السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Tampilkan postingan dengan label Tip Menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tip Menulis. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Januari 2026

Gaya Belajar Imam al-Bukhari



Halimi Zuhdy

Saya ditanya seorang santri, bagaimana gaya belajar imam Bukhari. Saya agak bingung, karena tidak tahu persis "bagaimana beliau belajar", saya baca-baca dibeberapa artikel dan kitab di antaranya tentang "sairal al-a'lam li imam Bukhari". Saya kaget, kaget banget. Beliau bukan hanya tekun, tapi di atas rata-rata orang tekun, rajin, keras dalam menuntut ilmu. 
Jika hari ini orang belajar cukup dengan "scroll", mungkin sambil leyeh-leyeh. Tidur-tidurab sambil minum kopi dan ngeteh.he. Beliau ini, seperti dengan keringat yang tak berhenti mengalir. Beliau, Imam al-Bukhari belajar dengan ribuan langkah kaki. "Itu kan dulu! Gak ada internet, gak ada google, gak ada AI! Ah, ribet amat" , apakah pada masanya ada yang banyak seperti beliau ?Ilmu sang Imam tidak lahir dari ruang nyaman, tetapi dari perjalanan panjang lintas negeri. Gak ada pesawat, ada mobil ber-AC, dan segala fasilitas seperti hari ini. 

Setahun ia menetap di Madinah, lima tahun di Bashrah, bolak-balik ke Makkah saat musim haji. Syam, Mesir, Jazirah Arab ia datangi dua kali. Bashrah empat kali. Hijaz enam tahun. Kufa dan Baghdad? Bahkan ia sendiri tak sanggup menghitung berapa kali masuk bersama para ahli hadis. Saking wakehnya. Gak bisa dibayangkan. 

Lah, beliau mengelilingi dunia Islam, Makkah, Madinah, Syam, Baghdad, Bashrah, Kufa, Mesir, Bukhara, Marw, Naisabur, hingga Khurasan demi satu tujuan "memastikan ilmu sampai kepadanya dari sumber paling sahih". Ia tidak puas mendengar satu riwayat dari satu orang. Ia membandingkan, mengonfirmasi, dan menguji. Tak heran jika beliau berkat:

كتبت عن ألف شيخ أو أكثر ما عندي حديث لا أذكر إسناده
“Aku menulis hadis dari seribu guru atau lebih, dan tidak ada satu hadis pun yang aku catat kecuali aku mengetahui sanadnya.” wow. Ini bukan sekadar hafalan. Ini adalah disiplin akademik tingkat tinggi. 

Dalam Al Mausu'ah, sejak kecil, Imam al-Bukhari dianugerahi hafalan yang kuat dan akal yang jernih. Tapi yang membuatnya luar biasa bukan bakat semata, melainkan etos belajar, kerja keras, ketekunan, dan mudzakarah tanpa henti. Ia memilih jalan paling teliti dan paling berat dalam ilmu hadis karena ia tahu, kebenaran tidak lahir dari kemalasan metodologis. Wow. 

Kehebatan Imam al-Bukhari bukan hanya terdengar di cerita, tapi terbukti di medan ujian. Saat beliau datang ke Baghdad, para ahli hadis setempat mendengar reputasinya. Bukan untuk mengagungkan, mereka justru sepakat “Kita uji saja.”

Seratus hadis disiapkan.
Bukan hadis biasa.
Sanad dan matannya sengaja dibolak-balik.
Matn hadis A dipasangkan dengan sanad hadis B. Sanad yang lain dipindah ke matn yang lain. Lalu hadis-hadis kacau itu dibagi kepada sepuluh orang (masing-masing membawa sepuluh hadis) untuk dilontarkan di majelis Imam al-Bukhari.

Satu per satu mereka membaca.
Dan Imam al-Bukhari menjawab dengan kalimat yang sama “Aku tidak mengenalnya.”

Orang-orang mulai berbisik.
Sebagian heran. Sebagian kecewa.
Yang tidak tahu skenario berkata: “Ah, hafalannya biasa saja.”

Tapi yang paham tersenyum kecil “Dia sedang mengerti permainan ini.”

Setelah sepuluh orang selesai, seratus hadis selesai dilontarkan, dan majelis menjadi tenang…
Imam al-Bukhari pun mulai berbicara.

Ia menoleh kepada orang pertama:
“Hadis pertamamu engkau bacakan begini, yang benar begini. Hadis kedua begini, yang benar begini…”
Satu per satu.
Urut.
Tanpa tertukar.

Ia kembalikan "setiap matn ke sanadnya", dan "setiap sanad ke matnnya", bukan hanya satu orang, tapi "seluruh sepuluh orang", lengkap seratus hadis, "dalam sekali duduk".

Majelis pun terdiam.
Lalu mengakui.
Tanpa debat. Tanpa sisa ragu.

Ibnu Hajar berkomentar dengan kalimat yang sangat tajam, “Yang menakjubkan bukan sekadar mengembalikan kesalahan ke yang benar, itu wajar bagi seorang hafizh. Yang benar-benar menakjubkan adalah kemampuannya menghafal kesalahan itu sendiri, persis sebagaimana disampaikan, hanya dengan sekali dengar.” ini bukan dongeng Lo. Dulu gak ada leptop🤩

Di situlah semua tunduk.
Bukan karena kagum semata,
tetapi karena "ilmu yang tak bisa dipermainkan".

Oh ia. Dalam Manhaj Al-Imam Bukhari Fi tarajum al-abwab al-shahiha, bahwa di balik kehebatannya, Imam al-Bukhari bukan sosok spontan tanpa sistem, melainkan ilmuwan dengan manhaj keilmuan yang rapi, matang, dan sangat modern jika dibaca hari ini. 

Beliau menempuh rihlah ilmiah puluhan tahun demi satu hadis yang sahih, menerapkan verifikasi tanpa kompromi terhadap perawi dan sanad hingga Shahih-nya menjadi standar emas hadis, menggabungkan metode deskriptif, kritis, dan induktif (istiqra’) dalam berfikir dan beristinbath, menyatukan ilmu dengan ibadah sampai setiap bab ditulis setelah shalat dan munajat, melahirkan al-Jāmi‘ al-Ṣaḥīḥ sebagai karya pionir yang disusun dengan kehati-hatian selama enam belas tahun, menyelipkan fikih dan tafsir lewat tarājim bab yang halus namun tajam, sangat teliti membedakan perawi-perawi yang mirip tanpa gegabah, serta menghadirkan inovasi penulisan melalui hadis mu‘allaq, tarājim mursalah, dan tarājim mufradah. 

Dari semua itu jelas bahwa Imam al-Bukhari bukan sekadar hafizh hadis, tetapi arsitek peradaban ilmu yang mengajarkan bahwa wibawa keilmuan lahir dari perjalanan panjang, metode ketat, kejernihan hati, dan ibadah yang sungguh-sungguh. 

Apa ini sebuah keberkahan ilmu?

Tradisi Merawat Ilmu, Bukan Sekadar Mengutip(Khidmah al-kitab)

Halimi Zuhdy

Di tengah zaman serba cepat, ringkas, sat set, kita mudah tergoda untuk menjadikan ilmu sekadar “kutipan”. Ambil satu kalimat, tempelkan di presentasi, lalu selesai. Belum lagi di dunia perjurnalan, walau hanya oknum, kutip sana kutip sini, terkadang belum dibaca dengan cermat dan belum dipahami. Tempel saja. 
Padahal, dalam tradisi keilmuan klasik, terutama di dunia bahasa Arab, ilmu justru hidup karena dirawat, dipelihara, dan dijaga dengan kesabaran lintas generasi. Sangat telaten banget. Salah satu ungkapan yang menangkap semangat ini adalah sebuah frasa “خِدمةُ الكتاب/khidmat al-kitāb", yang secara harfiah berarti “melayani kitab”.

Sebelum dilanjutkan...cari posisi duduk yang enak dulu, dan siapkan kopi tubruknya...Toyyib mari lanjutkan. Ungkapan khidmah al-kitab/pelayan kitab digunakan oleh Abd al-Qadir al-Baghdadi dalam "Khizanat al-Adab" ketika ia menyebut para ulama yang mengelilingi mahakarya "Sibawaih", "al-Kitab" adalah sebuah kitab tata bahasa Arab yang sering dianggap fondasi besar ilmu nahwu. Yang menarik, al-Baghdadi tidak menyebut mereka sekadar “pensyarah” atau “komentator”, melainkan para pengabdi kitab. Ada nada etis di situ, seolah-olah kerja ilmiah bukan cuma urusan kepandaian, tetapi juga kesetiaan dan tanggung jawab. Bukan sembarang bekerja, tetapi ada khidmah besar. 

Toyyib. Apa sebenarnya yang dilakukan para “pengabdi” ini? 

Pertama, mereka menjaga "akurasi riwayat". Dalam sejumlah pembahasan, al-Baghdadi menyinggung bait-bait syair yang dikutip Sibawaih, ada yang tidak jelas penyairnya, ada yang dinisbatkan kepada tokoh tertentu, ada pula yang riwayatnya diikuti begitu saja oleh generasi setelahnya. Di sini tampak bahwa tradisi keilmuan klasik sangat menaruh perhatian pada satu hal yang sering dianggap sepele hari ini "siapa yang berkata dan bagaimana teks itu sampai kepada kita". Ini keren sekali. Butuh ketelitian luar biasa. 

