السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Februari 2026

37 Sabda Nabi tentang “Sebaik-baik …”



Berikut kumpulan hadis Nabi Muhammad ﷺ tentang ukuran “yang terbaik” dalam Islam — dari ilmu, akhlak, keluarga, hingga ibadah dan kehidupan sosial. Semoga menjadi pengingat dan bahan muhasabah bersama.
1. قال رسول الله ﷺ: «خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ»
    Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.

2. «خِيَارُكُمْ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا»
   Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya.

3. «خِيَارُكُمْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُكُمْ فِي الْإِسْلَامِ إِذَا فَقِهُوا»
   Orang terbaik pada masa jahiliah adalah yang terbaik pula dalam Islam jika memahami agama.

4. «خَيْرُكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً»
   Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam membayar utang.

5. «خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ»
   Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya.

6. «خَيْرُكُمْ مَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ وَرَدَّ السَّلَامَ»
   Sebaik-baik kalian adalah yang memberi makan dan menjawab salam.

7. «خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ»
   Sebaik-baik kalian adalah yang diharapkan kebaikannya dan manusia aman dari keburukannya.

8. «خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ»
   Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.

9. «خِيَارُكُمْ أَلْيَنُكُمْ مَنَاكِبَ فِي الصَّلَاةِ»
   Sebaik-baik kalian adalah yang paling lembut (tidak berdesakan) dalam shalat.

10. «خِيَارُكُمُ الَّذِينَ إِذَا رُؤُوا ذُكِرَ اللَّهُ»
    Sebaik-baik kalian adalah yang bila dilihat membuat orang ingat kepada Allah.

11. «خَيْرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ»
    Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umur dan baik amalnya.

12. «خَيْرُ النَّاسِ ذُو الْقَلْبِ الْمَخْمُومِ وَاللِّسَانِ الصَّادِقِ»
    Sebaik-baik manusia adalah yang berhati bersih dan lisan jujur.

13. «خَيْرُ الْأَصْحَابِ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ، وَخَيْرُ الْجِيرَانِ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ»
    Sebaik-baik sahabat adalah yang paling baik kepada sahabatnya, dan sebaik-baik tetangga adalah yang paling baik kepada tetangganya.

14. «خَيْرُ النَّاسِ فِي الْفِتَنِ رَجُلٌ آخِذٌ بِعِنَانِ فَرَسِهِ… أَوْ رَجُلٌ مُعْتَزِلٌ فِي بَادِيَةٍ يُؤَدِّي حَقَّ اللَّهِ عَلَيْهِ»
    Sebaik-baik manusia saat fitnah adalah yang berjihad atau yang menjauh sambil tetap menunaikan kewajiban kepada Allah.

15. «خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ»
    Sebaik-baik pemimpin adalah yang saling mencintai dengan rakyatnya.

16. «إِنَّ خَيْرَ أَسْمَائِكُمْ عَبْدُ اللَّهِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ»
    Artinya: Sebaik-baik nama adalah Abdullah dan Abdurrahman.

17. «خَيْرُ الْبِقَاعِ الْمَسَاجِدُ وَشَرُّ الْبِقَاعِ الْأَسْوَاقُ»
    Sebaik-baik tempat adalah masjid dan seburuk-buruk tempat adalah pasar.

18. «خَيْرُ الصَّدَاقِ أَيْسَرُهُ»
    Sebaik-baik mahar adalah yang paling mudah.

19. «خَيْرُ الصَّدَقَةِ مَا كَانَ عَنْ ظَهْرِ غِنًى»
    Sebaik-baik sedekah adalah dari kelebihan harta.

20. «خَيْرُ الْعَمَلِ أَنْ تُفَارِقَ الدُّنْيَا وَلِسَانُكَ رَطْبٌ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ»
    Sebaik-baik amal adalah meninggal dengan lisan basah berdzikir.

21. «خَيْرُ الْكَسْبِ كَسْبُ يَدِ الْعَامِلِ إِذَا نَصَحَ»
    Sebaik-baik penghasilan adalah kerja tangan yang jujur.

22. «خَيْرُ الْمَجَالِسِ أَوْسَعُهَا»
    Sebaik-baik majelis adalah yang paling lapang.

23. «خَيْرُ التَّابِعِينَ أُوَيْسٌ»
    Sebaik-baik tabi’in adalah Uwais.

24. «خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ»
    Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah.

25. «خَيْرُ الدِّينِ أَيْسَرُهُ»
    Sebaik-baik ajaran agama adalah yang mudah.

26. «خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ»
    Artinya: Sebaik-baik hari adalah hari Jumat.

27. «خَيْرُ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ أَرْبَعٌ: مَرْيَمُ… وَخَدِيجَةُ… وَفَاطِمَةُ… وَآسِيَةُ…»
    Artinya: Sebaik-baik wanita dunia ada empat: Maryam, Khadijah, Fatimah, dan Asiyah.

28. «خَيْرُ مَاءٍ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ مَاءُ زَمْزَمَ…»
    Artinya: Sebaik-baik air di bumi adalah Zamzam; mengenyangkan dan menjadi obat.

29. «خَيْرُ مَا رُكِبَتْ إِلَيْهِ الرِّوَاحِلُ مَسْجِدِي هَذَا وَالْبَيْتُ الْعَتِيقُ»
    Artinya: Sebaik-baik tujuan perjalanan adalah masjid Nabi dan Ka’bah.

30. «خَيْرُ ثِيَابِكُمُ الْبَيَاضُ…»
    Artinya: Sebaik-baik pakaian adalah yang putih.

31. «خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا…»
    Artinya: Saf terbaik lelaki di depan, dan bagi wanita di belakang.

32. «خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ…»
    Artinya: Sebaik-baik manusia adalah generasi Nabi, lalu setelahnya, lalu setelahnya.

33. «خَيْرُ النِّكَاحِ أَيْسَرُهُ»
    Artinya: Sebaik-baik pernikahan adalah yang paling mudah.

34. «خَيْرُ النِّسَاءِ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ…»
    Artinya: Sebaik-baik wanita adalah yang menyenangkan dipandang dan taat.

35. «خَيْرُ دِينِكُمُ الْوَرَعُ»
    Artinya: Sebaik-baik agama kalian adalah wara’.

36. «خَيْرُ مَسَاجِدِ النِّسَاءِ قَعْرُ بُيُوتِهِنَّ»
    Artinya: Sebaik-baik tempat shalat wanita adalah bagian terdalam rumahnya.

37. «خَيْرُ مَا تَدَاوَيْتُمْ بِهِ الْحِجَامَةُ»
    Artinya: Sebaik-baik pengobatan adalah bekam.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-Nya yang terbaik dalam ilmu, akhlak, keluarga, dan amal.

اللهم اجعلنا من الصالحين
وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

***
PP. Darunnun Nun

Kamis, 22 Januari 2026

Perdebatan Sengit Dua Ulama Besar, Imam Malik & Laits, Tapi Berakhir Haru

Halimi Zuhdy

Saya kadang heran, kok bisa ada yang senang membully sesama saudara, bahagia ketika saling mencaci, padahal sering mengucap “al-muslimu akhul muslim” sebenarnya urusan agama itu simpel, perbedaan pasti ada, tapi jangan sampai jadi alasan saling memaki dan merendahkan, karena kalau benar-benar mengamalkan hadis, kita mestinya lebih menjaga lisan dan perasaan saudara sendiri "jangan sampai dia malu, sakit, dan merasa ditinggalkan, sebab perbedaan itu sunnatullah, namun perbedaan yang justru membuat sesama seagama saling menjauh dari ukhuwah, alih-alih saling menguatkan, itu justru terasa lucu dan menyedihkan.
Apa mulai dulu tidak ada perbedaan?, ada lah. Banyak banget. Tapi, kan tidak setiap perbedaan harus dinormalisasi. Alasannya mulai zaman sahabat, banyak perbedaan sengit, bahkan perang. Ia, benar. Memang mau ditiru sampai sekarang? Kan tidak usah ditiru. Kalau bisa tidak saling mencaci maki, kenapa harus saling mencaci? Duh kah, lessoh.

Ada kisah menarik banget. Dan ini contoh, bahwa perbedaan, tidak harus saling mencaci maki, membuly, meledek apalagi harus bertegkar. Kisah dua imam besar; Imam Malik bin Anas dan Imam Laits bin Sa‘d.

