السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Senin, 29 Desember 2025

Perbedaan Akhlak, Adab, dan Suluk



Halimi Zuhdy

"Kurang beradab", "Gak ada akhlak" "Akhlakmu buruk!" "Adab pergaulannya bagus" kalimat-kalimat di atas sering kali kita dengar. Belum lagi istilah "etika", "moral", "suluk", "tata krama", "budi pekerti", dan istilah terkait lainnya. 

Toyyib. Dalam beberapa mukjam dan kitab musthalahat, para ulama membuat perbedaan antara "akhlak", "suluk", dan "adab". Tiga istilah ini sering dipakai bergantian, padahal masing-masing punya wilayah kerja yang berbeda. Ini seperti membedakan “software”, “interface”, dan “user experience” dalam bahasa anak zaman now, atau istilah-istilah baratnya.
Menurut "Mausu’ah Al-Adab Al-Syariyah", akhlak adalah "kondisi mental yang mengakar kuat" sehingga seseorang melakukan sebuah perbuatan secara spontan, tanpa perlu mikir dulu. Kalau kondisi itu mendorong pada perbuatan baik, kita menyebutnya akhlak yang baik, kalau mendorong ke arah buruk, jelas itu akhlak yang buruk.

الخُلُقُ هو عبارةٌ عن هيئةٍ للنفسِ راسخةٍ تصدُرُ عنها الأفعالُ بسهولةٍ ويُسرٍ من غيرِ حاجةٍ إلى فكرٍ ورويَّةٍ

Secara psikologi modern, konsep ini mirip "habitual disposition", mirip lo, bukan sama. Karena, munculnya istilah (dalam bahasa apa pun, pasti ada perbedaan dan juga ada kemiripan). kecenderungan berperilaku yang terbentuk lewat repetisi dan nilai batin. Ia tidak sekadar kebiasaan, tapi karakter yang stabil, seperti default setting seseorang. Habitual disposition lebih berfokus pada mekanisme psikologis pembiasaan, sedangkan akhlak mencakup kerangka etika dan moral yang lebih luas (sering kali berlandaskan agama).

Suluk adalah "perilaku yang terlihat", ekspresi eksternal dari kondisi akhlak dalam diri seseorang. Kita menebak karakter seseorang melalui suluknya, sebagaimana kualitas pohon dilihat dari buahnya. Indah di dalam, akan memancar di luar. Rusak di dalam, ya, kelihatan juga rusaknya. Mungkin, ini masuk dalam istilah "adhahiru ya dullu ala bathin" (yang tampak di luar, itulah isi dalamnya). 

وأمَّا السُّلوكُ فهو المَظهَرُ الخارِجيُّ للخُلُقِ؛ فالخُلُقُ حالةٌ راسِخةٌ في النَّفسِ وليس شَيئًا خارِجًا مَظهَريًّا،

Dalam istilah modern, suluk bisa dianalogikan sebagai "behavioural output", sesuatu yang dapat diukur, diamati, dan dianalisis. Kalau akhlak itu “coding”, suluk itu yang tampil di layar. Semoga istilah benar. He. 

Nah, adab punya posisi yang unik. Tidak seperti akhlak dan suluk yang bisa bernilai baik atau buruk, "adab selalu bermakna positif". Adab adalah bentuk paling terpilih dari akhlak mulia. Bahkan, adab bisa muncul dari akhlak yang sudah mapan, tetapi juga bisa muncul sebagai bentuk latihan sadar untuk mencapai keindahan moral.

أمَّا الأدَبُ فلا يَكونُ إلَّا مَحمودًا حَسَنًا؛ لذا قيل في تَعريفِ الأدَبِ: هو الأخذُ بمَكارِمِ الأخلاقِ.

Jika akhlak adalah “sifat”, dan suluk adalah “aksi”, maka adab adalah “estetika moral”, semacam "moral refinement". Dalam bahasa UX design, adab adalah "polish", finishing halus yang membuat sebuah tindakan bukan hanya benar, tapi juga indah.

Mungkin lebih mudahnya, akhlak (moral character), yaitu struktur internal, stabil, dan menjadi pusat nilai seseorang. Sedangkan suluk (behavioural expression) adalah tindakan yang tampak, terukur, dan bisa berubah mengikuti situasi, tetapi tetap punya pola tertentu yang dipengaruhi akhlak. Bagaimana dengan adab? Adab (ethical elegance atau moral aesthetics)
adalah cara paling bermartabat untuk mengekspresikan nilai moral, versi upgraded dari perilaku etis.

Dalam budaya modern, baik di ruang digital, profesional, maupun akademik, adab bisa diibaratkan "etika komunikasi", "etika kerja", atau bahkan "digital etiquette". Misalnya, 
seseorang bisa punya akhlak jujur (nilai batin), memiliki suluk berupa kebiasaan tidak memanipulasi data (perilaku), lalu menunjukkan adab melalui transparansi laporan dan menghargai proses verifikasi (etika tinggi dalam praktik).

Dunia serba cepat sering mendorong manusia untuk hanya berfokus pada perilaku luar. Yang viral adalah yang terlihat, bukan yang tertanam. Padahal kualitas moral sejati muncul ketika akhlak, suluk, dan adab berjalan seirama. Yang satu menjadi sumber, yang satu menjadi tampilan, dan yang satu menjadi mahkota.

Pernikahan Bukan Sekadar Berkumpul, Tapi Harmoni


Halimi Zuhdy

Ada sedikit kegadukan di PBNU. Ya namanya berkumpul, pasti ada gesekan. Yang saya heran, ada orang yang bercerita bahwa "ada orang yang tidak pernah jatuh di jalan raya dan tidak pernah kesentuh mobil atau motor", saya tanya "kok bisa?" Apa jawabannya, "bisa tadz, wong tidak pernah ke jalan raya"! Duaaaar. Oh, gitu.  

Maka, biasalah, dinikmati saja.😁 
Al-faqir, hanya akan menggambarkan tentang nikah atau juga mungkin tentang organisasi, atau perkumpulan apa pun, yang isinya adalah kumpul-kumpul. Bahwa dalam setiap perkumpulan, pasti ada gesekan. Tapi gesekan yang seperti apa? Dan dalam pernikahan, gesekan ini pasti terjadi, ada yang mengantarkan pada yang positif juga ke hal negatif. Tapi, bukan hanya soal berkumpul, tapi harus ada harmoni, atau dicipta harmonis. 

Menikah itu bukan hanya tentang dua orang yang tinggal di bawah satu atap, bukan sekadar berkumpul dalam satu rumah dan satu doa. Pernikahan adalah harmoni. Ia seperti alat-alat musik mahal yang tersusun lengkap, indah dipandang, bernilai tinggi, namun bila tak pernah dimainkan, ia tetap hanya benda mewah yang tak berguna. Dan bila dimainkan tanpa irama, tanpa rasa, tanpa menyamakan nada, ia hanya menghasilkan suara yang kacau, bising, dan menyakitkan telinga.

Demikian pula dua manusia. Mereka bisa saja berdekatan, tetapi belum tentu selaras. Bisa saja bersama, tetapi belum tentu berharmoni.

Maka doa pengantin, 

وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ 

bukanlah sekadar “semoga kalian dikumpulkan dalam kebaikan”. Lebih dalam dari itu, ia berarti, semoga kalian menemukan harmoni, keseimbangan, keindahan, dan kebaikan yang saling melengkapi. Karena berkumpul itu mudah, tetapi menemukan harmoni adalah seni.

Al-Qur'an pun mengajarkan, Allah tidak menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa sekadar agar mereka berdekatan, tetapi lita'arafu (لِتَعَارَفُوا), untuk saling mengenal, saling memahami, menyatu dalam perbedaan, dan menciptakan keindahan dalam keberagaman. "Ta’aruf" bukan hanya mengetahui nama, tetapi menyelami jiwa. Bukan hanya menjadi dekat, tetapi menjadi selaras.

Dalam pernikahanlah cinta menemukan bentuknya yang paling jernih. Dua manusia yang tidak hanya bersama, tetapi saling menata nada. Tidak hanya bersanding, tetapi berharmoni, tidak hanya saling memandang, tetapi saling menenangkan.

Karena menikah bukan hanya berkumpul.
Menikah adalah menciptakan musik yang indah, dua jiwa, satu irama.

Baiturrahman, 22 NOV 2025

Scroll, Cemas, Depresi



Indonesia darurat stress. Mungkin ini kedengaran gak masuk akal atau dibuat-dibuat. Tapi, ini sebuah kenyataan lo. Laporan kemenkes, polri, WHO dan lainnya. 

Sekitar 2 persen penduduk Indonesia terindikasi depresi, dan 13 persennya tidak mencari bantuan ke tenaga kesehatan. Artinya apa? Lebih banyak lagi yang belum ketahuan. Bukan hanya 2 persen.  Kasus bunuh diri juga naik: 826 kasus (2022), menjadi 1.350 (2023) dan 1.450 (2024). Secara umum, sekitar 30 persen dari 280 juta penduduk mengalami gangguan kesehatan mental, dengan 5,5 persen remaja (10–17 tahun) atau 2,45 juta anak sudah terdiagnosis gangguan mental. Masalah utama yang sering muncul adalah depresi, gangguan kecemasan, dan bipolar, yang membuat orang sulit berfungsi normal dalam aktivitas harian.
Peran internet dan media sosial makin besar dalam memperburuk kondisi ini. Tahun 2023, 75 persen anak usia 7–17 tahun sudah mengakses internet, bahkan 85 persen anak yang tidak sekolah pun sudah online, padahal secara internasional anak di bawah 2 tahun tidak disarankan terpapar gawai, dan anak di bawah 12 tahun idealnya maksimal dua jam per hari. Paparan berlebihan bisa memicu kecemasan, rasa minder, kecanduan gim, pinjol, dan judi online, yang berujung pada sulit tidur, nafsu makan turun, hingga halusinasi.

Tapi, ini bukan hanya persoalan internet lo. Data CNBC Indonesia yang bersumber dari BPS, SUSENAS 2023, dan PODES 2024 menunjukkan bahwa kelompok paling rentan terdorong hingga bunuh diri bukan hanya orang dengan gangguan jiwa berat, tetapi justru mereka yang hidup dalam tekanan struktural, individu berpendidikan rendah (0,41%), pekerja sektor pertanian dan pertambangan (0,36%), warga desa (0,34%), pekerja sendiri/pekerja bebas (0,36%), serta mereka yang sampai kesulitan makan (0,62%). Risiko tertinggi terlihat pada kelompok cerai hidup (0,84%) dan cerai mati (0,79%), serta kepala rumah tangga yang memikul beban nafkah keluarga. Secara geografis, enam provinsi, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, dan Papua, menyumbang lebih dari 50% kasus bunuh diri nasional pada 2024, dengan lonjakan tajam di Jawa Tengah (39,10%) dan Jawa Barat (47,34%), sementara di Papua, Provinsi Papua Pegunungan sendirian mencatat 47,15% kasus bunuh diri se-Papua. 

Dan, jrengggggg. Ironisnya, 4,28% desa yang memiliki tempat ibadah. Ingat memiliki tempat ibadah!  justru pernah mencatat kasus bunuh diri (dibanding 1,37% desa tanpa tempat ibadah), di tengah fakta bahwa akses layanan kesehatan jiwa sangat timpang, Papua hanya memiliki 0,17 fasilitas kesehatan jiwa per 100.000 penduduk, jauh di bawah median global WHO 1,3 per 100.000.

Terus bagaimana? 

Halimi Zuhdy
Baca Fatwa Cinta "Belajarlah Senyum! Bukan Ketawa" 🤩

Menelisik Arti Kata "Syuriah" dalam NU



Halimi Zuhdy

Asyik menelisik kata Syuriah. Kata ini sering disebut beberapa hari belakang ini. Tapi ada yang bingung, arti sesungguhnya dari kata ini. Ada yang menggap  mirip dengan nama negara Suriah (Syria), ada juga yang berfikiran tentang Dewan Syuro, MPR (Majlis Permusyawaratan Rakyat), ada pula yang masih bingung dengan beberapa istilah yang mirip, seperti musytasar, musyawarah, syura, syawir dan derivasi lainnya yang berasal dari satu kata. 
Apa sih arti Syuriah? Kata ini berasal dari 
Syura (شورى) dalam kamus al-Ma‘ānī al-Jāmi‘ dijelaskan memiliki dua lapis makna: makna bahasa dan makna istilah. Secara bahasa, akar katanya شَارَ – يَشُورُ bermakna الإشارة والبيان yaitu memberi isyarat, menunjukkan, atau menampakkan pendapat. Dari makna dasar inilah lahir konsep عرض الرأي (menyampaikan pandangan kepada orang lain). 