Kedua, mereka menghidupkan "pemahaman", bukan sekadar menyalin. Al-Baghdadi menunjukkan bahwa kadang sebuah makna yang beredar bukan kalimat langsung dari Sibawaih, tetapi hasil "istinbath" sebuah inferensi cermat yang disusun para pensyarah dari redaksi Sibawaih. Dan Ini penting untuk dipahami, bahwa ilmu tidak berhenti pada “apa bunyinya”, melainkan bergerak pada “apa maknanya”, “apa konsekuensinya”, dan “bagaimana ia dipahami secara konsisten”.

Namun tradisi ini juga jujur mengakui sisi manusianya. Ada bagian ketika al-Baghdadi menyesalkan, seperti bait tertentu diriwayatkan sebagaimana adanya, tetapi para “khadamah al-kitab” tidak menyebut kelanjutannya atau tidak menjelaskannya secara memadai. Di situ kita belajar bahwa warisan ilmu bukan museum yang selalu rapi. Ia adalah kerja manusia, nama kerja manusia kadang lengkap, kadang kurang; kadang terang, kadang menyisakan celah.

Di era digital, pelajaran ini terasa relevan. Kita hidup di masa banjir informasi, tetapi miskin "khidmah". Banyak orang cepat berkomentar, sedikit yang tekun memeriksa. Banyak yang gemar menyimpulkan, sedikit yang mau menelusuri sumber. Padahal, yang membuat ilmu bertahan bukan kecepatan menyebar, melainkan kesungguhan merawat. Apalagi di medsos sangat ngeri sekali. Sar ser, sat set, tapi banyak hoaknya. Tidak tahu sembernya, tidak ada marja'nya, sar ser yang penting keren...duh kah. 

Istamir yuk! Dalam konteks pendidikan kita, “khidmah” bisa berarti hal sederhana tetapi menentukan, yaitu "membaca teks sampai selesai", menyebut sumber dengan benar, membandingkan rujukan, menghargai perbedaan pendapat, dan tidak tergesa-gesa mengklaim kebenaran tunggal. Khidmah juga berarti memberi ruang bagi generasi berikutnya untuk melanjutkan yaitu menulis catatan yang jelas, menyusun penjelasan yang rapi, dan menutup celah-celah yang dulu belum tertutup.

Sibawaih menulis "al-Kitab" sebagai karya ilmiah. Tetapi karya itu menjadi tradisi karena ada yang mengabdi seperti al-Jarmi, al-Sirafi, Abu Ali al-Farisi, dan banyak nama lain yang mungkin tak sepopuler “pengarangnya”, tetapi tanpanya, kitab besar hanya tinggal teks sunyi. Mereka membuatnya tetap berbicara. Belum lagi kalau bercerita kitab-kitab hebat siapa di balik besarnya kitab Al-umm li imam asyafi? Nanti saja kita kupas.😁

Maka, ketika al-Baghdadi menyebut mereka “khadamah” atau para pengabdi kitab, kita seperti diingatkan, bahwa di balik ilmu ada adab, di balik kepandaian ada ketekunan, di balik warisan ada tanggung jawab. Dan di zaman yang sat set sut sat dan serba cepat ini, barangkali yang paling kita butuhkan bukan semakin banyak kutipan, melainkan semakin banyak "khidmah".

Sumenep, 29 Des 2025

Marja' 
Muhammad Nuri dalam tahqiq al makhthuh fi arwaqatil jamiah. Kitab Sibawaih. Mujam al ma'ani. Al Baghdadi, Khazanatul Adab.

Gelar dan Sebutan Penulis dalam Bahasa Arab(Ahl Al-Qalam)


Halimi Zuhdy

Di dalam tradisi kebahasaan dan kesusastraan Arab, terdapat beragam istilah khusus yang bukan hanya sekadar label melainkan representasi fungsi, gaya, dan tujuan ekspresi penulisannya. 

Bahasa Arab tidak membiarkan praktik penulisan menjadi samar setiap modus, metode, dan tujuan diberi nama yang jelas, menggambarkan peran intelektual dan estetis si penulis. Mungkin bahasa lainnya juga sama. Tapi, ini hanya menilik dalam bahasa Arab. 
Istilah-istilah ini mencerminkan bagaimana Bahasa Arab menata dunia penulisan secara terstruktur dan bermakna, serta menunjukkan kompleksitas hubungan antara simbol, makna, dan identitas pencipta karya. Dan, istilah ini juga sudah sangat dikenal dalam berbagai kitab klasik dan modern. 

1. أديب  Adīb (Sastrawan)
مَن يُبْدِعُ في صُنْعِ الأعمالِ الأدَبِيّةِ شعرًا أو نثرًا، ويتسمُ ببلاغةٍ وفكرٍ وثقافةٍ واسعةٍ.

Seorang "adīb" adalah pencipta karya sastra, baik puisi maupun prosa, yang tidak hanya menulis, tetapi juga menghidupkan bahasa dengan keindahan (بلاغة), wawasan budaya, dan kedalaman pemikiran. Istilah ini menandai hubungan erat antara ekspresi estetis dan pemikiran reflektif dalam teks.

2. شاعر  Syāʿir (Penyair)
مَن ينظّمُ الشعر مستخدمًا الكلامَ المُوزونَ المُقفى، ويستخدمُ الصورَ البلاغيةَ والتعابيرَ الأدبيّةَ.

Dalam budaya Arab, "shaʿir" bukan sekadar pembentuk kata berima, ia adalah pemikir simbolikyang menggunakan bahasa untuk memberi bentuk pada pengalaman batin, emosi, dan realitas sosial. Puisinya tidak sekadar estetika, tetapi juga cara berpikir yang bernalar.

3. ناثر  Nāthir (Penulis Prosa)

من يكتب النثر أي الكلام المرسل غير الموزون ولا المقفى ويعبر من خلاله عن الأفكار بأسلوب مباشر وفني.

"Nāthir" menunjukkan penulis yang menggunakan prosa langsung untuk mentransmisikan gagasan, dengan gaya yang tidak terikat ritme puisi namun tetap artistik. Ia adalah penghubung antara ekspresi ide dan gaya naratif yang lugas serta bermakna.

4. كاتب  Kātb (Penulis)

من يحْدُث أو ينقل النصوص المكتوبة أو يصوغها—سواء كانت أفكارًا أصليةً له أو منقولة.

Istilah "kātb" merujuk pada siapa saja yang menulis atau menyusun teks—baik itu ide asli maupun representasi ulang. Di sini kita melihat bahwa "menulis adalah proses berpikir dan menyampaikan gagasan", terlepas dari bentuknya.

5. مؤلف  Mu’allif (Pengarang)
شخص يبتكر فكرةً أو عملاً أدبيًّا أو محتوى كتابيًا أصليًّا ويحسن تركيبه وتنظيمه.

Seorang "mu’allif" adalah pengarang yang menghasilkan karya orisinal dan memiliki struktur serta organisasi yang matang—sering kali menjadi manifestasi dari dialog antara pemikiran pribadi dan konteks budaya yang lebih luas.

6. روائي  Riwā’ī (Novelis)
من يبدع في كتابة الروايات، وينسج العوالم والأحداث والشخصيات، ويعرضها في سرد ممتد.

Istilah "riwā’ī" memberi nama pada seniman narasi yang "membangun dunia", menyusun karakter dan kejadian dalam struktur cerita yang kompleks. Novelis bukan sekadar pencerita, tetapi "arsitek pengalaman manusia" dalam bentuk teks panjang.

7. خطّاط  Khattāṭ (Kaligrafer)

من يتقن فن الخط العربي، ويحول الحروف إلى لوحاتٍ فنيةٍ نابضةٍ بالجمال.

Bahasa Arab secara visual juga bernilai estetika tinggi. "Khattāṭ/" adalah penghubung antara bahasa dan seni visual, di mana huruf-huruf dilukiskan sebagai bentuk ekspresi yang bernilai dan bermakna.

Setiap istilah Arab di atas bukan hanya menunjukkan “siapa dia”, tetapi bagaimana ia berpikir dan berkontribusi pada ruang sosial budaya. Bahasa Arab memberi ruang yang kaya untuk membedakan antara gaya, tujuan, bentuk, dan fungsi kreatif.

Melalui kajian istilah-istilah ini, kita melihat bahwa Bahasa Arab memiliki "arsitektur semantik" yang cermat dalam memberi nama kepada berbagai bentuk ekspresi intelektual dan artistik. Nama-nama ini bukan label pasif, tetapi indikator cara berpikir, tujuan kultural, dan fungsi sosial dari sang pembentuk teks.

اللغةُ ليستْ ناقلَ معاني فحسبْ، بل هي بُنيةُ فِكرٍ وثقافةٍ تُؤسِّسُ لِفهمِ الإنسانِ للعالمِ.

 Bahasa bukan sekadar pembawa makna, ia adalah struktur pemikiran dan budaya yang membentuk cara kita memahami dunia.

Marajik
Ma'ajim Al-Ma'ani. Hisab Muassasah Qatar. Musthalahat

Sabtu, 15 November 2025

Sebuah Karya Disalin 700 Kali oleh Pengarangnya Sendiri



Halimi Zuhdy

Dalam sejarah sastra Arab, "Maqāmāt al-Ḥarīrī" menempati posisi yang sulit ditandingi. Ditulis oleh al-Ḥarīrī al-Baṣrī (446 H/1054 M – 516 H/1122 M), karya ini bukan hanya dikenal karena keindahan bahasanya, tetapi juga karena kisah penggandaan manuskripnya yang hampir tak ada duanya. 
Dr. Nursi dalam Tahqiqat menulis

من أشهر ما كُتب في أدبنا العربي المقامات التي تُنمى إلى الحريري ت ٥١٦ هجرية، فقد رواها عنه الجم الغفير الذين لا يكادون يحصون، وتكاثرت نسخها حتى نقل لنا ياقوت الحموي أن  الحريري نفسه قال: ( كتبتُ بخطي على سبع مئة نسخةٍ من المقامات قُرئت عليّ). وهذا مبلغ من الشهرة كبير، ومن الكثرة كثير، رحم الله علماءنا الذين خدموا التراث بمؤلفاتهم.