Mereka berbeda pendapat. Bukan beda remeh, tapi beda pada fondasi metode memahami agama. Imam Malik (Imam Madinah) memandang bahwa amal penduduk Madinah (praktik yang diwarisi generasi demi generasi) adalah hujjah yang sangat kuat, seperti hadis mutawatir dalam kekuatannya. Sedangkan Imam Laits, ulama besar Mesir, tidak sepakat.

Perdebatan beliau sangat serius. Surat-surat mereka tajam. Argumen mereka panjang. Mereka tidak “berdamai” dalam arti melebur pendapat. Tidak. Mereka tetap berbeda.

Tapi di sinilah keindahan akhlak mereka terlihat. Di tengah perbedaan yang panas itu, Imam Malik mengirim surat “Aku punya utang.” 

Dan Imam Laits (yang sedang berbeda pendapat keras dengannya) tidak membalas dengan sindiran, tidak dengan “kan kamu yang paling benar”, tidak dengan “minta tolong ke penduduk Madinah saja.” Beliau justru mengirim lima ratus dinar.

Bayangkan! saat orang lain mungkin akan berkata, “Rasain!”, Imam Laits berkata dengan tindakannya, “Aku tetap saudaramu.” Masyallah. Keren banget bro.

Lalu ketika Imam Malik butuh biaya untuk menikahkan putrinya, beliau berkirim surat lagi, meminta "‘ushfur", pewarna mahal untuk keperluan pernikahan.

Dan Imam Laits membalas bukan dengan secukupnya. Beliau mengirim "tiga puluh unta" penuh muatan pewarna mahal. Bukan cuma menutup kebutuhan, tapi membanjiri kebutuhan itu dengan kemuliaan.

Seolah Imam Laits ingin mengajarkan sesuatu yang berat tapi indah, bahwa "ikhtilaf" (perbedaan pendapat) tidak pernah punya hak untuk membunuh "ukhuwah*".

Dan kisahnya belum selesai. Sebelum lanjut, minum kopi tubruknya dulu! He

Toyyib. Ketika Imam Laits berhaji dan singgah ke Madinah, Imam Malik menghadiahkan kurma muda (ruthab) di atas sebuah piring, hadiah sederhana, tapi penuh cinta. Ada ukhuwah. Dan, Imam Laits mengembalikan piring itu… dengan seribu dinar emas di atasnya. Satu piring kurma dibalas dengan satu piring yang berkilau. Wow, berasa banget. 

وعندما حج الإمام الليث وزار مدينة رسول الله ﷺ، أَهْدَى إِلَيْهِ ‌مَالِكُ ‌بْنُ ‌أَنَسٍ رُطَبًا عَلَى ‌طَبَقٍ فَرَدَّ إِلَيْهِ الليثُ عَلَى الطَّبَقَ أَلْفَ دِينَارٍ من الذهب. 500 ألف ريال

Bukan karena Imam Malik “kurang”, tapi karena Imam Laits “besar”.

Di titik ini, hati kita biasanya tertohok, kok bisa ya… orang beda pendapat, tapi tetap saling menguatkan?

Kok bisa ya… orang berdebat, tapi tidak kehilangan adab?

Dan pertanyaan yang lebih menyakitkan, 
kenapa kita yang beda pendapatnya kadang cuma soal selera, organisasi, gaya ceramah, atau hal cabang justru gampang putus silaturahmi?

Yang membuat kisah ini makin menggetarkan adalah satu kalimat Imam Syafi’i tentang Imam Laits “Laits lebih faqih daripada Malik, hanya saja murid-muridnya tidak mengangkat mazhabnya.”

إن الإمام الشافعي قال عنه:( ‌اللَّيْثُ ‌أفقهُ من مَالكٍ إِلَّا أَن أَصْحَابه لم يقومُوا بِهِ).

Seolah sejarah berkata, ada orang sekelas itu, ilmunya tinggi… tapi keindahannya bukan hanya pada kecerdasan, melainkan pada kelapangan jiwa.

Imam Laits bukan orang miskin. Beliau kaya. Sangat kaya. Tapi hartanya tidak mengunci hatinya. Justru hartanya menjadi kendaraan kebaikan. Setiap hari beliau memberi. Tidak menunggu diminta. Tidak menunggu viral. Tidak menunggu dipuji.

Dan ketika khalifah besar Abu Ja‘far Al-Manshur ingin menjadikannya penguasa Mesir, Imam Laits menolak. Dengan tegas. Bukan karena beliau tak mampu, tapi karena beliau tahu, "ada orang yang ketika memegang jabatan, ilmunya bisa berkurang, hatinya bisa tergelincir." Beliau memilih tetap menjadi pelita. Bukan kursi.

Lalu ada satu bagian yang pahit, tapi penting orang yang justru direkomendasikan Imam Laits untuk jadi gubernur Mesir malah marah dan bersumpah tidak mau berbicara dengan beliau.

Di situ kita belajar "kadang kebaikan tidak dibalas kebaikan. kadang kemuliaan bertemu jiwa kecil.
tapi orang besar tidak mengecil karenanya.

Orang besar tetap besar. Dan sekarang, mari kita lihat diri kita. Kita hidup di zaman di mana beda pendapat sering dijadikan bahan untuk mematahkan orang, bukan memuliakan ilmu. Kita gampang mengunci pintu hanya karena kalimat. Kita gampang memutus hubungan hanya karena perbedaan cara pandang.

Padahal para imam mengajarkan: boleh keras pada argumentasi, tapi lembut pada persaudaraan. boleh berbeda dalam fiqh, tapi tetap satu dalam akhlak.

Karena tujuan ilmu bukan memenangkan perdebatan. Tujuan ilmu adalah mendekatkan manusia pada kebenaran tanpa menginjak kehormatan orang lain. Maka jika suatu hari kamu berbeda pendapat dengan saudaramu, ingat dua nama ini. Malik dan Laits. Dua puncak ilmu yang tidak selalu sepakat…
tapi selalu saling memuliakan.

Dan mungkin, di situlah ukuran “dewasa” dalam beragama "Bukan seberapa banyak dalil yang kita hafal, tapi seberapa lembut hati kita ketika dalil kita tidak sama dengan orang lain."

Semoga Allah merahmati keduanya.

Dan semoga Allah menumbuhkan pada kita secuil dari kelapangan jiwa mereka 
agar perbedaan tidak mengubah kita menjadi orang yang sempit, melainkan orang yang makin mulia.

Belajar Hidup Sakinah dari Berita Perselingkuhan

Halimi Zuhdy

Dalam beberapa tahun terakhir, berita perselingkuhan semakin sering muncul di ruang publik. Dari tokoh terkenal hingga kisah rumah tangga biasa yang viral di media sosial, semuanya menghadirkan kegaduhan yang sama "keterkejutan, kecaman, dan rasa prihatin". Namun, di balik riuh itu, sesungguhnya ada pelajaran besar yang layak direnungkan bersama, terutama tentang makna hidup berumah tangga yang sakinah. Oh ia, bukan hanya tentang perselingkuhan, banyak berita dan kisah yang menjadi pelajaran setiap hari, tapi...!!! 
Yuk. Lanjut. Berita perselingkuhan selalu terasa pahit. Ia datang bukan sekadar sebagai kabar sensasi, tetapi sebagai cermin retak yang memantulkan rapuhnya sebuah komitmen. Di balik potongan judul dan hiruk-pikuk komentar, ada luka yang tidak termaktub. Hati pasangan yang dikhianati, anak-anak yang kehilangan rasa aman, dan keluarga yang runtuh perlahan tanpa suara.

Rumah tangga sejatinya dibangun di atas mitsaqan ghalizha atau perjanjian yang kokoh. Ketika perselingkuhan masuk, yang hancur bukan hanya kepercayaan, tetapi juga sakinah itu sendiri. Ketenteraman berubah menjadi kecemasan, cinta tergeser oleh curiga, dan doa-doa malam menjadi isak yang tersembunyi. Banyak nama-nama yang dirayakan, tapi kemudian ada berita boooom, selingkuh! 

Berbagai survei internasional menunjukkan bahwa perselingkuhan bukan fenomena langka. Sekitar 20–30 persen pria dan 15–20 persen perempuan mengaku pernah terlibat perselingkuhan dalam kehidupan pernikahan mereka. Angka ini tidak dimaksudkan untuk menormalisasi dosa, melainkan menjadi peringatan bahwa godaan dan kelalaian adalah ancaman nyata dalam kehidupan rumah tangga modern. Betapa cermin berita terpantul setiap hari, tapi selalu ada setiap detik berita! Selingkuh A dan B, meninggalkan C. 