Toyyib. Adapun secara istilah, الشورى bermakna التشاور وأخذ آراء أهل العلم والرأي yaitu proses musyawarah dan meminta pandangan para ahli dalam suatu persoalan, termasuk dalam konteks pemerintahan sebagaimana disebutkan dalam istilah مجلس الشورى. Dengan demikian, شورى berkembang dari makna bahasa yang bersifat individual menuju makna istilah yang menekankan dimensi kolektif, kebijaksanaan, dan pengambilan keputusan bersama.

Dalam struktur jamiyyah NU, terdapat beberapa istilah kunci yang memiliki dasar kuat dalam tradisi Arab, yaitu Mustasyar, Syuriah, Tanfidziyah, Rais Amm dan beberapa kata lainnya. Istilah Mustasyar berasal dari kata Arab المُسْتَشَار yang berarti “orang yang dimintai nasihat”, seakar dengan kata الشُّورَى (musyawarah), sehingga dalam NU kata Mustasyar berfungsi sebagai dewan penasihat berisi para kiai sepuh yang memberikan arahan dan masukan kepada pengurus di berbagai tingkatan. Adapun Syuriah berasal dari istilah Arab مَجْلِسُ الشُّورَى yang bermakna “dewan musyawarah”, dan dalam Anggaran Dasar NU disebut sebagai pimpinan tertinggi organisasi yang berwenang membina, mengawasi, serta mengarahkan pelaksanaan keputusan-keputusan NU. 

Dengan demikian, Mustasyar dan Syuriah sama-sama berakar pada konsep syūrā, namun Mustasyar menekankan fungsi nasihat, sementara Syuriah menjalankan fungsi kepemimpinan tertinggi dalam struktur jam’iyah.

Dalam Islam, musyawarah memiliki fungsi fundamental sebagai mekanisme pengambilan keputusan yang menegakkan keadilan, menghindarkan tirani, serta memastikan setiap persoalan diputuskan dengan mempertimbangkan ilmu, pengalaman, dan hikmah kolektif. 

Toyyib. Secara analitik, musyawarah bukan sekadar forum bertukar pendapat, tetapi metode etis untuk menyatukan nalar dan hati, menjaga objektivitas, serta melahirkan keputusan yang paling maslahat bagi umat; ia juga berfungsi sebagai kontrol sosial agar kepemimpinan tidak terlepas dari akuntabilitas moral. Al-Qur’an menegaskan prinsip ini dalam firman Allah:
 وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ 
 “Urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka” 
(QS. Asy-Syūrā: 38). 

Nabi pun menegaskan pentingnya musyawarah melalui sabdanya: 
مَا خَابَ مَنِ اسْتَشَارَ 
“Tidak akan rugi orang yang bermusyawarah” (HR. Ṭabarānī). 

Dengan demikian, musyawarah merupakan pilar etika kepemimpinan dan tata kelola dalam Islam, yang memastikan keputusan tidak hanya benar, tetapi juga bijaksana dan dapat dipertanggungjawabkan.

Bagaimana dengan MPR, Dewan Suro, Syuriah, Musytasar dalam memerankan namanya? Setiap orang punya jawaban, penilaian masing-masing. Sedangkan di atas, hanyalah renungan kata, tidak memasuki ranah ikhtilaf antara Syuriah dan Tanfidziyah. 😁

Bagaimna jug arti kata Tanfidziyah? Semoga bisa dilanjutkan dengan pemaparan selanjutnya.

Hutan, Keghaiban dan Bencana



Halimi Zuhdy

Pertama, saya ucapkan innalilahi wainna ilaihi Raji'un, atas korban banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Bencana yang menimbulkan dampak sangat besar dengan total 659 orang meninggal dunia, 475 orang masih hilang, serta 2.600 orang mengalami luka-luka. 
Belum lagi jumlah warga terdampak mencapai 3,2 juta jiwa, sementara kerusakan meluas hingga sekitar 50 kabupaten/kota. Di Sumatra Utara saja tercatat 290 korban tewas, 154 hilang, 538.792 warga luka-luka, dan lebih dari 135 ribu orang terpaksa mengungsi. Ribuan rumah rusak parah akibat banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi secara beruntun, menunjukkan skala kerugian manusia dan material yang sangat besar.

Entah siapa yang harus disalahkan? Apakah kita akan gegabah menuding takdir? Mustahil, takdir bukan kambing hitam. Lalu siapa? Pemerintah yang lalai? Akademisi yang sibuk berteori? Penceramah yang hanya pandai menasihati? Politisi yang lihai berjanji? Para komentator dunia maya yang riuh tanpa solusi? Atau para penebang hutan yang merampas jantung bumi? Atau Pak Zulhaz yang mengizini? Atau.....duh. 

Bencana ini seakan menampar kita semua. Ingat! "bahwa kerusakan tidak pernah lahir dari satu tangan, tetapi dari banyak kelalaian yang dibiarkan tumbuh bersama".

Kedua, hutan kembali menjadi sorotan hangat dalam beberapa hari terakhir. Ia yang dulu menjadi ruang paling teduh, paling jujur, dan paling setia bagi makhluk yang bergantung padanya, kini berubah menjadi panggung bencana yang tak terperi. Hutan yang semestinya menjadi penyangga kehidupan telah menjelma menjadi ancaman yang menakutkan. Bukan karena salahnya, tetapi karena tangan-tangan manusia yang menganggapnya sebagai lahan paling empuk untuk dieksploitasi.

Ada ironi yang tak bisa kita abaikan: tempat yang memberi kesejukan, kini memberi ketakutan; ruang yang menjadi rumah bagi kehidupan, kini menjadi sumber kematian. Entah dengan alasan apa pun; atas nama pembangunan, ekonomi, atau sekadar kepentingan sesaat, penjarahan terhadap hutan telah dibiarkan, bahkan dirayakan.

Dan akhirnya, kita bertanya, apa yang terjadi? Jawabannya datang dalam bentuk bencana yang tak bisa ditawar, banjir. Banjir bukan sekadar air yang meluap. Ia adalah bahasa alam yang paling jujur. Ia menjerit bahwa keseimbangan telah dirusak, bahwa akar-akar yang dulu menahan tanah kini tak lagi ada, dan bahwa kehidupan yang pernah harmonis kini digantikan oleh kekacauan.

Banjir adalah protes yang tak memakai kata-kata. Alam berbicara dengan caranya sendiri, dan kita dipaksa mendengarkan, meski sering terlambat untuk memahami.

Menilik Asal Hutan dalam Bahasa Arab, Ghabah. 

Dalam bahasa Arab, hutan disebut ghabah/الغابة karena berasal dari akar kata غاب يغيب yang bermakna hilang, tersembunyi, tidak tampak. Penamaan ini bukan kebetulan, melainkan menggambarkan hakikat hutan sebagai ruang yang menutupi apa saja yang berada di dalamnya. Pepohonan yang rapat, rimbun, dan bertumbuh dari segala arah membuat siapa pun yang masuk seakan “ghaib”, lenyap dari pandangan. Maka, secara linguistik, ghabah/الغابة adalah tempat yang menghilangkan jejak dan menyelubungi keberadaan, sesuai dengan sifat dasar hutan yang penuh rahasia.

Akar kata yang sama melahirkan istilah Qur’ani ghaib/الغيب sesuatu yang ada tetapi tidak terlihat oleh pancaindra. Dari sini tampak bahwa hutan dan konsep ghaib memiliki hubungan makna yang mendalam. Hutan dalam perspektif teologis menjadi salah satu tanda kekuasaan Allah, ruang ciptaan yang menyimpan kehidupan yang tak semuanya tampak di hadapan manusia. Ia seolah menjadi "laboratorium ghaib" yang menyimpan jutaan makhluk, ekosistem, dan hukum-hukum Ilahi yang tak terjangkau pandangan. Dengan demikian, penyebutan ghabah الغابة secara tidak langsung menegaskan bahwa alam menyimpan dimensi “ghaib kecil” yang mengajarkan kerendahan hati manusia.

Secara filosofis dan kultural, hutan (ghabah), bagi masyarakat Arab klasik yang hidup di lingkungan padang pasir, hutan tampak sebagai dunia lain: sebuah wilayah yang asing, liar, dan tidak dapat dikendalikan. Karena itu, ia dipahami sebagai ruang misterius yang bisa “menghilangkan” manusia baik secara fisik maupun simbolik. Dari perspektif filosofis, ghabah/الغابة menjadi metafora ketersembunyian: tempat rahasia kehidupan bersembunyi, tempat manusia diuji kemampuan orientasinya, dan tempat keseimbangan alam bekerja tanpa campur tangan manusia. 

Penamaan ini mencerminkan cara orang Arab melihat hutan. Bukan sekadar kumpulan pepohonan, tetapi dunia ketertutupan yang menyimpan pelajaran tentang batasan, keberanian, dan keharmonisan alam.

Pada akhirnya, bencana ini bukan hanya peristiwa alam, tetapi cermin besar yang memantulkan wajah kita sendiri. Ia mengingatkan bahwa kehidupan tak bisa dipisahkan dari amanah menjaga bumi, dan kehancuran selalu lahir dari kelalaian yang kita biarkan tumbuh. Karena itu, sebelum kita menuntut langit berhenti murka, mari kita sendiri yang lebih dulu berhenti abai, menata kembali hubungan dengan hutan, dengan alam, dan dengan hati kita, agar tragedi tak lagi menjadi bahasa terakhir yang dipilih alam untuk menegur manusia.

Jika Manusia Tiada, Apakah Bumi Lebih Baik?


Halimi Zuhdy

Aha. Pertanyaan ini terdengar hipotetis, tapi sesungguhnya menyentuh kegelisahan paling mendasar kita, "apakah kehadiran manusia di bumi membawa maslahat atau justru mafsadat? Tentunya, termasuk kita. Apakah kita ini, sering membuat kerusakan di bumi, membuat bumi lebih cepat kiamat, atau adanya kita membuat makhluk lain tidak nikmat di muka bumi ini? Sehingga tidak perlu ada manusia, agar bumi ini hidup indah dan tenang. 
Saya agak males menjawab pertanyaan di atas, karena saya sendiri manusia yang sudah lahir ke muka bumi, dan entah sudah berapa banyak kerusakan yang saya buat, dan apakah ada kebaikan yang pernah saya lakukan?. Embuh! Saya tidak mampu meniliknya. Semoga ada kebaikan walau hanya sedikit. 

Jangan lupa, sebelum melanjutkan membaca tarik nafas dulu. ......Aha. Dalam banyak diskusi lingkungan, manusia kerap diposisikan sebagai biang kerok. Krisis iklim, kerusakan hutan, pencemaran laut, hingga kepunahan spesies, semuanya memiliki satu benang merah, "ulah manusia". Dalam kacamata ini, tidak berlebihan jika muncul anggapan bahwa bumi akan lebih baik tanpa manusia. Wow. Ulah manusia? Manusia yang mana😁

Secara ekologis, argumen itu tampak masuk akal. Ketika manusia absen, alam cenderung memulihkan dirinya. Hutan kembali tumbuh, satwa liar berani keluar dari persembunyian, dan keseimbangan ekosistem bekerja tanpa gangguan. Bumi tidak membutuhkan manusia untuk bertahan hidup. Mungkin, mungkin lo ya hewan-hewan yang ada di Sumatera senang kalau tidak ada manusia! Atau mungkin tidak hanya di Sumatera, tapi di seluruh wilayah  di dunia. 

Namun, pertanyaan lain, "bumi yang lestari tidak otomatis berarti bumi yang bermakna".

Alam berjalan menurut hukumnya sendiri, tetapi ia tidak mengenal baik dan buruk, adil dan zalim, atau tanggung jawab dan amanah. Semua kategori moral itu hanya hadir ketika ada manusia. Tanpa manusia, tidak ada yang menyebut kerusakan sebagai kerusakan, dan tidak ada yang menyebut keindahan sebagai tanda kebesaran Tuhan.

Di sinilah posisi manusia menjadi paradoksal. Manusia adalah makhluk yang paling berpotensi merusak bumi, tetapi sekaligus satu-satunya yang mampu menyadari kesalahan dan memperbaikinya. Gunung yang meletus tidak dapat dimintai pertanggungjawaban. Hewan yang memangsa tidak bisa disebut zalim. "Hanya manusia yang memikul beban moral atas tindakannya."

