Facebook Halimi Zuhdy
Kamis, 22 Januari 2026
Gaya Belajar Imam al-Bukhari
Tradisi Merawat Ilmu, Bukan Sekadar Mengutip(Khidmah al-kitab)
Gelar dan Sebutan Penulis dalam Bahasa Arab(Ahl Al-Qalam)
Sabtu, 15 November 2025
Sebuah Karya Disalin 700 Kali oleh Pengarangnya Sendiri
Medsos Sampah dan Jerat Algoritma?
Minggu, 02 November 2025
Jejak Tinta Para Ulama
Maqam Ibrahim dan Jejak Digital
Produktifitas Imam At-Thabari, Menulis 40 Halaman Setiap Hari
Minggu, 19 Oktober 2025
Menulis Sastra (Puisi): Dari "Syi‘ir", "Syu‘ūr", hingga "Syiar"
Jumat, 18 Juli 2025
Semangat Membara Para Ulama
Sabtu, 18 November 2023
Cara Menulis Qoshidah (Puisi) Bahasa Arab
Kamis, 05 Mei 2022
Menisbatkan Tulisan pada Penulisnya
Rabu, 07 November 2018
Luar Biasa! Gadis Kecil Maroko, Pemenang "The Arab Reading Challenge 2018"
Halimi Zuhdy
Dua hari ini dunia Arab dihebohkan dengan kecerdasan gadis kecil, dan vedionya viral diberbagai media, Maryam Amjun, ia punya nama.
Gadis kecil ini mampu membuat para hadirin dan juri bedecak kagum, bahkan tepuk tangan riuh tak berhenti, ketika gadis kecil ini menjawab pertanyaan Dr. Muna dengan meyakinkan dan kefasihan kalamnya dalam bahasa Arab.
Gadis berusia sembilan tahun itu tidak dapat membendung gelombang air matanya, membuncah, sambil tersenyum gembira dan binar matanya menyapa seluruh hadirin, ditangannya memegang erat piala yang diberikan oleh Wakil Presiden UEA, Muhammad bin Rasyid Ali Maktum. Karena hari itu, ia telah meraih bintang "The Arab Reading Challenge" tahun 2018. Maryam adalah peserta termuda dalam acara ilmiah dan budaya tersebut.
Pertanyaan yang diajukan kepada Maryam "lebih sulit dari umurnya", dia pun kata ibunya, tidak memiliki akun apapun pada situs jejaring sosial, dan tidak memiliki HP Tetapi jawaban "pintarnya", seperti yang dikatakan ibunya, membuatnya mengungguli lawan-lawannya dan menemukan jalan keluar untuk mendapatkan suara terbanyak.
"Saya sangat bahagia dan saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Yang Mulia Sheikh Muhammed bin Rasyid atas prakarsa luar biasa ini yang telah membangkitkan rasa ingin tahu dan pengetahuan kami tentang membaca buku," kata Maryam sambil sesenggukan bahagia.
Gadis kecil itu telah melampaui lebih dari 300 ribu siswa dan murid di tingkat nasional, mewakili 3.842 lembaga pendidikan, untuk dapat mewakili Maroko di babak ketiga kompetisi " Tahaddi Al-Qira'ah al-Arabiyah,".
Berikutnya ia bersaing dengan peserta dari negara-negara Arab, serta dari masyarakat Arab dan Muslim yang berada di negara-negara Barat, Kualifikasi awal kompetisi dihadiri oleh 10 setengah siswa dari 44 negara, dengan seleksi akhir 87.000 peserta dari 52.000 sekolah. Dan pada tahap akhir, dialah sebagai pemenangnya.
Usia mudanya tidak menghalangi dia untuk mewujudkan impian besarnya. Maryam Amjon digambarkan oleh ibunya sebagai seorang gadis yang mencintai banyak buku sebelum ia dapat membacanya. "Masa kecilnya hidup di tengah-tengah buku." "Pekerjaan kami sebagai guru membuat kami selalu sibuk dengan buku-buku, dan anak itu tergoda oleh hal-hal di sekitarnya yang menyibukkan orang tuanya."
Maryam, si gadis kecil , membaca lebih dari 200 buku dalam kompetisi, di tingkat nasional dan internasional.
Dan penulis memimpikan ada lomba membaca buku di Indonesia, dengan hadiah besar, seperti di UEA, 150 US Dolar, belum lagi berbagai hadiah lain yang diterimanya. Agar masyarakat Indonesia juga berlomba-lomba membaca buku, dan buku sebagai tombak dalam hidupnya, karena Indonesia termasuk negara yang paling rendah daya membacanya.
