السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Tampilkan postingan dengan label Sastra Arab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra Arab. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Agustus 2026

Halimi Zuhdy Dorong Transformasi Sastra Arab di PTKIN: Dari Turats Menuju Digital Humanities

MALANG – Masa depan sastra Arab di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) tidak cukup dibangun dengan mempertahankan pola kajian konvensional. Sastra Arab harus mampu menjaga kekuatan tradisi keilmuannya sekaligus membuka diri terhadap perkembangan teknologi, kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI), digital humanities, kajian interdisipliner, serta kekayaan khazanah Arab-Nusantara.

 Gagasan tersebut menjadi salah satu penekanan Dr. Halimi Zuhdy, M.Pd., akademisi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, dalam Webinar Series bertajuk “Masa Depan Linguistik dan Sastra Arab di Indonesia” yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom, Senin, 24 Agustus 2026.

 Dalam pemaparannya, Halimi Zuhdy membawa diskusi mengenai sastra Arab pada pertanyaan yang lebih mendasar. Menurutnya, tantangan sastra Arab di perguruan tinggi saat ini bukan sekadar bagaimana mempertahankan keberadaan mata kuliah sastra, tetapi bagaimana mereposisi sastra Arab agar mampu menjawab perubahan zaman tanpa kehilangan akar keilmuannya.

 Ia memandang bahwa pengajaran sastra Arab di PTKIN tidak dapat berhenti pada sejarah sastra, pembacaan teks, pengenalan tokoh, balāghah, ‘arūḍ, ataupun penerapan teori sastra secara berulang pada objek yang berbeda.

 Seluruh fondasi tersebut tetap penting, tetapi harus menjadi pijakan untuk mengembangkan bentuk kajian yang lebih luas dan relevan. 

 Dalam konteks tersebut, sastra Arab perlu bergerak menuju apa yang dapat disebut sebagai Arabic Humanities, yakni suatu ekosistem kajian yang mempertemukan sastra dengan sejarah, budaya, agama, politik, masyarakat, media, penerjemahan, manuskrip, teknologi, hingga dinamika hubungan Indonesia dengan dunia Arab. 

Halimi menempatkan transformasi tersebut sebagai peluang besar bagi PTKIN. Sebab, perguruan tinggi keagamaan Islam di Indonesia memiliki modal akademik yang tidak sedikit. Tradisi pembelajaran bahasa Arab, kajian kitab, pesantren, manuskrip Islam Nusantara, aksara Arab-Melayu dan Pegon, hingga jaringan intelektual Indonesia-Timur Tengah merupakan kekayaan yang dapat menjadikan kajian sastra Arab di Indonesia memiliki karakter tersendiri. 

 Dari Konsumen Menuju Produsen Pengetahuan Salah satu gagasan penting yang mengemuka dari pemaparan Halimi adalah perlunya perguruan tinggi Indonesia mengubah posisinya dari sekadar konsumen pengetahuan sastra Arab menjadi produsen pengetahuan.

 Selama ini, kajian sastra Arab di perguruan tinggi Indonesia banyak menjadikan teks dan sastrawan Timur Tengah sebagai objek utama. Kajian terhadap tokoh-tokoh besar seperti Naguib Mahfouz, Nizar Qabbani, Mahmoud Darwish, Taha Husayn, Tawfiq al-Hakim, dan berbagai sastrawan Arab lainnya tetap diperlukan sebagai bagian dari fondasi akademik. 
Namun, menurut arah pemikiran yang dikembangkan Halimi, perguruan tinggi Indonesia juga harus berani mengangkat kekayaan yang berada di lingkungannya sendiri. Di sinilah kajian tentang sastra Arab di Indonesia, sastra Arab karya orang Indonesia, manuskrip Arab-Nusantara, tradisi Pegon dan Jawi, sastra pesantren, penerjemahan Arab-Indonesia, serta interaksi kesusastraan Indonesia dan dunia Arab memperoleh posisi yang sangat strategis. 

Dengan mengembangkan wilayah tersebut, PTKIN tidak hanya mengulang penelitian yang telah banyak dilakukan di pusat-pusat studi Arab di Timur Tengah. Sebaliknya, Indonesia dapat menawarkan perspektif dan objek penelitian yang justru tidak dimiliki negara lain. Halimi melihat bahwa kekayaan Arab-Nusantara dapat menjadi distingsi keilmuan sastra Arab Indonesia di tingkat internasional. AI Bukan Akhir Sastra Arab Perhatian besar juga diberikan terhadap kehadiran kecerdasan artifisial. 

Perkembangan AI saat ini memungkinkan mesin melakukan pekerjaan yang beberapa tahun lalu identik dengan kompetensi mahasiswa bahasa dan sastra: menerjemahkan teks, merangkum novel, menjelaskan kosa kata, menemukan tema, bahkan menghasilkan analisis sastra dalam waktu singkat. Kondisi tersebut, menurut arah pemikiran Halimi, seharusnya tidak membuat sastra Arab merasa terancam. Sebaliknya, AI memaksa pendidikan sastra untuk kembali mempertanyakan nilai khas manusia dalam membaca karya sastra. 

Mesin mungkin mampu menjelaskan arti sebuah kata. Namun pembacaan sastra tidak berhenti pada arti kata. Di dalamnya terdapat majāz, isti‘ārah, kināyah, simbol, konteks sejarah, pengalaman budaya, emosi, ideologi, serta intertekstualitas yang membutuhkan kemampuan interpretatif secara mendalam. Karena itu, tugas perguruan tinggi bukan menjauhkan mahasiswa dari AI, tetapi membekali mereka dengan literasi AI yang kritis.

 Mahasiswa sastra Arab masa depan perlu mampu menggunakan teknologi sekaligus mempertanyakan hasilnya: dari mana informasi diperoleh, apakah teks dan kutipannya benar, apakah interpretasinya sesuai konteks budaya Arab, apakah mesin mampu membaca balāghah dengan tepat, dan bagian mana yang tetap membutuhkan keputusan ilmiah manusia. 

Dengan pendekatan tersebut, hubungan sastra dengan teknologi tidak lagi diletakkan dalam pola pertentangan. Bukan: tradisi atau teknologi, melainkan:tradisi dan teknologi. Sastra Arab Memasuki Era Digital Humanities Lebih jauh, Halimi melihat digital humanities sebagai salah satu ruang baru yang perlu mendapat perhatian serius dalam studi sastra Arab di PTKIN.

Dalam paradigma konvensional, seorang peneliti mungkin menganalisis satu novel atau satu kumpulan puisi. Perkembangan teknologi memungkinkan penelitian dilakukan terhadap ratusan bahkan ribuan teks melalui korpus digital, text mining, analisis semantik, pemetaan jaringan, digital philology, hingga computational literary studies. Namun, penggunaan teknologi tersebut bukan dimaksudkan untuk menggantikan kegiatan membaca secara mendalam. Sebaliknya, masa depan penelitian sastra Arab dapat mempertemukan:close reading, distant reading, dan human interpretation. 

 Dengan kata lain, komputer dapat membantu menemukan pola dalam ribuan teks, tetapi manusia tetap dibutuhkan untuk memahami mengapa pola tersebut muncul dan apa maknanya dalam konteks sejarah, budaya, maupun estetika. Potensi ini menjadi semakin menarik apabila diterapkan pada ribuan manuskrip Arab, Jawi, dan Pegon yang tersebar di Indonesia.Manuskrip yang selama ini hanya ditransliterasi dan diedit secara filologis dapat dikembangkan menjadi arsip digital, korpus, edisi kritis digital, serta basis data penelitian Arab-Nusantara yang dapat digunakan oleh akademisi dunia. 

 PTKIN Harus Berani Membangun Distingsi Menurut Halimi, masa depan sastra Arab tidak akan cukup kuat apabila semua program studi hanya mengikuti arah yang sama. PTKIN membutuhkan distingsi. Dan salah satu distingsi yang paling potensial adalah: Arab – Islam – Indonesia – Nusantara – Teknologi. Keunggulan perguruan tinggi Indonesia terletak pada kemampuannya mempertemukan tradisi Arab-Islam dengan pengalaman kebudayaan Nusantara. Karena itu, pengembangan sastra Arab ke depan dapat meliputi kajian sastra pesantren, karya berbahasa Arab yang ditulis ulama Nusantara, jaringan kesusastraan Makkah-Nusantara, manuskrip Arab Indonesia, sastra Jawi dan Pegon, hingga representasi Indonesia dalam karya sastra Arab dan representasi dunia Arab dalam sastra Indonesia.

Dengan arah tersebut, kajian sastra Arab Indonesia tidak lagi berada di pinggiran perkembangan sastra Arab global. Indonesia justru berpeluang menjadi salah satu pusat penting studi sastra Arab di Asia Tenggara. Kurikulum Sastra Arab Perlu Bertransformasi Perubahan tersebut tentu membawa konsekuensi terhadap kurikulum.

 Halimi menekankan pentingnya mempertahankan fondasi seperti bahasa Arab, naḥwu, ṣarf, balāghah, ‘arūḍ, sejarah sastra, kritik sastra, dan teori sastra. Akan tetapi, di atas fondasi itu diperlukan lapisan kompetensi baru. Mahasiswa perlu diperkenalkan dengan Arab-Nusantara Studies, digital humanities, corpus studies, digital philology, AI for Arabic Studies, penerjemahan sastra, media, jurnalistik, industri kreatif, diplomasi budaya, hingga kajian Timur Tengah kontemporer. 

Dengan struktur tersebut, lulusan Bahasa dan Sastra Arab tidak hanya diarahkan menjadi guru, dosen, atau penerjemah. Mereka dapat berkembang sebagai peneliti, diplomat, analis budaya, jurnalis, editor, penerjemah sastra, pekerja industri kreatif, pengembang konten Arab, kurator manuskrip, spesialis komunikasi lintas budaya, hingga profesional yang bekerja dalam ekosistem teknologi bahasa dan AI. 

Transformasi kurikulum tersebut bukan berarti menjadikan sastra sebagai pendidikan vokasi. Sebaliknya, kompetensi profesional dibangun di atas kekuatan utama humaniora: kemampuan membaca manusia, bahasa, budaya, simbol, narasi, dan perubahan masyarakat. 

 Menuju Pusat Studi Sastra Arab Asia Tenggara Pada bagian yang lebih visioner, gagasan Halimi mengarahkan PTKIN untuk tidak hanya memikirkan kondisi sastra Arab lima tahun mendatang, tetapi hingga Indonesia Emas 2045.Indonesia memiliki jaringan PTKIN, pesantren, program studi Bahasa dan Sastra Arab, tradisi manuskrip, serta hubungan historis dengan dunia Arab yang sangat besar. 

Modal tersebut memungkinkan Indonesia membangun jejaring penelitian sastra Arab yang tidak hanya bersifat nasional. Ke depan, Indonesia berpeluang menjadi salah satu pusat: الدراسات الأدبية العربية في جنوب شرق آسيا atau Studi Sastra Arab di Asia Tenggara. Untuk mencapai posisi tersebut, perguruan tinggi perlu memperkuat riset bersama, publikasi internasional, digitalisasi manuskrip, pertukaran akademik, joint supervision, konferensi internasional, korpus sastra Arab-Asia Tenggara, serta penerjemahan dua arah antara sastra Indonesia dan Arab.

Dengan demikian, ukuran keberhasilan sastra Arab di PTKIN kelak tidak lagi hanya ditentukan oleh berapa banyak mahasiswa yang masuk program studi.Keberhasilannya juga dilihat dari berapa banyak pengetahuan baru yang diproduksi, manuskrip yang diselamatkan dan didigitalkan, karya Indonesia yang diperkenalkan ke dunia Arab, penelitian internasional yang dipimpin akademisi Indonesia, serta teori dan perspektif yang lahir dari pengalaman Arab-Nusantara.

 Webinar “Masa Depan Linguistik dan Sastra Arab di Indonesia” akhirnya menghadirkan satu pesan penting dari pemikiran Halimi Zuhdy: sastra Arab tidak sedang menuju akhir, tetapi memasuki fase baru yang menuntut keberanian untuk bertransformasi.Transformasi tersebut bukan dengan meninggalkan turāts, melainkan membawa turāts memasuki dunia baru. 