Dalam perspektif keagamaan, manusia tidak diciptakan sebagai penguasa mutlak alam, melainkan sebagai "khalifah, penjaga yang diberi amanah. Kerusakan bumi bukanlah bukti bahwa manusia seharusnya tiada, melainkan tanda bahwa manusia gagal menjalankan amanahnya.

Oh hampir lupa. Ada dialog menarik, ketika Allah ingin menciptakan manusia, Malaikat bertanya, "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?" (QS. Al-Baqarah: 30). Apa jawaban Allah, ""Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Al-Baqarah: 30).

Klir ya! Allah lebih mengetahui, mengapa manusia diciptakan. 

Karena itu, pertanyaan tentang dunia tanpa manusia sejatinya mengarahkan kita pada pertanyaan yang lebih mendasar: "apakah manusia masih menjalankan perannya sebagai penjaga kehidupan, atau justru berubah menjadi perusak yang merasa berhak atas segalanya?"

Bumi akan tetap ada, dengan atau tanpa manusia. Tetapi keberlanjutan nilai, tanggung jawab, dan makna hidup sangat bergantung pada pilihan manusia hari ini. Jika manusia terus hidup melampaui batas, bumi memang akan bertahan, tanpa manusia.

Maka, alih-alih membayangkan dunia tanpa manusia, jauh lebih mendesak bagi kita untuk membayangkan "manusia yang kembali sadar batas", hidup secukupnya, memelihara keseimbangan, dan menempatkan diri bukan sebagai pusat semesta, melainkan sebagai bagian darinya.

Ada pertanyaaan terakhir, bumi yang butuh manusia, atau manusia butuh bumi, atau keduanya sama-sama membutuhkan? Masihkah bumi ini sayang sama manusia, dan sebaliknya?

Dari Perusak Bumi ke Pembantah Kebenaran


(Membaca Watak Kebanyakan Manusia dalam Al-Qur'an)

Halimi Zuhdy

Melanjutkan kajian kemarin, tentang “Andai tidak ada manusia di muka bumi, apakah bumi tambah makmur, atau rusak ?”. Ternyata komentarnya beragam; ada yang mengatakan bumi akan baik-baik saja, karena yang merusak itu manusia. Ada pula yang komentar, bahwa adanya bumi karena adanya manusia. Dan tidak sedikit yang berkomentar bahwa semuanya adalah takdir Tuhan, tidak perlu dibahas, yang penting manusia taat dan patuh pada perintah Tuhan.
Dan tulisan sebelumnya mempertanyakan nilai kehadiran manusia di bumi, apakah manusia masih layak dipertahankan sebagai penjaga kehidupan, atau justru menjadi beban ekologis dan moral. Pertanyaan itu berhenti pada wilayah peran dan tanggung jawab. Maka tulisan ini melangkah selangkah lebih dalam, masuk ke wilayah jiwa manusia itu sendiri. Jika kerusakan bumi lahir dari ulah manusia, lalu apa yang rusak dalam diri manusia? 

Di sinilah Al-Qur’an memberi kunci. Manusia bukan hanya makhluk perusak, tetapi juga makhluk yang paling gemar membantah. Perdebatan tanpa ujung, ego yang tak mau mengalah, dan kecenderungan mengikuti arus mayoritas yang bising, itulah wajah batin manusia yang sering luput kita evaluasi. Dari pertanyaan ekologis “perlukah manusia ada?”, kini kita digiring pada pertanyaan yang lebih sunyi: manusia macam apa yang seharusnya ada di bumi ini? Dan jawabannya, seperti akan ditunjukkan Al-Qur’an, tidak ditentukan oleh jumlah yang ramai, melainkan oleh sedikit yang sadar, berpikir, dan bersyukur.

Kemarin saat membaca Surat Al-Kahfi bersama jamaah di Masjid Baiturrahman, saya terpaku pada satu Ayat:

وَكَانَ ٱلْإِنسَٰنُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا

Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah — QS. Al-Kahfi: 54.

Ayat ini terasa hidup di tengah hiruk-pikuk media sosial kita hari ini. Perdebatan tak kunjung padam. Ada yang membangun keindahan, memotivasi, berbagi kebaikan, tapi tak sedikit yang hanya menebar permusuhan dan caci maki. Berdebat tanpa ujung, berakhir persaudaraan yang hancur. Maka saya pun menelusuri lebih dalam: bagaimana Al-Qur’an menggambarkan “الأكثرية” (mayoritas, kebanyakan)?

Dalam Al-Qur'an, terdapat kata yang menunjukkan pada makna "banyak, berlimpah, kebanyakan" dan derivasinya. Kurang lebih ada 90 kata. Terdapat beberapa lafaz yang memiliki akar makna yang sama, yaitu menunjukkan makna banyak atau berlimpah, seperti جم (banyak), غدق (melimpah ruah), لبد (berkerumun atau menumpuk), dan كثر (banyak atau banyak jumlahnya). Meskipun berasal dari makna dasar yang serupa, masing-masing lafaz ini memiliki nuansa makna tersendiri yang membedakannya dalam konteks penggunaannya.

Ternyata, dalam banyak Ayat, dengan penggunaan "al-aktsar, mayoritas, kebanyakan" manusia digambarkan dengan karakter yang negatif. Berikut beberapa contohnya:

1. Mayoritas tidak beriman

وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُم بِٱللَّهِ إِلَّا وَهُم مُّشْرِكُونَ

Dan kebanyakan mereka tidak beriman kepada Allah melainkan mereka mempersekutukan-Nya — Yusuf: 106.

وَمَا أَكْثَرُ ٱلنَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ

Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya— Yusuf: 103.

2. Mayoritas tidak tahu

وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui— Al-A’raf: 187.

بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

Bahkan kebanyakan mereka tidak mengetahui — An-Nahl: 75.

3. Mayoritas tidak bersyukur

وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ

Tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur— Al-Baqarah: 243.

4. Mayoritas Kafir

فَأَبَىٰ أَكْثَرُ ٱلنَّاسِ إِلَّا كُفُورًا

Tetapi kebanyakan manusia tidak menghendaki kecuali kekafiran) — Al-Furqan: 50.

5. Mayoritas tidak menggunakan akal

قُلِ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

Katakanlah: "Segala puji bagi Allah", tetapi kebanyakan mereka tidak mengerti) — Al-Ankabut: 63.

Fenomena ini bukan hanya data statistik spiritual, tapi juga realitas sosial. Al-Qur’an sedang memperingatkan kita: jangan terlalu terpesona dengan suara mayoritas. Yang ramai belum tentu benar. Yang viral belum tentu berakhlak dan baik. Bahkan dalam konteks dakwah, Allah mengingatkan:

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي ٱلْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ

Jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah — Al-An’am: 116.

Sebaliknya, Al-Qur’an justru memuji mereka yang sedikit, namun kokoh:

وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ ٱلشَّكُورُ

Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur— Saba’: 13.

Kita hidup di zaman debat tanpa ujung. Ayat tentang “manusia paling banyak membantah, berdebat” seakan menyingkap tabir sosial kita hari ini. Maka marilah kita bercermin: apakah kita termasuk “yang banyak”, atau berjuang untuk menjadi “yang sedikit”? Karena dalam ukuran Al-Qur’an, kebenaran bukan ditentukan oleh kuantitas, tapi oleh kualitas iman, ilmu, dan syukur. Dan belum tentu yang sedikit benar lo ya?! Jangan disalah pahami. Lihat konteksnya.

Al-Qur’an, melalui penyebutan sifat-sifat negatif yang sering dikaitkan dengan kelompok mayoritas (al-aktsariyyah), tidak sekadar menginformasikan kondisi manusia, tetapi mengungkap hakikat jiwa manusia di setiap waktu dan tempat. Jiwa manusia cenderung mengikuti hawa nafsu, lalai, ingkar, dan terpaut pada syahwat duniawi. Karena itu, Al-Qur’an hadir untuk mengarahkan manusia agar melawan kecenderungan-kecenderungan negatif tersebut, menahan syahwatnya, serta memperbanyak zikir dan syukur kepada Allah. Dengan demikian, manusia diajak untuk tidak larut dalam arus mayoritas yang menyimpang, melainkan membangun kesadaran pribadi yang menuntunnya pada jalan kebenaran.

Namun, Ayat-Ayat yang mencela mayoritas (al-aktsariyyah) harus dibaca dalam konteksnya masing-masing dan dipahami berdasarkan sebab turunnya. Sebab, sebagian besar Ayat-Ayat tersebut merujuk pada kelompok tertentu, seperti kaum musyrik atau Bani Israil, sehingga celaan terhadap mayoritas tidak berlaku secara mutlak. Meski demikian, terdapat juga beberapa Ayat yang menyifati mayoritas dengan sifat tercela secara umum, seperti tidak mengetahui, tidak bersyukur, dan tidak berpikir. Dalam hal ini, konteks dan susunan Ayat menjadi faktor utama dalam memahami maksud dari ayat tersebut, sehingga penting untuk memperhatikan konteks agar tidak terjadi kesalahan dalam memahami pesan Al-Qur’an.

Asyik kan?

Ayo ikuti kajian berikutnya tentang siapakah yang sedikit, minoritas atau paling sedikit dalam Al-Qur'an. Dan juga mengapa Al-Qur'an menggunakan kata "katsirun"?

Maraji':

Al-Qur'an Al-Karim
Tafsir Ibnu Katsir, Al-Qurtubi, At-Tahrir wattanwir, Al-Alusi, Al-Muharrir Al-wajiz.

Tragedi Pembakaran Karya Ulama oleh Api Cemburu Seorang Istri


Halimi Zuhdy

Sebenarnya ingin sekali menulis tentang polemik PBNU, tapi selalu ditahan. Takut kualat. Karena banyak hal tersembunyi, yang tidak diketahui. Nanti malah memperkeruh suasana, bukan membuat suasana indah seperti sebelumnya. Tapi, saya yakin, ulama NU atau pengurus NU akan mampu menyelesaikannya dengan indah. Tinggal ngopi, buka kitab, sambil tersenyum, dan selesai.
Toyyib. Tarik nafas dulu untuk memasuki tema baru.....huh. Apakah benar ada seorang istri yang tega membakar kitab-kitab karangan suaminya, yang seorang ulama? Jawabannya: ya, pernah terjadi. Kok tega ya?!. 

Namun, kata "tega" tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari situasi, emosi, dan relasi yang rumit. Dalam kondisi tertentu, manusia bisa melakukan sesuatu yang bahkan melampaui batas rasionalitasnya sendiri.

Dalam sejarah, pembakaran kitab, yang dikenal sebagai "biblioklasme" atau "librisida" sering kali didorong oleh motif moral, keagamaan, atau politik. Kitab dianggap menyimpang, berbahaya, atau mengancam tatanan yang ada. Abdul al-‘Al bin Sa‘ad al-Rasyidi, dalam artikelnya "Itlaf az-Zaujah Kutub Zaujatiha", mencatat satu motif lain yang lebih personal "cemburu yang terlampau dalam (ghirah syadidah)". Sebagian istri ulama produktif membakar karya suaminya bukan karena benci pada ilmu, melainkan karena merasa tersisih oleh ilmu itu sendiri.

Sejarah mencatat banyak tragedi pembakaran pengetahuan: Perpustakaan Baghdad, Perpustakaan Iskandariyah, Sarajevo, naskah-naskah kuno bangsa Maya. Bahkan pada masa modern, kita menyaksikan pembakaran buku "Harry Potter" di Polandia oleh sejumlah pastor karena dianggap mengajarkan sihir. Namun pembakaran kitab oleh istri, di ruang domestik yang sunyi, memiliki luka yang berbeda: luka relasi, luka cinta, dan luka pengabaian.

Fenomena ini tak bisa dibaca dari satu sisi saja. Pertanyaannya bukan hanya "mengapa istri sampai membakar kitab", tetapi juga "apa yang terjadi dalam kehidupan sang suami" hingga kitab-kitab itu menjelma menjadi “lawan” bagi kehadiran istri. Membahas sebab-sebab ini membutuhkan telaah panjang dan tulisan ini tidak akan masuk ke sana. Yang ingin dihadirkan di sini adalah jejak-jejak peristiwa itu sendiri.

Beberapa ulama yang karya-karyanya pernah dibakar oleh istrinya antara lain: "Imam Sibawaihi, Laist bin Mudhaffar, Al-Amir, Zubair bin Bakkar, Muhammad bin Syihab al-Zuhri, Ibrahim Abdul Qadir, Ibrahim al-Iyasyi", dan lainnya.

