dan Qi'dah. "Dzu" (ذو) bermakna memiliki, mempunyai, dan menguasai. Dan apabila kata ini disandarkan pada kata benda, maka memiliki arti lain, seperti Dzu Ba'sin (yang kuat), Dzu Ta'sir (yang manjur), Dzu Nufudz (yang berpengaruh), yang bermakna pemilik seperti Fulan Dzu Malin (فلان ذو مال) orang yang punya harta.

Kata "Qa'dah" atau "Qi'dah" adalah derivasi dari Qa'ada-Yaq'udu (َقَعَد يَقْعُد) yang memiliki beberapa arti, di antaranya adalah duduk (berdiri kemudian duduk, berbeda dengan Jalasa). Juga bermakna; menahan, telat, bersandar, melayani dan beberapa makna lainnya. Dzulqa'dah, secara umum diartikan dengan duduk, orang yang duduk, atau orang yang mengambil tempat duduk. 

Mengapa dinamakan dengan Dzulqa'dah? 

 القَِعْدة: الشهر الحادي عشر من الشهور القَمَرِيَّة؛ وهو أول الأشهر الحرم الثلاثة المتتابعة، سُمِّي بذلك لأنهم كانوا يقعدون فيه عن الاسفار والغَزْو والميرة.

Bulan yang ke-11 dalam kalender Hijriah ini adalah permulaan dari empat bulan yang dimuliakan ( bulan-bulan Haram) yaitu, Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Dinamakan dengan bulan Dzulqa'dah karena mereka (orang Arab) pada bulan ini duduk (rehat) tidak melakukan perjalanan, tidak berperang dan tidak mengumpulkan makanan  (dalam Al-Washit). 

Bulan ini, bulan yang tenang bagi orang Arab, karena tidak terjadi peperangan antar kabilah atau peperangan lainnya. Atau kita mungkin menyebutnya bulan santai, bulan dimana orang Arav dapat menikmati hasil pekerjaan dari bulan-bulan sebelumnya, serta bulan yang dilarang melakukan kegaduhan. Mengapa mereka tidak melakukan peperangan? karena mereka sangat mengagungkan dan menghormari bulan Dzulqa'dah.

لأن العرب تقعد فيه عن القتال لحرمته وتعظيمه.

Keistimewaan Bulan Dzulqa'dah

Bulan Dzulqa'dah adalah termasuk dari bulan Haram, bulan yang diagungkan dan dimuliakan. Bulan Haram, dimana pahala kebaikan dilipatgandakan, demikian juga dengan perbuatan dosa. 

 ابن عباس -رضي الله عنهما-: "اختص الله أربعة أشهر جعلهن حرمًا، وعظَّم حرماتهن، وجعل الذنب فيهن أعظم، وجعل العمل الصالح والأجر أعظم".

Ada yang berpendapat, dimuliakannya bulan Dzulqa'dah karena pada masa Jahiliyah untuk perjalanan atau persiapan melakukan ibadah haji. Dan hanya di bulan ini Rasulullah melakukan ibadah Umrah. 

وَعَنْ عَائِشَةَ -رضي الله عنها- قَالَتْ: "لَمْ يَعْتَمِرْ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم إِلَّا فِي ذِي الْقَعْدَةِ" (رواه ابن ماجه بسند صحيح).

Dan keistimewaan yang lain dari bulan ini adalah Allah berjanji (wa'dn) kepada Nabi Musa AS selama 30  malam di bulan Dzulqadah, ditambah 10 malam di awal bulan Dzulhijjah. 

ولذي القعدة فضيلة أخرى، وهي أنه قد قيل: إنه الثلاثون يومًا الذي واعد الله فيه موسى -عليه السلام- ففي تفسير قوله تعالى: (وَوَاعَدْنَا مُوسَى ثَلاثِينَ لَيْلَةً) قال مجاهد: ذو القعدة، (وَأَتْمَمْنَاهَا بِعَشْرٍ) قال: عشر ذي الحجة. فعلى هذا يكون المقصود بـ(ثَلاثِينَ لَيْلَةً) هي ليالي شهر ذي القعدة.

Di bulan ini disunnahkan memperbanyak melakukan kebaikan-kebaikan (amal saleh), seperti puasa dan ibadah-ibadah lainnya. Sebagaimana disunnahkan melakukan amal saleh pada bulan-bulan haram lainnya. 