Bukan dengan menjadikan AI sebagai pengganti manusia, tetapi menjadikannya alat untuk memperluas kemungkinan penelitian.Dan bukan dengan terus menempatkan Indonesia sebagai pembaca perkembangan sastra Arab dari kejauhan, tetapi dengan mendorong perguruan tinggi Indonesia menjadi produsen pengetahuan dan salah satu pusat kajian sastra Arab yang diperhitungkan di dunia.

Selasa, 04 Agustus 2026

Fakultas Adab dan Humaniora Mau Kemana?



Halimi Zuhdy 

Entah sudah berapa abad Fakultas Adab hadir dan berkembang, baik di dunia maupun di Indonesia. Sebagai salah satu disiplin ilmu tertua dalam tradisi pendidikan Islam, Fakultas Adab telah melahirkan banyak ilmuwan, sastrawan, sejarawan, ahli bahasa, dan budayawan yang memberikan kontribusi besar bagi perkembangan peradaban.
Di Indonesia, khususnya dalam lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), beberapa tahun terakhir fakultas-fakultas yang bergerak di bidang Adab berhimpun dalam Asosiasi Dosen Ilmu-ilmu Adab (ADIA). Organisasi ini menjadi wadah kolaborasi akademik, penguatan riset, serta pengembangan keilmuan di bidang Adab dan Humaniora. Saat ini, ADIA dipimpin oleh Prof Faisol Fatawi dari Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Menariknya, nomenklatur fakultas yang menaungi rumpun ilmu Adab di Indonesia sangat beragam. Ada yang tetap menggunakan nama Fakultas Adab, ada Fakultas Humaniora, Fakultas Adab dan Humaniora, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, Fakultas Adab dan Bahasa, hingga Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD). Keragaman nama tersebut menunjukkan dinamika perkembangan kelembagaan sekaligus upaya setiap perguruan tinggi dalam menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kebutuhan masyarakat, dan arah kebijakan pendidikan tinggi.

Toyyib. Saya lagi mengikuti Seminar di Fakultas Usuluddin dan Adab di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, sebagai tuan rumah kegiatan ADIA tahun ini. Tema yang diangkat adalah "Revitalizing Adab and Humanities in the Cyber Era for Strengthening Ecotheology toward National Civilization" menjadi sangat strategis karena menawarkan arah baru pengembangan Fakultas Adab yang memadukan kemajuan teknologi dengan etika, budaya, dan spiritualitas. Era siber membuka peluang besar bagi digitalisasi manuskrip, pengembangan humaniora digital, kecerdasan buatan dalam kajian bahasa dan sastra, hingga perluasan dakwah dan literasi digital. Namun, seluruh inovasi tersebut harus dibangun di atas fondasi adab, nilai kemanusiaan, dan kesadaran ekologis (ecotheology), sehingga kemajuan teknologi tetap berpihak pada keberlanjutan peradaban. 
Toyyib. Fakultas Adab di Indonesia sedang berada pada titik krusial dalam menghadapi transformasi digital, perkembangan kecerdasan artifisial (AI), dan perubahan lanskap pendidikan tinggi. Disiplin-disiplin Adab seperti bahasa, sastra, sejarah, perpustakaan, dan peradaban Islam tidak lagi cukup berperan sebagai penjaga warisan intelektual, tetapi harus tampil sebagai produsen pengetahuan yang mampu menjawab tantangan zaman. Karena itu, revitalisasi Fakultas Adab menjadi kebutuhan mendesak agar tetap relevan, inovatif, dan mampu berkontribusi dalam pembangunan masyarakat berbasis nilai-nilai kemanusiaan.
Sehingga mahasiswa tidak bertanya-tanya lagi, saya kalau lulus jadi apa? He. Ya, tidak harus jadi apa-apa, yang penting dapat ilmu berkah dan manfaat.he. Aha. 

Tuan rumah, Pak Dekan Anwar Sanusi, dalam sambutannya mengharap bahwa seminar ini dmenjadi forum strategis untuk merumuskan arah masa depan Fakultas Adab di Indonesia melalui kolaborasi antarpimpinan fakultas, dosen, peneliti, dan pemangku kebijakan. Dari forum ini diharapkan lahir rekomendasi mengenai penguatan kurikulum, agenda riset kolaboratif, transformasi digital, peningkatan publikasi internasional, serta jejaring akademik yang mampu memperkuat posisi Fakultas Adab sebagai pusat pengembangan ilmu humaniora Islam. Dengan demikian, Fakultas Adab tidak hanya mampu beradaptasi terhadap perubahan global, tetapi juga menjadi motor penggerak lahirnya peradaban Indonesia yang berkarakter, berkelanjutan, dan berlandaskan nilai-nilai Adab. 

"Cirebon punya apa? Maka, ini yang harus digali" dalam sambutan Rektor. "Warisan itu mahal". 

Cirebon, 22 Juli 2016

Kamis, 22 Januari 2026

Gelar dan Sebutan Penulis dalam Bahasa Arab(Ahl Al-Qalam)


Halimi Zuhdy

Di dalam tradisi kebahasaan dan kesusastraan Arab, terdapat beragam istilah khusus yang bukan hanya sekadar label melainkan representasi fungsi, gaya, dan tujuan ekspresi penulisannya. 

Bahasa Arab tidak membiarkan praktik penulisan menjadi samar setiap modus, metode, dan tujuan diberi nama yang jelas, menggambarkan peran intelektual dan estetis si penulis. Mungkin bahasa lainnya juga sama. Tapi, ini hanya menilik dalam bahasa Arab. 
Istilah-istilah ini mencerminkan bagaimana Bahasa Arab menata dunia penulisan secara terstruktur dan bermakna, serta menunjukkan kompleksitas hubungan antara simbol, makna, dan identitas pencipta karya. Dan, istilah ini juga sudah sangat dikenal dalam berbagai kitab klasik dan modern. 

1. أديب  Adīb (Sastrawan)
مَن يُبْدِعُ في صُنْعِ الأعمالِ الأدَبِيّةِ شعرًا أو نثرًا، ويتسمُ ببلاغةٍ وفكرٍ وثقافةٍ واسعةٍ.

Seorang "adīb" adalah pencipta karya sastra, baik puisi maupun prosa, yang tidak hanya menulis, tetapi juga menghidupkan bahasa dengan keindahan (بلاغة), wawasan budaya, dan kedalaman pemikiran. Istilah ini menandai hubungan erat antara ekspresi estetis dan pemikiran reflektif dalam teks.

2. شاعر  Syāʿir (Penyair)
مَن ينظّمُ الشعر مستخدمًا الكلامَ المُوزونَ المُقفى، ويستخدمُ الصورَ البلاغيةَ والتعابيرَ الأدبيّةَ.

Dalam budaya Arab, "shaʿir" bukan sekadar pembentuk kata berima, ia adalah pemikir simbolikyang menggunakan bahasa untuk memberi bentuk pada pengalaman batin, emosi, dan realitas sosial. Puisinya tidak sekadar estetika, tetapi juga cara berpikir yang bernalar.

3. ناثر  Nāthir (Penulis Prosa)

من يكتب النثر أي الكلام المرسل غير الموزون ولا المقفى ويعبر من خلاله عن الأفكار بأسلوب مباشر وفني.

"Nāthir" menunjukkan penulis yang menggunakan prosa langsung untuk mentransmisikan gagasan, dengan gaya yang tidak terikat ritme puisi namun tetap artistik. Ia adalah penghubung antara ekspresi ide dan gaya naratif yang lugas serta bermakna.

4. كاتب  Kātb (Penulis)

من يحْدُث أو ينقل النصوص المكتوبة أو يصوغها—سواء كانت أفكارًا أصليةً له أو منقولة.

Istilah "kātb" merujuk pada siapa saja yang menulis atau menyusun teks—baik itu ide asli maupun representasi ulang. Di sini kita melihat bahwa "menulis adalah proses berpikir dan menyampaikan gagasan", terlepas dari bentuknya.

5. مؤلف  Mu’allif (Pengarang)
شخص يبتكر فكرةً أو عملاً أدبيًّا أو محتوى كتابيًا أصليًّا ويحسن تركيبه وتنظيمه.

Seorang "mu’allif" adalah pengarang yang menghasilkan karya orisinal dan memiliki struktur serta organisasi yang matang—sering kali menjadi manifestasi dari dialog antara pemikiran pribadi dan konteks budaya yang lebih luas.

6. روائي  Riwā’ī (Novelis)
من يبدع في كتابة الروايات، وينسج العوالم والأحداث والشخصيات، ويعرضها في سرد ممتد.

Istilah "riwā’ī" memberi nama pada seniman narasi yang "membangun dunia", menyusun karakter dan kejadian dalam struktur cerita yang kompleks. Novelis bukan sekadar pencerita, tetapi "arsitek pengalaman manusia" dalam bentuk teks panjang.

7. خطّاط  Khattāṭ (Kaligrafer)

من يتقن فن الخط العربي، ويحول الحروف إلى لوحاتٍ فنيةٍ نابضةٍ بالجمال.

Bahasa Arab secara visual juga bernilai estetika tinggi. "Khattāṭ/" adalah penghubung antara bahasa dan seni visual, di mana huruf-huruf dilukiskan sebagai bentuk ekspresi yang bernilai dan bermakna.

Setiap istilah Arab di atas bukan hanya menunjukkan “siapa dia”, tetapi bagaimana ia berpikir dan berkontribusi pada ruang sosial budaya. Bahasa Arab memberi ruang yang kaya untuk membedakan antara gaya, tujuan, bentuk, dan fungsi kreatif.

Melalui kajian istilah-istilah ini, kita melihat bahwa Bahasa Arab memiliki "arsitektur semantik" yang cermat dalam memberi nama kepada berbagai bentuk ekspresi intelektual dan artistik. Nama-nama ini bukan label pasif, tetapi indikator cara berpikir, tujuan kultural, dan fungsi sosial dari sang pembentuk teks.

اللغةُ ليستْ ناقلَ معاني فحسبْ، بل هي بُنيةُ فِكرٍ وثقافةٍ تُؤسِّسُ لِفهمِ الإنسانِ للعالمِ.

 Bahasa bukan sekadar pembawa makna, ia adalah struktur pemikiran dan budaya yang membentuk cara kita memahami dunia.

Marajik
Ma'ajim Al-Ma'ani. Hisab Muassasah Qatar. Musthalahat

Senin, 29 Desember 2025

Menyapa PP. Banyuanyar "Sastra Arab sebagai Warisan yang Mengilhami Dunia"


Halimi Zuhdy

Menyapa Pondok Pesantren Banyuanyar selalu menghadirkan kesan yang sama, teduh, hidup, dan penuh semangat keilmuan. Kali ini, sapaan itu terbingkai dalam peringatan Hari Bahasa Arab Sedunia, yang diselenggarakan di Markaz Bahasa Arab Putri Pondok Pesantren Banyuanyar, dengan tema besar: Al-Adab al-‘Arabiyyah: Mīrāts Yulhim al-‘Ālam, Sastra Arab sebagai Warisan yang Mengilhami Dunia.
Acara ini dihadiri oleh para santri putri yang dengan antusias membincang sastra Arab, bukan sekadar sebagai teks klasik, tetapi sebagai denyut peradaban yang membentuk cara berpikir dunia. Di samping saya sebagai moderator oleh Dr. Muhsin Muis , menghadirkan suasana ilmiah yang cair, dialogis, dan menggugah.

Yang paling mengesankan, diskusi berlangsung sangat hidup. Pertanyaan-pertanyaan peserta menunjukkan bahwa bahasa Arab di pesantren ini tidak dipelajari sebagai hafalan, melainkan sebagai bahasa makna, bahasa rasa, dan bahasa peradaban. Dari puisi Jahiliyah, prosa klasik, hingga pengaruh sastra Arab terhadap filsafat, ilmu pengetahuan, dan sastra dunia, semuanya dibincang dengan semangat ingin tahu yang jujur dan cerdas.

