السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Kamis, 30 September 2021

Apakah Arti Adil dalam dua Ayat tentang Poligami?

Halimi Zuhdy

Saya sering ditanya bapak-bapak yang ingin menikah lagi, dan ibu-ibu yang tidak ingin dimadu. "Pak, apakah bisa adil dalam poligami?"

"Ya bisa adil, dan juga tidak bisa adil, tapi saya bukan penganut poligami lo?!" tawa saya pecah, khawatir kedengaran istri saya. 

"Maksudnya bagaimana,  bisa adil dan tidak bisa adil?" Tanyanya lagi. 
"Begini, dalam al-Qur'an ada dua Ayat, yang satunya tidak mungkin adil, dan satunya mungkin.

(وَإِنۡ خِفۡتُمۡ أَلَّا تُقۡسِطُوا۟ فِی ٱلۡیَتَـٰمَىٰ فَٱنكِحُوا۟ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ ٱلنِّسَاۤءِ مَثۡنَىٰ وَثُلَـٰثَ وَرُبَـٰعَۖ فَإِنۡ خِفۡتُمۡ أَلَّا تَعۡدِلُوا۟ فَوَ ٰ⁠حِدَةً أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَیۡمَـٰنُكُمۡۚ ذَ ٰ⁠لِكَ أَدۡنَىٰۤ أَلَّا تَعُولُوا۟)

[Surat An-Nisa' 3]

 ini yang mungkin seseorang dapat berlaku adil, "..jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja.." tetapi ada ayat lain yang tidak mungkin seseorang dapat berlaku adil, seperti dalam ayat; 

 (وَلَن تَسۡتَطِیعُوۤا۟ أَن تَعۡدِلُوا۟ بَیۡنَ ٱلنِّسَاۤءِ وَلَوۡ حَرَصۡتُمۡۖ فَلَا تَمِیلُوا۟ كُلَّ ٱلۡمَیۡلِ فَتَذَرُوهَا كَٱلۡمُعَلَّقَةِۚ وَإِن تُصۡلِحُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورࣰا رَّحِیمࣰا)
[Surat An-Nisa' 129]

"..Dan kamu tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung.." 

"Apakah Ayat di atas bertentangan?" Sanggahnya. 

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10219890097832037&id=1508880804

"Tidak, ada beberapa tafsir yang menjelaskan. Seseorang tidak mungkin berlaku adil dalam urusan cinta, rasa, dan kecendrungan hati(al-misawah fil mahbbah). Tetapi, mungkin dapat berlaku adil dalam perlakuan syariat (al-huquq al-Syariah)".  Sambil saya tertawa kecil, takut didengar istri. "Dalam urusan cinta, tidak mungkin berlaku adil, bagaimana dapat berlaku adil, tatapan matamu dan kedipannya bisa lebih panjang pada yang muda". Sambil tangan saya mencolek dengkulnya.  

Sebelum saya pamit pulang, saya taukidkan "Maaf ya, kalau saya sendiri sudah angkat tangan. Karena orang menikah lebih dari satu itu bukan hanya urusan kemauan, tetapi dia harus mampu berlaku adil dalam memberikan nafakah lahir dan batin, dan juga harus benar-benar mampu menata hati, tidak cukup sholeh tapi musleh, tidak cukup kaya tapi harus berbudaya, tidak cukup kuat tetapi harus taat, dan lainnya". 

"Sudah ya,..saya pamit dulu.." Saya agak tergesa-gesa, karena takut ditanya lebih jauh lagi, karena saya merasa lastu ahlan 'anhu, saya bukan ahlinya.