Menurut catatan Yāqūt al-Ḥamawī, al-Ḥarīrī sendiri menyalin tujuh ratus (700) naskah dari karya tersebut dengan tangannya, dan setiap naskah itu dibacakan kembali kepadanya. Ini tidak biasa, dan langka, apalagi di era digital. Disalin (nuskhah, ditulis kembali dengan tangan), bukan dicetak lo ya.

Bagi masyarakat modern yang akrab dengan mesin cetak dan file digital, angka tujuh ratus mungkin sekadar statistik. Namun pada abad ke-12, penyalinan naskah adalah pekerjaan yang menuntut waktu panjang, ketelitian tinggi, dan ketahanan fisik. Hal ini menunjukkan betapa besar minat terhadap "Maqāmāt al-Ḥarīrī", sebuah indikasi bahwa karya tersebut menjadi rujukan penting bagi para pelajar, ahli bahasa, dan cendekiawan pada masa itu. 

Genre "maqāmah" sendiri diperkenalkan oleh Badi‘ az-Zamān al-Hamadhānī, lalu mencapai puncak teknis melalui tangan al-Ḥarīrī. Bentuk ini menggabungkan cerita ringkas dengan dialog cepat, permainan kata, dan saj‘, prosa berirama yang menjadi ciri khas retorika Arab klasik. Di dalamnya, pembaca menemukan perpaduan antara kecerdasan, humor halus, dan ketangkasan berbahasa.

Keunikan "Maqāmāt al-Ḥarīrī" bukan hanya pada tekniknya, tetapi juga pada cara ia diposisikan dalam tradisi belajar. Karya ini menjadi semacam “buku latihan” bagi mereka yang ingin menguasai bahasa Arab pada tingkat tinggi. Membacanya ibarat memasuki ruang kelas besar, tempat keahlian bahasa diuji melalui narasi yang singkat namun padat.

Penyalinan 700 naskah oleh al-Ḥarīrī sendiri mengisyaratkan dua hal, luasnya peminat saat itu dan komitmen sang pengarang dalam memastikan kualitas setiap salinan. Di era sebelum percetakan, tindakan ini setara dengan menjaga standar intelektual dan estetika karya agar tidak berubah dari satu kota ke kota lainnya.

Hari ini, "Maqāmāt al-Ḥarīrī" tetap dipelajari di berbagai negara dan dianggap sebagai salah satu monumen sastra Arab klasik. Kisah di balik proses penyalinannya memberi kita gambaran tentang tradisi keilmuan masa lalu, ketika sebuah buku tidak hanya ditulis, tetapi dirawat secara serius oleh pengarangnya sendiri.

Di tengah dunia digital yang serba cepat, cerita tentang tujuh ratus salinan ini mengingatkan bahwa kualitas pengetahuan sering lahir dari kesabaran dan ketekunan. Sebuah pelajaran sederhana yang tidak lekang oleh waktu.

Menulis, berkarya, butuh ketekunan dan konsistensi. Batu berlubang, terkadang bukan dengan kekuatan paku san besi yang menghujam, tapi dengan tetesan air yang istiqamah.

Medsos Sampah dan Jerat Algoritma?


Halimi Zuhdy

Pernahkah kita merasa…... dunia ini makin riuh tapi makin sepi? Media sosial (medsos) yang katanya tempat silaturahmi, malah jadi ladang adu emosi, pamer aurat, atau ajang gosip tanpa henti.

Suatu hari, ada seorang Bapak guru yang marah-marah di depan sekolah “Media sosial itu sampah semua! TikTok sampah, Facebook sampah, Instagram juga! Isinya buka aurat, maksiat tok, gosip tok, saling hina tok!” Orang-orang mengangguk, beberapa senyum kecut, mungkin karena merasa “kena”.
Tiba-tiba, seorang anak muda mengangkat tangan. “Lho, masa sih, Pak? Saya buka media sosial malah isinya ngaji, shalawat, kajian ilmiah, banyak ilmu… saya nggak nemu yang aneh-aneh.” Seketika suasana hening. Pak Guru terdiam, menarik napas panjang, lalu tersenyum. “Ya juga, mungkin memang… yang kamu cari, itulah yang kamu temukan.”

Konon. Seorang lelaki datang kepada Buya Hamka dengan wajah heran, “Subhanallah, Buya! Saya baru pulang dari Makkah. Ternyata di Tanah Suci pun ada pelacur! Kok bisa ya, Buya? Ih, ngeri.” Buya Hamka tersenyum dan menjawab pelan, “Oh begitu? Padahal saya baru saja pulang dari Los Angeles dan New York dan masya Allah, saya tidak menemukan pelacur di sana.”

Lelaki itu kaget, “Ah, mana mungkin, Buya! Di Makkah saja ada, apalagi di Amerika!”
Buya menatapnya dengan teduh dan berkata bijak, “Nak, kita ini hanya akan dipertemukan dengan apa yang kita cari. Jika yang kita cari adalah keburukan, maka keburukanlah yang akan kita temukan, bahkan di tempat paling suci sekalipun. Tapi jika yang kita cari adalah kebaikan, maka kebaikanlah yang akan kita temukan bahkan di tempat yang paling .”

Kalimat sederhana itu dalam sekali. Makkah tak berubah yang berubah adalah mata dan hati orang yang memandangnya. Bila yang dicari dosa, dosa pun tampak di depan mata. Tapi bila yang dicari cahaya, di mana pun akan ditemukan cahaya.

Media sosial, pada dasarnya, hanyalah cermin besar dari diri kita. Kalau kita suka hal remeh, dangkal, dan sensasional, algoritma akan rajin menyajikan hal-hal itu. Tapi kalau kita suka kajian, ilmu, dan kebaikan, ajaibnya…...... timeline kita akan dipenuhi kebaikan.

Algoritma bekerja seperti pelayan setia, ia memberi apa yang sering kita minta. Masalahnya, kita sering tak sadar apa yang sebenarnya kita minta. Dan di sinilah jeratnya. Semakin sering kita klik hal yang sia-sia, semakin dalam kita ditarik ke lubang yang sama. Seolah-olah dunia ini cuma berisi konten bodoh, padahal kita sendiri yang menanamkan bibitnya di ladang algoritma.

Sebenarnya bukan hanya dunia digital yang begitu. Kehidupan juga punya algoritma sendiri. Siapa teman kita, apa yang kita dengar, bacaan apa yang kita konsumsi,  semua akan membentuk “feed” kehidupan kita.

Kalau kita bergaul dengan orang yang suka maksiat, kita akan terbiasa dengan itu. Tapi kalau kita berteman dengan orang shaleh, orang berilmu, orang yang menjaga lisannya, maka kita akan terpengaruh kebaikan mereka. Lingkar pertemanan adalah algoritma kehidupan: siapa yang kamu dekatkan, dialah yang akan paling sering “muncul” dalam hidupmu.

Kita Mau Jadi Apa?

Di media sosial, kita punya dua pilihan: 1). Jadi korban algoritma, yang diseret oleh klik dan scroll tanpa sadar. 2). Atau jadi pencipta algoritma, yang sadar memilih apa yang dilihat, dibaca, dan disebarkan.

Yang pertama selalu mengeluh, “kok medsos isinya makin rusak.” Yang kedua tersenyum, “nggak juga, di timeline saya malah banyak ilmu.” Maka, sebelum menyalahkan platform, tanyakan dulu pada diri: “Apa yang sebenarnya aku cari di dunia maya ini?”

Cerita Pak Guru tadi  membawa kita pada satu kesimpulan, bahwa dunia tidak kotor yang kotor adalah cara kita melihatnya. Media sosial bukan sampah yang menjadikannya sampah adalah tangan-tangan kita sendiri. Karena itu, mari kita pilih teman, konten, dan arah hidup dengan sadar. Klik yang baik, ikuti yang baik, sebarkan yang baik. Biarkan algoritma hidupmu mendukung imanmu, bukan menjeratnya. “Manusia akan selalu menemukan apa yang ia cari.”

Jadi, yuk…...mulai sekarang, scroll dengan sadar. Jadikan timeline kita taman ilmu, bukan tempat sampah.

***
Aha. Algoritma ini berasal dari nama  ilmuan Muslim Alhawarizmi. 

Kucur Dau Malang. 9 Nov 25

Minggu, 02 November 2025

Jejak Tinta Para Ulama


(Ketika Keterbatasan Melahirkan Karya)

Halimi Zuhdy

Di tengah arus digitalisasi dan kemudahan teknologi saat ini, sulit membayangkan bagaimana para ulama di masa lalu menulis dan menyebarkan ilmu dengan alat yang sangat terbatas. Gambar manuskrip Arab klasik di atas adalah bukti nyata betapa luar biasanya dedikasi mereka. Di tengah halaman tampak teks utama "matn" sementara di tepinya ada komentar, penjelasan, dan catatan tambahan dari generasi ulama berikutnya. Setiap guratan tinta adalah saksi perjalanan intelektual yang panjang, penuh kesabaran, dan jauh dari kemewahan.
Para ulama dahulu hidup dalam kondisi yang sulit: kertas mahal, tinta terbatas, dan alat tulis sederhana. Namun keterbatasan itu justru menjadi bahan bakar kreativitas mereka. Satu lembar kertas dimanfaatkan sedemikian rupa  teks utama di tengah, penjelasan di pinggir, lalu tambahan catatan di sela-selanya. Hasilnya adalah peta pemikiran yang padat, kompleks, dan luar biasa hidup.