Menariknya, sebagian besar pelaku perselingkuhan tidak memulainya dengan niat besar. Ini hasil riset ya!. Beragam riset psikologi keluarga menyebutkan beberapa sebab dominan sekitar 60–70 persen mengaku karena hubungan emosional yang terasa kering, lebih dari 50 persen karena kurangnya komunikasi dan perhatian, sementara sisanya dipicu oleh kesempatan, terutama melalui media sosial, relasi kerja, dan ruang digital yang minim batas moral. He3. Bisa lessoh keyah! 

Fakta ini mengingatkan kita bahwa perselingkuhan sering kali bukan soal cinta baru, melainkan kegagalan merawat cinta lama. 

Dalam konteks Indonesia, data perceraian menunjukkan bahwa perselingkuhan memang tidak selalu tercatat sebagai sebab utama perceraian. Namun para pemerhati keluarga sepakat, perselingkuhan kerap menjadi akar konflik laten yang kemudian berubah nama menjadi “pertengkaran terus-menerus” atau “hilangnya keharmonisan”. Dengan kata lain, perselingkuhan sering disembunyikan, tetapi dampaknya nyata.

Akibatnya tidak berhenti pada putusnya ikatan pernikahan. Perselingkuhan merusak kepercayaan, melukai harga diri pasangan, dan meninggalkan bekas psikologis yang panjang terutama bagi anak-anak. Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman berubah menjadi ruang penuh curiga. Sakinah pun menjauh, digantikan kecemasan dan kelelahan batin.

Namun Islam tidak mengajarkan kita berhenti pada kecaman atau sekadar rasa prihatin. Setiap peristiwa adalah bahan renungan. Al-Qur’an mengingatkan dengan satu kalimat yang tegas

 فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَلْبَابِ 

"Maka ambillah pelajaran, wahai orang-orang yang berakal."

Ayat ini menempatkan peristiwa sosial, termasuk perselingkuhan, bukan sebagai tontonan, tetapi sebagai cermin. Orang berakal tidak sibuk membuka aib orang lain, melainkan membuka pintu muhasabah untuk dirinya sendiri; Apakah aku sudah cukup hadir untuk pasanganku? Apakah komunikasi masih terjaga? Apakah hatiku masih diawasi, atau mulai longgar terhadap yang bukan hakku?

Hidup sakinah tidak lahir dari janji besar, melainkan dari kesetiaan kecil yang dijaga setiap hari: menahan pandangan, menjaga pesan, menghargai pasangan, dan berani memperbaiki komunikasi sebelum luka membesar. Sakinah adalah hasil dari kesadaran bahwa pernikahan adalah amanah, bukan sekadar rasa.

Berita perselingkuhan, betapapun pahitnya, seharusnya menjadi alarm sosial. Ia mengingatkan bahwa rumah tangga perlu dirawat, bukan hanya dirayakan. Dan bahwa iman, akhlak, serta tanggung jawab emosional adalah fondasi yang tidak boleh ditawar.

Jika kita mampu mengambil pelajaran dari setiap peristiwa, barangkali kegaduhan itu tidak sia-sia. Ia justru menjadi pengingat agar kita lebih waspada menjaga keluarga, lebih sungguh-sungguh merawat cinta, dan lebih rendah hati di hadapan amanah yang Allah titipkan.

Karena sakinah bukanlah keadaan tanpa ujian, melainkan kemampuan untuk tetap setia di tengah banyak godaan.

Semoga kita dijauhkan, dan setiap berita menjadi pelajaran, bukan hanya bahan bacaan saja!

Senin, 10 November 2025

Andai Aku Jadi HPmu Sayang!


Malam itu, seorang istri berbicara pelan.
Bukan dengan marah. Bukan dengan air mata. Hanya dengan suara pelan tapi menusuk, seperti sesuatu yang lama ia pendam.

“Mas…” katanya lembut, “aku cuma ingin bertanya satu hal kecil….. Kenapa HPmu bisa kau jaga begitu baik, tapi hatiku kau biarkan retak perlahan?”
Suaminya diam. Ia tak menyangka kalimat itu datang seperti itu, halus, tapi menghantam.

Istrinya melanjutkan, “HP-mu tak pernah jauh darimu. Kau genggam siang dan malam. Kau isi dayanya bahkan sebelum habis. Kau takut baterainya mati, tapi tak pernah kau isi hatiku yang sudah lama kosong.”

Ia menatap ke arah suaminya lembut, tapi sayu. “HPmu selalu kau bawa kemana pun. Kau senyum pada videonya, kau tertawa pada suaranya, kau balas cepat setiap pesannya. Tapi aku? Aku duduk di sampingmu, bicara pun jarang kau dengar.”

Suaranya mulai bergetar. “Andai aku ini HPmu, mungkin aku tak akan kesepian. Mungkin kau akan memegangku setiap waktu, menatapku penuh perhatian, dan takut kalau aku rusak.”

Hening. Hanya suara jam dinding yang terdengar.

Ia menunduk, lalu berbisik pelan, “Aku tidak butuh hadiah. Aku tidak butuh pujian. Aku hanya ingin kau berhenti sejenak dari dunia kecil di layar itu......dan lihatlah aku, lihat sebentar saja, istrimu. Aku masih di sini. Masih menunggumu menatapku seperti dulu.”

"Mas….. setiap hari kau kejar #FYP, untuk uang, untuk penggemar, untuk tepuk tangan orang yang bahkan tak mengenalmu. Tapi bagaimana dengan aku, yang dulu kau bilang rumahmu? Aku tak butuh viral, aku hanya butuh didengar. Di live kau jawab semua komentar mereka dengan senyum, tapi satu pertanyaanku saja tak kau hiraukan. Jadi, aku ini siapa di matamu, Mas? Penonton yang tersisa di balik layar hatimu? 😥

Dan di saat itu, lelaki itu tak mampu lagi menahan air matanya. Bukan karena istrinya menyalahkan, tapi karena ia baru sadar, betapa lama ia hadir, tapi tak benar-benar "hadir". 

***
Cerita di atas, curhatan seorang perempuan (namanya dirahasiakan.wkwkw) renungan untuk setiap suami yang sok sibuk, sampai istrinya kalah🤣. Pun sebaliknya, untuk para istri yang jarang memandang suaminya, kalah sama pesona layar HP😁. Bila, yang membaca ini tidak merasa hal di atas, Alhamdulillah. 👍

Jangan biarkan orang yang mencintaimu merasa kalah oleh benda yang tidak bernyawa. HP bisa diganti, tapi hati yang kecewa….. bisa hancur tanpa bisa diperbaiki kembali.

Karena terkadang, yang paling sepi bukanlah rumah tanpa suara, tapi rumah yang penghuninya sibuk menatap layar, sepanjang hari dan sepanjang malam. hingga lupa menatap satu sama lain. Bahkan, lupa punya keluarga. Semoga Tidka terjadi 🙂‍↕️ 

Yuk! Para suami/istri...berikan ruang untuk keluarga

 
Halimi Zuhdy 
Curhatan dari seseorang yang dadanya sudah sesak, karena pesonanya kalah dengan #FYP yang dicari suaminya.

Minggu, 02 November 2025

Belajar Santun dari Pesantren


(Antara Akhlak, Etika, dan Kebijaksanaan)

Halimi Zuhdy

Saya jadi agak baper membaca komentar-komentar netizen terkait dengan Baikot Trans7 yang melebar kemana-mana, sampai membanding-bandingkan ormas A dan ormas B, suku A dan suku B, urusan bid'ah, paling sunnah dan merembet keurusan nasab dan lainnya. 
Dan membaca protes terhadap tayangan Trans7 kemarin, yang secara tidak langsung memperlihatkan siapa yang benar-benar memahami, dan siapa yang justru menaruh kebencian terhadap perilaku dan tradisi “pesantren”.
Coba saja baca kolom komentar. Banyak yang membenarkan perilaku Trans7 tanpa memahami konteks. Perhatikan akun-akunnya—kalau tidak dikunci, seringkali anonim, atau punya afiliasi ideologis tertentu. Ironinya, dari situ kita bisa tahu bahwa sebagian dari masyarakat kita belum paham, bahkan belum selesai membedakan antara akhlak dan etika.

Padahal, pesantren sejak dulu sangat terbuka terhadap kritik. Lembaga ini bukan lembaga “maha benar” atau “maha suci”. Pesantren adalah lembaga yang tumbuh bersama masyarakat, menyesuaikan diri dengan perubahan zaman, dan tetap menjaga nilai-nilai keislaman serta kemanusiaan. Tapi tentu, ada hal-hal yang menjadi ciri khas pesantren, tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi, baik di pesantren salaf maupun modern.