Kegiatan ini terasa istimewa, bukan hanya karena temanya, tetapi juga karena ia menjadi pertemuan keempat atau mungkin kelim saya di pesantren ini. Setiap kunjungan selalu menghadirkan energi yang sama: kesungguhan dalam menjaga bahasa Arab sebagai ruh keilmuan Islam.

Pondok Pesantren Banyuanyar bukanlah pesantren yang lahir kemarin sore. Ia berdiri sejak sekitar 1787 M, dirintis oleh Maulana Raden KH. Itsbat bin Ishaq, bermula dari sebuah musholla kecil di tanah Madura yang gersang. Dari tempat sederhana itulah, sejarah besar dimulai. Nama “Banyuanyar” lahir dari penemuan sumber mata air jernih yang hingga kini masih mengalir dan dimanfaatkan. Namun lebih dari itu, “Air Baru” adalah simbol pembaruan, ilmu yang menghidupkan, tradisi yang menyegarkan, dan iman yang terus mengalir lintas generasi.

Warisan KH. Itsbat bukan hanya bangunan, melainkan amanah peradaban, membangun pesantren yang kokoh dalam nilai, namun tanggap terhadap zaman. Amanah ini diteruskan oleh generasi penerus mulai dari Raden KH. Abd. Hamid, RKH. Abdul Majid, RKH. Baidhawi, RKH. Abdul Hamid Bakir, RKH. Muhammad Syamsul Arifin dan dilanjutkan oleh KH. Hasbullah..

Bahasa Arab sebagai Nafas Pesantren
Komitmen Banyuanyar terhadap bahasa Arab bukan slogan kosong. Ia diwujudkan secara nyata melalui pendirian STIBA Darul Ulum Banyuanyar pada tahun 2016, yang kemudian berkembang menjadi STAI Darul Ulum Banyuanyar (STAI DUBA). Bahasa Arab ditempatkan bukan hanya sebagai alat memahami teks, tetapi sebagai jalan membangun adab, nalar, dan kepekaan intelektual. Sekarnag menjadi IDB (institut Darul Ulum)

Slogan pesantren ini terasa relevan hingga kini “Berpijak pada ilmu yang bermanfaat dan mendekatkan diri kepada Allah.” Di sinilah bahasa Arab menemukan maknanya bukan sekadar struktur dan gramatika, melainkan sarana tazkiyah, peradaban, dan pengabdian.

Menyapa PP. Banyuanyar adalah menyapa air ilmu yang tak pernah berhenti mengalir. Dari Madura, ia menyapa dunia melalui bahasa Arab, sastra, dan adab yang terus mengilhami zaman.

Pamekasan, 26 Des 2025

Minggu, 19 Oktober 2025

Menulis Sastra (Puisi): Dari "Syi‘ir", "Syu‘ūr", hingga "Syiar"


Halimi Zuhdy

Bagi pemula, langkah pertama dalam menulis karya sastra bukanlah soal teknik, struktur, atau teori. Yang paling mudah justru "rasa". Menulis dimulai dari rasa, perasaan yang hadir begitu saja, bahkan tanpa harus mencari ide yang rumit.

Menariknya, dalam tradisi Arab, puisi disebut dengan istilah "الشِّعْر (asy-syi‘r)". Kata ini ternyata memiliki akar yang sama dengan beberapa istilah lain yang sangat dekat dengan pengalaman batin manusia: "شُعُور (asy-syu‘ūr)" yang berarti rasa atau perasaan, dan juga "شَعْر (asy-sya‘r)" yang berarti rambut atau bulu.
Puisi dalam bahasa Arab bukan hanya susunan kata indah. Ia lahir dari pengalaman batin yang diolah, dipadatkan, lalu diungkapkan. Karena itu, syi‘ir selalu berhubungan dengan syu‘ūr, rasa yang menjadi sumber kehidupan puisi. Tanpa rasa, syi‘ir hanyalah rangkaian kata kosong.

Kata "syu‘ūr (الشُعور)" dalam bahasa Arab berarti kesadaran rasa. Inilah dasar dari seluruh pengalaman estetis. Menulis puisi berarti melatih kepekaan, menyelami denyut rasa yang kadang samar. Seorang pemula tidak perlu cemas kekurangan ide, cukup tuliskan apa yang dirasa: gelisah, rindu, bahagia, hampa, cinta, atau doa.

Mengapa akar kata puisi berkaitan dengan "rambut" atau "bulu" (الشَعر)? Rambut adalah bagian tubuh yang sangat sensitif. Sedikit sentuhan angin saja terasa di ujung helai. Begitulah perasaan seorang penyair: hal-hal kecil, yang mungkin luput dari pandangan orang kebanyakan, bisa mengguncang jiwanya. Rambut menjadi simbol betapa seorang penyair harus peka terhadap isyarat sekecil apa pun dari kehidupan.

Dari syi‘ir dan syu‘ūr, lahir pula keterhubungan dengan "syi‘ār (الشِعار)" (yang berarti tanda, semboyan, atau seruan). Puisi pada akhirnya bukan hanya curahan rasa pribadi, melainkan bisa menjadi "syiar"—sebuah pesan yang dibawa keluar, disampaikan kepada orang lain, bahkan bisa menjadi suara zamannya.
Dengan demikian, menulis puisi sesungguhnya sebuah perjalanan: dimulai dari "syu‘ūr" (rasa), diolah menjadi "syi‘ir" (puisi), dengan kepekaan seperti "sya‘r" (rambut/bulu), dan akhirnya bisa berfungsi sebagai "syiar" (pesan, semboyan, atau seruan).

Menulis syi'ir Arab (puisi Arab), sebenarnya tidaklah sulit, bisa terjawab dalam buku di atas "Seni Menulis Puisi Arab, فن كتابة الشعر العربي "

***
Buku Dapat dipesan di: 
Mas Hasan WA 0813-5980-3848

Minggu, 28 September 2025

Sirah dalam Syair: Jejak Nabi dalam Madih Nabawi


Halimi Zuhdy

Madih Nabawi, puisi yang memuji Rasulullah SAW, bukan sekadar karya sastra, tetapi sebuah perjalanan cinta. Ia lahir sejak detik pertama kelahiran sang Nabi, ketika kakeknya, Abdul Muthalib, menatap cucu bercahaya lalu bersyair:

وأنت لما ولدت أشرقت الأرض وضاءت بنورك الأفق
Saat engkau lahir, bumi pun bercahaya, dan cakrawala bersinar oleh nurmu.
Dari bait sederhana itu, lahirlah tradisi panjang: puisi yang bukan hanya bercerita, tetapi mengabadikan kerinduan.

Kasidah-kasidah madah (pujian) pada Rasulullah tidak pernah usai. Sebelum terutusnya menjadi seorang Nabi, pujian-pujian itu mengalir deras kepada Abu al-Qasim. Akhlaqnya yang begitu agung menjadi magnet bagi penyair-penyair Arab untuk dinarasikan dalam lontar-lontar mulia. Misalnya, Waraqah bin Naufal  membacakan puisinya di hadapan Sayyidah Khadijah Al-Kubra, tentang akhlak Nabi Muhammad yang akan diutus. Abdullah bin Rawahah bin Tsa’labah al-Anshari bin al-Umr al-Qais (W 8 H) termasuk tiga penyair hebat yang dengan gigih menghadang serangan-serangan orang musyrik dengan kasidah-kasidah indahnya, serta pujian-pujian indah tentang pribadi Rasulullah.

Al-A’sya Maimun bin Qais (W 8 H), yang dijuluki Al-A’sya (Rabun), salah satu penyair Jahiliyah Ashhabul Mu’allaqat. Juga memuji-muji Rasulullah sangat indah, walau hidayat belum menyertai kematiannya. Nabiuun yara mala tarauna wa dzukruhu aghara la’amri fi al-biladi wa anjada. Abdullah bin al-Zab’ary (W 15 H), penentang keras Islam dan Nabi Muhammad, sebelum memeluk Islam, setelah mengenal lebih jauh Islam dan Nabi Muhammad, kasidah-kasidah Indah mengalir mengitu lembut tentang seorang Muhammad, Rasulullah. Abbas bin Midras (w 18 H), masuk Islam setelah bermimpi Rasulullah, Ketika bangun dari tidurnya, membakar semua patung-patungnya. Pujian tentang Nabi ukir sangat indah, Inna al-Ilah bana ‘alaika mahammadan.

Ratusan penyair dari berbagai masa, dari sebelum Hijrah sampai ribuan tahun setelahnya (tahun 1430 H) mereka menggambarkan keagungan Nabi Muhammad, akhlaknya yang sangat agung, seperti Penyair India; Kamala Saraya (1430 H). Walid al-‘Adhami (1425), Abdullah al-Barduni (1420 H), Nizar Qabbani (1419 H), Muhammad Amin al-Quthbi (1404 H)

Para peneliti berbeda pendapat: ada yang meyakini madih nabawi muncul sejak era Nabi, dibawa oleh suara Ḥassān ibn Thābit, Kʿab ibn Mālik, dan Kʿab ibn Zuhayr—penyair yang syairnya “Bānat Suʿād” diabadikan Nabi dengan hadiah burdah suci. Namun ada juga yang menilai bahwa madih nabawi sebagai genre baru justru menguat di abad ke-7 H melalui al-Būṣīrī dengan al-Burdah-nya yang melegenda.

Apapun pendapatnya, satu hal pasti: madih nabawi selalu menemukan momentumnya, baik di Timur maupun di Barat Islam. Dari Mesir hingga Maghrib, dari Syam hingga Andalusia, setiap penyair mewarisi satu hal yang sama: kerinduan kepada Rasulullah.

Sumber inspirasi madih nabawi tak pernah lepas dari Al-Qur’an dan sunnah, lalu diperkuat oleh literatur sirah. Nama-nama besar seperti Ibn Hishām, Ibn Isḥāq, al-Būṭī, al-Ghazālī, hingga al-Nadwī menjadi referensi utama. Puisi mereka bukan puisi kosong; ia berakar dari teks suci, dari sejarah, lalu mekar menjadi bunga-bunga estetika.

Bayangkan bagaimana gema “Ṭalaʿa al-badru ʿalaynā” masih kita nyanyikan hingga hari ini sebuah bukti bahwa madih nabawi bukan sekadar teks, tapi pengalaman spiritual kolektif umat. Di tangan para sufi, madih nabawi bahkan menjelma doa, dzikir, dan lantunan rindu.

Madih nabawi adalah tafsir rasa dari sirah nabawiyah. Jika kitab sirah memberi kita peristiwa, puisi memberi kita ruh peristiwa itu. Ia membuat kita bukan hanya tahu, tetapi juga merasa.

Maka, setiap bait madih nabawi sejatinya adalah ziarah: ziarah ruhani menuju sosok yang menjadi teladan sepanjang zaman Muhammad SAW.