Kajian Al-Qur'an, Sastra Arab dan Turast dapat dibaca di:

📲FB: Halimi zuhdy
💌IG: Halimizuhdy3011
🎞️Youtube: Lil Jamik
🌍Web: halimizuhdy.com
🦜 Twitter: Halimi Zuhdy

Minggu, 26 September 2021

Kesamaan Nabi Yusuf dan Nabi Musa dalam Al-Qur'an

Halimi Zuhdy

Kisah pada akhirnya menggiring pembaca pada pesan yang ingin disampaikan, baik kisah fiktif atau nyata. Kisah yang baik bila ia membawa pesan yang jelas, memiliki konflik, menarik, logis dan dipersatukan dalam struktur dramatik. Al-Qur'an bukan kitab kisah, walau di dalamnya terdapat beberapa kisah yang menarik dengan bahasa sastrawi. Pesan keimanan, ketauhidan, kesalehan, kesabaran, keteguhan dan beberapa pesan lainnya.

Dalam Al-Qur'an terdapat banyak kisah, ada kisah para Nabi, kisah tukang kebun dan berbagai kisah yang diceritakan Al-Qur'an. Kisah-kisah dalam Al-Qur'an sebagai pelajaran tentang bagaimana mengarungi hidup di muka bumi. Seperti kesombongan Fir'aun dan Namrud, pengakuan dirinya sebagai Tuhan, kedoliman pada kaumnya, akan membawa murka Tuhan pada mereka. Kekuasaan tidak membuat kekal, bahkan ia terjungkal dikala manusia menjadikannya kekal.

Demikian pula ibrah dari kisah kebaikan-kebaikan yang termaktub dalam Al-Qur'an dapat diambil pelajarannya, seperti kisah Nabi Yusuf dan Nabi Musa, kesabaran dan keimanan mereka membawa pada kemenangan dan kebahagiaan. 

Dua Nabi yang memiliki kemiripan kisah, digambarkan sangat indah dalam Al-Qur'an dengan kata-kata baligh (nyastra), yaitu kisah Nabi Yusuf dan Nabi Musa. 

Nama Yusuf berasal dari Bahasa Ibrani yang bermakna "Allah menghadiahkan,  mengabulkan, melipatgandakan kebaikan, pemberian", namanya termaktub dalam Al-Qur'an sebanyak 24 kali. Sedangkan nama Nabi Musa dalam Al-Sotor, bermakna anak laki-laki, yang diselamatkan (almunqadz), nama Musa juga berasal dari Bahasa Ibrani, yaitu terdiri dari dua kata Mu (مو) dan Sya (شا). Mu bermakna air, dan Sya adalah pohon. Karena keberadaan Musa kecil di air yang berada di antara dua pohon. 

Kemiripan kisah Nabi Musa AS dan Nabi Yusuf AS;
 
 1- Kisah keduanya berawal dari mimpi, mimpi Yusuf tentang bintang-bintang, isyarat kemuliaan dan kejayaannya. Sedangkan Musa adalah isyarat mimpi Fir'aun akan kehancurannya, dan kejayaan Musa. 

 2- Keduanya menghilang, Yusuf hilang dari Ayahnya, Ya'qub. Musa hilang dari ibunya, Yukhabat.

 3- Yusuf dan Musa sama-sama dilemparkan (القاء). Yusuf dilemparkan ke dalam sumur (jub), Musa ke dalam air (yam). Perbedaanya, Nabi Yusuf dilemparkan saudara-saudaranya dengan penuh kebencian, sedangkan Nabi Musa dilemparkan (dengan kata yang sama, redaksi yang berbeda dalam Al-Qur'an) dengan penuh kelembutan. Yang satu lemparkan karena hawa nafsu, yang satunya karena perintah Tuhan.

قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ لَا تَقْتُلُوا يُوسُفَ وَأَلْقُوهُ فِي غَيَابَتِ الْجُبِّ يَلْتَقِطْهُ بَعْضُ السَّيَّارَةِ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ

وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّ yeوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ

 4- Ketika Yusuf dan Musa menghilang dari rumahnya, orang tua keduanya sama-sama bersedih.
وَأَصْبَحَ فُؤَادُ أُمِّ مُوسَى فَارِغًا

يَا أَسَفَى عَلَى يُوسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ

5. Keduanya sama-sama ditolong. Yusuf ditolong oleh kafilah pedagang yang lewat di sumur, kemudian dijual. Sedangkan Musa ditolong ditemukan oleh dayang-dayang istana. 