Nama dan bentuknya pun beragam: ada yang disebut pesantren, pondok, ada ribath, ma’had dan nama lainnya. Masing-masing punya tradisi yang tumbuh dari nilai-nilai lokal yang kemudian diberi ruh Islam. Jadi, ketika seseorang menilai tradisi pesantren hanya dari potongan video atau perilaku satu dua orang, jelas itu bukan analisis ilmiah, melainkan bias emosional.

Mari ambil contoh sederhana: menundukkan kepala di hadapan guru. Apakah hanya ada di pesantren? Tidak. Di Jepang, orang bahkan membungkuk dalam-dalam sebagai bentuk penghormatan. Apakah itu bentuk kesyirikan? Tidak juga. Karena yang dihormati bukan wujud manusia, tapi nilai yang ia bawa.

Lalu ada yang berkomentar, “Itu melanggar Sunnah!”  saya sering bertanya, Sunnah yang mana? Apakah mencium tangan dalam Islam diharamkan? Apakah menundukkan kepala termasuk dosa? Buka kitab, baca hadis secara utuh, jangan potong-potong. Ulama hadis saja berbeda pandangan, apalagi kita yang hanya membaca dari cuplikan dakwah pendek di media sosial.

Kalau memang ada perbedaan pandangan, mari hormati. Dalam fikih saja, perbedaan bisa sampai pada level hukum: dari mubah hingga haram, tergantung pendekatannya. Maka tidak pantas kita mudah memvonis orang lain salah, apalagi dengan nada menghina.

Kadang, orang yang bilang “santri baperan” justru adalah mereka yang kurang membaca. Padahal, kalau mau belajar lebih dalam, justru tradisi pesantren adalah benteng akhlak dan etika bangsa ini.

Ironi sekali, ketika yang meniru budaya luar dianggap “modern”, tapi yang menjaga tradisi sendiri justru dicap “kolot”. Contohnya, makan pakai tangan dibilang jorok. Padahal, penelitian di Journal of Clinical Nutrition (2019) menyebutkan bahwa makan dengan tangan bisa meningkatkan koordinasi otak dan memperkuat pencernaan. Tapi ketika pakai sendok, dibilang ikut-ikutan Barat. Duh, repot kalau logika sudah kalah dengan perasaan.
Inilah pentingnya kearifan dan kebijaksanaan. Tidak semua yang berbeda harus disamakan, dan tidak semua yang sama harus dipertentangkan. Bukankah kita hidup di negeri yang bersemboyan Bhinneka Tunggal Ika?

Pesantren sangat paham Sunnah. Sejak dulu para kiai dan ulama pesantren telah mempraktikkan nilai-nilai itu dengan luar biasa. Mereka turun langsung ke masyarakat, mengajarkan wudhu kepada yang belum tahu, memperkenalkan Islam kepada yang baru mengenal. Kadang mereka harus beradaptasi dengan tradisi lokal dulu agar dakwahnya diterima.

Bayangkan jika dakwah dilakukan dengan gaya sebagian orang hari ini, yang sedikit-sedikit bilang “bid’ah”, “dosa”, “haram”. Apakah Islam akan berkembang dengan indah seperti dulu?
Coba lihat sejarah Nabi. Beliau tidak datang dengan amarah, tapi dengan kasih sayang dan keteladanan. Maka siapa sebenarnya yang tidak mengikuti Sunnah Nabi hari ini? Mereka 
yang keras dalam ucapan tapi miskin akhlak.

Pesantren punya sistem yang menanamkan akhlak, etika, dan moralitas. Tidak ada perbudakan, tidak ada feodalisme. Jika ada penyimpangan, silakan dikritik. Tapi jangan framing seolah seluruh pesantren begitu. Karena faktanya, pesantrenlah yang selama ini menjaga karakter bangsa, menanamkan toleransi, dan juga tidak sedikit yang melahirkan tokoh-tokoh bangsa.

Kita paham, dunia media sosial hari ini bising, semua orang bisa bicara, tapi tidak semua memahami. Maka mari bijak: sebelum menilai, pelajari. Sebelum berkomentar, pahami. Sebelum mengkritik, bedakan dulu antara akhlak dan etika. Karena di situlah letak peradaban dimulai.

***
Salam 
Ayo ke Pesantren!

Kejayaan Islam dalam Kenangan Sejarah


(Menjaga Pesantren di Indonesia)

Halimi Zuhdy

"Watilkal Ayyamu Nudawiluha Bainannas", Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran). QS. Ali Imran, 140.
Entah, Apakah Ayat ini termasuk sebuah kejayaan suatu negara yang pernah berjaya syiar Islamnya dan akan bangkit lagi, atau akan terpuruk selamanya. Tapi yang jelas, kehidupan akan terus berputar. Di Eropa ada Andalusia, kini tinggal cerita Islam pernah berjaya. Dan kini, Spanyol seperti tak memberi bekas bunga, tapi goresan luka. Di Asia Tenggara, Islam pernah berjaya di enam negara, bahkan menjadi penduduk mayoritas muslim terbesar. Kini, di tiga negara menjadi segelintir, bahkan hanya menjadi kerikil-kerikil yang tak pernah terlihat lagi.

Manila ibu kota Filipina, nama ibu kota ini berasal dari bahasa Arab "Fi AManillah" Dalam lindungan Allah. Di negeri ini, dulu syariat Islam ditegakkan, mayoritas penduduknya muslim, azan yang bersaut-sautan di seluruh penjuru negeri ini. Tapi kini, di negeri Filipina, kita sering mendengar Islam hanyalah sebuah gerombolan pemberontak terhadap pemerintah, dan mereka menjadi minoritas.

Berikutnya negeri Gajah Putih, Thailand. Di negeri ini menyimpan mutiara yang luar biasa, kejayaan Daulah Islamiyah di selatan negeri ini. Kerajaan Islam Pattani. Penduduk muslim di tanah mereka sendiri dijuluki khaek (pendatang, orang luar).

Pernah dengar kaum Cham dan Negeri Champa?. Di tempat ini, dulu muslim menjadi mayoritas, ratusan masjid pernah berdiri, tetapi Khmer Merah merubah sejarah berikutnya, muslim tak lagi terdengar mekar di negeri Kamboja dan juga Vietnam. Ia hanya menjadi kenangan sejarah. Kerajaan Champa memiliki sejarah erat dengan hadirnya wali Songo di Indonesia, Sunan Ampel dan Sunan Gunung Jati.

Di Myanmar, Islam pernah tumbuh lebat, di negeri ini banyak sejarah diukir bagaimana orang muslim bertahan. Ada Muslim Burma dan Rohingya (Rakhine). Tahun 1050 silam, Islam sudah berbunga di tempat ini, tapi setiap kekuasaan berganti, berganti pula peran-peran kehidupan mereka. Beberapa tahun terakhir, Rohingya seperti berteriak mencari saudara-saudara yang melupakannya.

Memang sejarah akan selalu berubah. Tiada yang abadi dan kekal, kecuali yang Maha Kekal. Tetapi, berusaha mengabadikan kebaikan adalah sebuah anjuran. Bukan kemudian harus terulang, tetapi usaha dari sebuah kebaikan adalah kebaikan, urusan hasil hanyalah Allah yang menentukan.

"Belajar pada sejarah", karena sejarah akan selalu silih berganti. Seperti sejarah Qabil dan Habil akan terus terulang setiap masa, tetapi berusaha untuk tidak menjadi Qabil adalah bagian dari ikhtiyar terbaik.

Islam di Indonesia dan di beberapa tempat di dunia, mempertahankannya adalah bagian dari sebuah ikhtiyar agar Islam berada di negeri ini. Dengan mensyiarkannya, sesuai dengan kemampuan setiap muslim. Menjaganya, seperti tetap memperkuat jalinan silaturahim antar umat Islam. Memenuhi masjid-masjid dengan berjamaah dan kajian-kajian keislaman. Madrasah dan pesantren yang dimakmurkan dengan berbagai keilmuan serta sebagai laboratorium kehidupan. NKRI yang terus dipertahankan dengan berbagai kebhinikaannya. Perekonomian dan keamanan yang dirawat dengan baik, bahkan ditingkatkan. Serta berbagai usaha lainnya.

Menjaga pesantren di Indonesia adalah bagian dari upaya menjaga Islam di Indonesia. Pesantren memiliki peran yang sangat penting sebagai benteng akhlak dan pusat kajian keilmuan Islam yang mendalam. Di tengah berbagai tantangan dan konspirasi yang ada, keberadaan pesantren harus dipertahankan dan dilestarikan. 