Sibawaihi dan Kitabnya yang Hangus

Abu Bisyr ‘Amr bin ‘Utsman al-Farisi, yang lebih dikenal sebagai "Imam Sibawaihi" adalah raksasa dalam ilmu nahwu. Karya monumentalnya, "al-Kitab", bahkan dijuluki sebagai “Qur’an-nya Ilmu Nahwu”. Kitab ini menjadi rujukan lintas zaman dan lintas madzhab. Menariknya, kitab itu awalnya tidak memiliki nama; para ulama generasi setelahnyalah yang menamainya "al-Kitab".

Selain karya tersebut, Sibawaihi menulis banyak kitab lain, siang dan malam, tanpa jeda. Kitab-kitab itu ditulis rapi, disusun bab demi bab, dan dijilid dengan penuh ketelitian. Namun dedikasi total itu justru memantik api cemburu istrinya, seorang perempuan Basrah yang mencintainya dengan sangat.

Suatu hari, ketika Sibawaihi pergi ke pasar, sang istri menyalakan api dan melemparkannya ke tumpukan kitab. Dalam sekejap, catatan-catatan berharga, termasuk hasil pelajaran dari gurunya, al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi, hangus menjadi abu.

Ketika Sibawaihi pulang, ia terperanjat. Melihat karyanya lenyap, ia jatuh pingsan. Setelah sadar, ia menceraikan istrinya. Kisah ini diriwayatkan oleh Shaid dalam "Kitab al-Fushuh". Sebuah tragedi sunyi antara cinta, ilmu, dan kehilangan.

Dua Puluh Tahun Ditulis, Sekejap Hangus

Dalam "Kitab Ma‘ani al-Hubb", dikisahkan tentang "Syekh Ibrahim al-Iyasyi", penulis kitab "al-Hujurat" sebuah karya tentang kamar-kamar Nabi Muhammad dan para istrinya. Buku ini ditulis, diteliti, dan ditahqiq selama dua puluh tahun penuh.

Namun kesungguhan itu menuntut harga mahal. Syekh Ibrahim jarang di rumah. Jika pun pulang, ia tetap tenggelam dalam naskah dan diskusi, jauh dari istri dan lima anaknya. Dalam cemburu yang memuncak, dan mungkin kelelahan emosional, sang istri membakar kitab "al-Hujurat". Demikian disampaikan Anis Manshur, sahabat dekat al-Iyasyi.

Kitab Lebih Dicintai dari Istri

Kisah lain datang dari "Abu al-Mubassyir", seorang ulama besar dalam ilmu mantiq dan hikmah. Ia dikenal selalu membawa kitab ke mana pun pergi—bahkan di atas kendaraan. Kitab adalah teman paling setia dalam hidupnya.

Istrinya berasal dari kalangan terpandang dan cerdas. Namun setelah al-Mubassyir wafat, sang istri menaiki tumpukan kitab itu dengan kenangan bahwa kitab-kitab tersebut telah “mengalahkannya” dalam cinta sang suami, lalu melemparkannya ke kolam besar di samping rumah. Banyak karya al-Mubassyir tenggelam dan rusak, hilang bersama air dan waktu.

Kamus Pertama yang Nyaris Lenyap

"Kamus al-‘Ain", kamus pertama dalam bahasa Arab yang disusun oleh "al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi", juga memiliki kisah kelam. Naskah kamus itu pernah dibakar oleh istri "al-Laist", sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn al-Mu‘taz. Konon, setelah al-Laist menerima naskah itu dari al-Khalil di Khurasan, ia tenggelam total dalam penyusunan dan pengkajiannya, hingga sang istri terbakar cemburu.

Namun sebagian sejarawan menyebut kisah ini lemah, bahkan mungkin sengaja disebarkan untuk menjatuhkan nama al-Khalil. Yang jelas, "al-‘Ain" akhirnya ditulis ulang oleh al-Laist dan para pakar bahasa lain, agar warisan ilmu itu tidak benar-benar lenyap.

Ketika Ilmu Memilih Kesendirian

Tak sedikit ulama akhirnya memilih tidak menikah. Mereka sadar bahwa hidup bersama kitab menuntut pengorbanan besar. Di antara mereka: "Imam an-Nawawi, Ibn Taimiyah, Ibn Jarir al-Thabari, al-Zamakhsyari", dan lainnya. Barangkali, salah satu alasan mereka adalah ketakutan akan konflik antara cinta manusia dan cinta pada ilmu.

Sebagian istri para ulama bahkan menyebut kitab-kitab itu sebagai "bahaya". Istri Muhammad bin Syihab al-Zuhri dan Zubair bin Bakkar pernah berkata, “Demi Allah, tidak ada mudarat yang lebih besar daripada kitab-kitab ini.” Istri sastrawan Ibrahim Abdul Qadir al-Mazini mengeluh, “Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada kitab-kitab ini.”

Maka, di balik lahirnya karya-karya besar, sering tersembunyi luka-luka kecil yang tak pernah tercatat: cemburu, kesepian, dan rasa tak dianggap. Kitab-kitab itu tidak hanya menyimpan ilmu, tetapi juga jejak emosi manusia yang rapuh.

***
Repost, pernah dimuat oleh Alif. Id

Bukan Kitab yang Dibenci, Tapi Kesepian


Halimi Zuhdy

Membincang Sumatera, seperti membincang kecemburuan. Kecemburuan dalam penanganan bencana. Maka, beredar berbagai narasi-narasi atas kurang tanggapnya pemerintah dalam penanganan bencana.
Toyyib. Kita melanjutkan tentang tulisan sebelumnya, tentang kecemburuan. Mengapa seorang perempuan bisa cemburu pada kitab? Dan kemudian membakarnya. Pertanyaan ini terdengar ganjil, bahkan absurd. Kitab tidak bernapas, tidak berbicara, tidak membalas tatapan. Tetapi justru di situlah letak persoalannya, "kitab selalu ada, sementara kehadiran suami yang juga seorang ulama sering absen". Apakah berdosa membakar kitab? Wah, perlu ditilik dan dipahami lebih dalam, kalau membincang hukumnya. He.

Sebelum dilanjutnya, tarik nafas dalam-dalam.....huh. Cemburu perempuan dalam kisah-kisah pembakaran kitab bukanlah cemburu biasa. Ia bukan cemburu karena orang ketiga, melainkan karena "perhatian yang terus-menerus jatuh pada sesuatu yang tak pernah lelah menyerap waktu dan jiwa". Kitab menjadi saingan yang sunyi, tetapi menang telak.

Perempuan tidak tiba-tiba membakar kitab. Tidak ada amarah yang lahir dalam satu malam. Ia tumbuh perlahan dari percakapan yang ditunda, dari makan malam tanpa dialog, dari rindu yang tak pernah ditanya, dari perasaan menjadi “tamu” di rumah sendiri. Ketika kitab selalu dipeluk, sementara dirinya hanya disapa seperlunya, maka cemburu berubah menjadi luka.

Lalu siapa yang harus disalahkan?

Jika kita menunjuk perempuan semata, kita sedang menutup mata dari sebab. Jika kita menyalahkan ulama sepenuhnya, kita sedang mengabaikan batas moral.

Perempuan itu bersalah "karena membakar" mungkin "ya", he. Tidak ada dalih yang membenarkan perusakan ilmu. Kitab adalah amanah publik, bukan milik emosi privat. Api tidak pernah menjadi solusi bagi luka batin. Seorang perempuan itu perasa, walau tidak semua perempuan lo ya!

Tetapi sang ulama pun tidak sepenuhnya tak bersalah. Ilmu yang luhur tidak membebaskan seseorang dari tanggung jawab relasi. Kesalehan intelektual tidak otomatis berarti kesalehan sosial. Ketika ilmu mengasingkan pasangan hidup, maka yang retak bukan hanya rumah tangga, tetapi juga etika keilmuan.

Cemburu perempuan dalam kisah ini adalah bahasa terakhir dari "ketiadaan kehadiran". Ia bukan melawan ilmu, melainkan melawan kesepian. Kitab dibakar bukan karena dibenci, tetapi karena dianggap telah “merebut” seluruh cinta. Di sinilah tragedinya, "ilmu yang seharusnya memanusiakan, justru menjadi alasan dehumanisasi". 

Islam tidak pernah memusuhi cemburu. "Ghirah" adalah fitrah. Tetapi Islam juga memberi batas "cemburu tidak boleh melampaui keadilan". Ketika cemburu berubah menjadi kehancuran, itu tanda bahwa dialog telah mati jauh sebelumnya. Oh ia, cemburu dalam bahasa Arab adalah "ghirah", tapi dalam bahasa Indonesia diartikan dengan "semangat". 

Ok. Lanjut....Maka, yang patut disalahkan bukan hanya siapa yang menyalakan api, tetapi "mengapa api itu dibiarkan menyala tanpa pernah dipadamkan oleh kehadiran, perhatian, dan kasih sayang".

Kitab memang harus dijaga. Tetapi rumah tangga juga harus dihidupi. Ulama sejati bukan hanya yang setia pada teks, tetapi juga yang adil dalam relasi. Dan cinta sejati bukan yang menuntut penghancuran, melainkan yang berani meminta kehadiran.

Api dalam kisah ini bukan semata api cemburu. Ia adalah api dari cinta yang terlalu lama diabaikan.

Ini bukan hanya membakaran kitab Lo ya, tapi semua hal, tidak bisa hanya dinilai sepihak. Seperti selingkuh? Mengapa selingkuh, walau tidak pernah dibolehkan selingkuh, tapi ia tidak pernah berdiri sendiri ada banyak sebab yang mengitarinya. 

***
Perjalanan Malang, Probolinggo menuju Situbondo..

Tragedi Buku yang Membunuh Pembacanya


Halimi Zuhdy

Dua tulisan sebelumnya, saya menulis tentang pembakaran buku, cinta dan ulama. Ketika membuka natgeomagarab, tiba-tiba mata saya tertegun dengan vedio yang menampilkan kitab bersampul hijau, dengan judul "kitab ahdhar bassam, kitab hijau beracun". Ini info yang unik. Kemudian saya tilik dibeberapa laman, dengan judul lebih mengerikan "bimujarati lamsihi, wa qiroatihi satamut, hanya memegang dan membacanya kau akan mati"!  

Saya terus membacanya, saya kira kitab-kitab berbahasa Arab, ternyata buku karya Robert C, seorang profesor kimia dan dokter Amerika, ia sangat mengerikan dan setiap lembarannya membawa petaka. Membunuh. 
Sebelum dilanjut membaca, tarik nafas dulu......huh. Geser tempat duduk, dan sruput kopi susunya. Toyyib. Ada ungkapan lama yang menyebut buku sebagai jendela dunia. Namun kisah "Adhalal min didaril maut, Shadows from the Walls of Death" (1863) justru menghadirkan kengerian. Sebuah buku yang, secara harfiah, dapat membunuh pembacanya. Bukan karena isinya menghasut kekerasan, melainkan karena halaman-halamannya dilapisi racun mematikan, arsenik. Buku karya Robert C. Kedzie kini tercatat dalam Guinness World Records sebagai buku paling berbahaya di dunia. Di balik sensasinya, kisah ini menyimpan pelajaran etis yang relevan hingga hari ini. Wow.

Kedzie bukan penulis horor. Ia seorang ilmuwan yang gelisah melihat praktik industri abad ke-19. Penggunaan arsenik dalam pewarna hijau cerah pada kertas dinding rumah (jidar ahdhar). Racun itu menguap ke udara, dihirup manusia, dan perlahan merenggut nyawa, terutama kalangan anak-anak. Ketika peringatan ilmiah diabaikan, Kedzie memilih jalan ekstrem. Ia mengumpulkan sampel kertas dinding beracun dan menjilidnya menjadi buku. Ia ingin membuktikan bahaya itu dengan cara yang tak bisa diabaikan. Buku itu bukan untuk dibaca, melainkan untuk “dirasakan”. sebuah peringatan yang memaksa. Ngeri.