Mereka menulis bukan untuk mencari pengakuan, tapi untuk memastikan ilmu tidak berhenti pada dirinya sendiri. Inilah bentuk "tahrīr al-‘ilm" upaya menulis dan mengabadikan ilmu agar tetap hidup lintas generasi.

Struktur tulisan dalam manuskrip seperti ini bukan kebetulan. Ia mengikuti sistem pengetahuan yang sangat teratur. Teks utama (matn) berfungsi sebagai inti pemikiran; penjelasan (syarh) memberikan konteks dan memperluas makna; sementara catatan di tepi halaman (hasyiyah) adalah refleksi kritis atau tambahan dari pembaca setelahnya.

Artinya, setiap halaman bukan sekadar catatan tunggal, tetapi percakapan antara ulama dari berbagai zaman. Ilmu dalam Islam bersifat dialogis, bukan monolog. Setiap ulama menghormati pendahulunya dan menambahkan pemahaman baru tanpa menghapus karya sebelumnya. Ini adalah bentuk kolaborasi ilmiah paling mulia yang pernah ada.

Tradisi menulis seperti ini menunjukkan bahwa bagi ulama, ilmu bukan hanya urusan rasionalitas, tetapi juga spiritualitas. Menulis adalah ibadah. Mengoreksi pendapat adalah bentuk cinta terhadap kebenaran. Menambahkan penjelasan adalah upaya menjaga agar cahaya ilmu terus menyala.

Dari sini kita belajar bahwa kemajuan ilmu tidak lahir dari fasilitas, tapi dari "etos keilmuan" ketekunan, kejujuran, dan kerendahan hati dalam menuntut serta menyebarkan pengetahuan. Ulama tidak menulis untuk viral, tetapi agar generasi setelahnya tidak kehilangan arah.

Di era media sosial dan AI, kita memiliki akses ke jutaan sumber ilmu dalam genggaman. Namun, justru sering kali kita kehilangan "kedalaman berpikir". Manuskrip seperti ini mengingatkan kita bahwa keilmuan sejati lahir dari proses panjang: membaca, menulis, mengomentari, dan terus mencari kebenaran dengan rendah hati.

Kalau para ulama mampu menghasilkan karya monumental dengan secarik kertas dan setetes tinta, maka kita tidak punya alasan untuk malas menulis dan berpikir di era kelimpahan ini.

Setiap huruf dalam manuskrip kuno itu adalah jejak perjuangan, doa, dan ketulusan. Dari keterbatasan mereka lahir kelimpahan yang tak ternilai. Ilmu mereka melampaui zaman karena ditulis dengan niat suci dan kerja keras yang konsisten.

Maka benar kata para sejarawan: “Ilmu para ulama tidak mati, karena tinta mereka telah menulis kehidupan umat.”

Sumber: 
Tahqiqul Mahthuthat fi awraqil jamih, Muhammad Nuri Almausawi

Maqam Ibrahim dan Jejak Digital


Halimi Zuhdy

Maqam Ibrahim. Batu tempat berpijak Nabi Ibrahim saat membangun Ka'bah, dengan jejak kaki beliau yang tertinggal di atasnya. Itulah yang sering kita dengar dan pahami. Namun, ada pula yang berpendapat bahwa maqam Ibrahim sebenarnya merujuk kepada seluruh area Masjid Al-Haram.
Kata "maqam" berasal dari akar kata qama-yaqumu-qiyaman, yang bermakna “berdiri”. Secara harfiah, maqam berarti tempat berdiri. Batu kecil ini bukan hanya sebuah penanda fisik, tetapi juga simbol bahwa di tempat tersebut, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail pernah berperan dalam pembangunan Ka'bah. Nabi Ismail-lah yang menyerahkan batu kecil ini kepada Ibrahim, yang kemudian digunakan sebagai tempat berdiri, menandai momen monumental dalam sejarah umat Islam.

Dalam konteks bahasa Indonesia, "maqam" bisa diartikan sebagai "petilasan" tempat yang pernah dikunjungi oleh seseorang, atau yang memiliki jejak langkah dari orang yang berbuat sesuatu di sana. Di tempat tersebut, terdapat semacam "jejak" yang meninggalkan kesan dan memori bagi mereka yang datang setelahnya.

Dulunya, Maqam Ibrahim berada di dinding Ka'bah. Namun, pada masa Khalifah Umar bin Khattab, batu tersebut dipindahkan beberapa meter dari Ka'bah. Batu ini bukan sembarang batu; dalam beberapa riwayat, disebutkan bahwa ini adalah "batu surga". Pada masa kekhalifahan Abbasiyah, batu ini bahkan dilindungi dengan perak dan ditutup dalam sangkar yang mirip sangkar burung, mungkin untuk menjaga keutuhan dan kehormatannya.

Saya pribadi memiliki kenangan tentang upaya ingin melihat batu tersebut. Saat itu, rasa ingin tahu mendorong saya untuk mendekatkan wajah saya ke kaca penutupnya. Namun, saya segera dihentikan oleh seorang petugas berpakaian seragam, mirip dengan organisasi mahasiswa seperti menwa atau pramuka di Indonesia. Waktu itu, musim haji sedang berlangsung, dan selain tentara, banyak mahasiswa yang ditugaskan untuk mengatur jamaah. Saking dekatnya, saya merasa hampir mencium kaca tersebut. Namun, saya segera membantah bahwa saya tidak melakukannya.

Maqam Ibrahim terus menjadi perbincangan, sebuah simbol sejarah yang tak terlupakan. Di sana, Nabi Ibrahim tidak hanya membangun Ka'bah, tetapi juga meninggalkan jejak yang menginspirasi umat manusia sepanjang zaman.

Apa kaitannya dengan "Jejak Digital" dalam judul ini?

Begini. Setiap perbuatan manusia di dunia ini pasti meninggalkan bekas dan jejaknya. Baik itu perbuatan baik ataupun buruk, tidak ada yang hilang begitu saja. Seperti halnya Maqam Ibrahim, segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia, baik atau buruk, pasti memiliki dampak yang dapat terekam dalam sejarah, bahkan jika itu hanya tersimpan di tempat yang kita tidak ketahui.

Maqam Ibrahim mengajarkan kita bahwa setiap manusia harus berkarya. Karya tersebut bisa berupa pembangunan fisik seperti masjid, istana, piramida, Borobudur, atau institusi pendidikan seperti sekolah dan pesantren. Atau karya non-fisik seperti menulis buku, melukis, atau mengukir, yang meninggalkan jejak bagi generasi berikutnya. Semua karya ini adalah "maqam" dalam kehidupan seseorang, tempat di mana seseorang meninggalkan warisan atau jejak yang akan dikenang.

Di zaman modern ini, media sosial menjadi salah satu cara utama bagi manusia untuk meninggalkan jejak. Setiap video, foto, tulisan, dan unggahan lainnya adalah jejak digital mereka. Jika yang diunggah adalah kebaikan, maka kebaikan tersebut akan terus terekam dan dikenang. Sebaliknya, jika yang diunggah adalah keburukan, maka keburukan tersebut pun akan terus ada, tertinggal dalam ingatan dan pencarian di dunia maya.

Namun, jejak ini tidak hanya dilihat dan dinilai oleh manusia. Setiap unggahan dan perbuatan juga akan dihisab baik di dunia ini maupun di akhirat kelak. Di dunia ini, kita akan dihisab oleh para pembaca dan penonton. Jika sesuai dengan nilai yang mereka percayai, maka kita akan dipuji, diberikan "likes", atau bahkan dihargai. Namun, jika tidak, kita mungkin akan dicemooh. Ini adalah "hisab" menurut pandangan manusia, yang penuh dengan subjektivitas dan selera. Tetapi, di hadapan Allah, ada hisab yang lebih hakiki, yang tidak bisa dipengaruhi oleh selera manusia. Hanya Allah yang mengetahui nilai sejati dari setiap jejak yang kita tinggalkan.

Maqam, atau jejak berdiri seseorang, menjadi pengingat bahwa setiap tindakan kita memiliki konsekuensi. "Maqam" bukan hanya soal tempat fisik, tetapi juga representasi dari segala yang kita lakukan. Dan, seperti halnya Maqam Ibrahim, yang menjadi simbol penting dalam sejarah umat manusia, kita pun berharap jejak-jejak kita, baik yang besar maupun kecil, akan menjadi kebaikan yang dikenang sepanjang masa.

"Maqam kita adalah cerminan dari apa yang telah kita perbuat. Kita harus berharap agar maqam kita adalah yang terbaik, di hadapan Allah. Semoga jejak kita adalah jejak kebaikan, yang terus dikenang dan memberikan manfaat bagi umat manusia.