Sebab, pesantren bukan hanya tempat untuk mengajarkan ilmu agama, tetapi juga sebagai tempat membangun karakter dan akhlak mulia bagi generasi penerus. Jangan biarkan pesantren yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah Islam di Indonesia hilang begitu saja. Pesantren adalah fondasi kuat yang membantu menjaga warisan intelektual dan spiritual Islam di tanah air, dan keberadaannya sangat vital dalam menjaga kesatuan serta keharmonisan umat Islam Indonesia.

Sebagai benteng akhlak dan kajian Islam, pesantren memiliki tanggung jawab besar untuk meneruskan misi dakwah, menegakkan moralitas, dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang sejalan dengan nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, setiap upaya untuk melemahkan eksistensi pesantren, baik melalui faktor eksternal maupun internal, haruslah ditanggapi dengan penuh kewaspadaan. Kita harus menyadari bahwa dengan menjaga pesantren, kita juga menjaga keberlangsungan syiar Islam di Indonesia, serta memperkuat akar agama yang telah tumbuh dengan kokoh di negeri ini.

Menjaga pesantren tidak dengan kekerasan, karena Islam masuk di Indonesia tidak dengan kekerasan, ia datang dengan penuh keindahan. Dan kaum santri adalah di antara pewaris keindahan itu. Addin hua an-nashihah, maka berikan nasihat terbaik. 

Wallahul musta'an wailahi tauklan

Produktifitas Imam At-Thabari, Menulis 40 Halaman Setiap Hari


Halimi Zuhdy

Kemarin ada salah seorang santri bertanya, "Bagaimana ulama-ulama dahulu menulis kitab, sedangkan saya menulis status di media sosial saja kerepotan, bahkan terkadang tidak mettu (keluar) ide?". Saya kemudian bercerita tentang banyak ulama di zaman dahulu, dengan keterbatasannya melahirkan karya yang monumental. Sedangkan di era yang fasilitas serba mudah di dapat, menulis satu buku pun masih minta bantuan mesin, itu pun bukan idenya, tapi ide mesin.😁. Maka, bukan persoalan fasilitas, tapi persoalan semangat dan mau berbuat. 🫢
Toyyib. Saya memberi contoh ulama yang super duper, walau masih banyak lainnya yang juga keren banget. Yaitu kepenulisan Imam At-Thabari dalam at-Tarajim wa Syakhshiyat. Beliau digambarkan sebagai contoh kegigihan dan kejernihan niat yang luar biasa. Ia bukan hanya seorang ulama, tapi juga penulis yang hampir tak tertandingi dalam produktivitas dan kedalaman ilmu. Diceritakan bahwa Imam At-Thabari menulis sekitar 40 halaman setiap hari, sebuah kebiasaan yang menunjukkan kedisiplinan dan kecintaan yang besar terhadap ilmu. Itu di era, di mana kertas dan pena sangat langka, tidak seperti di era ini, apalagi di era digital yang sangat mudah menulis dalam ratusan halaman word. 

 روي أنه كان يكتب أربعين صفحة في كل يوم، إنه الإمام محمد بن جرير الطبري صاحب أكبر كتابين في التفسير والتاريخ،

Karya-karyanya mencakup berbagai bidang, tapi dua yang paling monumental adalah “Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān” (Tafsir At-Thabari) dan “Tārīkh al-Umam wa al-Mulūk” (Sejarah Umat dan Raja-Raja). Dalam kitab tersebut disebutkan bahwa beliau melakukan istikharah selama tiga tahun sebelum mulai menulis tafsirnya, memohon agar Allah memudahkannya dan memberkahi pekerjaannya. Ini menandakan bahwa baginya, menulis bukan hanya kerja intelektual, tapi juga ibadah.

At-Thabari dikenal sangat sistematis dan teliti. Ia tidak hanya mengutip riwayat, tapi juga menganalisis perbedaan pendapat para ulama, menimbang dalil-dalil mereka, lalu menarik kesimpulan yang logis. Gaya tulisannya padat, berisi, dan penuh argumentasi ilmiah. Saking luasnya ilmunya, para ulama sampai mengatakan: “Kalau ada orang berjalan ke Cina hanya untuk mendapatkan Tafsir At-Thabari, itu belum berlebihan.”

Menariknya, ia juga tidak tergoda oleh jabatan atau harta. Wow. Ketika khalifah mengirimkan hadiah besar sebagai penghargaan atas karyanya, ia menolaknya. Ia ingin kebebasan berpikirnya tetap murni. Bahkan saat teman-temannya menolak ide gila untuk menulis sejarah dunia dalam 30.000 halaman karena “usia manusia gak cukup,” At-Thabari menanggapinya dengan kalimat tajam: *Inna lillah, telah mati semangat manusia.” Lalu ia menulisnya sendiri dalam 3.000 halaman, tetap kolosal.

قال أبو القاسم بن عقيل الوراق: إن أبا جعفر الطبري قال لأصحابه هل تنشطون لتاريخ العالم من آدم إلى وقتنا قالوا كم قدره فذكر نحو ثلاثين ألف ورقة فقالوا هذا مما تفنى الأعمار قبل تمامه فقال إنا لله ماتت الهمم فاختصر ذلك في نحو ثلاثة آلاف ورقة ولما أن أراد أن يملي التفسير قال لهم نحوا من ذلك ثم أملاه على نحو من قدر التاريخ.

Jadi, kepenulisan Imam At-Thabari bukan cuma tentang banyaknya tulisan, tapi tentang semangat keilmuan yang nyatu dengan ketulusan hati. Ia menulis bukan untuk terkenal, tapi untuk menegakkan ilmu dan kebenaran. Karena itu, meskipun ia wafat lebih dari seribu tahun lalu, ilmunya masih hidup dan mengalir terus sampai sekarang.

Memang, santri yang bertanya tadi dan yang menjawabnya, sepertinya mungkin menirunya, tapi minimal pernah tahu, bahwa ada banyak ulama yang sekeren Imam Ath-thabari, dan beberapa ulama lainnya.  Dan, minimal bisa menulis 1 buku dalam hidupnya. 🫢📚✍️

Apa yang Diperjuangkan dalam Hidup Ini ?




Halimi Zuhdy

"Mas, kenapa bingung?" Tanya seorang ustadz pada santri Gen Z di beranda pesantren yang menghadap ke jalan raya. Santri ini datang dengan wajah kusut seperti baru berkelahi dengan pikirannya sendiri. Kemudian Ia duduk di hadapan Pak Ustadz yang sedang membaca kitab sains 'Ajaibul Faiziqa karya Ahmad Fahmi , dan di sebelahnya kitab Minhajul Qashidin Ibnu Jauzi sebuah kitab ringkasan dari Ihya Ulumiddin Imam Ghazali. Santri ini mulai bicara dengan nada kebingungan.
“Pak Ustadz,” katanya pelan tapi tegas, “saya akhir-akhir ini bingung sekali. Dunia kok rame banget, ya? Setiap buka HP, semua orang heboh. Di TikTok orang joget, di YouTube orang debat, di Instagram orang pamer, di Facebook orang marah. Semua berlomba-lomba mau viral, cari FYP, cari perhatian, entah buat apa. Rasanya semua orang berperang, tapi nggak tahu siapa musuhnya.”

Ia berhenti sejenak, menarik napas panjang.
“Lihat saja, Tad, di luar sana orang kerja siang malam, pasar nggak pernah sepi, cekout terus berdering, hiburan nggak pernah berhenti, semua kayak dikejar waktu. Di luar negeri pun sama, Amerika ribut dengan Trumpnya, Rusia belum selesai dengan Ukraina, belum lagi Gaza dan Israhiil, tambah Sudan beberapa hari ini, mengerikan. dunia terus panas dan saya cuma bisa nonton dari layar kecil ini.” 😔

"Beberapa kyai, ustadz, gus, sepertinya tidak lagi hanya berdakwah di medsos, tapi sikat sikut, entah apa yang diperjuangkan, belum lagi yang viral yang ikhtilatath, duh sedih. Belum para lagi pejabat dan akademisi yang pamer pangkat dan jabatannya, entah untuk apa?" Ia terdiam lama. 

Santri itu mengusap wajahnya, lalu menatap Ustadznya dengan mata lelah.

“Kadang saya mikir, emang apa sih yang sebenarnya diperjuangkan manusia, Pak Ustadz? Apa yang mereka cari dari semua kebisingan ini? Dan... apa sebenarnya tujuan hidup kita di tengah dunia yang sibuk tanpa henti ini?”