Di sinilah kita dihadapkan pada dilema etika pengetahuan. Apakah sah menggunakan bahaya untuk menyadarkan publik dari bahaya yang lebih besar? Kedzie tampaknya yakin bahwa guncangan perlu ketika nalar publik tumpul. Namun sejarah juga mengajarkan bahwa kebenaran yang disampaikan tanpa pagar keselamatan dapat berubah menjadi ancaman baru. Tak heran, dari seratus eksemplar, kini hanya tersisa dua, disimpan dengan protokol ketat di Universitas Michigan. Kemana lainnya? Gak tahu.he

Apakah hari ini juga masih ada? Hari ini, racun tidak selalu berwujud arsenik. Ia bisa hadir sebagai disinformasi, teknologi tanpa etika, atau kebijakan yang abai pada dampak kesehatan dan lingkungan. Seperti kertas dinding hijau abad ke-19, bahaya sering tampak indah dan “normal” hingga korban berjatuhan. Ketika peringatan ilmiah diabaikan, siapa yang bertanggung jawab, ilmuwan yang berteriak, industri yang meraup untung, atau publik yang lalai? Entah musibah Sumatera masuk atau tidak?

Buku Kedzie mengajarkan bahwa pengetahuan bukan sekadar akumulasi fakta, melainkan amanah. Ia harus disampaikan dengan tanggung jawab, namun juga diterima dengan kesungguhan. Sensasi tanpa etika berbahaya, tetapi penyangkalan terhadap sains tak kalah mematikan. Di antara keduanya, kita membutuhkan keberanian moral. Mendengar peringatan sebelum tragedi menjadi statistik.

Shadows from the Walls of Death, atau dalam bahasa Arab "Kitab ahdhar sammam", bukan tentang buku yang membunuh, melainkan tentang peradaban yang sering menutup mata. Ketika ilmu berbicara dan kita enggan mendengar, sejarah akan menemukan cara, kadang ekstrem, untuk mengingatkan. Pertanyaannya, apakah kita masih harus “menyentuh racun” agar mau berubah? Tentunya tidak. Apakah harus banyak mayat dulu, untuk sadar? Tentu juga tidak. 

Semoga kita diselamatkan olehNya. 

Sukorejo, 19 Desember 2025

Menelisik Asal Muasal Kata "Terjemah"


Halimi Zuhdy

Aha. Dari pada rapat dan diskusi di medsos tentang PBNU, saling jawab, saling tabayyun, yang tidak akan pernah selesai (kecuali duduk bersama dan benar-benar ada seorang mutarjim fikriyan, wa qalbiyan), maka mendingan membaca asal usul kata tarjamah😁🙏 siapa tahu, bisa menerjemahkan kegaduhan. 
Toyyib. Kita mulai tentang "terjemah" begitu kita membaca kata “terjemah”, imajinasi kita biasanya cuma melayang ke hal-hal sangat praktis seperti dosen yang memberi tugas menerjemahkan artikel, atau aplikasi di ponsel yang dengan bangga menulis “translate” di ikon birunya. Kata ini terasa biasa, teknis, nyaris membosankan. Padahal, kalau ditarik mundur jauh ke belakang, “terjemah” menyimpan sejarah panjang, lintas bahasa, lintas peradaban, dan bermula dari akar kata yang makna dasarnya justru jauh dari kesan rapi dan teratur. Bahkan ada pendapat dari kata "rajam", mengerikan kan?

Sebelum melanjutkan membaca, duduk manis, ambil nafas, ....huh. Jangan lupa kopinya.😁Toyyib.Dalam tradisi Arab klasik, kata kerja "tarjamah/ تَرْجَمَ" sudah dijelaskan dalam kamus besar seperti Lisān al-‘Arab, bahwa tarjamah/الترجمة adalah نقل الكلام من لغة إلى أخرى (memindahkan ucapan dari satu bahasa ke bahasa lain). Dari sini muncul sebutan juru bahasa, yaitu turjuman/التُّرْجُمان atau tarjaman/التَّرْجَمان, dan masdarnya "تَرجَمة" yang kemudian dikenal dalam bahasa Indonesia sebagai “terjemah”. Tetapi maknanya tidak hanya soal pindah bahasa, karena dalam penulisan Arab-Islam (terutama kitab ṭabaqāt dan biografi), ungkapan تَرْجَمَ لفلان juga berarti memperkenalkan seseorang dan menuliskan riwayat hidupnya; maka jamaknya tarajum/تَراجم bisa berarti kumpulan biografi tokoh, seperti dalam judul-judul تراجم الصحابة atau pembagian bab “ترجمة فلان”, sehingga “tarjamah” di sini menjadi cara mengenal seseorang yaitu dari tidak tahu menjadi tahu, seperti “alih makna” menuju pengetahuan tanpa menghilangkan inti.

Menariknya, di Indonesia, jejak makna kedua ini hampir lenyap. Kata “terjemah” mengerucut menjadi “translation” dalam arti teknis, sedangkan fungsi biografisnya digantikan istilah “biografi” atau “riwayat hidup”. Kita jarang mendengar ungkapan “tarjamah hidup ulama”, meski secara historis istilah inilah yang lama dipakai di dunia Arab.

Kalau ditarik lebih jauh, akar terjamah ternyata tidak hanya milik bahasa Arab, karena ia juga ada di banyak bahasa Semit. Yuk, kita tilik, dalam Ibrani ada "תרגם" (tirgem), dalam Aram/Suriah ada "ܬܪܓܡ" dan "ܬܪܓܡܢܐ", bahkan dalam Akkadia (bahasa kuno Mesopotamia) ada bentuk seperti "targumanu" atau "turgumannu" yang berarti “juru bahasa”, jadi gagasan tentang penerjemah dari akar t-r-g-m ini sudah sangat tua. 

Sruput kopinya lagi dan lagi....Lalu muncul pertanyaan, asal akar terjamah/ترجم dari mana? Sebagian ahli bahasa mengatakan ترجمان dan ترجمة mungkin berhubungan dengan akar yang lebih tua ر ج م (r-j-m): memang kita kenal makna keras seperti رَجَمَهُ بالحجارة (melempari batu) atau الشَّيْطانُ الرَّجيم (setan yang terkutuk), tetapi ada juga makna yang lebih halus seperti رَجَمَ بالغيب (menebak tanpa ilmu), dan التَّراجُم (saling melempar kata-kata buruk). Para peneliti lalu menduga pada lapisan paling tua, "رجم / רגם" awalnya berkaitan dengan “melontarkan suara atau kata” yaitu ucapan yang keras, campur-aduk, dan belum jelas, sebelum kemudian dipahami sebagai “melempar batu”. Bayangkan pasar kuno yang ramai dengan banyak bahasa, bagi orang yang hanya paham satu bahasa semua itu terdengar seperti gumaman yang tidak jelas, semacam kalam gharu muhaddad, di situlah peran turjuman atau tarjaman muncul, yaitu orang yang masuk ke tengah keramaian suara itu, lalu memilih, menata, dan menyampaikannya kembali dalam bahasa yang bisa dipahami orang lain.

Dari sudut pandang ini, penerjemah adalah orang yang hidup dari mengurusi ketidakjelasan. Ia berhadapan dengan kata-kata yang pada mulanya “liar” bagi salah satu pihak, lalu mengubahnya menjadi susunan makna yang bisa dimengerti. Di sini, jejak akar rajama/رجم terasa, kalau r-j-m di satu sisi adalah lemparan kata tanpa bentuk, maka t-r-j-m adalah proses menata lemparan itu menjadi kalimat yang jelas. Penerjemah bukan sekadar “orang yang menguasai dua bahasa”, ia adalah mediator antara kekacauan dan keteraturan, antara "noise" dan "meaning".

Jejak kata "tarjamah" ini terlihat jelas dalam teks klasik: "tarjuman" muncul saat banyak bangsa dan bahasa bertemu, sehingga orang baru saling paham lewat para "tarajim" (penerjemah); bahkan dalam kisah Zaid bin Tsabit, Nabi Muhammad SAW memintanya belajar bahasa Yahudi untuk membaca dan menulis surat mereka, jadi terjemah dipakai untuk diplomasi, politik, dan keamanan, bukan sekadar ilmu. 

Dalam konteks perang pun perannya bisa menentukan, karena satu kata yang keliru dapat mengubah hasil komunikasi; lalu maknanya meluas secara kiasan lewat ungkapan "al-qalamu wa al-lisanu kilahuma lil-qalbi tarjuman" (pena dan lidah adalah “penerjemah” hati), yakni mengubah isi batin menjadi kata atau tanda yang dipahami orang lain. Istilah ini juga hadir dalam fikih pengadilan sebagai "mutarjim", lalu menyeberang ke Eropa pada masa Ottoman sebagai "dragoman" (juru bahasa resmi), hingga akhirnya "tarjamah" masuk ke Nusantara menjadi “terjemah” dan melahirkan “menerjemahkan” serta “penerjemah”. 

Memahami asal-usul kata ini membuat kita sadar bahwa “terjemah” bukan cuma memindahkan bahasa, tetapi kerja panjang menata makna, membuat yang asing jadi akrab dan yang kabur jadi jelas, sebuah rantai sejarah dari rajm → tarjama → tarjuman → tarjamah → terjemah. 

Allahualam Bishawab

Menyapa PP. Banyuanyar "Sastra Arab sebagai Warisan yang Mengilhami Dunia"


Halimi Zuhdy

Menyapa Pondok Pesantren Banyuanyar selalu menghadirkan kesan yang sama, teduh, hidup, dan penuh semangat keilmuan. Kali ini, sapaan itu terbingkai dalam peringatan Hari Bahasa Arab Sedunia, yang diselenggarakan di Markaz Bahasa Arab Putri Pondok Pesantren Banyuanyar, dengan tema besar: Al-Adab al-‘Arabiyyah: Mīrāts Yulhim al-‘Ālam, Sastra Arab sebagai Warisan yang Mengilhami Dunia.
Acara ini dihadiri oleh para santri putri yang dengan antusias membincang sastra Arab, bukan sekadar sebagai teks klasik, tetapi sebagai denyut peradaban yang membentuk cara berpikir dunia. Di samping saya sebagai moderator oleh Dr. Muhsin Muis , menghadirkan suasana ilmiah yang cair, dialogis, dan menggugah.

Yang paling mengesankan, diskusi berlangsung sangat hidup. Pertanyaan-pertanyaan peserta menunjukkan bahwa bahasa Arab di pesantren ini tidak dipelajari sebagai hafalan, melainkan sebagai bahasa makna, bahasa rasa, dan bahasa peradaban. Dari puisi Jahiliyah, prosa klasik, hingga pengaruh sastra Arab terhadap filsafat, ilmu pengetahuan, dan sastra dunia, semuanya dibincang dengan semangat ingin tahu yang jujur dan cerdas.

Kegiatan ini terasa istimewa, bukan hanya karena temanya, tetapi juga karena ia menjadi pertemuan keempat atau mungkin kelim saya di pesantren ini. Setiap kunjungan selalu menghadirkan energi yang sama: kesungguhan dalam menjaga bahasa Arab sebagai ruh keilmuan Islam.

Pondok Pesantren Banyuanyar bukanlah pesantren yang lahir kemarin sore. Ia berdiri sejak sekitar 1787 M, dirintis oleh Maulana Raden KH. Itsbat bin Ishaq, bermula dari sebuah musholla kecil di tanah Madura yang gersang. Dari tempat sederhana itulah, sejarah besar dimulai. Nama “Banyuanyar” lahir dari penemuan sumber mata air jernih yang hingga kini masih mengalir dan dimanfaatkan. Namun lebih dari itu, “Air Baru” adalah simbol pembaruan, ilmu yang menghidupkan, tradisi yang menyegarkan, dan iman yang terus mengalir lintas generasi.

Warisan KH. Itsbat bukan hanya bangunan, melainkan amanah peradaban, membangun pesantren yang kokoh dalam nilai, namun tanggap terhadap zaman. Amanah ini diteruskan oleh generasi penerus mulai dari Raden KH. Abd. Hamid, RKH. Abdul Majid, RKH. Baidhawi, RKH. Abdul Hamid Bakir, RKH. Muhammad Syamsul Arifin dan dilanjutkan oleh KH. Hasbullah..

Bahasa Arab sebagai Nafas Pesantren
Komitmen Banyuanyar terhadap bahasa Arab bukan slogan kosong. Ia diwujudkan secara nyata melalui pendirian STIBA Darul Ulum Banyuanyar pada tahun 2016, yang kemudian berkembang menjadi STAI Darul Ulum Banyuanyar (STAI DUBA). Bahasa Arab ditempatkan bukan hanya sebagai alat memahami teks, tetapi sebagai jalan membangun adab, nalar, dan kepekaan intelektual. Sekarnag menjadi IDB (institut Darul Ulum)

Slogan pesantren ini terasa relevan hingga kini “Berpijak pada ilmu yang bermanfaat dan mendekatkan diri kepada Allah.” Di sinilah bahasa Arab menemukan maknanya bukan sekadar struktur dan gramatika, melainkan sarana tazkiyah, peradaban, dan pengabdian.