Produktifitas Imam At-Thabari, Menulis 40 Halaman Setiap Hari


Halimi Zuhdy

Kemarin ada salah seorang santri bertanya, "Bagaimana ulama-ulama dahulu menulis kitab, sedangkan saya menulis status di media sosial saja kerepotan, bahkan terkadang tidak mettu (keluar) ide?". Saya kemudian bercerita tentang banyak ulama di zaman dahulu, dengan keterbatasannya melahirkan karya yang monumental. Sedangkan di era yang fasilitas serba mudah di dapat, menulis satu buku pun masih minta bantuan mesin, itu pun bukan idenya, tapi ide mesin.😁. Maka, bukan persoalan fasilitas, tapi persoalan semangat dan mau berbuat. 🫢
Toyyib. Saya memberi contoh ulama yang super duper, walau masih banyak lainnya yang juga keren banget. Yaitu kepenulisan Imam At-Thabari dalam at-Tarajim wa Syakhshiyat. Beliau digambarkan sebagai contoh kegigihan dan kejernihan niat yang luar biasa. Ia bukan hanya seorang ulama, tapi juga penulis yang hampir tak tertandingi dalam produktivitas dan kedalaman ilmu. Diceritakan bahwa Imam At-Thabari menulis sekitar 40 halaman setiap hari, sebuah kebiasaan yang menunjukkan kedisiplinan dan kecintaan yang besar terhadap ilmu. Itu di era, di mana kertas dan pena sangat langka, tidak seperti di era ini, apalagi di era digital yang sangat mudah menulis dalam ratusan halaman word. 

 روي أنه كان يكتب أربعين صفحة في كل يوم، إنه الإمام محمد بن جرير الطبري صاحب أكبر كتابين في التفسير والتاريخ،

Karya-karyanya mencakup berbagai bidang, tapi dua yang paling monumental adalah “Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān” (Tafsir At-Thabari) dan “Tārīkh al-Umam wa al-Mulūk” (Sejarah Umat dan Raja-Raja). Dalam kitab tersebut disebutkan bahwa beliau melakukan istikharah selama tiga tahun sebelum mulai menulis tafsirnya, memohon agar Allah memudahkannya dan memberkahi pekerjaannya. Ini menandakan bahwa baginya, menulis bukan hanya kerja intelektual, tapi juga ibadah.

At-Thabari dikenal sangat sistematis dan teliti. Ia tidak hanya mengutip riwayat, tapi juga menganalisis perbedaan pendapat para ulama, menimbang dalil-dalil mereka, lalu menarik kesimpulan yang logis. Gaya tulisannya padat, berisi, dan penuh argumentasi ilmiah. Saking luasnya ilmunya, para ulama sampai mengatakan: “Kalau ada orang berjalan ke Cina hanya untuk mendapatkan Tafsir At-Thabari, itu belum berlebihan.”

Menariknya, ia juga tidak tergoda oleh jabatan atau harta. Wow. Ketika khalifah mengirimkan hadiah besar sebagai penghargaan atas karyanya, ia menolaknya. Ia ingin kebebasan berpikirnya tetap murni. Bahkan saat teman-temannya menolak ide gila untuk menulis sejarah dunia dalam 30.000 halaman karena “usia manusia gak cukup,” At-Thabari menanggapinya dengan kalimat tajam: *Inna lillah, telah mati semangat manusia.” Lalu ia menulisnya sendiri dalam 3.000 halaman, tetap kolosal.

قال أبو القاسم بن عقيل الوراق: إن أبا جعفر الطبري قال لأصحابه هل تنشطون لتاريخ العالم من آدم إلى وقتنا قالوا كم قدره فذكر نحو ثلاثين ألف ورقة فقالوا هذا مما تفنى الأعمار قبل تمامه فقال إنا لله ماتت الهمم فاختصر ذلك في نحو ثلاثة آلاف ورقة ولما أن أراد أن يملي التفسير قال لهم نحوا من ذلك ثم أملاه على نحو من قدر التاريخ.

Jadi, kepenulisan Imam At-Thabari bukan cuma tentang banyaknya tulisan, tapi tentang semangat keilmuan yang nyatu dengan ketulusan hati. Ia menulis bukan untuk terkenal, tapi untuk menegakkan ilmu dan kebenaran. Karena itu, meskipun ia wafat lebih dari seribu tahun lalu, ilmunya masih hidup dan mengalir terus sampai sekarang.

Memang, santri yang bertanya tadi dan yang menjawabnya, sepertinya mungkin menirunya, tapi minimal pernah tahu, bahwa ada banyak ulama yang sekeren Imam Ath-thabari, dan beberapa ulama lainnya.  Dan, minimal bisa menulis 1 buku dalam hidupnya. 🫢📚✍️

Minggu, 19 Oktober 2025

Menulis Sastra (Puisi): Dari "Syi‘ir", "Syu‘ūr", hingga "Syiar"


Halimi Zuhdy

Bagi pemula, langkah pertama dalam menulis karya sastra bukanlah soal teknik, struktur, atau teori. Yang paling mudah justru "rasa". Menulis dimulai dari rasa, perasaan yang hadir begitu saja, bahkan tanpa harus mencari ide yang rumit.

Menariknya, dalam tradisi Arab, puisi disebut dengan istilah "الشِّعْر (asy-syi‘r)". Kata ini ternyata memiliki akar yang sama dengan beberapa istilah lain yang sangat dekat dengan pengalaman batin manusia: "شُعُور (asy-syu‘ūr)" yang berarti rasa atau perasaan, dan juga "شَعْر (asy-sya‘r)" yang berarti rambut atau bulu.
Puisi dalam bahasa Arab bukan hanya susunan kata indah. Ia lahir dari pengalaman batin yang diolah, dipadatkan, lalu diungkapkan. Karena itu, syi‘ir selalu berhubungan dengan syu‘ūr, rasa yang menjadi sumber kehidupan puisi. Tanpa rasa, syi‘ir hanyalah rangkaian kata kosong.

Kata "syu‘ūr (الشُعور)" dalam bahasa Arab berarti kesadaran rasa. Inilah dasar dari seluruh pengalaman estetis. Menulis puisi berarti melatih kepekaan, menyelami denyut rasa yang kadang samar. Seorang pemula tidak perlu cemas kekurangan ide, cukup tuliskan apa yang dirasa: gelisah, rindu, bahagia, hampa, cinta, atau doa.

Mengapa akar kata puisi berkaitan dengan "rambut" atau "bulu" (الشَعر)? Rambut adalah bagian tubuh yang sangat sensitif. Sedikit sentuhan angin saja terasa di ujung helai. Begitulah perasaan seorang penyair: hal-hal kecil, yang mungkin luput dari pandangan orang kebanyakan, bisa mengguncang jiwanya. Rambut menjadi simbol betapa seorang penyair harus peka terhadap isyarat sekecil apa pun dari kehidupan.

Dari syi‘ir dan syu‘ūr, lahir pula keterhubungan dengan "syi‘ār (الشِعار)" (yang berarti tanda, semboyan, atau seruan). Puisi pada akhirnya bukan hanya curahan rasa pribadi, melainkan bisa menjadi "syiar"—sebuah pesan yang dibawa keluar, disampaikan kepada orang lain, bahkan bisa menjadi suara zamannya.
Dengan demikian, menulis puisi sesungguhnya sebuah perjalanan: dimulai dari "syu‘ūr" (rasa), diolah menjadi "syi‘ir" (puisi), dengan kepekaan seperti "sya‘r" (rambut/bulu), dan akhirnya bisa berfungsi sebagai "syiar" (pesan, semboyan, atau seruan).

Menulis syi'ir Arab (puisi Arab), sebenarnya tidaklah sulit, bisa terjawab dalam buku di atas "Seni Menulis Puisi Arab, فن كتابة الشعر العربي "

***
Buku Dapat dipesan di: 
Mas Hasan WA 0813-5980-3848

Jumat, 18 Juli 2025

Semangat Membara Para Ulama



Ketika ramai tentang Iran dengan nuklirnya. Saya menemukan kutipan dan tulisan menarik dari Dr. Nuri dalam Tahqiq Al-Makhtuthat, tentang ulama masyhur, yang menulis kitab dalam keadaan di penjara dan dirantai. Kondisi yang sungguh musykil, tapi bagi pecinta ilmu, tidak ada yang tidak masuk akal. Sesuatu akan dilakukan, walau dalam kondisi tidak memungkinkan bagi orang biasa. Beliau seorang syair (penyair), muarrikh (sejarawan), katibus sair (penulis biografi), lahir di Yazid, Iran. Qutbut ad-Din al Yazdi. 
Dr. Nuri bercerita, bahwa dalam sebuah atsar yang terkenal disebutkan, "Ada dua orang yang tak pernah kenyang: pencari ilmu dan pencari harta." Kalimat ini menggambarkan betapa dahsyatnya gairah jiwa manusia dalam mengejar dua hal yang sangat berbeda arah; ilmu dan harta. Namun, yang pertama memiliki cahaya; dan siapa pun yang dikaruniai cinta terhadap ilmu serta semangat untuk mencarinya, maka tak ada yang bisa menghalangi langkahnya. Tidak derita, tidak pula kerasnya ujian hidup.

Dalam warisan peradaban kita, tak terhitung kisah ulama yang membuktikan hal itu. Di antara yang patut kita kenang dengan penuh takzim adalah sosok Qutb al-Din al-Yazdi. Ia bukan hanya seorang penyalin, tapi seorang pencinta ilmu sejati yang menorehkan tinta pengetahuan di tengah derita, saat dirinya terpenjara.

Saya pernah menemukan sebuah naskah tafsir al-Baydawi yang ditulis tangan oleh Qutb al-Din al-Yazdi. Naskah itu bukan ditulis di ruang studi yang lapang atau rumah yang tenang, tapi di dalam penjara, dengan tubuh terbelenggu rantai dan tangan yang menyalin dengan penuh kesabaran. Bayangkan, beliau menjalani dua belas tahun masa tahanan, dan di tengah belenggu itulah beliau tetap menulis, menyalin, dan menggali ilmu. Sungguh, inilah makna dari semangat yang agung himmatun 'āliyyah yang tak dikerdilkan oleh waktu dan keadaan.