***
Ket Gambar: Manuskrip langka ʿUyūn al-Athar karya Ibnu Sayyid al-Nās (w. 734 H) tersimpan di Perpustakaan Alexandria. Naskah ini pernah dimiliki Imam al-Buhūtī (w. 1051 H), lengkap dengan catatan tangan beliau, dan kini terjaga dengan baik setelah direstorasi. Di web tawaseen. com. Dr. Muhammad Sulaiman

Satu Bait Puisi yang dianggap setara dengan Satu Kitab



Dalam khazanah sastra Arab klasik, banyak puisi tidak hanya hadir sebagai keindahan bahasa, tetapi juga sebagai cermin kehidupan dan gudang hikmah. Salah satu penyair Abbasiyah yang meninggalkan jejak berharga adalah Yusuf bin Abdul Quddus. Ia menulis sebuah qashidah yang sarat dengan nasihat, penuh dengan pelajaran moral, dan memiliki kekuatan makna yang tetap relevan hingga hari ini. Setiap bait dalam qashidahnya seolah menyamai satu kitab nasihat, kaya akan petunjuk dan pengingat tentang tabiat manusia dan arti kehati-hatian dalam pergaulan.
كل بيت فيه يعدل كتابا من النصائح والحكم، لكن لم يشتهر من هذه القصيدة غير بيت واحد أو بيتين

Namun, sebagaimana sering terjadi dalam karya-karya klasik, hanya sebagian kecil baitnya yang benar-benar populer di kalangan pembaca. Dari qashidah panjang itu, ada satu hingga dua bait yang terus diingat dan dikutip lintas zaman. Bait-bait inilah yang memuat pesan sederhana tetapi mendalam

"jangan terkecoh dengan manisnya kata-kata, karena di balik tutur bisa tersembunyi tipu daya, dan bahwa nasihat yang tulus adalah harta paling berharga"

يعطيك من طرف اللسان حلاوة
ويروغ منك كمـا يـروغ الثّعلـب

فلقد نصحتك إن قبلت نصيحتي
فالنصح أغلى ما يباع ويوهـب

Ketika Buku Enggan Dipinjamkan: Syair-Syair Pedih Para Pecinta Kitab


Halimi Zuhdy

Urusan pinjam meminjam memang tidak mudah, "sering keselnya dari bahagianya pak". Kata mas Qadir. "Apalagi barang yang dipinjam tidak dijaga dengan baik, bahkan kembali dalam keadaan rusak". Sambungnya, sambil tertawa Wkwkw. "Gak juga mas, wong banyak yang mencari calon peminjam, meminjam uang" sangkal Dedi, juga ketawa.wkwkwkw. 
Ada satu kisah klasik dalam dunia literasi Islam yang sering kita jumpai di pinggir manuskrip kuno. Ia bukan sekadar catatan, melainkan jeritan hati para pecinta buku. Mereka begitu mencintai kitab-kitabnya hingga keberatan bila ada yang datang untuk meminjam. Maka lahirlah syair-syair, doa-doa, bahkan sumpah yang dituangkan dalam baris-baris indah, tetapi getir.

Beberapa dialog menggunakan puisi atau syair tentang kegetiran dalam peminjaman buku, penulis kutip dari tulisan Dr. Muhammad Nuri  al Mausawi dalam "Tahqiq al-Makhtut", yang beliau kutip dari sebuah manuskrip "at-Ta‘rīfāt" karya al-Jurjānī (w. 816 H), tersimpan syair bernada getir ini:

أَلا يا مُستعيرَ الكتْبِ دعْني
 فإنّ إعارتي للكتْب عارُ
ومعشوقي من الدنيا كتابٌ
 فهل أبصرتَ معشوقاً يعارُ؟

Wahai pencari pinjaman buku, tinggalkanlah aku
Meminjamkan buku bagiku adalah aib
Kekasihku di dunia ini hanyalah buku
Pernahkah engkau melihat ada kekasih yang dipinjamkan?

Namun, ada juga yang menjawab dengan nada seimbang, mengingatkan bahwa kikir terhadap ilmu pun tercela:

فَلا تمنعْ كتابًا مستعيرًا
 فإنّ البخلَ للإنسانِ عارُ
أَمَا تسمعْ حديثًا من رُواةٍ
 جزاءُ البخلِ عند اللهِ نارُ

Janganlah engkau menolak peminjam kitab,
karena kikir adalah aib manusia.
Tidakkah engkau mendengar dari para perawi,
bahwa balasan bakhil di sisi Allah adalah api neraka?

Ada pula bait yang lebih keras, ditemukan dalam syair lain, hingga mengandung sumpah:

مَن استعارَ كتابي ثمّ أفسدَهُ
اللهُ عذّبَه في النّارِ ألوانا
إنّي حلفتُ يمينًا غيرَ كاذبةٍ
أنْ لَا أُعيرَ كتابي قطُّ إنسانا

Barangsiapa meminjam bukuku lalu merusaknya,
maka Allah akan menyiksanya dengan api neraka berlapis.
Aku telah bersumpah dengan sumpah yang tidak dusta,
bahwa aku takkan pernah meminjamkan bukuku kepada siapa pun.

Bahkan, al-Ṣafadī meriwayatkan tentang Abū ʿAbdillāh al-Bustī (w. 491 H) yang terkenal begitu ketat menjaga koleksi kitabnya. Ia menulis sumpah tegas di halaman bukunya:

إِنِّي حَلَفت يَمِينا غير كَاذِبَة
أَن لَا أعير كتابي الدَّهْر إنْسَانا
إلَّا برهن وإيمان مغلطة
 كَيْلا يضيع كتابي أَيْنَمَا كَانَا

Aku bersumpah dengan sumpah yang benar,
tidak akan kupinjamkan bukuku sepanjang hidup kepada siapa pun.
Kecuali dengan jaminan kuat dan sumpah yang mengikat,
agar bukuku tidak hilang di mana pun ia berada

Syair-syair di atas bukan sekadar keluhan pribadi, melainkan cermin betapa besar cinta para ulama terhadap ilmu. Mereka melihat buku bukan sekadar benda, melainkan ma‘shūq kekasih sejati. Maka wajar bila mereka merasa kehilangan besar saat bukunya dipinjam lalu tak kembali.

Mungkin di zaman digital, kita tak lagi khawatir buku hilang, karena salinan mudah diperoleh. Tapi pesan klasik para pecinta buku tetap relevan: cintailah ilmu sebagaimana para ulama mencintai kitab-kitab mereka, dengan penuh penjagaan, penghormatan, dan amanah.

Jumat, 18 Juli 2025

Dalam Bahasa Arab, satu huruf bisa menjadi sebuah kalimat perintah?


Di antara keindahannya, ada sisi yang jarang kita dengar: dua puluh fi‘l amr (kata kerja perintah) yang hanya terdiri dari satu huruf saja. Iya, satu huruf. Tapi maknanya luas dan dalam.

Dan yang menarik, hampir semuanya dibaca dengan harakat kasrah, kecuali satu: huruf "رَ" dari kata "رأى" (melihat). Ia dibaca dengan fathah, seakan mengisyaratkan bahwa melihat itu membuka, menyibak, dan menyadarkan. 😁
Semuanya ditulis oleh Ahmad Taimur Pasha (wafat 1348 H) dalam kitab pilihan beliau, dan juga tercantum dalam kitab “Lijam al-Aqlam” karya Abu Turab az-Zahiri.

Berikut dua puluh fi‘l amr yang hanya satu huruf:

1. إِ – dari kata "وأى": artinya berjanjilah
2. تِ – dari "أتى": artinya datanglah
3. ثِ – dari "وثى": maksudnya melaporkan kepada penguasa
4. جِ – dari "وجى": artinya potonglah
5. حِ – dari "وحى": artinya sampaikanlah wahyu atau isyarat
6. خِ – dari "وخى": artinya berniat atau menujulah
7. دِ – dari "ودى": artinya bayarlah diyat
8. رَ – dari "رأى": lihatlah
9. رَ – dari "ورى": artinya rusakkan dari dalam
10. سِ – dari "وسى": artinya cukurlah
11. شِ – dari "وشى": artinya hias atau ukirlah (seperti pada kain)
12. صِ – dari "وصى": artinya sambungkanlah
13. عِ – dari "وعى": artinya ingat dan kumpulkan
14. فِ – dari "وفى": artinya tepati janji
15. قِ – dari "وقى": artinya lindungilah
16. كِ – dari "وكى": artinya ikatlah atau tutuplah
17. لِ – dari "ولى": artinya pimpinlah
18. مِ – dari "ومى": artinya tunjuklah dengan isyarat
19. نِ – dari "ونى": artinya istirahatlah atau lelahkan
20. هِ – dari "وهى": artinya melemahkan atau melemas

Apa pedannya😁 di zaman yang sibuk dan penuh bising ini, mungkin kita bisa belajar dari bahasa Arab, bahwa kekuatan tidak selalu datang dari panjangnya kata, tapi dari ketepatan dan kedalaman maknanya. Sedikit, tapi bermakna. Satu huruf, tapi membuka banyak hal. Toyyib.

Jumat, 27 Juni 2025

Apakah AI bisa menerjemahkan karya sastra?



Jawabannya, mungkin saja. Karena setiap karya tulis bisa diterjemahkan oleh AI, tapi untuk karya sastra terkadang ia bisa keliru dalam menangkap rasa.  AI bisa mengenali kosakata puitis dan struktur kalimat kompleks, tetapi sering kali gagal menangkap kedalaman rasa, ironi, sindiran halus, atau perasaan ambigu yang disengaja oleh penulis sastra. Ia memang tidak punya perasaan seperti manusia🤩. Kadang dimarah-marahi, ia tidak membalas, ia sabar banget. 
Setiap penulis punya gaya khas pilihan kata, ritme, atau metafora yang tidak selalu punya padanan langsung dalam bahasa lain. AI mungkin akan meratakan keunikan ini, menjadikannya terlalu netral atau kaku. Karena AI adalah mesin, yang sudah sangat rapi dan terstruktur dalam sistemnya. Kadang ia, tidak bisa meniru gaya setiap orang, kecuali mungkin diperintah untuk meniru karya seseorang, seperti  gaya Ahmed Hamed Al-Gohary, sastrawan Arab yang ia lahir Djibouti. Bisa, tapi tetap saja kaku. 

Dan, karya sastra sering kali mengandung referensi budaya, sejarah, atau lokalitas yang butuh pemahaman kontekstual yang lebih mendalam. AI bisa keliru menangkap makna jika hanya bergantung pada data linguistik sajo.he. 

Proposal di atas yang berjudul "Istirati Al-ta'lim fi mu'alajati tahaddiyat ta'allum al-tarjamah al-adabiyah bistikhdami al-dzaka' al-isthina'i fi jami'ati Maulana Malik Ibrahim Al-Islamiyah Al-Hukumiyah Malang" ini akan mengulas tentang   problematika AI dalam menerjemahkan karya sastra Arab. 
 
AI adalah alat bantu atau mesin bantu atau khadim, bukan pengganti dalam menerjemahkan karya sastra. Untuk mempertahankan rasa, jiwa, dan keindahan bahasa, penerjemah manusia tetap tak tergantikan. Maka, yang mengambil prodi terjemah jangan pernah khawatir akan tergantikan oleh AI, walau AI bisa membantu terjemahan awal (draft kasar), juga bisa membantu mencari padanan kata, membantu mengecek konsistensi istilah atau struktur kalimat, menjadi mitra awal dalam proses kreatif, tetapi hasil akhir tetap perlu sentuhan manusia. Rasa manusia tidak akan tergantikan🤩

Gairah Menuntut Ilmu dan Sastra


Ibnu Ma’sum Al-Madani (wafat 1120 H) menulis  dalam kitabnya Silāfat Al-‘Asr fī Maḥāsin Al-Syu’arā’ tentang kecintaannya kepada ilmu dan upayanya mencari ilmu pengetahuan dan sastra. Cuplikan dalam gambar, beliau menuliskan. 
“Sejak aku mulai menggunakan mata hatiku untuk melihat luasnya alam, dan Allah Sang Maha Pemurah memberikan kewajiban belajar padaku (taklif), aku tak pernah berhenti, tekadku selalu menyala bagaikan bintang yang menembus gelap, demi mencapai kebaikan dan keutamaan. Langkahku teguh dan tajam, seperti pedang yang siap memangkas segala rintangan demi meraih kejayaan. Sungguh, ilmu adalah kemuliaan dan kebanggaan, dan apabila seseorang memilihnya, dia akan menemukan harta yang tak ternilai.
Aku gemar mencari makna-makna yang masih perawan, gagasan-gagasan yang masih murni, pada pagi dan petang, dan hatiku selalu bergelora demi menemukan keindahan dan hikmah di balik segala sesuatu.”

Sebagaimana yang diceritakan juga oleh Dr. Muhammad Nuri, bahwa Ibnu Maksum juga melukis kata-katanya "Aku gemar mencari makna-makna yang indah, menyelami syair dan tulisan, dan berhias diri dengan adab, sebagaimana mata dihiasi bulu mata. Dari khazanah sastra, aku memilih yang paling bernilai, yang kuno dan yang baru, dan dari keindahan kalimat, aku petik yang paling unik dan menawan. Dari taman ilmu, aku petik bunga dan buahnya, dan aku perhatikan kisah dan riwayat, terutama dari para ulama dan sastrawan, yang syair dan prosanya masih bergema". 