Menyapa PP. Banyuanyar adalah menyapa air ilmu yang tak pernah berhenti mengalir. Dari Madura, ia menyapa dunia melalui bahasa Arab, sastra, dan adab yang terus mengilhami zaman.

Pamekasan, 26 Des 2025

Bahasa Arab dan Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo


Halimi Zuhdy

Entah mengapa, setiap kali kaki ini menjejakkan diri di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, ada semacam energi yang sulit dijelaskan dengan bahasa biasa. Ia bukan sekadar semangat akademik, melainkan getaran batin, madrasah fiqih, bahasa, sejarah, dan doa bertemu dalam satu ruang peradaban. 
Mungkin karena pondok ini memang lahir dari kajian kitab (bahasa), dan bahasa yang dimaksud adalah bahasa Arab. Atau mungkin karena tema-tema yang terus berulang, seakan tak pernah usang: al-hifâz ‘alâ irtsi al-lughah al-‘Arabiyyah, menjaga warisan bahasa Arab. Tema ini bukan sekadar judul acara. Ia adalah napas pesantren itu sendiri. Bahasa Arab bukan hanya 4 maharat yang dimaksud, tetapi di situ adalah Al Qur'an, hadis dan kitab-kitab kuni yang berkelindan. 

Di pesantren, bahasa Arab bukan hiasan kurikulum. Ia adalah jantung. Kitab-kitab yang dikaji, fiqih yang didalami, ushul yang dirumuskan, tasawuf yang dihayati, semuanya berjalan dalam irama bahasa Arab. Kalau pun ada pelengkap lain, ia hanyalah “ekstra”, bukan inti. Karena itu, membicarakan pesantren tanpa bahasa Arab sama dengan membicarakan tubuh tanpa ruh.

Kehadiran saya di Sukorejo kali ini bukan yang pertama. Ini adalah kunjungan ketiga. Pertama, dalam Sastra Pesantren, saya bahkan mendapat amanah membacakan puisi. Kedua, pada perayaan Hari Bahasa Arab Sedunia. Dan kini, lagi-lagi tentang bahasa Arab. Menariknya, hampir selalu bersama Markaz Bahasa Arab Putri. Entah kebetulan atau pesan simbolik, bahwa masa depan bahasa, peradaban, dan pesantren juga bertumpu pada ketekunan para santri putri. He.
Namun, Sukorejo bukan hanya soal hari ini. Ia adalah sejarah yang ditulis dengan keringat, doa, dan keteguhan iman. Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo dirintis sejak tahun 1908 oleh KHR. Syamsul Arifin (Raden Ibrahim), dengan membabat hutan belantara di Situbondo hingga menjadi perkampungan kecil dan mushala sederhana. Tahun 1914 kemudian ditetapkan sebagai tahun berdirinya pesantren, saat pendidikan klasik mulai berjalan secara sistematis.

Api perjuangan itu diteruskan dan diperbesar oleh putranya, KHR. As’ad Syamsul Arifin. Di tangan beliau, Sukorejo tumbuh menjadi pusat pendidikan Islam moderat yang kokoh memegang tradisi sekaligus berani menyambut modernitas. Prinsip al-muhâfadhatu ‘ala al-qadîm al-shâlih wa al-akhdu bi al-jadîd al-ashlah bukan hanya slogan, tetapi benar-benar menjadi jalan hidup pesantren.

Sistem sorogan dan bandongan tetap terjaga, namun sekolah berjenjang modern diperkenalkan. Bahkan, Sukorejo mencatat sejarah dengan mendirikan Ma’had Aly pertama di Indonesia pada tahun 1990 sebuah tonggak penting dalam pendidikan tinggi keislaman berbasis kitab turats, yang semuanya kembali bermuara pada penguasaan bahasa Arab.

Pesantren ini juga bukan menara gading. Ia hadir sebagai pusat peradaban, benteng akidah, sekaligus penggerak kemandirian umat. Unit-unit usaha dibangun, santri diberdayakan, masyarakat sekitar disentuh. Dari sinilah lahir ulama, pemikir, dan pejuang, termasuk peran penting Sukorejo dalam sejarah NU dan perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Tongkat estafet kepengasuhan pun berjalan dengan penuh amanah: dari KHR. Syamsul Arifin, KHR. As’ad Syamsul Arifin, KHR. Achmad Fawaid As’ad, hingga kini di bawah asuhan KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy. Setiap generasi menjaga satu hal yang sama: pesantren ini harus tetap berakar pada bahasa Arab, karena dari sanalah ilmu tumbuh dan peradaban disemai.

Maka, setiap kali bahasa Arab dibicarakan di Sukorejo, sesungguhnya yang sedang dibicarakan bukan hanya bahasa, melainkan identitas, kesinambungan, dan masa depan. Bahasa Arab di pesantren bukan nostalgia masa lalu, tetapi jembatan menuju dunia, sebagaimana dulu ia menjadi bahasa ilmu yang mengilhami peradaban global.

Dan mungkin itu sebabnya, setiap kali hadir di Sukorejo, semangat itu selalu ada. Karena di tempat ini, bahasa tidak sekadar diajarkan, tetapi dihidupkan.

Syukran lakum Sukorejo

Sukorejo, 19 Des 2025

Sabtu, 15 November 2025

Sebuah Karya Disalin 700 Kali oleh Pengarangnya Sendiri



Halimi Zuhdy

Dalam sejarah sastra Arab, "Maqāmāt al-Ḥarīrī" menempati posisi yang sulit ditandingi. Ditulis oleh al-Ḥarīrī al-Baṣrī (446 H/1054 M – 516 H/1122 M), karya ini bukan hanya dikenal karena keindahan bahasanya, tetapi juga karena kisah penggandaan manuskripnya yang hampir tak ada duanya. 
Dr. Nursi dalam Tahqiqat menulis

من أشهر ما كُتب في أدبنا العربي المقامات التي تُنمى إلى الحريري ت ٥١٦ هجرية، فقد رواها عنه الجم الغفير الذين لا يكادون يحصون، وتكاثرت نسخها حتى نقل لنا ياقوت الحموي أن  الحريري نفسه قال: ( كتبتُ بخطي على سبع مئة نسخةٍ من المقامات قُرئت عليّ). وهذا مبلغ من الشهرة كبير، ومن الكثرة كثير، رحم الله علماءنا الذين خدموا التراث بمؤلفاتهم.

Menurut catatan Yāqūt al-Ḥamawī, al-Ḥarīrī sendiri menyalin tujuh ratus (700) naskah dari karya tersebut dengan tangannya, dan setiap naskah itu dibacakan kembali kepadanya. Ini tidak biasa, dan langka, apalagi di era digital. Disalin (nuskhah, ditulis kembali dengan tangan), bukan dicetak lo ya.

Bagi masyarakat modern yang akrab dengan mesin cetak dan file digital, angka tujuh ratus mungkin sekadar statistik. Namun pada abad ke-12, penyalinan naskah adalah pekerjaan yang menuntut waktu panjang, ketelitian tinggi, dan ketahanan fisik. Hal ini menunjukkan betapa besar minat terhadap "Maqāmāt al-Ḥarīrī", sebuah indikasi bahwa karya tersebut menjadi rujukan penting bagi para pelajar, ahli bahasa, dan cendekiawan pada masa itu. 

Genre "maqāmah" sendiri diperkenalkan oleh Badi‘ az-Zamān al-Hamadhānī, lalu mencapai puncak teknis melalui tangan al-Ḥarīrī. Bentuk ini menggabungkan cerita ringkas dengan dialog cepat, permainan kata, dan saj‘, prosa berirama yang menjadi ciri khas retorika Arab klasik. Di dalamnya, pembaca menemukan perpaduan antara kecerdasan, humor halus, dan ketangkasan berbahasa.

Keunikan "Maqāmāt al-Ḥarīrī" bukan hanya pada tekniknya, tetapi juga pada cara ia diposisikan dalam tradisi belajar. Karya ini menjadi semacam “buku latihan” bagi mereka yang ingin menguasai bahasa Arab pada tingkat tinggi. Membacanya ibarat memasuki ruang kelas besar, tempat keahlian bahasa diuji melalui narasi yang singkat namun padat.

Penyalinan 700 naskah oleh al-Ḥarīrī sendiri mengisyaratkan dua hal, luasnya peminat saat itu dan komitmen sang pengarang dalam memastikan kualitas setiap salinan. Di era sebelum percetakan, tindakan ini setara dengan menjaga standar intelektual dan estetika karya agar tidak berubah dari satu kota ke kota lainnya.

Hari ini, "Maqāmāt al-Ḥarīrī" tetap dipelajari di berbagai negara dan dianggap sebagai salah satu monumen sastra Arab klasik. Kisah di balik proses penyalinannya memberi kita gambaran tentang tradisi keilmuan masa lalu, ketika sebuah buku tidak hanya ditulis, tetapi dirawat secara serius oleh pengarangnya sendiri.

Di tengah dunia digital yang serba cepat, cerita tentang tujuh ratus salinan ini mengingatkan bahwa kualitas pengetahuan sering lahir dari kesabaran dan ketekunan. Sebuah pelajaran sederhana yang tidak lekang oleh waktu.

Menulis, berkarya, butuh ketekunan dan konsistensi. Batu berlubang, terkadang bukan dengan kekuatan paku san besi yang menghujam, tapi dengan tetesan air yang istiqamah.

Fenomena Dai Muda Viral, yang Kurang Beretika?


Halimi Zuhdy

Di zaman digital, di era ini. Banyak sekali lahir generasi baru, para dai muda, mereka bersemangat, kreatif, dekat dengan bahasa anak muda, dan cepat diterima publik. Mereka hadir melalui podcast, TikTok, live streaming, dan potongan ceramah yang menyebar hanya dalam hitungan menit. Keren banget. 
Aha. Fenomena ini sesungguhnya membawa kabar baik: gairah dakwah berkembang, terus menyala (ikut bahasa anak muda), kita sangat senang sekali. Namun di balik hal ini, seperti beberapa tahun terakhir yang viral, tidak sedikit kasusnya adalah dai muda (syabab). Walau, tidak sedikit juga dai sepuh (Syaikh) yang viral. Viralnya yang negatif juga. Lalu, bagaimana menyikapi fenomena ini? Apakah perlu batasan umur? Sertifikasi? Atau langkah-langkah lain? Mungkin ada yang mau berbagi ide, (bisa ditulis di kolom komentar) ini hanya kepikiran Al faqir saja. 

Karena fenomena ini menuntut perhatian serius, bukan untuk membatasi ruang dakwah generasi baru, tetapi untuk memastikan bahwa dakwah tetap berjalan dalam koridor ilmu, akhlak, dan tanggung jawab sosial.

Pertama, persoalan usia perlu ditempatkan secara proporsional. Dalam tradisi Islam, tidak ditemukan batasan umur tertentu untuk berdakwah. Sejarah mencatat banyak tokoh muda yang berperan penting dalam perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW. Namun demikian, kelayakan berdakwah tidak ditentukan oleh usia biologis lo, melainkan kedewasaan ilmu dan kematangan akhlak. 

Banyak kegaduhan yang muncul di ruang publik bukan karena kemudaan seorang dai, melainkan kurangnya pendampingan dan kurangnya kedisiplinan dalam mengelola kata dan sikap di hadapan audiens yang sangat luas.

Kedua, gagasan sertifikasi dai kerap menjadi perdebatan. Sebagian menilai sertifikasi dapat menjaga kualitas dakwah, sementara sebagian lain menganggapnya sebagai bentuk pembatasan terhadap kebebasan berdakwah. 

Jalan tengah yang mungkin ditempuh adalah mendorong hadirnya standar pembinaan yang tidak bersifat membatasi, tetapi memberikan panduan etik dan ilmiah bagi mereka yang tampil sebagai rujukan agama di ruang publik. Sertifikasi dalam bentuk pelatihan atau program akhlak-profesional dapat menjadi solusi tanpa menimbulkan resistensi yang berlebihan. 