Ia terdiam. Angin sore berhembus pelan, membawa suara jangkrik dan azan dari kejauhan. Pak Ustadz masih diam, seolah menunggu waktu yang tepat untuk menjawab. Pertanyaan itu seperti membuka jendela di tengah malam. Gelap di luar, tapi ada udara segar yang bikin sadar kalau hidup bukan sekadar rutinitas berulang. Pak ustadz, menutup kitab sainsnya. Pluk. 📚 Setelah beberapa detik hening, barulah ia berkata dengan suara tenang tapi dalam.

“Nak, pertanyaanmu itu berat, tapi penting banget lo. Karena sedikit sekali manusia yang sempat berhenti dan bertanya seperti itu. Banyak yang sibuk berlari, tapi lupa kenapa mereka berlari.” 😁

Ia menggeser duduknya, menatap mobil yang tak pernah sepi berderu. “Dunia memang heboh. Semua orang tampak sibuk, seolah yang paling cepat akan menang. Tapi coba lihat lebih dalam. Apa yang sebenarnya mereka kejar? Uang, jabatan, popularitas, validasi. Semuanya berputar di lingkar yang sama, dan anehnya, tidak pernah membuat tenang. Karena manusia tidak diciptakan untuk sekadar punya banyak, tapi untuk jadi berarti.”

Ustadz mengangkat pandangannya lagi. “Kita ini, Nak, bukan kebetulan. Hidup bukan error di semesta. Dalam ajaran kita, Allah menciptakan manusia bukan tanpa alasan. FirmanNya jelas. "Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu.". Tapi ibadah itu bukan cuma salat dan puasa. Itu juga berarti menjalani hidup dengan sadar. Tahu dari mana kita datang, untuk apa kita hidup, dan ke mana kita akan kembali.”

Ia tersenyum lembut. “Masalahnya, dunia modern membuat orang sibuk membangun citra, bukan jiwa. Mereka berperang untuk terlihat hidup, padahal justru kehilangan kehidupan yang sebenarnya. Padahal, tujuan hidup manusia adalah menjadi khalifah di bumi. Penjaga, bukan perusak. Pembawa manfaat, bukan kerusuhan; pencari makna, bukan sensasi.”

Lalu ia menepuk pundak santri itu. “Kita ada untuk menghadirkan keseimbangan, Nak. Agar dunia yang bising punya titik tenang. Agar dalam hiruk-pikuk sosial media, masih ada orang yang memilih berpikir jernih dan berbuat baik diam-diam. Karena setiap manusia adalah potongan kecil dari rahmat Tuhan dan tugas kita adalah membuat potongan itu bersinar, sekecil apa pun.”

Ustadz menutup nasihatnya dengan lirih, “Jadi, jangan takut dengan keramaian dunia. Biarkan mereka berlari. Tugasmu bukan mengejar mereka, tapi menemukan dirimu. Karena begitu kau tahu siapa dirimu dan untuk apa kau diciptakan, dunia yang ribut itu tak lagi mampu membuatmu bingung.”

Santri itu menunduk, bibirnya bergetar pelan. Bukan karena sedih, tapi karena baru sadar. Mungkin selama ini, ia sibuk mencari dunia, padahal yang hilang adalah dirinya sendiri.

Yang sebenarnya diperjuangkan dalam hidup. kalau mau jujur dan tidak klise. Bukan kebahagiaan semata. Karena kebahagiaan itu lebih mirip efek samping dari hidup yang bermakna. Yang kita perjuangkan, barangkali, adalah makna itu sendiri. Alasan mengapa kita bangun tiap pagi dan tetap berjalan meski semua terasa berat.

Ada orang yang memperjuangkan pengakuan, karena merasa dilihat berarti diakui sebagai “ada.” Ada yang memperjuangkan cinta, karena ingin merasa terhubung dengan sesuatu di luar dirinya. Ada juga yang memperjuangkan ketenangan, karena dunia terlalu bising untuk pikiran yang penuh luka. Tapi kalau ditarik ke akar paling dalam, perjuangan hidup manusia hampir selalu bermuara pada satu hal "menemukan tempat di dunia yang tidak bisa dijelaskan tapi bisa dirasakan. Jadi mungkin bukan soal "apa" yang diperjuangkan, tapi "bagaimana" kita terus mencari alasan untuk memperjuangkan sesuatu.

"Entah! Kalau kamu bagaimana anaku, santriku, yang jelas nak, "khairunnas an fa'uhum linnas". Itu saja. Tapi, ingat nak "orang yang sibuk dengan media sosial, jangan kamu suudhan, kita tidak pernah tahu tujuannya hidupnya dan apa yang diperjuangkannya!". 

Pak ustadz, penutup kitab minhajnya, dan mulai membuka HPnya yang mulai kehilangan sinyal, dan datanya mulai habis🤣😁 sebentar ya saya ada pengajian LIVE di tik tok.

Minggu, 19 Oktober 2025

Rizki Bukan Sekadar Uang



✍️ Halimi Zuhdy 

Banyak orang menafsirkan rizki hanya sebatas uang. Tidak heran, dalam keseharian, kalimat seperti “Alhamdulillah, rizkinya lancar” sering diartikan dengan penghasilan yang bertambah atau uang yang melimpah. Pandangan ini hanyalah sebagian kecil dari rizki. Dalam gambar di atas tergambar jelas sebuah perahu kecil dengan satu layar besar bertuliskan kata “المال” (uang). Begitulah kebanyakan orang memaknai rizki, sempit, sebatas materi.
Namun, benarkah uang adalah satu-satunya bentuk rizki?

Dalam ilustrasi lain yang lebih besar dan megah, digambarkan sebuah kapal dengan banyak layar. Di sana tertulis berbagai hal: keluarga, kesehatan, sahabat, ilmu, cinta, pekerjaan, rasa aman, bahkan akhlak mulia.

Inilah gambaran hakikat rizki yang sebenarnya. Rizki bukan hanya sesuatu yang bisa dihitung dengan angka atau ditabung di rekening. Rizki adalah "segala karunia Allah" yang membuat hidup lebih berarti.

Kesehatan adalah rizki, karena tanpanya uang hanya habis untuk berobat. Keluarga dan sahabat adalah rizki, karena tanpa mereka, hidup menjadi sunyi. Rasa aman adalah rizki, sebab harta tak bisa dinikmati di tengah ketakutan. Akhlak, cinta, dan ilmu juga rizki, karena semuanya menambah nilai diri jauh melampaui kekayaan materi.

Kesalahpahaman yang fatal. Bahwa menyempitkan arti rizki hanya pada uang justru bisa membawa pada kerugian. Banyak orang mengejar harta dengan segala cara, hingga kehilangan kesehatan, merenggang dari keluarga, bahkan mengorbankan akhlak. Padahal, justru di situlah letak rizki yang jauh lebih berharga.

Rizki sejati adalah kapal besar dengan banyak layar. Uang hanyalah salah satunya. Jika hidup hanya dikejar demi uang, kita seperti berlayar dengan satu layar kecil yang rapuh ketika diterpa badai.

Sebaliknya, ketika kita mampu melihat bahwa rizki mencakup kesehatan, keluarga, ketenangan, dan kebaikan hidup lainnya, barulah kita benar-benar memahami makna syukur. Pada akhirnya, rizki bukan soal angka di dompet, melainkan "kelengkapan nikmat yang membuat hidup berjalan seimbang dan bermakna.

Ya Allah Berikan kami rizki yang terbaik 🤲

Al-Khoziny, Duka Kita dan Duka Indonesia


(Sejenak Merenung, tentang Musibah ini) 

Halimi Zuhdy

Ketika satu pesantren berduka, sejatinya seluruh pesantren di Indonesia, bahkan di Nusantara, ikut berduka. Sebab pesantren itu satu tubuh dengan satu ruh,  ruh pengabdian untuk umat.
Bagi mereka yang belum pernah mencicipi “asam garam pesantren”: kerasnya hidup di bilik sederhana, keringnya nasi di dapur umum, atau keruhnya air di kamar mandi pesantren,  barangkali sulit memahami betapa dalamnya makna perjuangan itu. Mereka hanya melihat dari luar, kadang dengan sinis, kadang dengan sumpah serapah. Bahkan kolom-kolom media penuh dengan nyinyiran tentang pesantren. "Bubarkan pesantren!" Teriaknya. 