 6- Keduanya tinggal di istana yang megah, Yusuf dibeli istri seorang menteri di Istana, Zulaikha. Dan Musa diminta oleh Istri Fir'aun untuk dipelihara. Keduanya, sama-sama seorang istri dari penghuni kerajaan besar. 

7. Saudaranya sama-sama berperan, satu berperan jahat, satunya berbuat baik. Saudara-saudara Yusuf yang memasukkan ke sumur. Berbeda dengan saudari Musa yang membantu dan menolongnya.

8. Istri dari kedua istana sama-sama berperan, satunya berperan sebagai pemberi rasa aman, yaitu Istri Fir'aun, memberi rasa aman kepada Musa. Sedangkan istri perdana mentri memberi rasa galau pada Yusuf.

9. Orang tuanya sama-sama bahagia ketika bertemu dengan keduanya. Ketika ibu Musa mendapatkan Musa selamat dalam gelombang air sungai dan ia bertemu di istana sebagai seseorang yang menyusui. Dan Ayah Yusuf, mendapatkan baju Yusuf yang dibawa saudaranya dari Istana.
﴿ وَحَرَّمْنَا عَلَيْهِ الْمَرَاضِعَ ﴾:
﴿ إِنِّي لَأَجِدُ رِيحَ يُوسُفَ ﴾ .

Tangan yang dulu melepaskan Musa di sungai dengan penuh kelembutan, berakhir dengan perseteruan antara dirinya dan sang pemilik istana. Tangan yang dulu melepaskan dengan kebencian, yaitu tangan-tangan saudara Yusuf, pada akhirnya ia berdekatan dengan pemilik istana, bahkan ia menjadi raja. 

Referensi📚
Al-Qur'an
Rabith Al-Aukah
Rabith Al-Madinah al-Ikhbariyah

Jumat, 17 September 2021

Menilik Munculnya Istilah Ma'had, Ribath, Ma'had Aly, Ma'had Al-Jami'ah.

Apakah sama dengan Pesantren?

Halimi Zuhdy

Dulu, kita hanya mengenal istilah pondok dan pesantren, atau digabung menjadi pondok pesantren. Istilah ini sangat masyhur di Nusantara, terutama di Jawa, Madura, dan Sunda. Sedangkan di daerah lain, seperti Minangkabau dikenal dengan istilah surau. Kata surau di beberapa daerah, mirip mushalla (tempat salat). Di Aceh, pesantren dikenal dengan istilah dayah. Atau mungkin masih ada istilah lain di beberapa daerah, alfaqir belum tahu, soalnya belum pernah diajak jalan-jalan ke berbagai belahan Indonesia.wkwkw

Istilah pondok, menurut beberapa pendapat berasal dari bahasa Arab, yaitu funduq, tempat menginap, bermalam, atau berteduh. Tetapi, funduq sekarang lebih dikenal dengan istilah hotel, lebih keren kan?. Atau mungkin, dengan istilah funduq, dulu santri yang mondok berada di tempat yang berkelas. Kelas di sini bukan kelengkapan fasilitasnya, tetapi kebahagiannya, bahagia bermalam dengan teman dan bersamai dengan kyai, mengaji dan mengabdi. He. 

Istilah pesantren sudah sangat akrab dengan Indonesia. Sedangkan akar kata atau asal dari kata pesantren, terdapat  beberapa perbedaan. Ada yang berpendapat bahwa kata pesantren dari kata santri, dan kata santri berasal dari Cantrik. Dan seterusnya. Intinya orang yang belajar agama, berguru pada syekh/kyai/ustadz dan sebagainya.

Beberapa tahun terakhir istilah pesantren, diterjemahkan dengan beragam kata, ada yang mengunakan Ma'had, Ribath, Boarding School, Sakan, dan beberapa istilah lainnya. Istilah itu pun berkembang, ada istilah Ma'had Aly, Ma'had Al-Jamiah, dan mungkin ma'had-ma'had lainnya. Belum lagi dengan istilah Boarding School, istilah ini keren agak ke barat-baratan sih.wkwwk.