Pada akhir naskah itu, yang kini tersimpan di perpustakaan Yozgat di wilayah Sulaimaniyah, Istanbul (no. 45), Qutb al-Din mencatat sebuah pengakuan menggetarkan hati. Ia menulis:

"Telah selesai penyalinan tafsir ini di tangan hamba yang tertawan, hamba yang fakir kepada Allah Subḥānah Qutb al-Din bin 'Ali al-Yazdi, dalam penjara salah satu benteng kaum Rūm, dalam keadaan terbelenggu dengan rantai dan besi di sebagian besar waktunya, setelah dua belas tahun masa penahanan berlalu. Aku memohon kepada Allah Ta‘ālā yang Maha Mengganti segala keadaan, agar mengubah keadaanku menjadi keadaan yang lebih baik dan memberiku keselamatan dari negeri penyesalan dan siksa. Tercatat pada hari Senin, tanggal tujuh belas bulan Jumadil Awwal tahun 931 Hijriah."

Betapa mendalam doanya, dan betapa luas cakrawala harapan yang ia bentangkan dalam kesempitan penjara. Ia tidak hanya menulis tafsir, tapi juga menulis jejak iman, tekad, dan cinta ilmu yang tak layu oleh siksaan.

Semoga Allah merahmati Qutb al-Din al-Yazdi, mengangkat derajatnya, dan menempatkannya di taman surga yang luas.

_
Semoga kita selalu diberikan waktu oleh Allah untuk membarakan ilmu, mencarinya dan mengamalnya. 

***
Tulisan di atas saya nukil dari tulisan Dr. Nuri Al-Misawi dalam Tahqiqul Mahtuthat

Halimi Zuhdy

Sabtu, 18 November 2023

Cara Menulis Qoshidah (Puisi) Bahasa Arab

Halimi Zuhdy

Menulis sama dengan kemahiran lainnya (mendengar, berbicara dan membaca) yang membutuhkan latihan yang terus menerus. Tidak cukup belajar teori, apalagi hanya ikut workshop, seminar atau pelatihan satu tahun sekali. Bagi penulis qashidah (syi'ir, puisi) Arab, butuh pemahaman dalam tata bahasa Arab, ini merupakan hal yang penting untuk dikuasai oleh penulis. Dengan menguasai tata bahasa Arab, penulis akan dapat menyusun qosidah secara baik dan benar. 
Tata bahasa Arab tidak cukup, maka ditambah dengan kemampuan ilmu Arudh dan Qawafi, dan agar tambah keren, ditambah lagi dengan ilmu balaghah. Memahami Ilmu Arudh dan Qawafi sebuah kewajiban bagi penulis qoshidah Arudhiyah, puisi yang terikat. Dan bagi penulis puisi hurr (bebas, tidak terjkat) juga penting, untuk memahami tafi'latnya. 
Selanjutnya, berlatih secara terus menerus. Latihan menulis kalimat berbahasa Arab, latihan ini akan membantu penulis untuk meningkatkan kemampuannya dalam menulis qoshidah. Penulis dapat berlatih dengan menulis puisi, prosa, atau bahkan sekadar menulis kalimat-kalimat bahasa Arab. Atau sering-sering menulis quotes (iqtibasat) berbahasa Arab, dan juga sering membacanya. 

Selain sering-sering membaca dan menulis quotes, juga sering membaca qosidah-qosidah Arab, maka akan membantu penulis untuk memahami struktur dan gaya penulisan qosidah. Penulis dapat membaca qhosidah-qosidah Arab klasik, modern, atau bahkan qosidah-qosidah yang ditulis oleh penulis sendiri. Maka, ATM itu sangat membantu; amati (A), tiru (T) dan modifikasi (M). Ini kok hurufnya di dalam kurung?, agar tidak lari.wkwkwk

Toyyib, intinya; gunakan bahasa Arab yang baik dan benar. Buatlah qoshidah yang memiliki tema yang jelas dan menarik. Gunakan kata-kata yang indah dan bermakna. Susunlah qoshidah secara sistematis dan logis. Periksa kembali qoshidah untuk memastikan bahwa qoshidah tersebut sudah benar dari segi tata bahasa, kaidah penulisan, dan maknanya.
Teruslah berlatih!!!!. Selengkapnya dapat dibaca di buku ini (cara dan praktiknya).

Kamis, 05 Mei 2022

Menisbatkan Tulisan pada Penulisnya

Halimi Zuhdy

Ketika seseorang membaca tulisan seorang penulis atau seorang penceramah, atau siapa pun yang mengantarkan ide itu terengkuh, terkadang ada yang enggan mencantumkan ide sang penulis di dalam tulisannya, seakan-akan idenya adalah lahir dari dirinya, atau seakan-akan tulisannya murni dari dirinya. 

menarik apa yang didawuhkan Syekh Ibnu Abdi al-Bar terkait dengan keberkahan ilmu, yaitu ketika seseorang menisbatkan ilmu pada penulisnya, 

"Termasuk dari keberkahan ilmu, adalah engkau menisbatkan/mencantumkan sesuatu (ilmu) pada orang yang mengatakannya. Maka, janganlah engkau menisbatkan ilmu pada dirimu sendiri, bahkan apabila ada seseorang yang mengutip sesuatu darimu, katakanlah "ilmu ini saya dapatkan dari seorang alim yang bernama fulan, atau ilmu ini saya baca dari kitab karya fulan". Demikianlah, bila hal tersebut dilakukan, engkau akan mendapatkan keberkahan ilmu itu".

 نسبة العلم إلى أهله:

قال ابن عبد البر: (إن من بركة العلم أن تضيف الشيء إلى قائله)، فلا تنسب العلم إلى نفسك بل إذا أفادك أحد بفائدة فقل هذه الفائدة استفدتها من العالم الفلاني، أو هذه الفائدة قرأتها في الكتاب الفلاني، وهكذا، فعند ذلك تحصل لك البركة في العلم.

Dan di dunia perWAG-an, banyak tulisan-tulisan yang tersebar di grup tanpa penulis dan bahkan dengan sengaja menghapus penulisnya, dan ada yang menggantinya dengan penulis lainnya.

Rabu, 07 November 2018

Luar Biasa! Gadis Kecil Maroko, Pemenang "The Arab Reading Challenge 2018"

Halimi Zuhdy

Dua hari ini dunia Arab dihebohkan dengan kecerdasan gadis kecil, dan vedionya viral diberbagai media, Maryam Amjun, ia punya nama.

Gadis kecil ini mampu membuat para hadirin dan juri bedecak kagum, bahkan tepuk tangan riuh tak berhenti, ketika gadis kecil ini menjawab pertanyaan Dr. Muna dengan meyakinkan dan kefasihan kalamnya dalam bahasa Arab.

Gadis berusia sembilan tahun itu tidak dapat membendung gelombang air matanya, membuncah, sambil tersenyum gembira dan binar matanya menyapa seluruh hadirin, ditangannya memegang erat piala yang diberikan oleh Wakil Presiden UEA, Muhammad bin Rasyid Ali Maktum. Karena hari itu, ia telah meraih bintang "The Arab Reading Challenge" tahun 2018. Maryam adalah peserta termuda dalam acara ilmiah dan budaya tersebut.

Pertanyaan yang diajukan kepada Maryam "lebih sulit dari umurnya", dia pun kata ibunya, tidak memiliki akun apapun pada situs jejaring sosial, dan tidak memiliki HP Tetapi jawaban "pintarnya", seperti yang dikatakan ibunya, membuatnya mengungguli lawan-lawannya dan menemukan jalan keluar untuk mendapatkan suara terbanyak.

"Saya sangat bahagia dan saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Yang Mulia Sheikh Muhammed bin Rasyid atas prakarsa luar biasa ini yang telah membangkitkan rasa ingin tahu dan pengetahuan kami tentang membaca buku," kata Maryam sambil sesenggukan bahagia.

Gadis kecil itu telah melampaui lebih dari 300 ribu siswa dan murid di tingkat nasional, mewakili 3.842 lembaga pendidikan, untuk dapat mewakili Maroko di babak ketiga kompetisi " Tahaddi Al-Qira'ah al-Arabiyah,".

Berikutnya ia bersaing dengan peserta dari negara-negara Arab, serta dari masyarakat Arab dan Muslim yang berada di negara-negara Barat, Kualifikasi awal kompetisi dihadiri oleh 10 setengah siswa dari 44 negara, dengan seleksi akhir 87.000 peserta dari 52.000 sekolah. Dan pada tahap akhir, dialah sebagai pemenangnya.

Usia mudanya tidak menghalangi dia untuk mewujudkan impian besarnya. Maryam Amjon digambarkan oleh ibunya sebagai seorang gadis yang mencintai banyak buku sebelum ia dapat membacanya. "Masa kecilnya hidup di tengah-tengah buku." "Pekerjaan kami sebagai guru membuat kami selalu sibuk dengan buku-buku, dan anak itu tergoda oleh hal-hal di sekitarnya yang menyibukkan orang tuanya."

Maryam, si gadis kecil , membaca lebih dari 200 buku dalam kompetisi, di tingkat nasional dan internasional.

Dan penulis memimpikan ada lomba membaca buku di Indonesia, dengan hadiah besar, seperti di UEA, 150 US Dolar, belum lagi berbagai hadiah lain yang diterimanya. Agar masyarakat Indonesia juga berlomba-lomba membaca buku, dan buku sebagai tombak dalam hidupnya, karena  Indonesia termasuk negara yang paling rendah daya membacanya.
Allah 'lam bishowab.

IG : @halimizuhdy

#membaca #maryam_amjon #maryamAmjon #membacaGadisMaroko

Kamis, 05 Juli 2018

LITERASI DI INDONESIA BUTUH DONGKRAK BESAR

Halimi Zuhdy

Perkembangan literasi di Indonesian tidak terlalu menggembirakan, butuh usaha besar dan sungguh-sungguh dari berbagai pihak untuk selalu mendorong masyarakat Indonesia agar gemar membaca dan menulis. .