"Sungguh sering aku bersusah payah mencatat kalimat dan kisah yang langka, sesuai pepatah: ‘Segala sesuatu yang baru punya kenikmatannya.’ Hingga aku mengumpulkan tulisan-tulisan yang halus dan lembut, seakan embusan angin pun iri, dan kalung perbedaannya membuat gadis-gadis tercengang.”

Selasa, 26 November 2024

Puisi Unik, Masa Ottoman dan Mamluk



Halimi Zuhdy

Pertama kali melihat gambar lingkaran di atas, saya kira adalah jimat sejenis rajah. Saya perhatikan huruf perhuruf, kata dan kalimat, ternyata bukan. Ia adalah bait-bait indah puisi Arab masa lalu.  Ia contoh seni sastra dalam bentuk شعر الدائرة (syi'r al-dairah) atau puisi lingkaran, yang populer pada masa Dinasti Mamluk dan Ottoman (ustmaniyah). Aha, ini penting untuk dicari contoh lainnya. 
Bentuk puisi ini adalah bagian dari inovasi sastra (ibda' al-adab al-araby) di era tersebut, namun seiring waktu mulai ditinggalkan. Sayangnya, puisi-puisi seperti di atas, sering menghilang dan bahkan lenyap, bila tidak ada generasi setelahnya yang melanjutkan, baik puisi tentang politik, sosial, dan lainnya, dan juga kurangnya naqit yang peduli tentang karya seperti di atas.

Setelah dilacak di beberapa referensi saya menemukan keterangan cukup asyik. Bahwa puisi ini dimulai dari pusat lingkaran dengan huruf 'ع' dan berbunyi

عشقتكَ نورا من مقامك يسطع * وعيني غدت من فرط عشقك تدمع

Setiap baris puisi ini berakhir dengan huruf yang menjadi awal dari baris berikutnya. Misalnya, kata تدمع (tadamma') pada akhir baris pertama, dibalik menjadi عمدت (ammadat) yang menjadi awal baris kedua, dan begitu seterusnya. Teknik ini menciptakan pola yang saling terhubung, menunjukkan keindahan dan kerumitan seni puisi pada masa tersebut. Tidak hanya menekankan kesahisan kaidah arudhiyahnya, tapi juga pada setiap titik-titik lingkarannya. Asyik banget. 

Kalau ditilik lebih dalam puisi dan lingkaran dalam gambar tersebut, ada hubungannya yang sangat erat. Erat sekali, seperti dua kekasih yang sulit dilepas.wkwkwkw. Gambar lingkaran pada puisi di atas menunjukkan hubungan visual antara bentuk puisi dengan struktur kata-katanya. 

Uniknya, tampak ada konsep berulang dan tak terputus. Dan lingkaran melambangkan sesuatu yang berulang dan tak berujung, seperti aliran perasaan cinta dalam puisi ini. Setiap akhir baris puisi kembali ke awal baris berikutnya, mirip dengan bentuk lingkaran yang tidak memiliki titik akhir atau awal yang jelas. Ini menekankan sifat abadi dari cinta yang diungkapkan oleh penyair. Amazing.wkwwk. 

Juga, yang menarik adalah simetri Puisi dan struktur kata. Dalam puisi ini menggunakan teknik palindromik (mutanawib), dalam Al-Qur'an juga kita menjumpai beberapa Ayat. Apa itu mutanawib? di mana kata di akhir baris bisa dibalik atau digunakan lagi untuk memulai baris berikutnya. Dalam gambar lingkaran, setiap segmen saling berhubungan dan mengarah kembali ke pusat (huruf 'ع' di tengah), mencerminkan simetri dan keterkaitan kata dalam puisi tersebut. Aha. 

Coba perhatikan lebih dalam lagi, kita akan menemukan pusat sebagai simbol cinta (romzu al-hubb). Apa itu? Huruf Ain (ع). Huruf 'ع' di tengah lingkaran, yang merupakan awal dari kata عشق (cinta), menjadi titik pusat dari semua baris puisi. Ini melambangkan cinta sebagai pusat atau inti dari keseluruhan puisi, di mana segala sesuatu berpusat pada satu emosi yang kuat. Dahsyatiyah, kata ada sastra Arab 😁

Apakah masih ada lagi keunikannya?, ada dong. Yaitu bentuk estetika visual dan makna puitis. Penggunaan bentuk lingkaran (dairah) juga menambah nilai estetika pada puisi ini, menjadikannya tidak hanya indah secara puitis tetapi juga secara visual. Setiap baris puisi melingkari pusat lingkaran, menciptakan pola artistik yang menggambarkan perasaan cinta yang mengelilingi dan merangkul.

Khalasahnya, ia bukan hanya sekedar gambar, sekedar lingkaran atau bukan hanya sekedar bentuk pemanis, tapi gambar lingkaran di atas adalah bagian integral dari makna puisi, di mana setiap baris saling berkaitan dalam satu aliran cinta yang tak terputus. Wow. Cinta🤩🥰. Serasa muda lagi. 

Malang, 10 November 2024

***
@sorotan

Sabtu, 09 November 2024

Syair Arab yang Semakin Menggeliat



Halimi Zuhdy

RMI PBNU keren. Mengadakan lomba yang jarang diminati, tapi sangat penting untuk disyiiarkan. Lomba menulis syair/Nadham Arab. Seni mengubah syair berbahasa Arab yang pernah populer di pesantren dengan pelajaran 'Arudl, tapi mulai redup. Tapi, kini difasilitasi lomba nadham/syakr Arab oleh RMI PBNU. Dan, Insyallah ke depan bait-bait syakr Arab akan menggeliat dan mungkin akan marak lagi. Tahun kemarin hadiahnya umroh bagi pemenang pertama. Tahun ini apa?, malam ini pengumumannya.he.
"Lomba Syair Berbahasa Arab diharapkan membangun kembali kekayaan intelektual dan sastra yang pernah luar biasa dan sekarang kurang diminati", kata Kyai Hodri Ariev. Lah, ini yang menjadi alasan "kurang diminati", maka agar banyak yang meminatinya, di antaranya adalah dengan dihargai, disyiarkan, dan dilombakan. 

Asyik banget, tadi siang dalam grand final, saya mendengarkan bait-bait syair Arab didendangkan oleh para santri dari berbagai pondok pesantren di Indonesia. Ini, bukan bait-bait karangan orang Arab, tapi karya santri Indonesia. Mereka tulis sendiri. Dan memilih salah satu bahar dalam gubahannya. Indah banget.  Ada yang merajut bait syair dengan bahar Rajaz, ada pula bahar Thawil, bahar Bashit dan banyak yang menggunakan Wafir. Wafir dan Rajaz menjadi pilihan Favorit. Entah kenapa. 

Dibandingkan dengan tahun kemarin, peserta tahun ini membeludak. Dan karyanya bagus-bagus. Kadang bingung memilihnya, tapi harus dipilih yang terbaik dari yang baik-baik. Penilaiannya, selain kaidah syair (Arudh, Qawafi, Nahwu, Sharraf), ada juga uslub, pilihan diksi (ikhtiyar kalimah), keindahan kata, dan lainnya. Temanya bebas. Dan, juga bagaimana menampilkannya, walau penilaian ini tidak dominan. 

Tahun ini, peserta grand final tidak diundang ke PBNU Jakarta, hanya lewat online, tidak seperti tahun sebelumnya, berjibaku dengan teks dan diskusi panjang di ruang perpustakaan PBNU, Kramat Raya. Lewat zoom. Terkadang suaranya terputus-putus, kadang tidak jelas, dan bahkan tiba-tiba hilang. Dan juga tidak tahu, apakah ada pembisiknya, tapi pasti ketahuan sih.he.

"Dengan kemampuan syair ini kita berharap mampu menghaluskan perasaan, mempertajam rasa, dan sekaligus sebagai motivasi agar santri tidak hanya mampu membaca kitab tetapi mampu memahami pernik-pernik dasar dan mendasar Bahasa Arab sebagai salah satu modal penting dalam memahami Al-Qur'an dan al-Hadits," kata Kyai Khodri. 

Selama ini, banyak lomba-lomba Syair Arab, tapi hanya taqdim atau qira'ah atau ilqa' Syair. Bukan menulis syair. Maka, lomba penulisan syair  Arab sangat jarang sekali di lombakan. Kalau di Timur Tengah, ada banyak. Ada Lomba Amir Syuara', dan ini lagi berlangsung. 

Semoga lomba syair Arab terus istiqamah, dan dapat memompa santri untuk terus berkarya.

***
Juri Musabaqah Syair/Nadham Arab 

***
Cc Hamzah Sahal

Kamis, 03 Oktober 2024

Menilik Tingkatan Cinta dalam Bahasa Arab



Halimi Zuhdy

"Emangnya cinta ada tingkatannya?." Ada lah!. Cinta itu rasa. Rasa itu adalah perasaan. Perasaan itu bermacam-macam. Seperti lidah merasakan makanan, maka ada makanan yang sedang, enak dan enak banget. He. 

Demikian juga dengan cinta. Cinta biasa, cinta biasa-biasa saja, dan cinta banget. Kalau ini, ngarang saja. Lah, dalam bahasa Arab, cinta itu ada 14 tingkatan, sebagaimana dalam gambar di atas, yaitu; الهوى (Al-Hawa), الصبوة (As-Sabwa), الشغف (Asy-Syaghaf), الوجد (Al-Wajd), الكلف (Al-Kalaf), العشق (Al-‘Isyq), النجوى (An-Najwa), الشوق (Asy-Syaq), الوصب (Al-Washb), الاستكانة (Al-Istikanah), الود (Al-Wudd), الخلة (Al-Khillah), الغرام (Al-Gharam), dan الهيام (Al-Hiyam).
Sedangkan penjelasa singkatnya, dari tingkatan di atas dimulai dari kata "al-hawa", seringkali kata ini kita terjemah dengan hawa nafsu, yang arti awalnya adalah keinginan, dan mempunyai beberapa makna; cinta, nafsu birahi, kecenderungan, kegemaran, khayalan dan keinginan yang datang tiba - tiba. Maka, (1) الهوى (Al-Hawa) adalah tingkat pertama dari cinta, yang berarti mulai menyukai seseorang.

Sedangkan tingkatan (2) adalah الصبوة (As-Sabwa), yaitu tahap di mana cinta menjadi lebih mendalam dan muncul rasa saling ketertarikan antara dua orang. Juga bisa diartikan dengan "hanin", kasih sayang. (3) yaitu الشغف (Asy-Syaghaf), cinta yang menyentuh hati terdalam, di mana perasaan cinta telah memasuki relung hati. Lah, ini semakin dalam, dibandingkan dengan al hawa dan al-subwah. Dan kata saghaf ini sering digunakan sebagai pengganti kata hubb. 

Berikutnya, adalah (4) الوجد (Al-Wajd), tahap ketika cinta telah begitu mendalam, dan pikiran terus dipenuhi oleh orang yang dicintai. Wow. Kalau sudah penuh, apakah masih ada tempat lainnya?😁. Ternyata, ada tapi agak sedikit membuat perih, apa? Yaitu (5). الكلف (Al-Kalaf) perasaan cinta yang kuat, hingga menyakitkan.

Sebenarnya, ada banyak kemiripan antara satu kata dengan kata lainnya, tapi namanya kata yang berbeda, maka pasti ada maksud yang berbeda. (6) العشق (Al-‘Isyq) tahap cinta yang intens, melibatkan pengorbanan besar dan kecintaan yang mendalam. Tidak hanya cinta berjalan indah, tapi dalam keindahan terkadang ada sandingan, tapi sandungan ini bukan halangan, tapi untuk lebih hati-hati menemukan cinta. Maka, ada (7) النجوى (An-Najwa), adalah cinta yang penuh dengan kerinduan dan kesedihan karena jarak atau perpisahan.