Dulu, pesantren ya pesantren. Kemudian muncul pesantren modern, sehingga bagi yang tidak sepakat dengan istilah modern (karena beberapa hal), maka menggunakan istilah pesantren Salaf, walau pada awalnya pesantren ya pesantren salaf. Kemudian muncul pesantren semi, semi salaf dan semi pesantren (tidak salaf, ya tidak modern).

Kemudian. Entah kapan, masuknya istilah Ribath di Indonesia yang kemudian dianggap sama dengan pesantren. Demikian juga dengan istilah Ma'had. Karena kata Ribath lebih dekat dengan istilah markas tentara (al-makan alladzi yurabithu al-jaisy), atau juga tempat yang diwaqafkan untuk fakir miskin. Kalau dalam istilah fiqih adalah tempat untuk menghalau musuh diperbatasan kota atau negara. Atau juga diartikan sebagai tempat orang-orang sufi (beribadah) dan bermiditasi (taammul).

Bagaimana dengan Ma'had?. Ma'had adalah istilah umum yang digunakan untuk sebuah tempat atau lembaga, seperti perguruan tinggi, institut, badan dan beberapa makna lainnya. Kalau pengertian di wikipedia berbahasa Arab, adalah organisasi permanen yang didirikan untuk tujuan tertentu, seperti lembaga penelitian, dan lembaga kursus, kampus, dan lainnya. 
منظمة دائمة التي أنشئت لغرض معين

Maka, pesantren dengan ciri khasnya, ya pesantren. Berbeda dengan ma'had dan ribath, kecuali keduanya dianggap terjemahan dari pesantren, itu pun masih belum unik dibandingkan pesantren di Indonesia. Apakah ribadh dan ma'had adalah pesantren seperti di Indonesia? Ini perlu mengundang ahlinya.wkwkw.

Bagaimana dengan istilah Ma'had Al-Aly apakah akan diterjemahkan dengan Pesantren Tinggi? Bagaimana juga dengan Ma'had Al-Jamiah, apakah diterjemahkan dengan pesantren kampus? Ah, istilah tidak penting, yang penting actionnya.he.
Belum lagi istilah Boarding!?.he  

Allahu'alam Bishawab

******

Jumat, 10 September 2021

Sejarah Penamaan Bulan Shafar


(Membaca Asal Kata Safar)

Halimi Zuhdy

Kita sering mendengar kata zero dalam bahasa Inggris, dan kata shifer dalam bahasa Arab, keduanya bermakna nol dalam bahasa Indonesia. 

Kata zero dalam bahasa  Inggris diambil dari bahasa Prancis "zéro", dan kata ini berasal dari bahasa Venetian (bahasa Roman, Italia) dan sepadan dengan kata “cypher” yang berasal dari bahasa Italia yaitu "zefiro". Nah, asal kata zefiro  ini adalah dari bahasa Arab 'shifer' (صفر). Kata zero pertama kali digunakan dalam bahasa Inggris pada tahun 1598 (lihat, Maudhu', Aslh Lughah). Maka, kata Safar (juga Zero) secara umum bermakna Nol (kosong, farigh). 


Bulan Shafar adalah nama bulan kedua dalam kalender Hijriah (Qamariyah), setelah bulan Muharam. Terdapat banyak pendapat terkait dengan sejarah penamaan “Shafar” demikian juga dengan asal muasalnya (derivasi). Dalam Al-Yaum yang mengutip dari Mu’jam Musthalahat wa Alqab al-Tarikhiyah bahwa kata ini berasal dari “Asfarat Dar” orang-orang Arab keluar rumah untuk berperang, sehingga rumah-rumah mereka menjadi sepi tanpa penghuni. 