Allah 'lam bishowab.
IG : @halimizuhdy
#membaca #maryam_amjon #maryamAmjon #membacaGadisMaroko
Kamis, 05 Juli 2018
LITERASI DI INDONESIA BUTUH DONGKRAK BESAR
Halimi Zuhdy
Perkembangan literasi di Indonesian tidak terlalu menggembirakan, butuh usaha besar dan sungguh-sungguh dari berbagai pihak untuk selalu mendorong masyarakat Indonesia agar gemar membaca dan menulis. .
Data yang cukup mengenaskan, dari 61 negara yang diteliti tingkat literasinya, menempatkan Indonesia peringkat kedua dari bawah, yaitu ke-60 setelah Bostwana. Prestasi yang tidak perlu terjadi, apalagi negara ini negara besar dan sudah cukup lama berdiri di dunia. Seharusnya, besarnya (banyaknya) juga sejalan dengan budaya literasinya. .
Sebuah negara, maju dan tidaknya, dapat dilihat dari bagaimana kegemaran membacanya, jika budaya bacanya masih rendah, maka masyarakatnya juga demikian. Menurut penelitian UNESCO, indeks minat baca Indonesia 0,001 %. Artinya dari 1.000 penduduk hanya 1 orang yang serius membaca. Apakah benar survei tersebut, kalau benar, bagaimana peran lembaga pendidikan di Indonesia, demikian juga peran pemerintah yang memiliki kekuatan untuk merubah bangsa. .
Sedangkan hasil survei 3 tahunan BPS, telah mencatat, tingkat minat baca anak-anak Indonesia hanya 17,66 %, sementara minat menonton mencapai 91,67 %. Bisa dibayangkan, bagaimana minat menonton masyarakat Indonesia mengalahkan daya bacanya. Apalagi akhir-akhir ini, dari mulai Anak PAUD sampai Pos Doktoral sangat suka megang HP, dan yang paling banyak diakses adalah youtube (film), dan orang tuanya asyik masuk dengan literasi ala modern (cating, ngerumpi, hal tidak jelas arahnya). Budaya baca buku (online dan ofline) juga kurang diminati. Dan yang sangat menakutkan, orang Indonesia rata-rata menghabiskan waktu selama 3 menit 36 detik untuk menonton film porno di internet. .
Jika, kegemaran membaca saja sudah sangat rendah, bagaimana dengan minat menulisnya. Sedangkan budaya menulis akan tumbuh, jika minat membacanya kuat. Dan dari hasil penelitian terkini, lembaga pendidikan pun (sekolah, kampus dll), banyak yang tidak membudayakan literasi, dengan indikasi; perpustakaannya sepi, jarangnya bedah buku, tidak adanya diskusi, buku-buku tidak terbaca di berbagai rak sekolah/kampus, dan lainnya. .
Dan lucunya, banyak parapejabat pemerihtahan dan para pendidik, yang belum tahu tentang dunia literasi. Bagaimana mereka mendorong untuk memdayakan literasi, sedangkan mereka belum memahaminya. Mudah-mudahan dapat berbenah. .
.
Untuk memupuk dan membudayakan literasi, maka bagi para pendidik terutama, selalu mengkampanyekan; pentingnya membaca dan menulis, mendorong untuk mengunjungi perpustakaan sekolah, menggiatkan gemar ke toko buku, memotivasi membawa buku kemana-mana, membuat gerakan membaca di sekitarnya, membuat taman literasi, dan lainnya.
Budaya literasi yang rendah, akan menyebabkan pengetahuan rendah, negara terbelakang, hoax bergelimang, dan serta sulit bangkit dari keterpurukan. Penyebab rendahnya minta tersebut, menurut beberapa pakar di Indonesia, karena; orang tua tidak mengenalkan literasi sejak dini, orang tua yang meletakkan buku sebagai sampingan dari belanja lainnya, orang tua lebih mendekatkan pada TV dari buku, sulitnya mengakses buku-buku, figur publik yang tidak suka literasi.