Dan penting afiliasi  dengan lembaga dakwah, untuk pembinaan atau menegur apalabila keliru. Misalnya, kalau di NU ada LDNU, maka penting dapat kartu atau apalah, sebagai bukti ia layak berdakwah (dalam ukuran ini), bukan untuk mematikan dai lainnya, tapi untuk memastikan dalam bimbingan, karena urusan umat. Tapi, entahlah🤩

Ketiga, pentingnya peran ulama senior dalam membimbing dai muda tidak dapat diabaikan. Rantai keilmuan dalam tradisi Islam selalu berjalan melalui mekanisme talaqqi dan pendampingan. Dai muda membutuhkan tempat untuk bertanya, guru untuk menegur, dan figur untuk menanamkan nilai-nilai adab sebelum ilmu. Tanpa ekosistem mentoring, kecepatan popularitas dapat melampaui kedalaman keilmuan, dan di sinilah potensi kesalahan mulai bermunculan. Ini berjalan, tapi tidak merata? 

Kenapa, apa karena banyaknya masyarakat muslim di Indonesia, sehingga kalau kita lihat, terutama di desa desa terpencil  sangat langka sekali. Maka, atau kebaikan lembaga-lembaga tertentu, mengirimkan dai ke pelosok (walau tidak ada dana sedikit pun), lah pemerintah harus hadir di sini.

Keempat, dakwah di media sosial memerlukan etika khusus. Logika algoritma sering mendorong munculnya konten yang cepat, provokatif, atau kontroversial. Tanpa kesadaran etis, dakwah dapat terjebak dalam pola pencarian perhatian semata. Oleh karena itu, perlu ada kode etik dakwah digital yang mencakup kehati-hatian dalam memilih topik, pengendalian gaya penyampaian, serta komitmen menjaga kehormatan mimbar dakwah dari unsur-unsur hiburan yang berlebihan. Sering kali ada tagar # atau tulisan fyp walau tidak beretika. 

Kelima, kualitas dakwah juga bergantung pada literasi publik. Jamaah perlu dibimbing untuk memahami perbedaan antara ilmu dan hiburan, antara viral dan benar. Ketika selera publik hanya tertarik pada konten sensasional, ruang dakwah akan semakin jauh dari esensi keilmuan. Peningkatan literasi umat menjadi bagian penting agar dakwah dapat berkembang secara sehat.

Aha. Maka, kolaborasi antara generasi menjadi kunci. Dai senior menawarkan keluasan ilmu dan kebijaksanaan, sementara dai muda membawa kreativitas dan kemampuan adaptasi terhadap perkembangan zaman. Sinergi keduanya dapat menghasilkan wajah dakwah yang lebih matang, relevan, dan tetap berakar pada nilai-nilai Islam yang autentik. Dan, penting juga menghindari pertengkaran antar dai di medsos🤣🤣🤣. 

Fenomena dai muda seharusnya tidak dilihat sebagai ancaman, tetapi sebagai peluang besar bagi kebangkitan dakwah. Meski demikian, dakwah tetap merupakan amanah yang menuntut integritas, kedalaman ilmu, dan kedewasaan etika. Tanpa itu semua, dakwah hanya akan menjadi konten yang berlalu bersama arus viralitas, bukan cahaya yang membimbing umat. Semoga dakwah di era digital tetap menjadi jalan kebaikan yang memuliakan agama dan masyarakat.

Yah! Menurut jenengan bagimana yuk berbagi!

Ketika Keagungan Berselimut Kerendahan Hati



Halimi Zuhdy 

Bila ada yang bingung dan ragu ketika melihat sosok yang dikagumi kok tiba-tiba berubah. Kata-katanya kasar, ngerres, dan sikapnya angkuh, bahkan sok. Jauh dari bahasa tawadu'. Tetaplah kembali dan melihat sosok yang menjadi panutan umat, Rasulullah SAW. Walau sebenarnya, masih banyak sekali sosok-sosok indah, yang jauh dari hiruk pikuk medsos yang bisa dicontoh. Ketawaduannya luar biasa, kealimannya dan keteladannya masih bisa dibersemai.
Melihat teladan, tak ada sosok yang lebih agung dari beliau, Rasulullah SAW, seorang kekasih Allah yang dimuliakan di langit dan dicintai di bumi. Semakin tinggi kedudukan beliau, semakin rendah hati beliau kepada sesama. Tawadu’nya bukan karena lemah, tapi karena kekuatannya, kekuatan hati yang tunduk sepenuhnya kepada Allah. Beliau walau berbagai pangkat atau kemuliaan langit dan bumi sudah diberikan, tapi beliau tetap rendah hati. 

Beberapa hadis tentang ketawadu'an beliau yang diambil dari durar saniyah, sungguh sangat membuat hati rindu pada sosoknya apalagi di era, di mana penghormatan menjadi sebuah kebanggaan. 

1. Duduk seperti salah satu dari mereka

Rasulullah SAW tidak duduk di tempat yang istimewa di antara para sahabatnya.

رُوِيَ أنَّه ﷺ يَجلِسُ بَيْنَ ظَهرَيْ أصحابِه فيجيءُ الغريبُ فلا يدري أيُّهم هو حتى يسألَ عنه
(HR. Abu Dawud)

Beliau duduk di mana pun tempat itu berakhir. Seorang asing yang datang bahkan tidak bisa membedakan, siapa dari mereka yang Rasulullah SAW. Betapa dalam maknanya, pemimpin seluruh alam, namun duduk sebagai saudara di antara saudara. Tidak minta diistimewakan, sosok yang sangat luar biasa. 

2. Menolak ditinggikan di atas derajat yang Allah tetapkan

Suatu hari seseorang memanggilnya,
يا محمَّدُ، يا سَيِّدَنا وابنَ سَيِّدِنا، وخيرَنا وابنَ خَيرِنا

maka beliau, bersabda:
يا أيُّها النَّاسُ، عليكم بتقواكم، لا يَستهوينَّكم الشيطانُ، أنا محمَّدُ بنُ عبدِ اللَّهِ عبدُ اللَّهِ ورسولُه، واللَّهِ ما أحبُّ أن ترفعوني فوق منزلتي التي أنزلني اللَّهُ.

Beliau menolak disanjung, karena tahu bahwa kemuliaan sejati bukan karena gelar, tapi karena ketakwaan. Lah, ini jangan disalah artikan dengan "jangan menambah sayyidina lo ya" beda lagi pembahasannya. 

3. Menyapa anak-anak di Jalan

Rasulullah SAW selalu menebar kasih, bahkan kepada anak kecil. Beliau tak cuek.  

أنَّه مرَّ على صبيانٍ فسَلَّم عليهم، وقال: كان النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يفعلُهـ.
(HR. Anas bin Malik)

Senyum beliau kepada anak-anak adalah pelajaran tentang cinta yang sederhana, kasih sayang yang tidak memandang usia, kedudukan, atau manfaat.

4. Membantu istri di rumah

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata

سألتُ عائشةَ: ما كان النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يصنعُ في بيتِه؟ قالت: كان يكونُ في مهنةِ أهلِه -تعني خدمةَ أهلِه-، فإذا حضرَت الصَّلاةُ خرج إلى الصَّلاةِ .
HR. Bukhari

Di rumah, beliau melayani keluarganya, menjahit bajunya sendiri, memerah susu kambing, membantu pekerjaan rumah,  padahal beliau adalah utusan Allah. Di sinilah letak keagungan, rendah hati dalam hal-hal kecil yang sering kita anggap remeh.

5. Mencari sahabat yang hilang di medan perang

Dalam sebuah peperangan, beliau kehilangan seorang sahabat bernama Julaibin ketika semua merasa cukup menghitung yang hilang, Rasulullah SAW berkata:

لكنِّي أفقُد جُلَيبيبًا، فاطلبوه

Mereka menemukannya gugur di antara tujuh musuh yang telah ia bunuh sebelum ia sendiri wafat. Rasulullah SAW mengangkat jasadnya dengan tangan beliau dan bersabda:

هذا منِّي وأنا منه، هذا منِّي وأنا منه

Lalu beliau meletakkannya di liang lahat dengan kedua tangannya.

Begitulah cinta dan tawadu’-nya. Pemimpin pasukan, tapi memanggul tubuh sahabatnya sendiri dengan penuh kasih.

6. Melayani sahabatnya dengan tangan sendiri

Dalam satu perjalanan, ketika para sahabat kehausan,

جَعَلَ رسولُ اللَّهِ ﷺ يَصُبُّ الماءَ، وأبو قتادةَ يَسقِي أصحابَه

Beliau sendiri menuangkan air agar para sahabatnya minum terlebih dahulu. Saat ditawari minum, beliau berkata:

إنَّ ساقيَ القومِ آخِرُهم شُربًا
(HR. Muslim)

Beginilah pemimpin sejati  yang mendahulukan umatnya sebelum dirinya.

7. Tidur di atas tikar kasar

Suatu hari Ibn Abbas melihat Rasulullah SAW tidur di atas tikar hingga membekas di tubuhnya. Ia menangis, lalu berkata

يا رسولَ اللهِ، إنَّ كِسرى وقيصرَ فيما هما فيه، وأنتَ رسولُ اللهِ!

Beliau menjawab dengan tenang

أما ترضى أن تكونَ لهم الدُّنيا ولنا الآخرةُ؟

Kesederhanaan yang membungkus kebesaran jiwa. Dunia kecil baginya, karena surga telah menanti.

Ketawaduan Rasulullah SAW bukan hanya sikap, tapi cermin dari hati yang mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Semakin dekat dengan Allah, semakin rendah beliau di hadapan manusia.

Beliau SAW adalah matahari yang sinarnya menghangatkan, tapi tak pernah membakar; adalah samudra luas yang menampung semua sungai, tapi tak pernah meninggi.

اللهم صلِّ وسلم وبارك على سيدنا محمد، الذي جمع بين المجد والتواضع، وبين العظمة والبساطة.

Menelisik Asal Usul Kata "Pahlawan"


(Mesir Kuno, Persia, Turki, Arab, India)

Halimi Zuhdy

Setiap muncul nama-nama, atau calon nama pahlawan di Indonesia, akan banyak opini, perdebatan dan diskusi yang tak usai. Kenapa? Karena nama-nama itu nantinya bukan hanya sebuah pajangan di kalender dan ensiklopedia pahlawan nasional, tapi ia akan menjadi uswah untuk generasi berikutnya. Ia akan menjadi cermin bangsa, menjadi tombak negeri untuk bangkit lebih baik. Dan tidak hanya itu, Ia akan menjadi lambang kehormatan untuk keluarganya, masyarakatnya, sukunya dan juga negerinya. Dan juga menjadi kebanggaan, "Oh, keturunan pahlawan ya?!, pantas hebat", ini sebuah kehormatan. "Masak, keturunan pahlawan kelakuan ngono!?" Sebuah tantangan juga. 😁 . Kalau keliru memilih pahlawan? Lah, ini saya tidak tahu. Bisa didiskusikan lebih lanjut. 

Toyyib. Saya hanya akan mengulik tentang Asal-usul kata “pahlawan”nya saja, bukan tentang pantas dan tidaknya menjadi pahlawan. Kata "pahlawan" ini adalah hasil perjalanan panjang lintas bahasa, budaya, dan peradaban dari Mesir kuno hingga Persia, dari India hingga dunia Arab dan Nusantara. 

Secara etimologis, kata ini memiliki dua jalur utama yang saling beririsan: jalur "Persia - Arab" melalui istilah بهلوان (bahlawān) dan jalur "India - Nusantara melalui istilah Sanskerta "phala". Keduanya menyatu dalam makna simbolik yang menandai keberanian, keahlian, dan pengorbanan bagi sesama. Kalau kita katakan "perjuangan". 

Dalam khazanah Persia kuno, istilah پهلوان (pahlevān) berarti pahlawan, pejuang gagah, atau orang kuat. Kata ini kemudian diadopsi ke dalam bahasa Arab sebagai "بهلوان", yang awalnya bermakna "petarung atau pemain akrobat", seseorang yang tangkas, berani, dan lihai menghadapi risiko. 

Menurut sumber etimologi seperti alankaa. com dan معجم المعاني الجامع, bentuk bahlawān berasal dari akar Persia "pahlevān" dan Turki "pehlivan", yang menandakan tokoh pemberani dan kuat jasmani maupun mental. Dalam perkembangannya, istilah ini juga muncul dalam sastra Arab melalui tokoh legendaris seperti حمزة البهلوان (Hamzah al-Bahlawān), seorang figur yang mencerminkan perpaduan antara kecerdikan, kekuatan spiritual, dan keberanian menghadapi ketidakadilan.