Seringkali "rindu" dianggap berbeda dengan "cinta", apakah emang berbeda?. Lah, kata ini (8) الشوق (Asy-Syaq) adalah tahap kerinduan dan perasaan ingin bertemu dengan orang yang dicintai. Ini, juga namanya cinta. Berikutnya, (9) الوصب (Al-Washb) cinta yang menimbulkan rasa sakit atau penderitaan, seolah-olah seperti penyakit. (10) الاستكانة (Al-Istikanah), adalah tahap di mana seseorang merasa tunduk dan patuh terhadap orang yang dicintai

Berikutnya; (11) الود (Al-Wudd) cinta yang lembut dan penuh kasih sayang, biasanya terjadi antara pasangan. Lah, ini ynag sering kita dengar dengan mawaddah, dalam samara (sakinah, mawaddah wa rahmah). (12) الخلة (Al-Khillah), tahap penyatuan cinta, di mana dua orang menjadi satu dan tidak terpisahkan. Khalil, cinta yang memenuhi celah, sampai penuh. Berikutnya adalah (13 ) الغرام (Al-Gharam), yaitu salah satu derajat cinta tertinggi, di mana cinta terus menerus dan tak terpisahkan. Dan cinta yang paling tinggi adalah (14) الهيام (Al-Hiyam), Derajat cinta tertinggi, yang mencapai tingkat kegilaan atau cinta tanpa batas. Tapi, yang jelas tidak benar-benar gila lo! 

Terus, dimana posisi kata "hubb"? Lanjut di youtube Lil Jamik

***
Marja' ; Bainunah

Malang, 03 Oktober 2024.

Selasa, 20 Agustus 2024

Ilmu Balaghah dan Bahasa Arab


Halimi Zuhdy

Ketika membaca kata "ra'du, petir" dalam bahasa Arab dan melafalkannya, serta  membayangkan bagaimana petir itu bergemuruh, menyambar, menghantam dan menggelegar.  Antara lidah dan tenggorokan, tersedot kedalam, dan membuat suara menghembus kuat keluar. Urutan suara petir menurut orang Arab. Dimulai dengan رعدت السماء (Langit menggelegar). Jika suaranya semakin keras, maka disebut أرعدت ودوت (bergemuruh dan berdentum). Ketika semakin kuat, suaranya menjadi قصفت وقعقعت (berderak dan berdetak). Pada akhirnya, ketika mencapai puncaknya, disebut جلجلت وهدهدت (bergemuruh dan bergetar).

Untuk mengkajinya butuh ilmu Balaghah, Maka belajar bahasa Arab tanpa mendalami ilmu balaghah ibarat menikmati taman yang indah namun tanpa memahami keindahan bunga-bunganya. 

Balaghah, yang merupakan ilmu tentang keindahan bahasa dan seni retorika, adalah kunci untuk menyelami lautan makna yang dalam dari bahasa Arab, terutama dalam memahami Al-Qur'an. Setiap kata dalam Al-Qur'an dipilih dengan keindahan yang sempurna, memiliki makna yang mendalam dan pesan yang kuat. Tanpa pemahaman balaghah, kita hanya akan meraba permukaan, kehilangan pesona dan kekuatan kata-kata yang telah dirangkai dengan keindahan dan ketelitian.

Bahasa Arab bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga sebuah seni yang kaya dengan metafora, analogi, dan keindahan struktur kalimat yang tiada tanding. Ilmu balaghah mengajarkan kita untuk memahami dan merasakan keindahan tersebut, sehingga kita tidak hanya membaca, tetapi juga menikmati setiap ayat dan kata yang diucapkan. Yuk tilik, dalam web halimizuhdy. com

Menguasai bahasa Arab tanpa ilmu balaghah bisa dibandingkan dengan memiliki kunci tetapi tidak tahu pintu mana yang harus dibuka. Sebaliknya, dengan memahami balaghah, kita membuka pintu menuju pemahaman yang lebih dalam, menghargai seni bahasa yang tersembunyi, dan menemukan hikmah yang terkandung di balik setiap lafaz. Bisa dilihat contoh-contohnya di IG, puisi_Arab

Inilah mengapa mempelajari bahasa Arab secara menyeluruh, dengan ilmu balaghah sebagai pemandunya, menjadi esensial untuk benar-benar menikmati dan merasakan keindahan bahasa Al-Qur'an. Wow, bisa sisimak di Youtube Lil Jamik
Asyiknya pembelajaran bahasa Arab, atau bahasa apa pun di dunia, seperti mempelajari budaya mereka, dan bagaimana kata-kata lahir dengan kebahagiaan dan kesusahan, dan bagaimana setiap kata itu punya sejarahnya sendiri. 

Insyallah, besok malam bersama Al-Wahyu

18 Agustus 2024

Minggu, 30 Juni 2024

“Qaddukal Mayyas” Bukan Shalawat!

Halimi Zuhdy

Ada yang bertanya tentang kebenaran shalawat "قدك المياس يا عمري", yang dipopulerkan oleh Sabah Fahri ini. Apakah lagu tersebut benar-benar sebuah shalawat atau sekedar nyanyian biasa?!. Lah, ini pentingnya belajar bahasa Arab, tidak semua yang berbau bahasa Arab itu shalawat, doa dan Ayat-Ayat al-Qur’an.
Akhir-akhir ini banyak sekali lagu-lagu bahasa Arab yang dicampur adukkan dengan lagu-lagu relegi dan shalawat. Bahkan lagu-lagu nyanyian tempat ibadah, juga dianggap lagu-lagu relegi umat Islam, asalkan berbahasa Arab, maka dianggap shalawat. Saya lebih mentahlil (analisis) sedikit tentang latar belakang lagu di atas (Qaddukal mayyas ya Umari”), sedangkan beberapa lagu yang viral lainnya, semoga ada waktu menuliskannya. 

Pertama, coba dicek link Youtube yang menuliskan tentang lagu ini; Shalawat Viral Qaddukal Mayyas (Penma Musik), sholawatan Qadduka Mayyas (17 Record), Lirik Sholawat Qodduka Mayyas (Sang Perindu) dan masih banyak sekali chenel Youtube, istagram, tiktok dan lainnya yang menuliskan Qaddukal Mayyas sebagai shalawat Nabi. 

Bahkan media seperti Kumparan, Teknozan, Surya, PanduanIslami, dan lainnya juga ikut-ikutan, seperti dalam kalimat, “Akhir-akhir ini, sholawat Qoddukal Mayyas sering digunakan sebagai backsound video di media sosial. Beberapa penyanyi pun berlomba-lomba membuat cover sholawat ini dan diunggah ke channel YouTube pribadi”. Terus apa salahnya, bila dianggap shalawat? 

Salahnya adalah ia bukan kalimat-kalimat pujian kepada Nabi, dan toh kalau pujian ia salah alamat. Pujian tuk kekasih/pacaran. Lirik lagu tidak mengandung unsur pujian atau penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Lirik lagu tersebut lebih fokus pada kecantikan dan pesona seorang wanita yang dicintai oleh sang penyanyi.

Lagu ini sering dinyanyikan dalam konser dan acara hiburan yang tidak pantas dikaitkan dengan konteks religi. Video-video di YouTube yang menampilkan lagu ini menunjukkan penampilan penyanyi yang membuka aurat dan tidak sesuai dengan norma agama.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa lagu "قدك المياس يا عمري" bukan sebuah shalawat dan tidak boleh disalahartikan sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Sebagai umat Islam, kita perlu berhati-hati dalam menyikapi berbagai informasi dan konten yang beredar, terutama yang berkaitan dengan hal-hal yang bersifat religius. Pastikan untuk selalu mencari informasi dari sumber yang terpercaya dan kredibel.

Toyyib; mari kita sedikit melirik beberapa kalimat yang ada dalam lagu tersebut;
قـدك الميــاس يـا عـمــــري
Tubuhmu yang ramping, wahai hidupku (bisa juga tubuhmu, atau pinggangmu yang indah gemulai) wahai kekasihku. 
لِغُـصـين الــبــان كــم يـُذري
Seperti dahan pohon willow yang melambai (goyangannya, gemulainya, seperti pohon kelor). Dan dalam bahasa Inggris diterjemahkan dengan “Your swaggering body oh my love, as lean as a moringa twig”. 

Dan seterusnya….

Dari awal sudah sangat tampak sekali bahwa ini bukan shalawat, tetapi rayuan dan ungkapan seorang laki-laki pada perempuan tentang tubuh gemulainya dan lainnya. maka, sangat tidak elok, kalau nyanyian di atas dinyanyikan diacara Dibaan, Shalawatan dan apalagi ditulis di berbagai chenel dengan Shalawat Quddakal Mayyas.

Maka, bila tidak tahu maknanya dan tidak jelas asal muasalnya, lebih aman baca shalatawat yang sudah masyhur😁

****
Lagunya seperti di link berikut.

Sabtu, 18 Mei 2024

Pembelajaran Sastra Arab bagi Non Arab

Halimi Zuhdy

Konferensi ADIA (Asosiasi Dosen Ilmu Adab) 2024 di Aceh mengundang beberapa pemateri dari luar negeri, di antarnya adalah Prof. Dr. Mustofa dari Mesir. Kebetulan, Prof. Mustafa pernah juga di undang seminar Sastra Arab di UIN Malang, dan pernah satu forum sastra di Universitas Syarif Ali Brunai Darussalam. Beliau setiap hari menulis di WAG Muhibbul Lughah Al-Arabiyah tentang Baitul Maqdis, menarik sekali. 

Dalam konferensi ini beliau menyampaikan tentang "Tadris al-Adab al-Arabi lin natiqina bighair al-Arab, muqarabah intiqaiyyah takamiliyaj" yaitu tentang pembelajaran Sastra Arab bagi non Arab dengan pendekatan eklektif integratif. 

Kata beliau, sastra secara umum merupakan nilai kemanusiaan, peradaban, dan pengetahuan yang sangat tinggi. Kekayaan sastra tercermin dalam jiwa penulis, harapan, dan minatnya. Sastra adalah buku, di mana ide, visi, dan mimpi penulis terwujud dalam barisannya. 

Menariknya, sastra adalah mimbar di mana seruan pembaruan dan reformasi dikumandangkan. Sastra adalah pemandu yang membawa penerima ke apa yang bermanfaat bagi mereka. Sastra adalah obor yang menerangi jalan kebebasan dan keadilan bagi manusia. Sastra adalah panggung di mana seni hiburan yang murni dan relaksasi yang bertujuan dipamerkan. 

Sastra adalah sayap kedua yang membantu sayap material untuk membawa manusia terbang di atmosfer kehidupan ini. Manusia memiliki tubuh dan jiwa, dan fokus pada aspek material saja hampir mengubah manusia menjadi roda gigi kaku dalam mesin bisu. Sedangkan fokus pada aspek spiritual saja akan menyebabkan hilangnya peradaban. Demikian kata Prof Mistafa, dalam pengantar sebelum masuk pada pendekatan eklektik. 

Terus, apa manfaat mempelajari bahasa Arab?, beberapa yang beliau sampaikan, saya simpulkan dari ppt dan juga orasi beliau. 

1. Mengembangkan kemampuan berbahasa Arab. Mempelajari sastra Arab membantu meningkatkan kemampuan membaca, menulis, dan berbicara bahasa Arab. Hal ini karena sastra Arab menggunakan bahasa yang kaya dan beragam, serta struktur kalimat yang kompleks.

2. Meningkatkan gaya bahasa, dengan mempelajari tingkat bahasa yang tinggi yang ditandai dengan kefasihan dan kreativitas, para pelajar dapat memenuhi syarat untuk berkreasi di masa depan.

3. Mendalami budaya Arab, sastra adalah wadah budaya. Abdullah bin Abbas mendefinisikan puisi sebagai diwan orang Arab, yaitu catatan kehidupan mereka dengan segala dimensinya, politik, dan sosial.

4. Memperkuat hubungan budaya, sastra Arab dapat memperkuat hubungan budaya antara orang Arab dan bangsa lain yang berbicara bahasa non-Arab, baik Muslim maupun non-Muslim.

Sedangkan tantangan dalam Mengajarkan Sastra Arab, juga tidak sedikit, di antaranya, kata beliau; 

1. Tidak adanya kurikulum, atau kurikulum yang kurang tepat, scara umum, kurikulum pengajaran bahasa Arab di banyak institusi tidak dirancang khusus untuk pengajaran sastra Arab. Hal ini menyebabkan kurangnya materi yang relevan dan menarik bagi pelajar non-Arab.