Malang, 1 Dzulqa'dah 1442 (12 Juni 2021)

Kamis, 10 Juni 2021

Kegalauan Orang Tua dalam Mendidik Anak

(Doa Orang Tua untuk Anak dalam Al-Qur'an)

Halimi Zuhdy

"Orang tuanya biasa-biasa, anaknya kok sukses-sukses semua ya ustadz?" salah seorang jamaah pengajian bertanya pada salah satu ustadz ketika sesi tanya jawab hampir ditutup.
"Pertama, kita harus memahami sukses dan puncak kesuksesan. Sukses itu, apabila seseorang berada pada tempat yang ia cita-citakan. Apa pun itu. Sukses bukan hanya dilihat dari satu aspek atau satu pekerjaan, sukses bukan karena dia menjadi presiden, menteri, guru, dokter, dosen, pengusaha, penulis, hakim, da'i kondang, youtuber, tiktoker, dan pekerjaan lainnya yang menghasilkan banyak pulus atau kemasyhuran" jawab sang ustadz sambil tersenyum.

"Kesuksesan seorang anak itu apabila ia taat kepada Allah dan Rasulnya, serta berbakti kepada orang tuanya, dan taat pada Ulil amr". Si penanya terdiam, sepertinya ia lagi menunggu jawaban pertanyaan pertama.

Tentang anak, banyak orang tua yang menghabiskan energinya untuk mengurusnya, memikirkannya, bahkan sampai-sampai stres karena anak-anak yang tidak patuh pada orang tuanya.

Orang tua dibuat bingung dengan mencari tempat sekolah dan kuliahnya. Bahkan hidupnya hanya dihabiskan untuk "mensukseskan" anaknya. Kesuksesan anak, menurutnya, adalah bila sudah bla..bla..bla. Anak harus menjadi A, B dan C. Bila tidak menjadi A atau B, seperti kehilangan arah dan merasa tidak mampu mensukseskan anaknya. 

Benar, mendidik anak itu tanggung jawab orang tua. Orang tua tidak bisa berleha-leha dan hanya memasrahkannya pada sebuah lembaga pendidikan. Ia butuh pengorbanan, tidak hanya fisik dan psikis, lahir dan bathin, tetapi ada sesuatu yang sangat dianjurkan adalah menengadahkan tanganya ke langit, memohon kepada yang menciptakan anak, Yang menghadirkan buah hati ke muka bumi, Yang menumbuh kembangkan fisik dan menguatkan batinnya, Dialah Sang Penguasa Semesta. Demikian kata sang Ustadz.  

Dalam Al-Qur'an banyak sekali kalimat doa orang tua untuk anak-anaknya. Sebagaimana doa-doa para Nabi untuk keturunannya. Hal ini menunjukkan, tidak cukup orang tua mendidiknya, tetapi juga memohon kepada Sang Pemilik, agar anak-anaknya menjadi orang-orang yang shaleh. Sukses tidak hanya di dunia, tapi juga akhiratnya. 

رَبَّنا هَبْ لَنا مِنْ أَزْواجِنا وَذُرِّيَّاتِنا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنا لِلْمُتَّقِينَ إِماماً

Artinya, "Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa."

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Artinya, "Wahai Rabb kami, Jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan anak cucu kami (juga) umat yang berserah diri kepada-Mu dan tunjukkanlah kami cara-cara melakukan ibadah (haji) kami, dan terimalah taubat kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Penerima taubat, Maha Penyayang."

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعاءِ
 
Artinya, "Ya Tuhanku, berikan aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha mendengar doa."

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
 
Artinya, "Wahai Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk anak shalih."

وأَصْلِح لِي فِي ذُرِّيَتي

dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku

وإنّي أُعِيذُها بكَ وَذريتها من الشَيطانِ الرَجيم

dan aku mohon perlindungan-Mu untuknya dan anak cucunya dari (gangguan) setan yang terkutuk

ربِّ اجْعَلنِي مُقِيمَ الصَّلاة ومن ذُرِّيتي ربنا وتقبل دعاء

 Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.

واجْنبنِي وبنيَّ أن نعبُدَ الأصْنَام

dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala.

Kata para ulama, di antara kesuksesan seorang anak (menjadi saleh) karena panjatan doa-doa orang tua. Maka, jangan hanya tenggelam dengan berbagai metode pendidikan, tetapi melupakan wasilah yang luar biasa, yaitu doa. 

أن تستغرق كثيرًا في الوسائل التربوية الحديثة، وتغفل عن الوسيلة العظمى، وهي: كثرة الدعاء لهم

Ketahuilah mendidik anak itu sebuah tangguh jawab, dan sungguh ia merupakan beban yang  sangat berat, maka memohonlah (berdoa) pada Allah atas pendidikan anakmu, karena Allah sebaik-baiknya pemberi pertolongan

 واعلم تربية الأبناء مسؤولية و أن الحمل ثقيل فاستعن بالله على تربية أولادك فهو خير معين

Sebagaimana yang disampaikan oleh Namir yang termaktub dalam Kitab Al-'iyal li Ibni Abi Hayyan, mereka berkata "Pembelajaran adab dari orang tua, sedangkan kesalehan (kebaikan) dari Allah 
 فعن نمير :
 قال كانوا يقولون:"الأدب من الآباء والصَّلاح من اللَّه عز وجل".