Data yang cukup mengenaskan, dari 61 negara yang diteliti tingkat literasinya, menempatkan Indonesia peringkat kedua dari bawah, yaitu ke-60 setelah Bostwana. Prestasi yang tidak perlu terjadi, apalagi negara ini negara besar dan sudah cukup lama berdiri di dunia. Seharusnya, besarnya (banyaknya) juga sejalan dengan budaya literasinya. .

Sebuah negara, maju dan tidaknya, dapat dilihat dari bagaimana kegemaran membacanya, jika budaya bacanya masih rendah, maka masyarakatnya juga demikian.  Menurut penelitian UNESCO, indeks minat baca Indonesia 0,001 %. Artinya dari 1.000 penduduk hanya 1 orang yang serius membaca. Apakah benar survei tersebut, kalau benar, bagaimana peran lembaga pendidikan di Indonesia, demikian juga peran pemerintah yang memiliki kekuatan untuk merubah bangsa. .

Sedangkan hasil survei 3 tahunan BPS, telah mencatat,  tingkat minat baca anak-anak Indonesia hanya 17,66 %, sementara minat menonton mencapai  91,67 %. Bisa dibayangkan, bagaimana minat menonton masyarakat Indonesia mengalahkan daya bacanya. Apalagi akhir-akhir ini, dari mulai Anak PAUD sampai Pos Doktoral sangat suka megang HP, dan yang paling banyak diakses adalah youtube (film), dan orang tuanya asyik masuk dengan literasi ala modern (cating, ngerumpi, hal tidak jelas arahnya). Budaya baca buku (online dan ofline) juga kurang diminati. Dan yang sangat menakutkan, orang Indonesia rata-rata menghabiskan waktu selama 3 menit 36 detik untuk menonton film porno di internet. .

Jika, kegemaran membaca saja sudah sangat rendah, bagaimana dengan minat menulisnya. Sedangkan budaya menulis akan tumbuh, jika minat membacanya kuat. Dan dari hasil penelitian terkini, lembaga pendidikan pun (sekolah, kampus dll), banyak yang tidak membudayakan literasi, dengan indikasi; perpustakaannya sepi, jarangnya bedah buku, tidak adanya diskusi, buku-buku tidak terbaca di berbagai rak sekolah/kampus, dan lainnya. .

Dan lucunya, banyak parapejabat pemerihtahan dan para pendidik, yang belum tahu tentang dunia literasi. Bagaimana mereka mendorong untuk memdayakan literasi, sedangkan mereka belum memahaminya. Mudah-mudahan dapat berbenah. .
.
Untuk memupuk dan membudayakan literasi, maka bagi para pendidik terutama, selalu mengkampanyekan; pentingnya membaca dan menulis, mendorong untuk mengunjungi perpustakaan sekolah, menggiatkan gemar ke toko buku, memotivasi membawa buku kemana-mana, membuat gerakan membaca di sekitarnya, membuat taman literasi, dan lainnya. 


Budaya literasi yang rendah, akan menyebabkan pengetahuan rendah, negara terbelakang, hoax bergelimang, dan serta sulit bangkit dari keterpurukan. Penyebab rendahnya minta tersebut, menurut beberapa pakar di Indonesia, karena; orang tua tidak mengenalkan literasi sejak dini, orang tua yang meletakkan buku sebagai sampingan dari belanja lainnya, orang tua lebih mendekatkan pada TV dari buku, sulitnya mengakses buku-buku, figur publik yang tidak suka literasi.

Hal di atas menjadi tugas kita bersama, membudayakan literasi, agar Indonesia menjadi negara maju. Dan di antara usaha itu, Jurusan Bahasa dan sastra Arab (BSA) Fak. Humaniora UIN Malang, mengadakan Seminar Literasi dengan pemateri Dr. Faisol (Dosen BSA) , Imaduddin (mhs BSA), dan Ilham Thoriq (Radar Malang) serta bedah buku "Ulama Nusantara" yang tulis oleh mahasiswa BSA UIN Malang prakarsa Dr. Faisol, serta Fakultas Humaniora bekerja sama dengan beberapa sekolah dan pesantren di Indonesia untuk Indonesia bangkit Literasi. .

Di sisi lain, Pondok Leterasi yang berdiri pada tahun 2013,  Pondok Pesantren Darun Nun Malang (www.darunnun.com) juga sebagai usaha untuk membangkitkan daya dongkrak masyarakat untuk gemar ber-literasi, selain diwajibkan untuk membaca dan menulis, mereka juga mengabdi untuk membangkitkan literasi di masyarakat, yang akhir-akhir ini diadakan beberapa Workhsop kepenulisan, dan juga bekerjasama dengan Ibu PKK untuk "Ibu-ibu gemar menulis". Dan nantinya, akan dibuat menjadi *kampung literasi*.

Jumat, 18 Agustus 2017

SUNYI MELAHIRKAN PUISI

Halimi Zuhdy


Puisi lahir dari imaji-imaji yang berkeliaran, juga lahir dari realitas-realitassekitar yang diwarnai dengan khayal. Kata-katanya; kadang kaku walau tidak beku, kadang cair meskipun tidak mencair. Iaselalu hadir dalam lintasan senjarah, menjadi juang walau tidak pernahberjuang,menjadi senjata walau tidakmampu mematikan, atau hanya menjaditeman dalam sepi bagi yang selalu merasakesepian. 
Ia selalu unik dalamkehadirannya.

Jumat, 07 Juli 2017

Menulis Skripsi, Thesis, Desertasi itu Mudah

Halimi Zuhdy

Menulis skripsi bagi beberapa mahasiswa s1 atau mungkin mayoritas dari mereka masih terasa berat, karena bagi mereka, skripsi adalah pertama kalinya menulis karya ilmiah yang paling serius, dengan berbagai aturan yang ketat, dari; judul, latar belakang, rumusan masalah, metodelogi, kajian teori, cara pemaparan data, analisis, kesimpulan dan lainnya. Terkadang, untuk mendapatkan judulnya saja,  membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan ada yang satu tahun baru dapat “judul”, itupun kadang ditolak.he. 


Sebenarnya, menulis skripsi sangatlah mudah, mencari judul bisa hanya butuh waktu satu menit, mengerjakan satu bulan, insyallah cukup, bulan berikutnya ujian dan nikah.he. Bagaimana caranya? 
  1.  Membiasakan menulis karya ilmiah dari semester satu, atau menulis tugas makalah dengan serius, tidak copy paste (plagiasi). Maka berbahagialah mahasiswa, yang dosennya sering menyuruh untuk menulis, karena tugas mahasiswa adalah membeca, “menulis” dan mempresentasikan, 

Jumat, 20 Maret 2015

MENGANYAM KATA, MERANGKAI KALIMAT

 Halimi Zuhdy

Aku ini penyihir yang mengubah bayangan zaman menjadi lukisan. Aku penerjemah realita ke dalam fantasi dan sebaliknya aku menyulap warna dan tekstur. Aku melihat masa lalu dan meramal masa depan. Aku menegndarai badai. Aku berjalan di atas rentangan tali akal sehat. Aku hidup di batas dunia. (Peter Dean)

Kata akan mejadi indah jika ia dikeluarkan dari lubuk hati atau dari pikiran yang meronta, ia tidak hanya sebuah hayalan yang indah, tapi sebuah realitas makna yang nyata, ia bangkit dengan seribu keanggunan dari balik otak yang terdalam, menyembul melontarkan makna, menyeruak menembus realitas, kasat menjadi jelas, gelap menjadi terang, ragu menjadi sebuah keyakinan. Kata semakin terasa maknanya apabila ia mampu dilukiskan dengan pahat-pahat kesungguhan, dianyam sedemikian rupa, dan kata itu terurai indah menjadi sebuah kalimat, kalimat cinta, kalimat rindu, kalimat sedih, kalimat-kalimat apa pun ia tetap menjadi sebuah realitas pikiran yang tadinya tersimpan rapat menjadi deburan ombak yang nyata, menerjang bak sunami. Itulah kelebihan menulis.

Selasa, 18 September 2012

CARA MEMBUAT DIKSI PUISI YANG BAIK

Halimi Zuhdy

1.      Memilih bentuk tulisan
Penulis memilih bentuk tulisan yang akan ditulis, akan menulis puisi atau cerita, jika ingin menulis puisi maka memilih uslub/diksi lebih selektif, karena ada keterkaitan antara kata, makna, bunyi (musikalitas) dan lainnya. Sedangkan kalau cerita lebih sederhana dan tidak memerlukan keserasian dalam kata.

2.       Memilih kata yang tepat
Dalam pemilihan kata, penulis dituntut untuk memiliki kemampuan kreatifitas, intuisi dan imajinasi serta pengalaman dan pengetahuan. Misalkan ingin mengatakan “aku mencintaimu” dirubah dengan “aku ingin mencium bunga yang ada di telapak kakimu”. Dari yang sederhana berubah menjadi bahasa yang penuh imajinatif dan tidak biasa. Ini diperlukan keselektifan dalam memlih kata disesuaikan dengan keinginan penulis. Atau kata cinta disandingkan dengan ombak, padamu orang keduan disandingkan dengan pantai, pasir, karang, dan lainnya.