Padahal, bukan berarti pesantren anti kritik. Tidak. Pesantren bukan lembaga sempurna, sebagaimana lembaga pendidikan lain di Indonesia. Namun pesantren adalah warisan asli Nusantara, jati diri bangsa yang tak boleh goyah. Ia harus terus berbenah, karena tiada manusia, lembaga, atau bangunan yang sempurna.

Musibah yang menimpa Pesantren Al-Khoziny hari ini adalah duka yang dalam. Namun mungkin juga menjadi peringatan dan pelajaran besar,  bukan hanya bagi satu pesantren, tapi bagi seluruh lembaga pendidikan di negeri ini. Al-Khoziny menjadi korban, tapi sesungguhnya kitalah yang harus mengambil hikmah. Saatnya semua pihak berbenah: pesantren, lembaga pendidikan, pemerintah, bahkan masyarakat.

Pemerintah perlu meninjau kembali sistem perizinan dan IMB. Jangan sampai prosesnya mempersulit lembaga yang ingin membangun kebaikan. Dari RT hingga pemerintah kota dan kabupaten, biarlah kemudahan itu menjadi bagian dari pelayanan. Dan pesantren juga berbenah, bersusah-susah untuk mengajukan IMB, bagaimana pondok berstandar keamanan. 

Kampus-kampus dengan fakultas teknik sipil, arsitektur, dan keinsinyuran  juga punya tanggung jawab moral. Nantinya, bisa ikut hadir membantu pesantren yang sedang membangun generasi bangsa, atau yang telah dan sedang juga bisa lebih masif. Semuanya, bergotong royong hadir untun lembaga pesantren. Lembaga milik Indonesia. 

Jangan lupa, banyak pesantren kesulitan luar biasa hanya untuk membangun ruang belajar yang layak. Dari semen, bata, hingga mencari tukang pun sering penuh perjuangan. Padahal, dari tempat-tempat sederhana itulah lahir generasi berakhlak, berilmu, dan tangguh.

Yang kita butuhkan hari ini bukan komentar pedas, bukan nyinyiran, bukan caci maki. Mari duduk bersama. Karena bukan hanya pesantren yang belum sempurna,  semua lembaga pun demikian. Kecuali beberapa pesantren yang memiliki banyak donatur, atau santrinya membayar spp lumayan mahal. Tapi, tidak sedikit pesantren yang menampung santri yang hanya punya untuk biasa buku, bahkan 100 persen bebas spp, uang makan, dan lainnya. Siapa yang harus hadir di sini? 

Kita perlu menata kembali banyak hal: keamanan, perlengkapan, tata bangunan, hingga manajemen risiko. Semua bisa menjadi pelajaran berharga, agar tidak ada lagi duka serupa di masa depan. Tidak hanya Al-Khoziny, karena ada musibah. Tidak. Semuanya. Maka, bergotong royong, membagun bersama. 

Ada yang juga aneh. Sebagian orang menuduh pesantren seperti “perbudakan.” Mereka jelas belum pernah masuk dan tinggal sehari saja di dalamnya. Atau mungkin, ada beberapa pesantren yang menerapkan kerja-kerja seperti itu, tapi coba dilirik kembali. Apa yang mereka kerjakan? Menarkan mereka dipermudak? Atau lagi belajar untuk berkhidmah, penguatan mental, kerja dan lainnya. 

Lihatlah, jutaan santri hidup di pesantren tanpa paksaan, tanpa tentara, tanpa politisi, tapi dengan semangat luar biasa untuk belajar dan berkhidmah. Mereka makan seadanya, tidur di kasur tipis, dan tetap bersyukur. Mereka tidak di dampingi orang tua, jauh dari kemewahan, ada yang hanya disambangi satu tahun sekali, siapa tim psikolog yang mampu bersemai 24 jam dengan ratusan bahkan riabuan santri yang mengalami stres belajar? Duh, susah banget. Jamaah haji saja butuh pengkondisian luar biasa, itu hanya 40 hari. Ini 1-3 tahun, bahkan sampai puluhan tahun. Bukan membela pesantren, ini kenyataan. Tapi, ingat tetap harus terus berbenah menjadi baik, kalau tidak terbaik. Dan butuh dukungan masyarakat dan pemerintah. 

Bahkan banyak pesantren berdiri di atas tanah yang belum rata, dengan bangunan yang masih gubuk, tapi penuh cahaya ilmu dan doa. Pesantren bukan milik individu. Ia milik umat. Ia milik Indonesia. Maka mari bantu pesantren, rawat pesantren, cintai pesantren. Pesantren tidak anti kritik. Ia selalu berdampingan dengan masyarakat, terbuka terhadap masukan. 

Ketikan Kyai dawuh tentang "takdir",  bukan berarti pasrah tanpa ikhtiar. Justru ikhtiar adalah bagian dari iman kepada takdir. Bila ada kelalaian, tentu harus diperbaiki. Bila ada kekurangan, tentu harus dibenahi. Kita negara hukum, maka setiap lembaga, termasuk pesantren, harus mengikuti aturan keselamatan dan pembangunan. Dan kata "takdir" di pesantren bukan sesuatu yang abai, ia adalah penguat. 

Namun satu hal pasti: tidak ada kiai, ustaz, atau pesantren mana pun yang ingin santrinya menjadi korban. Para santri itu adalah anak-anak kiai, anak-anak bangsa, bahkan sering lebih dekat secara ruhani dibanding anak sendiri.

Al-Khoziny yang berarti perbendaharaan, menyimpan, gudang, kalau toh hari ini, ia lagi Al-Hazin (berdua). Mari, kita berdoa, dan tentunya juga berikhtiyar semaksimal mungkin, untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada. 

Dan Mari kita doakan: semoga para keluarga yang berduka diberi kesabaran oleh Allah. Semoga para santri mereka menjadi bunga-bunga syahid yang harum di sisi-Nya. Dan semoga pesantren-pesantren di seluruh Indonesia terus menjadi tempat yang aman, nyaman, dan penuh berkah, manba‘ul ‘ilmi, sumber ilmu yang tak pernah kering.

Ya Allah Ya Rabb. Lakal hamdu, wa laku syukru, wailaika rajiun.

Respon Publik terhadap Konsep “Takdir” dalam Tragedi Runtuhnya Musholla Al-Khoziny Buduran



Halimi Zuhdy

Masyarakat hari ini berbeda dengan masa sebelum hadirnya media sosial. Jika dulu pandangan tentang suatu peristiwa hanya beredar di lingkaran kecil dan terbatas, kini semua orang bisa berkomentar, menafsir, bahkan berdebat secara terbuka. Setiap peristiwa segera menjadi bahan diskusi publik, baik dengan data maupun sekadar emosi. 
Fenomena ini menunjukkan bagaimana wajah masyarakat modern semakin ekspresif, kritis, sekaligus reaktif terhadap isu keagamaan dan kemanusiaan. Karena itu, menarik menelusuri bagaimana masyarakat memahami kata “takdir” di tengah derasnya arus komentar dan opini. Salah satu contohnya tampak jelas dalam kasus robohnya "Musholla Al-Khoziny" di Buduran, Sidoarjo, yang tidak hanya menimbulkan duka mendalam, tetapi juga membuka perdebatan panjang tentang makna takdir, tanggung jawab, dan keimanan di era digital.

Pada 29 September 2025, bangunan musholla Pondok Pesantren Al-Khoziny di Buduran, Sidoarjo, roboh saat ratusan santri sedang melaksanakan salat Asar berjamaah. Dengan peristiwa ini,  beberapa puluhan santri meninggal dunia dan melukai banyak lainnya. Sejak saat itu, ruang publik mulai dari berita daring, media sosial, hingga forum keagamaan dipenuhi perdebatan tentang makna “takdir” dalam konteks tragedi ini.

Pernyataan pengasuh pesantren, KH Abdus Salam Mujib, yang mengatakan bahwa kejadian tersebut merupakan “takdir dari Allah” menjadi pemicu diskusi luas. Kalimat singkat itu menimbulkan beragam tafsir: ada yang memaknainya sebagai bentuk kepasrahan spiritual, namun ada pula yang menilainya sebagai cara untuk menghindari tanggung jawab manusia. 

Berdasarkan analisis terhadap pemberitaan nasional, opini publik di media sosial, serta pernyataan tokoh agama dan akademisi, tanggapan masyarakat mengenai konsep “takdir” dalam kasus ini dapat dikelompokkan ke dalam tiga corak utama: 1) penerimaan fatalistik, 2) kritik rasional, dan 3) refleksi teologis moderat.