Namun, dalam tradisi Mesir kuno, sebagaimana dijelaskan oleh Dr. ‘Isam Staty dalam portal "Ahl Masr", istilah "bahlawān" diyakini berasal dari frasa "بي أهلوان" yang berarti “orang yang meniru gerak seekor kera.” Di sini, "bahlawān" menggambarkan seseorang yang lincah dan mampu melakukan gerakan ekstrem, mencerminkan keahlian tubuh dan daya akal. Figur ini dalam cerita rakyat tidak hanya dilihat sebagai penghibur, tetapi juga sebagai simbol filsafat hidup, yakni manusia yang menggunakan akal untuk menaklukkan kekuatan fisik. Dalam narasi Hamzah al-Bahlawān, misalnya, muncul gagasan bahwa العقل ينتصر على السيف (akal mengalahkan pedang), menegaskan supremasi kebijaksanaan atas kekerasan. Ini berat banget lo.

Sementara itu, dalam konteks Nusantara, kata “pahlawan” mengalami proses lokalisasi yang unik. Berdasarkan beberapa bacaan yang saya rekam, istilah ini berasal dari bahasa Sanskrta “phala” yang berarti "buah" atau "hasil". Dalam kerangka filsafat Hindu dan Buddhis, "phala" adalah “buah perbuatan”, hasil moral dari tindakan baik manusia. Atau mungkin, kita kenal "pahala" (semoga ini tepat). Maka, "pahlawan" berarti “orang yang menghasilkan kebaikan,” yakni seseorang yang tindakan dan pengorbanannya membuahkan manfaat bagi masyarakat dan kemanusiaan. 

Lah..Di Indonesia, makna ini kemudian disahkan secara semantik oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai “orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran.”

Dengan demikian, dalam perspektif akademik, kata “pahlawan” adalah hasil sintesis antara makna fisik Persia dan makna etis India. Dari Persia dan dunia Arab, ia mewarisi aspek keberanian dan keahlian; dari India, ia menyerap nilai spiritual tentang hasil tindakan baik. Kombinasi ini membentuk konsep "pahlawan" sebagaimana dikenal di Indonesia hari ini, sosok yang kuat dalam keberanian, tajam dalam kebijaksanaan, dan tulus dalam pengorbanan. Manusia yang menjadikan hasil tindakannya sebagai buah bagi kemanusiaan. 

Terlepas dari siapa yang memilih untuk menjadikan seseorang pahlawan. Maka, pahlawan adalah sosok kuat pemberani.

Medsos Sampah dan Jerat Algoritma?


Halimi Zuhdy

Pernahkah kita merasa…... dunia ini makin riuh tapi makin sepi? Media sosial (medsos) yang katanya tempat silaturahmi, malah jadi ladang adu emosi, pamer aurat, atau ajang gosip tanpa henti.

Suatu hari, ada seorang Bapak guru yang marah-marah di depan sekolah “Media sosial itu sampah semua! TikTok sampah, Facebook sampah, Instagram juga! Isinya buka aurat, maksiat tok, gosip tok, saling hina tok!” Orang-orang mengangguk, beberapa senyum kecut, mungkin karena merasa “kena”.
Tiba-tiba, seorang anak muda mengangkat tangan. “Lho, masa sih, Pak? Saya buka media sosial malah isinya ngaji, shalawat, kajian ilmiah, banyak ilmu… saya nggak nemu yang aneh-aneh.” Seketika suasana hening. Pak Guru terdiam, menarik napas panjang, lalu tersenyum. “Ya juga, mungkin memang… yang kamu cari, itulah yang kamu temukan.”

Konon. Seorang lelaki datang kepada Buya Hamka dengan wajah heran, “Subhanallah, Buya! Saya baru pulang dari Makkah. Ternyata di Tanah Suci pun ada pelacur! Kok bisa ya, Buya? Ih, ngeri.” Buya Hamka tersenyum dan menjawab pelan, “Oh begitu? Padahal saya baru saja pulang dari Los Angeles dan New York dan masya Allah, saya tidak menemukan pelacur di sana.”

Lelaki itu kaget, “Ah, mana mungkin, Buya! Di Makkah saja ada, apalagi di Amerika!”
Buya menatapnya dengan teduh dan berkata bijak, “Nak, kita ini hanya akan dipertemukan dengan apa yang kita cari. Jika yang kita cari adalah keburukan, maka keburukanlah yang akan kita temukan, bahkan di tempat paling suci sekalipun. Tapi jika yang kita cari adalah kebaikan, maka kebaikanlah yang akan kita temukan bahkan di tempat yang paling .”

Kalimat sederhana itu dalam sekali. Makkah tak berubah yang berubah adalah mata dan hati orang yang memandangnya. Bila yang dicari dosa, dosa pun tampak di depan mata. Tapi bila yang dicari cahaya, di mana pun akan ditemukan cahaya.

Media sosial, pada dasarnya, hanyalah cermin besar dari diri kita. Kalau kita suka hal remeh, dangkal, dan sensasional, algoritma akan rajin menyajikan hal-hal itu. Tapi kalau kita suka kajian, ilmu, dan kebaikan, ajaibnya…...... timeline kita akan dipenuhi kebaikan.

Algoritma bekerja seperti pelayan setia, ia memberi apa yang sering kita minta. Masalahnya, kita sering tak sadar apa yang sebenarnya kita minta. Dan di sinilah jeratnya. Semakin sering kita klik hal yang sia-sia, semakin dalam kita ditarik ke lubang yang sama. Seolah-olah dunia ini cuma berisi konten bodoh, padahal kita sendiri yang menanamkan bibitnya di ladang algoritma.

Sebenarnya bukan hanya dunia digital yang begitu. Kehidupan juga punya algoritma sendiri. Siapa teman kita, apa yang kita dengar, bacaan apa yang kita konsumsi,  semua akan membentuk “feed” kehidupan kita.

Kalau kita bergaul dengan orang yang suka maksiat, kita akan terbiasa dengan itu. Tapi kalau kita berteman dengan orang shaleh, orang berilmu, orang yang menjaga lisannya, maka kita akan terpengaruh kebaikan mereka. Lingkar pertemanan adalah algoritma kehidupan: siapa yang kamu dekatkan, dialah yang akan paling sering “muncul” dalam hidupmu.

Kita Mau Jadi Apa?

Di media sosial, kita punya dua pilihan: 1). Jadi korban algoritma, yang diseret oleh klik dan scroll tanpa sadar. 2). Atau jadi pencipta algoritma, yang sadar memilih apa yang dilihat, dibaca, dan disebarkan.

Yang pertama selalu mengeluh, “kok medsos isinya makin rusak.” Yang kedua tersenyum, “nggak juga, di timeline saya malah banyak ilmu.” Maka, sebelum menyalahkan platform, tanyakan dulu pada diri: “Apa yang sebenarnya aku cari di dunia maya ini?”

Cerita Pak Guru tadi  membawa kita pada satu kesimpulan, bahwa dunia tidak kotor yang kotor adalah cara kita melihatnya. Media sosial bukan sampah yang menjadikannya sampah adalah tangan-tangan kita sendiri. Karena itu, mari kita pilih teman, konten, dan arah hidup dengan sadar. Klik yang baik, ikuti yang baik, sebarkan yang baik. Biarkan algoritma hidupmu mendukung imanmu, bukan menjeratnya. “Manusia akan selalu menemukan apa yang ia cari.”

Jadi, yuk…...mulai sekarang, scroll dengan sadar. Jadikan timeline kita taman ilmu, bukan tempat sampah.

***
Aha. Algoritma ini berasal dari nama  ilmuan Muslim Alhawarizmi. 

Kucur Dau Malang. 9 Nov 25

Senin, 10 November 2025

Medsos Sampah dan Jerat Algoritma?


Halimi Zuhdy

Pernahkah kita merasa…... dunia ini makin riuh tapi makin sepi? Media sosial (medsos) yang katanya tempat silaturahmi, malah jadi ladang adu emosi, pamer aurat, atau ajang gosip tanpa henti.
Suatu hari, ada seorang Bapak guru yang marah-marah di depan sekolah “Media sosial itu sampah semua! TikTok sampah, Facebook sampah, Instagram juga! Isinya buka aurat, maksiat tok, gosip tok, saling hina tok!” Orang-orang mengangguk, beberapa senyum kecut, mungkin karena merasa “kena”.

Tiba-tiba, seorang anak muda mengangkat tangan. “Lho, masa sih, Pak? Saya buka media sosial malah isinya ngaji, shalawat, kajian ilmiah, banyak ilmu… saya nggak nemu yang aneh-aneh.” Seketika suasana hening. Pak Guru terdiam, menarik napas panjang, lalu tersenyum. “Ya juga, mungkin memang… yang kamu cari, itulah yang kamu temukan.”

Konon. Seorang lelaki datang kepada Buya Hamka dengan wajah heran, “Subhanallah, Buya! Saya baru pulang dari Makkah. Ternyata di Tanah Suci pun ada pelacur! Kok bisa ya, Buya? Ih, ngeri.” Buya Hamka tersenyum dan menjawab pelan, “Oh begitu? Padahal saya baru saja pulang dari Los Angeles dan New York dan masya Allah, saya tidak menemukan pelacur di sana.”

Lelaki itu kaget, “Ah, mana mungkin, Buya! Di Makkah saja ada, apalagi di Amerika!”
Buya menatapnya dengan teduh dan berkata bijak, “Nak, kita ini hanya akan dipertemukan dengan apa yang kita cari. Jika yang kita cari adalah keburukan, maka keburukanlah yang akan kita temukan, bahkan di tempat paling suci sekalipun. Tapi jika yang kita cari adalah kebaikan, maka kebaikanlah yang akan kita temukan bahkan di tempat yang paling .”

Kalimat sederhana itu dalam sekali. Makkah tak berubah yang berubah adalah mata dan hati orang yang memandangnya. Bila yang dicari dosa, dosa pun tampak di depan mata. Tapi bila yang dicari cahaya, di mana pun akan ditemukan cahaya.

Media sosial, pada dasarnya, hanyalah cermin besar dari diri kita. Kalau kita suka hal remeh, dangkal, dan sensasional, algoritma akan rajin menyajikan hal-hal itu. Tapi kalau kita suka kajian, ilmu, dan kebaikan, ajaibnya…...... timeline kita akan dipenuhi kebaikan.

Algoritma bekerja seperti pelayan setia, ia memberi apa yang sering kita minta. Masalahnya, kita sering tak sadar apa yang sebenarnya kita minta. Dan di sinilah jeratnya. Semakin sering kita klik hal yang sia-sia, semakin dalam kita ditarik ke lubang yang sama. Seolah-olah dunia ini cuma berisi konten bodoh, padahal kita sendiri yang menanamkan bibitnya di ladang algoritma.

Sebenarnya bukan hanya dunia digital yang begitu. Kehidupan juga punya algoritma sendiri. Siapa teman kita, apa yang kita dengar, bacaan apa yang kita konsumsi,  semua akan membentuk “feed” kehidupan kita.

Kalau kita bergaul dengan orang yang suka maksiat, kita akan terbiasa dengan itu. Tapi kalau kita berteman dengan orang shaleh, orang berilmu, orang yang menjaga lisannya, maka kita akan terpengaruh kebaikan mereka. Lingkar pertemanan adalah algoritma kehidupan: siapa yang kamu dekatkan, dialah yang akan paling sering “muncul” dalam hidupmu.

Kita Mau Jadi Apa?

Di media sosial, kita punya dua pilihan: 1). Jadi korban algoritma, yang diseret oleh klik dan scroll tanpa sadar. 2). Atau jadi pencipta algoritma, yang sadar memilih apa yang dilihat, dibaca, dan disebarkan.

Yang pertama selalu mengeluh, “kok medsos isinya makin rusak.” Yang kedua tersenyum, “nggak juga, di timeline saya malah banyak ilmu.” Maka, sebelum menyalahkan platform, tanyakan dulu pada diri: “Apa yang sebenarnya aku cari di dunia maya ini?”

Cerita Pak Guru tadi  membawa kita pada satu kesimpulan, bahwa dunia tidak kotor yang kotor adalah cara kita melihatnya. Media sosial bukan sampah yang menjadikannya sampah adalah tangan-tangan kita sendiri. Karena itu, mari kita pilih teman, konten, dan arah hidup dengan sadar. Klik yang baik, ikuti yang baik, sebarkan yang baik. Biarkan algoritma hidupmu mendukung imanmu, bukan menjeratnya. “Manusia akan selalu menemukan apa yang ia cari.”

Jadi, yuk…...mulai sekarang, scroll dengan sadar. Jadikan timeline kita taman ilmu, bukan tempat sampah.

***
Aha. Algoritma ini berasal dari nama  ilmuan Muslim Alhawarizmi. 

Kucur Dau Malang. 9 Nov 25