Mudah-mudahan anak cucu kita sukses dunia dan akhiratnya. Fiddunya hasanah wa filakhirati hasana.

Malang, 8 Juni 2021

Selasa, 08 Juni 2021

Mengurai Makna Rezeki

(Rezeki dalam Al-Qur'an)

Halimi Zuhdy

Rezeki seringkali dipahami dengan fulus (uang) saja atau benda-benda berharga yang kita peroleh, atau juga sering dipahami sebagai harta yang datang tiba-tiba. "Saya hari ini dapat rezeki" ungkapan seseorang ketika mendapatkan uang atau makanan. Sedangkan ketika mendapatkan ilmu yang bermanfaat, kesehatan, dan pemberian lainnya, ia tidak menyebutnya sebagai rezeki.  
Dan seringkali kemuliaan seseorang diukur dengan banyaknya rezeki (dengan arti melimpahnya harta), tanpa melihat pemberian (rezeki) lainnya yang diberikan Tuhan kepada seseorang. 

Untuk mengurai arti rezeki, maka kita dapat melihat makna rezeki dalam bahasa asalnya (bahasa Arab)? Dan konsep rezeki dalam al-Qur'an?. Al-Rizqu (rezeki) dalam Qamus Al-Ma'ani adalah
 
ما تُعطيه الدولةُ للجُنود أو غيرهم من المواد الغذائية

Sesuatu yang diberikan negara pada tentara atau lainnya seperti bahan makanan, arti ini dalam istilah fiqih. Razaqa-Rizqan bermakna pemberian, Mazala Hayyan yurzaq; sehat selamat, Al-Rizqu al-hasan; sesuatu yang diperoleh seseorang tanpa susah payah dalam mencarinya dan beberapa makna lainnya.

Dalam al-Maudhu' rezeki adalah sesuatu yang bermanfaat, baik berupa harta, tanaman, atau selain keduanya, hal tersebut diberikan Allah pada hamba-hambanya tanpa usaha, dan tiada niatan untuk memperolehnya. 

Kata الرزق (rezeki) dalam Al-Qur'an terdapat ada 123 tempat, 61 berbentuk kata kerja, 62 berbentuk kata benda (isim). Menurut ulama tafsir, kata rezeki memiliki beberapa makna; 

1) Pemberian (العطاء) seperti dalam Ayat:
(.. وَمِمَّا رَزَقۡنَـٰهُمۡ یُنفِقُونَ)
..sebagian rezeki yang Kami "berikan" kepada mereka. 

2) Makanan (الطعام) seperti dalam Ayat; 
(.. كُلَّمَا رُزِقُوا۟ مِنۡهَا مِن ثَمَرَةࣲ رِّزۡقࣰا).
Setiap kali mereka diberikan rezeki buah-buahan. 

3) Hujan (المطر), seperti dalam Ayat; 
(وَفِی ٱلسَّمَاۤءِ رِزۡقُكُمۡ وَمَا تُوعَدُونَ)
Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.

4) Nafaqah (النفقة), seperti dalam Ayat;
(.. وَعَلَى ٱلۡمَوۡلُودِ لَهُۥ رِزۡقُهُنَّ وَكِسۡوَتُهُنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِۚ )
Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut..

5) Pahala (الثواب);
( بَلۡ أَحۡیَاۤءٌ عِندَ رَبِّهِمۡ یُرۡزَقُونَ)
sebenarnya mereka itu hidup di sisi Tuhannya mendapat rezeki..

6) Surga (الجنة); 
(... وَرِزۡقُ رَبِّكَ خَیۡرࣱ وَأَبۡقَىٰ)
Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.

7) Syukur (الشكر):
(وَتَجۡعَلُونَ رِزۡقَكُمۡ أَنَّكُمۡ تُكَذِّبُونَ)
...dan kamu menjadikan rezeki yang kamu terima (dari Allah) justru untuk mendustakan(-Nya).