Juga dari Al-Yaum, menukil dari Kitab Alfu Ma’lumat an al-Lughah al-Arabiyah wa Adabiha, bahwa orang Arab meninggalkan kota Makkah sehingga kota tersebut menjadi kosong. Sedangkan dalam Al-Bilad, orang-orang Arab meninggalkan kampungnya untuk berperang (yaharib) ada juga yang berpendapat mereka meninggalkan kampung halaman pada bulan Shafar karena mencari makanan dan menghindari panasnya musim shaif (panas). 

Pada masa Jahiliah bulan safar bernama Najir (arti, panas), di mana pada bulan tersebut cuaca yang sangat panas dan unta-untuk begitu banyak minum air. Orang Arab dulu mempercayai bahwa bulan Shafar adalah bulan penuh petaka, maka bulan ini dikenal dengan bulan pesimistis (tasyaum), bulan mendatangkan sial, malapetaka, musibah dan mendatangkan banyak penyakit. Mungkin dari kayakinan inilah banyak orang yang menganggap bulan ini penuh musibah, atau bulan sial. Sehingga tidak jarang orang-orang Arab dan di luar Arab, tidak banyak yang melaksanakan pernikahan dan lainnya. 

Dari beberapa pendapat di atas, Bulan Shafar secara bahasa lebih condong pada makna kosong (shifr, nol, zero), bukan pada arti shafar yang bermakna menguning. Kuning karena berbagai penyakit yang menimpa seseorang, sehingga banyak yang beranggapan bahwa bulan Safar adalah bulan penyakit.

Beberapa peristiwa terjadi pada Bulan Safar, yaitu; terjadinya perang Abwa’, terjadinya Ar-Raj’, pernikahan Nabi dengan Khadijah al-Kubra, Nabi Muhammad menikahkan Sayyidah Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib, dan beberapa peristiwa lainnya.

Allahu'alam Bishawab

Malang, 3 Safar 1443 H.

Sabtu, 04 September 2021

Mengungkap Rahasia di Balik NUN

(Melirik Nama-Nama Besar Seputar Huruf Nun)

Halimi Zuhdy

Siapakah An-Nun?, pikiran kita akan tertuju pada tiga nama besar, Dzun Nun (dalam Surat Al-Anbiya'), Nun awal Surat Al-Qalam, dan Dzun Nun Al-Misri. Siapakah mereka dan mengapa dijuluki dengan Nun?. 

Dzun Nun adalah laqab (julukan) yang disematkan Al-Qur'an pada Nabi Yunus, nama ini terdapat dalam surat Al-Anbiya', Ayat 87. Nabi Yunus dengan kisahnya yang berada di atas perahu yang terombang ambing oleh hempasan angin. Kapal yang kelebihan muatan, dan untuk mengurangi muatan kapal, undian pun menjadi jalan terakhhir, nama siapa yang keluar, ia harus melompat ke laut.

Tiga kali diundi, nama yang keluar sama, Nabi Yunus. Maka sang Nabi ini pun dipaksa melompat ke laut, kemudian al-haut (ikan paus) menelannya. Ikan paus inilah yang juga dikenal dengan  "An-Nun". 

Nabi Yunus dijuluki dengan Dzun Nun, pemilik ikan paus, karena dia pernah ditelannya (iltaqama) cukup lama berada di dalamnya, dan setelah beberapa lama dimuntahkan kembali. Ikan tersebut membawa Nabi Yunus ke dasar laut, berhari-hari ia berada di dalamnya (40 hari, menurut Ibnu Katsir). Intensitas dengan ikan yang cukup lama, dengan pertaubatan Nabi Yunus pada Allah di dalamnya, keakraban inilah yang mungkin membawanya pada julukan tersebut. Dzun Nun. 

***
Selain Dzun Nun yang disematkan pada Nabi Yunus. Dalam Al-Qur'an terdapat kata "Nun", yaitu pada awal surat Al-Qalam, surat ke  68. 