3.      Perenungan
Setelah mendapatkan beberapa kata yang akan disandingkan dengan kata yang asli, atau pengganti kata atau kalimat yang lebih cocok dengan imajinasi, rima, dan makna yang dimaksud,. Maka direnungkan kembali, apakah ia memiliki sugesti yang kuat yang mampu memberikan pengaruh pada pembaca, dan menjadi bahasa yang tidak biasa, dan memiliki imajinasi yang tinggi. Dalam memilih kata-kata yang akan ditulis hendaknya disesuaikan dengan Nada dan perasaan.

4.      Merasakan
Pada setiap kata, frasa, bahkan larik diusahana penyair benar-benar hadir dan merasakan setiap ungkapan yang akan ditorehkan, tidak hanya sekedar lipstick dan pemanis saja. Ia mampu dirasakan sendiri, dan bahkan mampu membangkitkan rasa pembaca, kata-kata yang dipilih bernas, telak, sekaligus enak didengar dan membekas dalam benak pembaca. Merasakan berbeda dengan merenungan, merasakan berarti bagaimana setiap kata mampu menembus hati dan membangkitkan emosi pembaca, dan sangat dekat dengan pembaca, baik dari pemilihan tema, gaya bahasa, bunyi, dan lainnya. Hal itu bisa dirasakan apabila penulis sendiri merasakan, baik lewat pengalaman, pergolakan pemikiran, atau hasil internalisasi idiom orang lain dan sesuai dengan tema penulis.  Dan merasakan ini terkait sekali dengan imajinasim Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, medengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair.

5.      Menyusun
Setelah memilih kata atau kalimat dengan sebaik mungkin yang sudah terkait dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata. Maka kemudian penulis mencoba untuk menyusun setiap kata menjadi kalimat, dan kalimat menjadi lirik, dan dari lirik satu dengan lirik yang lain ada kepaduan dengan tema, walau mengandung imajinasi yang berbeda, tapi tidak jauh dari tema dan amanah dalam puisi tersebut. Perhatikan kembali puisi-puisi di atas, bagaimana seorang penyair memilih kata yang tepat. 

http://sastrahalimi.blogspot.com/2012/09/blog-post.html

Rabu, 23 Mei 2012

TIPS MENULIS PUISI

 Halimi Zuhdy 


Puisi, sebag`i wakil hati dan pikiran, atau ekspresi dari dalam diri seseorang. Tidak heran, jika puisi selalu memberikan kejutan-kejutan nada dan cinta, rindu dan kebencian, kasih dan permusuhan, juga sering menjelma kata-kata yang sangat menakjubkan, kadang sang penulisnya tidak merasa bahwa puisi terbang begitu tinggi tak kenal bumi, tapi terasa menyentuh bahkan tenggelam dalam perut bumi.


Terkadang ungkapan puisi keluar dengan rasa dan prasa, sehingga membuat hati merdecak begitu dahsyat, membiarkan angan melalang buana menemui malaikat yang selalu Memberikan warna, menghentak-hentak seakan ia bergelombang bersama sunami. Puisi adalah warna perasaan kita, hentakan dan kesedihan hati terukir lewat baris-baris bermakna, membumbung memenuhi kertas putih yang kemudian menjadi begitu indah ketika terbaca, huruf demi huruf seperti gelombang bergumul bergulung menuju pantai asmara.

Senin, 02 Januari 2012

BERMIMPI MENJADI PENULIS DUNIA




Halimi Zuhdy


Bermimpi menjadi penulis, ternyata tidak dimiliki semua orang. Ia kadang menjadi sebuah cita-cita yang langka bagi kebanyakan orang, karena menulis dianggap sesuatu yang tidak mendatangkan income yang luar biasa bagi kehidupan mereka, atau memang ia tidak pantas untuk dicita-citakan, karena menulis dinggap sebuah aktifitas harian yang wajib dilakukan. Namun tidak semua orang mampu menulis apalagi menjadi penulis yang diperhitungkan.


Bagaimana menumbuhkan cita-cita itu, wah..ini juga tidak mudah untuk dijawab, karena penulis sendiri belum menjadi penulis handal, hanya mempunyai cita-cita untuk menjadi penulis yang dapat memberikan konstribusi pada dunia, ya..minimal untuk lingkungannya sendiri.


Bercita-cita untuk menjadi penulis bagi orang tua harus digalakkan, ia tidak bisa berjalan sendiri, karena langkanya sebuah cita-cita menulis. Bisa dimulai dengan mengenalkan tokoh-tokoh dunia yang sudah taka sing lagi dalam kepenulis, seperti penulis penulis novel, puisi, cerpen, opini, esai, makalah, dan lain-lainnya. Misalnya para penulis muslim dalam sastra, seni, sejarah, geografi, penelitian, penemuan, astronomi, kedokteran dan sebagainya seperti Ahmad ibn Al-Hutai’ah Al-Maghribi, Al Ukhbari, Abu Abdillah Al-Azadi, Abu Muhammad Al-Anshari.


Al Idris menyusun sebuah buku tentang Raja Norman dari Palermo yang berjudul Book of Roger. Sejarahwan terkenal lainnya yang bernama Ibnu Kaldun menghasilkan karya-karya sejarah yang tulisan-tulisan menjadi rujukan sejarahwan-sejarahwan dunia. Karya yang terkenal Ibnu Kaldun adalah Muqaddimah. Sastrawan terkenal saat itu Abu Uthman Umar bin Bahr Al Jahiz, Badi Al Zaman Al Hamdhani, Al Tsa’alibi dan Al Hariri.


Karya-karya yang luar biasa dalam bidang astronomi seperti karangan Abu Muhammad Jabir Ibn Aflah yang menulis buku Kitab Al-Haia, Jabir Ibn Aflah yang terkenal sebagai astronom terhandal dizamannya yang terkenal dengan Kitab Al Hay’ah. Muhammad Ibn Fattuh Al-Khamairi yang dikenal dengan delapan karya Astronominya dan ahli membuat perangkat astronomi.  Ibn Al Yasamin Al Ishbili yang keturunan Afrika Utara menulis bukunya yang  Talqih Al- Afkar bi Rushum Huruf Al-Ghubar. Bidang kedokteran seperti emir Celebi, Omer Sifai dan abbas Vesim yang memahami Anatomi tubuh manusia. Serafeddin Sabuncuoglu seorang dokter ahli bedah. Bidang ekologi dan kesehatan melahirkan ilmuwan-ilmuwan islam yang dikenal dunia. Mereka menulis berbagai tulisan tentang ekologi dan kesehatan diantaranya adalah Al Kindi, Qusta Ibnu Luqa, Al Rizi, Al Tamini, Abu Sahl Al Masihi, Ibnu Sina.


Seperti penulis terkenal juga adalah Al-Kindi seorang alhi Mtereologi yang menulis buku Risala fi l-Illa Al Failali l-Madd wa l-Fazr dan  Mahmud Al-Kashgari yang ahli membuat peta. Serta Ibu Aqil yang seorang ahli hukum yang juga ahli berceramah yang menulis buku Kitab Al Jadal ala Tariqat Al fuqaha. Ibnu Qutaybah seorang penulis peradaban Islam yang banyak menulis buku, salah satunya Kitab Al-Maa’rif. Abu’l Khair seorang ahli pertanian ang menulis Kitab Al-Filaha. Ibnu Al Haitham ahli bidang optik yang menulis Kitab Al Manazir. Abu Musa Jabir Ibnu Hayyan yang menulis 200 kitab dan 80 kitab mengkaji dan mengupas seluk beluk ilmu kimia.


Para penulis perempuan yang menggebrak dunia adalah Shifa binti abdullah seorang ahli medis dan terampil dalam bidang administrasi publik. Sutayta Al Mahamli yang berasal dari keluarga berpendidikan tinggi Baghdad. Sutayta Menguasai banyak bidang ilmu matematika, hisab, Aljabar, sastra Islam, Hadist dan hukum.



Bercita-cita menjadi penulis akhirnya menjadi mudah, jika benar-benar istiqomah menjalagi kegiatan kepenulisnnya dengan kapasitas yang dimilikinya, tanpa takut untuk bergerak dan dikritik oleh siapa pun. Memang yang membuat kesulitan bagi apra penulis, jika ia tidak mempunyai bidang keahlian yang dimiliki apalagi kurang membaca buku dan alam.


Akhirnya mengutip punya Albert Camus, ,”Karya lebih bermaksud menyadarkan kreatornya pada kenyataan hidup yang memang seringkali diluar kendali nalar. Maka, karyapun sekedar menawarkan. Dia tak pernah memutuskan. Tulisan adalah gambaran. Para pembaca dianjurkan untuk menatap dan memaknainya..” ia seorang penulis hebat yang lahir pada tahun 1913 di Algeria Aljazair .

Dan yang perlu diingat, dalam kajian bahasa ada istilah intertektualitas, yang oleh beberapa orang diartikan keterkaitan antar teks, artinya seseorang penulis tidak akan pernah lepas dengan penulis lainnya, walau tidak utuh demiki juga apa yang dikatakan oleh Bertrand Russell, seorang penulis hebat yang telah ditinggal mati kedua orang tuanya saat dia berumur 3 tahun pernah mengatakan bahwa,”Aku tak pernah berani mengatakan bahwa tulisan-tulisanku murni hasil olah kreasiku sendiri. Aku sangat dipengaruhi gaya John Stuart Mill..”


Intinya harus banyak belajar dari orang lain yang sudah melalang buana, atau yang masih bau kencur tetapi mempunyai semangat besar untuk menjadi penulis.


Mengawali tahun baru 2012, muda-mudahan ada semangat baru untuk menulis dengan lebih kreatif; dan Alhamdulillah penulis kacangan ini sudah menghasilakan sekitar 10 buku (tunggal dan bersama) dan 5 editan.



Malang.