8) Buah-buahan (الفاكهة);
 كُلَّمَا دَخَلَ عَلَیۡهَا زَكَرِیَّا ٱلۡمِحۡرَابَ وَجَدَ عِندَهَا رِزۡقࣰاۖ 
Setiap kali Zakaria masuk menemuinya di mihrab (kamar khusus ibadah), dia dapati makanan di sisinya

Dari beberapa makna di atas dapat disimpulkan, bahwa rezeki itu memiliki  makna pemberian dan sesuatu yang bermanfaat. Allah memberikan rezeki kepada semua makhkuq, seperti manusia, hewan, dan lainnya. Allah juga memberikan kepada orang yang beriman dan kepada yang ingkar, kepada orang dewasa dan anak-anak, yang berakal dan tidak berakal. Dan juga memiliki arti sesuatu yang bermanfaat  bagi manusia, rezeki yang bermanfaat di dunia sampai akhirat seperti; hidayah, ilmu yang baik, perilaku baik, dan aktifitas lainnya.

Dalam Al-Qur'an, manusia diberikan rezeki yang berbeda-beda, antara satu dengan lainnya. Sesuai dengan kadar dan hikmah yang tersimpan.

Apa rezeki yang berkah?
Bagaimana mendapatkan rezeki yang baik?
akan dikaji selanjutnya, insyallah.

Maraji'
Al-Qur'an, Qamus Ma'ani, Al-Maudhu', Al-Muhith, IslamWeb

Sabtu, 05 Juni 2021

Bersyukur kan Bahagia

(Melirik Makna "Laazidannakum)

Halimi Zuhdy

Terbayang tidak, orang yang melakukan tindak korupsi adalah orang-orang miskin? terbayang tidak, orang yang ngedrak dan teler pakai narkoba adalah mereka orang-orang miskin? Ada sih, tapi lebih banyak yang kaya?! 

Terbayang tidak, orang kaya berhenti mencari kekayaan? Setelah menjadi kaya, apakah mereka selalu merasakan bahagia? Belum tentu kan!?. 
Kebahagiaan bukan karena menjadi kaya. Kebahagiaan apabila bersyukur atas apa yang telah didapatkan, diperoleh, dan dihasilkan. Maka, tidak menunggu bahagian kemudian bersyukur, tetapi berayukurlah maka akan menemukan kebahagiaan. 

Demikian pula dengan jabatan, kemasyhuran, dan lainnya. Ia tidak akan pernah selesai, tidak akan pernah puas, bahkan akan terus dicari, diburu, dikejar walau sampai ke lubang semut. Yang mampu meredam dari sekian ketidakpuasan adalah syukur. Syukur karena qanaah (merasa cukup) terhadap pemberiaan-pemberian Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah;

كُنْ وَرعًا تَكنْ أعبدَ الناسِ، وكنْ قنعًا تكنْ أشكرَ الناسِ

“Jadilah seorang yang wara’, niscaya engkau menjadi manusia yang paling baik dalam beribadah. Dan jadilah seorang yang qana’ah, niscaya engkau menjadi manusia yang paling bersyukur”.

Dalam al-Qur'an ada beberapa kepastian apabila seseorang melakukan sesuatu,  di antaranya adalah bersyukur

(وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَىِٕن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِیدَنَّكُمۡۖ وَلَىِٕن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِی لَشَدِیدࣱ)

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” [Surat Ibrahim 7]

Apa yang ditambah? Dalam Tafsir Al-Alusi, seseorang akan bertambah nikmatnya, ketaatannya kepada Allah, dan selalu ridha akan pemberianNya. Dalam Tafsir Al-Razi, akan bertambah nikmat ruhaniah dan nikmat jasadiyah. Ruhaniah, ia akan semakin taat kepada Allah, selalu sibuk bersyukur atas apa yang diberikanNya, selalu berbuat baik kepada orang lain, dan selalu mencari bagaimana ia dicintai Allah. Sedangkan jasadiyah, ia diberikan nikmat yang lebih, sedangkan kadarnya Allah yang Maha Tahu, karena setiap orang diberikan kadar yang berbeda.

Sebanyak apapun materi, semasyhur apapun sebuah nama, setinggi apapun pangkat, tidak akan pernah merasakan kebahagiaan, apabila tidak ada syukur di ddalamnya. Tetapi sebaliknya, di gubuk yang reot, pengais-ngais sampah, tidak pernah terbaca halayak, tetapi syukur selalu mengembang dalam dirinya, maka kebahagiaan akan selalu dirasakannya.

Imam Hasan al-Bashri berkata, “Sesungguhnya Allah memberi nikmat kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Jika seseorang tidak mensyukurinya, maka nikmat tersebut berbalik jadi siksa.”

*******
 "Bersyukur, maka akan bahagia", "tidak menunggu bahagia, kemudian bersyukur, karena yang mendatangkan bahagia adalah apabila ia bersyukur" 

✍️
Kajian Al-Qur'an dan Turast dapat dibaca di:

📲FB: Halimi zuhdy
💌IG: Halimizuhdy3011
🎞️Youtube: Lil Jamik
🌍Web: halimizuhdy. com