2. Penggunaan materi yang tidak tepat, dalam beberapa institusi, terdapat perbedaan besar antara pengajaran sastra Arab untuk orang Arab dan non-Arab. Bahkan, seringkali menggunakan materi yang sama tanpa membedakan.

3. Melibatkan pelajar Non-Arab dalam Isu yang tidak relevan, terkadang, pelajar non-Arab dipaksa untuk mempelajari masalah sejarah, konspirasi politik, dan perselisihan agama dan sektarian yang tidak relevan dengan mereka.

4. Penggunaan pendekatan lama, pengajaran sastra Arab sering kali didasarkan pada pendekatan sejarah dan geografis yang sudah usang, tanpa memperhatikan kritik yang banyak diajukan terhadapnya.

Lanjut #2 PembelajaranSastraArab Prof Musthafa

Aceh, 18 Mei 2024

Selasa, 14 Mei 2024

Menilik Polemik Musik dan Syi’ir Arab


#3 PolemikMusikSyiir

Halimi Zuhdy

Terkait dengan polemik musik dan syi'ir yang masih terus bergulir, penulis tidak akan masuk ke subtansi pembahasan dan kemudian masuk pada ranah hukumnya, hanya melihat sepintas, mengapa terjadi perdebatan tersebut?, karena penulis perhatikan dari berbagai tanggapan,perbedaan, dan perdebatan adalah pada berbedaan definisi musik dan syi’ir itu sendiri. Andai, definisi musik dan syi'ir Arab sudah dibatasi dan disepakati oleh mereka, maka akan menemukan titik temu yang jelas. Kalau terkait hukum musik mulai dulu sudah jelas, terdapat perbedaan padangan ulama,; haram, mubah, dan halal. Itu pun masih diperselisihkan, kapan menjadi halal, kapan menjadi haram, demikian juga dengan mubah.? 
Tulisan ini, penulis tertarik untuk memulainya dengan sebuah hadis tentang syi'ir, riwayat Muslim nomor 4193

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ الثَّقَفِيُّ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنْ ابْنِ الْهَادِ عَنْ يُحَنِّسَ مَوْلَى مُصْعَبِ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ بَيْنَا نَحْنُ نَسِيرُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْعَرْجِ إِذْ عَرَضَ شَاعِرٌ يُنْشِدُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُذُوا الشَّيْطَانَ أَوْ أَمْسِكُوا الشَّيْطَانَ لَأَنْ يَمْتَلِئَ جَوْفُ رَجُلٍ قَيْحًا خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمْتَلِئَ شِعْرًا

Telah menceritakan kepada kami (Qutaibah bin Sa'is Ats Tsaqafi); Telah menceritakan kepada kami (Laits) dari (Ibnu Al Had) dari (Yuhannas) budak Mush'ab bin Az Zubair dari (Abu Sa'id Al Khudri) dia berkata; "Ketika kami sedang berjalan bersama-sama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di 'Arj, tiba-tiba datang seorang penyair bersenandung. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tangkap setan itu! Sesungguhnya perut orang yang dipenuhi muntah lebih baik daripada perut yang penuh dengan sya'ir (sajak)." Pengambilan hadis ini, terinspirasi dari status KH. Ma'ruf Khozin 

Lah, terkait dengan kata “syi’ir” pada hadis di atas, apa yang kita pikirkan?, kalau kita artikan syi'ir Arab (puisi) secara istilah dan itupun masih menurut pendapat salah satu penyair (ulama), yaitu syi’ir adalah suatu kalimat yang berirama dan bersajak, yang diungkapkan tentang suatu khayalan yang indah dan juga melukiskan sebuah kejadian. Atau dalam bahasa Arabnya;

الشعر هو الكلام الموزون المقفى المعبر عن الأخيلة البديعة والصور المؤثرة البليغة

Dan masih banyak definisi lainnya tentang syi’ir Arab dalam buku-buku sastra Arab, itu pun masih tergantung pada pembagiannya; ada syi'ir mursal, hurr, syi'ir multazim.

Apa yang dimaksud "syi’ir" dalam hadis di atas? Kalau kita benar-benar konsisten dengan kata “syi’ir” di atas, maka hukum dari syi’ir adalah haram. Syi’ir apa pun itu. Menulis, membaca, mendendangkannya juga haram. Kalau kita hanya terpaku pada sebuah kata lo! “Syi’’ir”. Dan, apalagi ada yang mengartikan syi'ir di atas dengan nyanyian atau musik, maka pasti berdampak hukumnya dan pasti akan diperdebatkan. 

Apa yang akan terjadi, maka semua kata yang ditulis indah dan masuk katagori syi’ir maka hukumnya adalah haram. Atau sesuatu yang terkait dengan syi'ir adalah haram. Tapi, benarkah kata syi'ir itu adalah syi'ir yang hanya sebuah tulisan dan berqafiyah (irama) itu masuk katagori haram?. Lah, ini kemudian berkembang, bukan ada syi'irnya tetapi ada aktifitasnya (dampaknya). Sama dengan "sikkin" (pisau), misalnya ada kalimat "lebih baik memakan darah, dari pada memegang pisau!" Kalau kita artikan pisau secara harfiah, maka semua pisau jelek. 

Bagaimana dengan syi'ir, buktinya tidak ada ulama yang mengharamkan syi’ir secara definisi. Beda lagi dengan syi’ir yang ditarik pada ranah lainnya, mengapa hadis itu muncul. Dalam maktabah syamilah, mengapa syi’ir kemudian tidak baik (buruk, haram), maka dijelaskan demikian;

“Oleh karena itu, ketika kalian melihat seseorang yang sangat menyukai syi’ir (puisi)- bahkan syi’ir itu sangat bagus – tapi dia menghabiskan waktunya, siang dan malam untuk membaca dan menulis puisi, menghadiri pertunjukan, membuat rima, dan sebagainya. Dan hidupnya siang dan malam, dan mungkin bertahun-tahun telah berlalu dalam hidupnya seperti ini, dan dia tidak pernah berpikir untuk mengambil Al-Qur’an di tangannya dan membacanya. Maka, orang ini, meskipun kita akui bahwa dia menulis puisi yang bagus, dia tercela karena hal itu membuatnya lalai dari mengingat Allah, dan lalai dari firman Allah SWT. Maka kejelekkan itu datang di sini - dan saya katakan: hanya kejelekkan - karena puisi ini, meskipun bagus, telah membuatnya lalai dari Kitab Allah dan dari sunnah Nabi Muhammad SAW. Dan jika puisi itu jelek, maka itu haram; karena pertama, itu jelek dalam dirinya sendiri, dan kedua, itu membuatnya sibuk - dari mengingat Allah.Dan saya telah mengatakan di awal ceramah: para ulama berbeda pendapat tentang puisi: ada yang memujinya secara mutlak, dan ada yang mencelanya secara mutlak. Tapi yang benar adalah apa yang akan datang”.(Maktabah Syamilah). 

Ini yang penulis maksud, maka kata “syi’ir” saja masih terus menjadi perdebatan, ini belum masuk kepada definisi secara luas, yang kemudian ada yang mengartikan atau menyamakan, atau memasukkan iqa’ (musik) dalam syi’ir, belum lagi perbedaan iqa’ dan musik (apakah sama?), belum lagi macam-macam syi'ir yang ada 15 macam (bahkan lebih), belum lagi syi'ir dengan sinonimnya (rujuk tulisan sebelumnya).

Terus definisi syi'ir yang tepat, benar dan jelas seperti apa?, lah disinilah membutuhkan pembacaan hati dan pikiran yang luas (tidak merasa paling dahsyat). 

Sebelum penulis menjelaskan musik, mari kita lihat sekilas dua perbedaan mendasar, walau hal ini masih menjadi perbedaan;

Secara umum syi’ir (puisi) dan musik merupakan dua bentuk seni yang sama-sama indah dan mampu membangkitkan emosi pendengarnya. Meskipun memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk mengekspresikan perasaan dan pemikiran, keduanya memiliki perbedaan yang jelas dalam cara penyampaiannya. Berikut adalah beberapa poin penting yang membedakan puisi dan musik (ini secara umum lo). 

Medium (al-wasilah)
1. Syi'ir, menggunakan kata-kata yang tersusun rapi dan penuh makna.
2. Musik, menggunakan nada, melodi, dan irama yang disusun untuk menghasilkan bunyi yang indah.

Struktur (al-bunyah)
1. Syi'ir, memiliki struktur yang lebih terdefinisi, seperti bait, rima, dan irama.
2. Musik, memiliki struktur yang lebih fleksibel, tidak terikat pada aturan baku.

Penyampaian (taqdim)
1. Syi'ir, biasanya dibaca atau dideklamasikan dengan suara.
2. Musik, biasanya dimainkan dengan menggunakan alat musik atau dinyanyikan dengan suara.

Penafsiran (ta’wil, at-tafsir)
1. Syi'ir, maknanya lebih spesifik dan mudah dipahami karena menggunakan bahasa yang lugas.
2. Musik, maknanya lebih ambigu dan terbuka untuk interpretasi karena tidak terikat pada bahasa.

Fungsi (al-wadhifah)
1. Syi'ir, dapat digunakan untuk bercerita, melukiskan gambaran, menyampaikan pesan moral, atau membangkitkan emosi.
2. Musik, dapat digunakan untuk menghibur, menari, mengiringi ritual, atau mengekspresikan emosi.

Syi'ir dan musik adalah dua bentuk seni yang indah dan memiliki kekuatannya sendiri. Syi'ir lebih fokus pada makna dan penyampaian pesan melalui kata-kata, sedangkan musik lebih fokus pada melodi dan irama untuk membangkitkan emosi. Keduanya dapat dinikmati dan diinterpretasikan dengan cara yang berbeda-beda oleh setiap individu.

Lah, karena ketidakjelasan definisi, maka syi’ir, dianggap maknanya luas, bisa merujuk pada puisi, syair, nyanyian, dan bahkan teks dengan rima dan irama. Sedangkan musik, sering disalahartikan sebagai alat musik, padahal merujuk pada bunyi yang dihasilkan. Dan, selama mempunyai definisi sendiri-sendiri, dengan rujukan masing-masing, maka tidak akan pernah ditemukan titiknya. Ia akan terus berhadapan dengan koma dan koma. 

Lanjut #4 Polemik Musik dan Syi’ir

*Guru Ilmu Arudh dan Qawafi, penulis Fann Kitab al-Syi'ir al-Arabi.

Menguak Istilah Syair, Syi’ir, Puisi dan Musik


Part #2

Halimi Zuhdy

Terpaksa menguak tulisan lama, karena ada yang memaksa untuk menjelaskan tentang perbedaan syi'ir (puisi) dan musik. Ada yang menganggap bahwa syi'ir itu adalah musik, dan musik itu adalah syi'ir, sehingga ada kata "surat musik". Tapi, saya tidak masuk pada perdebatan yang seru tersebut, hanya saja, sedikit akan mengurai perbedaan mendasar, minimal menurut bahasa (lughatan), dan yang saya ketahui dan saya pahami. Tujuannya, agar masyarat bahasa Arab (yang saya ajar), mampu membedakan mana istilah syi'ir dan mana istilah musik. 
Pernah saya ditegur, ketika ada mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab UIN Malang, ketika tampil memainkan musik dengan melagukan syi'ir (puisi Arab), istilahnya musikalisasi puisi. "Tadz, saya gak suka ada istilah musikalisasi puisi, puisi ya puisi, musik yang musik, gak usah dicampur", kata salah satu dosen M, dan kemudian pergi. Musikalisasi berbeda dengan puitisasi lo! Apa bedanya. Terus baca tulisan ini. 

Kata “puisi” dan “syair” sudah sangat mashur di telinga orang Indonesia. “Puisi” di antara pengertiannya adalah bentuk karya sastra yang terikat oleh irama, rima dan penyusun bait dan baris yang bahasanya terlihat indah dan penuh makna. Sedangkan “syair” dalam banyak buku pembelajaran bahasa Indonesia adalah salah satu jenis puisi, dan jenis ini, dikatagorikan pada puisi lama, seperti; mantra, pantun, karmina, seloka, gurindam, dan talibun. 