Hal di atas menjadi tugas kita bersama, membudayakan literasi, agar Indonesia menjadi negara maju. Dan di antara usaha itu, Jurusan Bahasa dan sastra Arab (BSA) Fak. Humaniora UIN Malang, mengadakan Seminar Literasi dengan pemateri Dr. Faisol (Dosen BSA) , Imaduddin (mhs BSA), dan Ilham Thoriq (Radar Malang) serta bedah buku "Ulama Nusantara" yang tulis oleh mahasiswa BSA UIN Malang prakarsa Dr. Faisol, serta Fakultas Humaniora bekerja sama dengan beberapa sekolah dan pesantren di Indonesia untuk Indonesia bangkit Literasi. .
Di sisi lain, Pondok Leterasi yang berdiri pada tahun 2013, Pondok Pesantren Darun Nun Malang (www.darunnun.com) juga sebagai usaha untuk membangkitkan daya dongkrak masyarakat untuk gemar ber-literasi, selain diwajibkan untuk membaca dan menulis, mereka juga mengabdi untuk membangkitkan literasi di masyarakat, yang akhir-akhir ini diadakan beberapa Workhsop kepenulisan, dan juga bekerjasama dengan Ibu PKK untuk "Ibu-ibu gemar menulis". Dan nantinya, akan dibuat menjadi *kampung literasi*.
Jumat, 18 Agustus 2017
SUNYI MELAHIRKAN PUISI
Puisi lahir dari imaji-imaji yang berkeliaran, juga lahir dari realitas-realitassekitar yang diwarnai dengan khayal. Kata-katanya; kadang kaku walau tidak beku, kadang cair meskipun tidak mencair. Iaselalu hadir dalam lintasan senjarah, menjadi juang walau tidak pernahberjuang,menjadi senjata walau tidakmampu mematikan, atau hanya menjaditeman dalam sepi bagi yang selalu merasakesepian.
Ia selalu unik dalamkehadirannya.
Jumat, 07 Juli 2017
Menulis Skripsi, Thesis, Desertasi itu Mudah
Sebenarnya, menulis skripsi sangatlah mudah, mencari judul bisa hanya butuh waktu satu menit, mengerjakan satu bulan, insyallah cukup, bulan berikutnya ujian dan nikah.he. Bagaimana caranya?
- Membiasakan menulis karya ilmiah dari semester satu, atau menulis tugas makalah dengan serius, tidak copy paste (plagiasi). Maka berbahagialah mahasiswa, yang dosennya sering menyuruh untuk menulis, karena tugas mahasiswa adalah membeca, “menulis” dan mempresentasikan,
Jumat, 20 Maret 2015
MENGANYAM KATA, MERANGKAI KALIMAT
Aku ini penyihir yang mengubah bayangan zaman menjadi lukisan. Aku penerjemah realita ke dalam fantasi dan sebaliknya aku menyulap warna dan tekstur. Aku melihat masa lalu dan meramal masa depan. Aku menegndarai badai. Aku berjalan di atas rentangan tali akal sehat. Aku hidup di batas dunia. (Peter Dean)
Kata akan mejadi indah jika ia dikeluarkan dari lubuk hati atau dari pikiran yang meronta, ia tidak hanya sebuah hayalan yang indah, tapi sebuah realitas makna yang nyata, ia bangkit dengan seribu keanggunan dari balik otak yang terdalam, menyembul melontarkan makna, menyeruak menembus realitas, kasat menjadi jelas, gelap menjadi terang, ragu menjadi sebuah keyakinan. Kata semakin terasa maknanya apabila ia mampu dilukiskan dengan pahat-pahat kesungguhan, dianyam sedemikian rupa, dan kata itu terurai indah menjadi sebuah kalimat, kalimat cinta, kalimat rindu, kalimat sedih, kalimat-kalimat apa pun ia tetap menjadi sebuah realitas pikiran yang tadinya tersimpan rapat menjadi deburan ombak yang nyata, menerjang bak sunami. Itulah kelebihan menulis.
Selasa, 18 September 2012
CARA MEMBUAT DIKSI PUISI YANG BAIK
Rabu, 23 Mei 2012
TIPS MENULIS PUISI
Terkadang ungkapan puisi keluar dengan rasa dan prasa, sehingga membuat hati merdecak begitu dahsyat, membiarkan angan melalang buana menemui malaikat yang selalu Memberikan warna, menghentak-hentak seakan ia bergelombang bersama sunami. Puisi adalah warna perasaan kita, hentakan dan kesedihan hati terukir lewat baris-baris bermakna, membumbung memenuhi kertas putih yang kemudian menjadi begitu indah ketika terbaca, huruf demi huruf seperti gelombang bergumul bergulung menuju pantai asmara.