 نۤۚ وَٱلۡقَلَمِ وَمَا یَسۡطُرُون

"Nūn. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan"
Nun, ulama berbeda pendapat dalam memahami dan memberikan arti kata ini. Dalam Almerja, Nun adalah nama surat Al-Qur'an seperti nama-nama surat lainnya, Shad, Ha Mim, Ya Sin, Alif Lam Mim dan huruf lainnya yang serupa. Ada pula yang berpendapat Nun adalah Ikan paus yang berada di muka bumi (lautan) demikian menurut Ibnu Abbas, Muqatil dan Mujahid. Dalam riwayat lain, Ibnu Abbas berpendapat bahwa Huruf Nun adalah di salah satu huruf Al-Rahman.

Menurut Al-Dahak, Qatadah dan Al-Hasan, Nun dalam Surat Al-Qalam adalah Dawat (tempat tinta). Sedangkan  dalam riwayat lain, ia adalah papan yang terbuat dari cahaya. Nun adalah sungai di surga, kemudian Allah berkata pada sungai tersebut "Kun Midadan", jadilah tinta. Kemudian sungai itu membeku, warnanya lebih putih dari susu, lebih manis dari madu (syahd), kemudian Allah perintahkan pada al-Qalam, "Uktub, tulislah", kemudian pena itu menulis apa yang ada dan yang wujud sampai pada hari kiamat, demikian kata Abi Ja'far.  

Pula, ia dikatakan sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah, Nun, Ikan Paus sebagai tanda-tanda kuasa Allah yang diciptakan dari air, tetapi bila ia telah berpisah dengan air, ia tidak akan bertahan hidup. Sebagaimana hewan darat, yang bila kemasukan air (tenggelam), ia juga akan mati.

Dan dari Ayat ini, inspirasi berdirinya Pondok Pesantren Darun Nun yang berada di daerah Malang Indonesia. Nun dengan berbagai rahasianya, dan Nun dengan berbagai falsafahnya, dan Nun sebagai rupa tempat tinta (ن) untuk menuliskan kebaikan-kebaikanNya.

***
Nun berikutnya, adalah Dzun Nun Al-Misri. Ulama yang sangat masyhur. Namanya sampai hari ini masih termaktub dalam kalbu umat Islam. Ia ditulis apik dalam sejarah sufi. Nama lengkap beliau adalah Thawbān b. Ibrāhīm al-Miṣrī, yang juga dikenal dengan Abu Fayd. Tokoh sufi abad ke 9.  Secara harfiyah, Dzun Nun, pemilik ikan paus, sahabat ikan paus, atau penguasa ikan paus. Atau pula pemilik huruf Nun.  Beliau dikenal sebagai seorang sufi yang memperkenalkan tentang Al-Ma'rifah secara sistematis (ilmiy munadzdham). 

Tentang julukan Dzun Nun yang disematkan kepada beliau, terdapat banyak kisah, dii antaranya, sebagaimana yang dituturkan Dr. Yahya Abu Maati dalam Biografi Dzun Nun (dalam Al-Ahram), "Ada seorang perempuan yang mendatangi Dzun Nun sambil menangis, ia mengadukan kejadian tersebut padanya, bahwa anaknya ditelan buaya di pinggiran sungai Nil. Kemudian Dzun Nun berdoa, "Ya Allah tampakkan buaya itu" tiba-tiba buaya itu datang, dan kemudian anak tersebut dikeluarkan dari dalam perut buaya dalam keadaan sehat dan selamat. Dari kisah ini, nama Dzun Nun disematkan sebagaimana ta'bir kisah keajaiban Nabi Yunus yang keluar dari Ikan Paus. Allahu'alam Bishawab.
Di antara pesan Dzun nun;

«كيف أفرح بعملى وذنوبى مزدحمة، أم كيف أفرح بعملى وعاقبتى مبهمة؟!»

****

Nun tentang membuka pintu-pintu rahasia ketuhanan. Nun sebagai lambang pintu rahasia, demikian menurut Ibnu Arabi. Sebuah pintu menuju taubat dan kasih tuhan.  

Malang, 4 September 2021