Dan syair adalah tiap bait terdiri atas empat baris yang berakhir dengan bunyi sama. Menurut Hooykaas, syair merupakan jenis puisi lama yang berkembang di Indonesia, hanya saja namanya merupakan serapan dari bahasa Arab, syi'ir (الشعر). 

Keduanya memiliki kemiripan namun berbeda, istilah puisi sering digunakan dalam bahasa Indonesia, sedangkan syair digunakan dalam bahasa Arab, walaupun istilah syair juga sudah menjadi bagian dari puisi, namun dalam bahasa Arab tidak dibaca Syair, tetapi Syi’ir. Kalau Syair adalah penulisnya, sedangkan Syi’ir adalah karangannya. Kalau “syair” berarti rambut, bukan puisi. He. Tetapi kesalahan itu akan menjadi sebuah kebenaran, bila sudah menjadi kesepakatan bersama. Maka, anggaplah, syair itu syi'ir. 

Banyak yang salah memahami, seakan-akan syair itu puisi dan puisi itu adalah syair, bukan hanya syair dan puisi yang melebur dan kabur, tapi istilah yang lain juga demikian, seperti menulis dan mengarang. Menulis dan mengarang pada dasarnya berbeda, kalau menulis seringkali menyelipkan pemikiran orang lain dalam tulisannya, dengan mengumpulkan data dan kemudian menganalisisnya, atau sekedar mengumpulkan yang kemudian mengkompelasikan dengan tulisan-tulisan lain, seperti makalah popular, artikel, opini. Sedangkan mengarang, murni dari pemikiran sendiri seperti novel, cerpen, dan puisi. Namun, mengarang dan menulis sudah dianggap tidak ada bedanya, ya..menulis. menulis karangan.wkwkwk. untung tidak karangan menulis. 

Mari kita lihat asal kata syair yang dianggap dari bahasa Arab, secara etimologis, kata syi’ir (bukan syair) berakar dari kata شعر- يشعر- شعرا- شعورا yang berarti mengetahui, merasakan, sadar, mengkomposisi, atau menggubah sebuah syair (Abu al-Fadl, 1990: 409). Menurut Jurji Zaidan, syair berarti nyanyian (al-ghina`), lantunan (insyadz), atau melagukan (tartil). Asal kata ini telah hilang dari bahasa Arab, namun masih ada dalam bahasa-bahasa lain, seperti شور dalam bahasa Ibrani yang berarti suara, bernyanyi, dan melantunkan lagu. Diantara sumber kata syi`r adalah شير (syir) yang berarti kasidah atau nyanyian. Nyanyian yang terdapat dalam kitab Taurat juga menggunakan nama ini. (Muzakki)

Sejarah menyebutkan bahwa orang-orang Yahudi lebih dahulu berkecimpung dalam dunia nazham daripada orang-orang Hijaz. Dengan demikian, pengalaman dan kemahiran mereka telah memperkuat keberadaan kata syi’ir yang berkaitan dengan kasidah atau nyanyian. Berdasarkan sumber itu, orang-orang Arab dipandang kuat telah mengambil kata syi`ir dari orang Yahudi untuk menyebut istilah kasidah. Kemudian mereka mengganti huruf ya` dalam kata شير dengan huruf `ain, maka jadilah kata syi`ir (شعر ), dan selanjutnya kata ini dipergunakan pada pengertian syair secara umum (Ahmad Husein al-Thamawi, 1992: 46).

Berbeda dengan al-`Aqqad, ia memandang kata syi`ir harus dikembalikan kepada bahasa aslinya, yaitu bahasa Semit. Karena itu, kata شيرو pada suku `Aqqadi kuno merujuk kepada suara nyanyian di gereja. Dari kata ini, kemudian berpindah ke dalam bahasa Ibrani (شير) dengan arti melagukan (insyadz) dan ke dalam bahasa Aramiyah yang bersinonim dengan kata شور , ترنم (menyanyikan) dan ترتيل (melagukan) (Ahmad Husein al-Thamawi, 1992: 47).

Bagi orang Arab, kata syi`ir mempunyai arti tersendiri sesuai dengan pengetahuan, kemampuan, dan kebiasaan mereka. Dalam pandangan mereka, syi`ir berarti pengetahuan atau kepandaian (`ilm/fathanah), dan penyair itu sendiri disebut dengan al-fathin (cerdik pandai). Pendapat ini ada kemiripan dengan pengertian poet dalam bahasa Yunani, yang berarti membuat, mencipta (dalam bahasa Inggris padanan kata poetry erat berhubungan dengan kata poet dan poem). Poet berarti orang yang mencipta melalui imajinasinya, orang yang hampir menyerupai dewa atau yang amat suka kepada dewa-dewa. Dia adalah orang yang berpenglihatan tajam, orang suci, sekaligus seorang filsuf, negarawan, guru, dan orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi (Henry Guntur Tarigan, 1984: 4). Dalam tradisi masyarakat jahiliyah, mereka meyakini bahwa para penyair memiliki pengetahuan magis, karena itu mereka dikenal sebagai “ahl al-ma’rifah” , yaitu sekelompok orang yang dapat memprediksi kehidupan dan kejadian di masa yang akan datang (Ahmad Amin, 1975: 55).

Secara terminologis, para Ahli `Arudh mengatakan bahwa pengertian syi`ir itu sama (muradif) dengan nadzam. Mereka mengungkapkan: Kata-kata yang berirama dan berqafiah yang diciptakan dengan sengaja. Dan masih banyak pendapat-pendapat yang lain terkait dengan kata-kata syair (insyallah buat buku dulu, syair dalam kajian sastra Arab).

Sedangkan istilah Puisi, sebagaimana yang penulis temukan dalam beberapa buku, kata “puisi” berasal dari kata Yunani kuno yaitu : ποιέω/ποιῶ (poiéo/poió) = I create) diartikan sebagai seni tertulis yang mana bahasa digunakan untuk kualitas estetiknya untuk tambahan, atau selain arti semantiknya. Atau berasal dari poesis yang berarti penciptaan.

Kemudian puisi diartikan suatu ciptaan tentang sesuatu keindahan dalam bentuk berirama. Citarasa adalah unsur yang diutamakan. Hubungan dengan budaya intelek atau dengan suara hati hanya merupakan hubungan yang selari. Jika bukan secara kebetulan, ia tidak ada kena mengena langsung sama ada dengan tugasnya atau dengan kebenaran, demikian menurut Edgar Allan Poe. Sedangkan menurut H.B Jassin H. B. Jassin, Puisi merupakan pengucapan dengan perasaan yang didalamnya mengandungi fikiran-fikiran dan tanggapan-tanggapan

Kalau kita tangkap dari beberapa definisi dari syair Arab , dipahami bahwa sebuah ungkapan dapat dikategorikan kepada karya sastra genre syair apabila ungkapan tersebut memenuhi enam kriteria: 1) kalam (bahasa), 2) ma`na (gagasan), 3) wazan (irama), 4) qafiah (sajak), 5) khayal (imajinasi), dan 6) qasd (sengaja).

Dan tidak terlalu jauh dengan definisi puisi dalam bahasa Indonesia yang puisi tersebut tidak lepas dari imaginasi, pemikiran, idea, nada, irama, kesan pancaindera, susunkata, kata-kata kiasan, kepadatan, perasaan, perasaan yang bercampur-baur dan sebagainya.

Puisi dan syi'ir pada akhirnya adalah sebuah ungkapan imajinatif, yang berirama dengan susunan kata yang tersusun dengan penuh kiasan, kepadatan dan perasaan. Ada kesamaan dalam macam/jenis keduanya. Dalam syair menurut Thaha Husein dan Ahmad al-Syayib membagi syair dari segi isinya menjadi tiga macam: 1) syair cerita/epic poetry (syi`r qishashi), 2) syair lirik/liric poetry (syi`r ghina`i), dan 3) syair drama/dramatic poetry (syi`r tamtsili). Sementara `Abd al-Aziz bin Muhammad al-Faishal menyebut syair cerita dengan istilah syi`r malhami, walaupun pengertiannya tidak ada perbedaan, dalam puisi tidak jauh berbeda.

🎥 Dosen Sastra Arab UIN Malang

Berikutnya; #3
Asal Kata Musik, dan Perbedaannya dengan Syi'ir

Kajian Al-Qur'an, Sastra Arab, dan Mutiara Hikmah 👇🏻

🌎 www. halimizuhdy. com
🎞️ YouTube *Lil Jamik*
📲  FB *Halimi Zuhdy*
📷 IG *Halimizuhdy3011*
🐦 Twitter *Halimi Zuhdy* 
🗜️ Tiktok  *ibnuzuhdy*

Mohon masukannya poro suhu; Prof Djoko Saryono K. M Faizi Binhad Nurrohmat Akhmad Taufiq Sosiawan Leak Malkan Junaidi dan lainnya

@sorotan

Kamis, 15 Februari 2024

Sastra Perlawanan (muqawamah) Palestina, Siapakah Penerus Ghassan kini?

Halimi Zuhdy 

Rafah pertahanan terakhir rakyat Gaza. Darah mulai membuncah, membasahi tanah Rafah, merenggut nyawa tak berdosa. Di tengah tragedi kemanusiaan ini, ada pertanyaan di mana suara sastrawan perlawanan Palestina, setelah Al-Syahid Ghassan Kanafi, Mahmoud Darwis dan lainnya. 
Memang Gaza hari ini tak butuh kata-kata, tapi perlu makanan, obat-obatan, keamanan, dan bahkan butuh kemerdekaan. Tapi, bukankah kata-kata adalah ruh dari kebangkitan?. 

Dahulu, sastrawan seperti Mahmoud Darwish dan Ghassan Kanafani menjadi penjaga api perlawanan. Puisi dan prosa mereka membangkitkan semangat rakyat Palestina, menggemakan kisah penderitaan dan perlawanan mereka. Darwish, dengan puisinya yang penuh metafora dan simbolisme, melukiskan keindahan tanah air yang hilang dan rasa rindu yang mendalam. Kanafani, dengan novelnya yang sarat kritik sosial dan politik, mengobarkan api perlawanan terhadap penjajahan Israel.

Namun, kini mereka telah tiada. Generasi baru sastrawan Palestina tampak bangkit untuk mengisi kekosongan ini. Suara mereka mulai menggema, meneruskan tradisi perlawanan dalam bentuk karya sastra yang menyentuh hati dan membangkitkan kesadaran.

Beberapa nama mulai muncul di kancah sastra Palestina kontemporer. Suheir Hammad, seorang penyair perempuan, mengangkat suara perempuan Palestina dalam puisinya yang berani dan penuh semangat. Ada juga Mohammed El-Kurd, seorang penyair muda dari Gaza, menggunakan media sosial untuk menyebarkan puisinya yang menggambarkan realitas pahit kehidupan di bawah blokade Israel. 

Ada deretan lainnya, seperti Rana Anani, seorang penulis novel, mengeksplorasi tema-tema seperti identitas, trauma, dan harapan dalam karyanya.

Meskipun masih muda dan belum mencapai ketenaran seperti Darwish dan Kanafani, para sastrawan ini menunjukkan potensi besar. Mereka memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan tradisi sastra perlawanan Palestina, menyuarakan kisah rakyat mereka, dan menginspirasi generasi baru untuk terus berjuang.

Namun, tantangan yang mereka hadapi tidaklah mudah. Di bawah penjajahan Israel, akses terhadap pendidikan dan sumber daya terbatas. Kebebasan berekspresi juga dikekang. Para sastrawan Palestina sering kali harus berhadapan dengan sensor, intimidasi, bahkan penangkapan.

Meskipun demikian, semangat perlawanan tetap hidup dalam jiwa para sastrawan Palestina. Mereka terus berkarya, menuangkan rasa sakit dan harapan mereka ke dalam puisi, prosa, dan berbagai bentuk seni lainnya. Suara mereka adalah suara rakyat Palestina, suara yang tidak akan pernah dibungkam.

Di Mana Kita Menemukan Para Sastrawan Baru?

***
Suara mereka adalah suara kemanusiaan, suara yang harus didengar oleh seluruh dunia.

****
Insyallah sekilas, akan kita sampaikan diacara Webinar HISKI, besok.