Dalam tulisan ini saya sengaja tidak mencantumkan persentase pasti dari masing-masing tanggapan masyarakat, karena hal tersebut membutuhkan penelitian yang lebih mendalam dan terukur. Pengelompokan opini publik, terutama yang bersumber dari media sosial, harus dilakukan dengan hati-hati mengingat dinamika emosi, bias algoritma, dan keragaman konteks komentar yang sangat luas. 

Oleh karena itu, klasifikasi yang saya gunakan dalam tulisan ini bersifat sementara dan deskriptif, bukan hasil survei empiris yang definitif. Namun demikian, dari pola-pola respons yang muncul, saya melihat masyarakat cenderung membentuk tiga corak besar dalam memaknai peristiwa ini: penerimaan fatalistik, kritik rasional terhadap dalih takdir, dan refleksi teologis moderat yang mencoba menyeimbangkan antara iman dan tanggung jawab manusia.

Kelompok pertama menunjukkan kecenderungan untuk menerima peristiwa tersebut sebagai ketentuan Ilahi yang harus dijalani dengan sabar dan ikhlas. Narasi yang berkembang di kalangan ini menegaskan bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah bagian dari kehendak Allah, dan manusia wajib berserah diri tanpa banyak mempertanyakan sebabnya. Dalam pandangan mereka, ucapan pengasuh pesantren bukanlah bentuk pembelaan diri, melainkan ungkapan keimanan yang lahir dari hati yang sedang berduka. 

Di berbagai platform media sosial, muncul banyak ungkapan simpati dan doa seperti “Semoga para korban husnul khotimah, ini sudah takdir Allah, mari kita bersabar.” Kalimat-kalimat ini dianggap sebagai bahasa spiritual untuk menenangkan keluarga dan para santri yang ditinggalkan. Bahkan, sebagian masyarakat menilai bahwa para korban memperoleh kedudukan mulia sebagai syuhada karena meninggal di tempat ibadah saat beribadah. Namun, di sisi lain, pandangan fatalistik ini kerap dipandang mengabaikan aspek teknis dan tanggung jawab manusiawi. 

Bagi sebagian pengamat, hal ini menunjukkan kecenderungan lama dalam budaya religius masyarakat Indonesia: menghibur diri dengan konsep takdir sebelum melakukan evaluasi konkret terhadap sebab-sebab duniawi di balik tragedi.

Berbeda dengan itu, kelompok kedua muncul dengan nada yang lebih kritis. Mereka menolak penggunaan kata “takdir” jika dimaksudkan untuk menghindari tanggung jawab manusia. Pandangan ini menilai bahwa tragedi Musholla Al-Khoziny bukan semata kehendak Tuhan, melainkan juga akibat dari kegagalan manusia dalam memastikan keamanan bangunan dan lemahnya pengawasan teknis. 

Di media sosial, terutama di platform seperti X dan Facebook, banyak warganet yang mengekspresikan kemarahan dan kekecewaan. Komentar seperti “Giliran bangunan ambruk, salahin Allah” atau “Musibah bukan takdir, tapi kelalaian manusia” muncul di berbagai lini masa. Tokoh keagamaan seperti Gus Nadir juga menyampaikan pandangan senada dengan menegaskan bahwa takdir tidak boleh dijadikan alasan untuk mencuci tangan dari kesalahan. 

Analisis teknis yang muncul dari sejumlah akademisi memperkuat pandangan ini, menunjukkan bahwa struktur bangunan kemungkinan besar tidak memenuhi standar konstruksi yang semestinya. Fakta-fakta tersebut menimbulkan keyakinan di kalangan publik bahwa peristiwa tragis itu sebenarnya bisa dicegah. Karena itu, kelompok ini menyerukan penyelidikan menyeluruh dan langkah hukum yang tegas, sebagai bentuk kesadaran baru bahwa keimanan sejati tidak menafikan tanggung jawab moral dan profesional.

Di antara kedua pandangan tersebut, muncul kelompok ketiga yang berusaha menyeimbangkan antara iman dan rasionalitas. Mereka memahami bahwa takdir adalah bagian dari keimanan, tetapi pada saat yang sama menekankan bahwa manusia tetap wajib berikhtiar, berhati-hati, dan belajar dari kesalahan. 

Para ulama dan pemikir Islam dari kalangan ini mengingatkan bahwa konsep takdir seharusnya menjadi pegangan bagi korban untuk menenangkan hati, bukan menjadi alasan bagi pelaku kelalaian untuk menghindari introspeksi. Pandangan seperti ini banyak muncul dalam artikel dan opini keagamaan yang melihat tragedi Al-Khoziny sebagai momentum tafakur nasional—saat bagi umat untuk merenungkan makna iman tanpa kehilangan nalar. 

Bagi kelompok reflektif ini, beriman kepada takdir bukan berarti berhenti berusaha; sebaliknya, keimanan seharusnya menjadi dorongan untuk memperbaiki sistem, menegakkan keselamatan, dan memperkuat tanggung jawab sosial di lembaga-lembaga keagamaan.

Jika diamati secara keseluruhan, tiga corak tanggapan tersebut menggambarkan dinamika sosial dan teologis masyarakat Indonesia dalam memahami hubungan antara Tuhan dan manusia. Sebagian masyarakat masih menempatkan takdir sebagai bahasa keikhlasan dan penghiburan, sebagian lain menuntut evaluasi dan akuntabilitas, sementara sebagian lainnya berusaha menautkan keduanya dalam keseimbangan iman dan ikhtiar. Fenomena ini memperlihatkan perubahan cara berpikir umat: dari sekadar pasrah terhadap kehendak Ilahi menuju kesadaran bahwa iman sejati juga menuntut tanggung jawab.

Tragedi Musholla Al-Khoziny Buduran pada akhirnya bukan hanya tentang runtuhnya sebuah bangunan, melainkan juga tentang bagaimana masyarakat memaknai takdir dan tanggung jawab di ruang publik. Di satu sisi, takdir memberikan ketenangan spiritual; di sisi lain, tanggung jawab menjadi wujud nyata dari cinta kepada sesama manusia. Karena itu, beriman kepada takdir seharusnya tidak membuat manusia berhenti berpikir, melainkan mendorongnya untuk lebih berhati-hati, lebih sadar, dan lebih bertanggung jawab. Sebab, pada akhirnya, takdir memang milik Tuhan tetapi ikhtiar adalah bagian dari ibadah manusia.

***
Bagi yang tertarik, bisa dilanjutkan dengan tulisan di jurnal ilmiah, tentang takdir, tawakkal, dan lainnya. Karena hasil itu, nanti bisa melihat bagaimana pemhamana teologi kini dan praktik masyarakat di Indonesia. 

Sumber:
NU Online (2025), Detik Jatim (2025), Suara. com (2025), Tagar. co (2025), AnsorKroya. com (2025), Harian Disway (2025), Republika Khazanah (2025), Pikiran Rakyat Surabaya (2025).

Minggu, 28 September 2025

Sīrah Nabawiyah: Jejak Hidup Nabi Muhammad dalam Manuskrip dan Sejarah


Halimi Zuhdy

Sīrah Nabawiyah, atau kisah hidup Nabi Muhammad SAW, bukan sekadar catatan sejarah biasa. Ia adalah rangkaian kisah yang menyingkap perjalanan seorang manusia yang dipilih Allah sebagai Rasul, dari masa kelahiran hingga wafatnya, serta perjuangan beliau menyebarkan Islam di tengah masyarakat Arab abad ke-7.
Dulu, ketika penulis masih belajar di Madrasah Ibtidaiyah, mulai mengenal kisah hidup Nabi Muhammad SAW melalui sebuah kitab sederhana tapi penuh makna "Khulāṣah Nūrul Yaqīn fī Sīrah Sayyidil Mursalīn". Kitab ini diajarkan sejak kelas 3 hingga kelas 6. Dari lembar demi lembar, kami belajar bagaimana perjalanan Rasulullah dari kecil hingga wafatnya. Bahasa kitabnya ringan, sehingga mudah dicerna oleh anak-anak madrasah. Dan, sepertinya kitab ini masih populer di Madrasah dan Diniyah.

Perjumpaan setelahnya dengan kitab Sīrah tidak berhenti di situ. Saat menempuh semester pertama di kampus, khususnya di Barāmij Khāṣ li Ta‘līm al-Lughah al-‘Arabiyah, kami dikenalkan pada sebuah karya besar yang bahkan meraih penghargaan internasional sebagai kitab terbaik dunia. Kitab itu adalah ar-Rahīq al-Makhtūm (الرحيق المختوم) karya ulama India, Syaikh Ṣafiyyur-Raḥmān al-Mubārakfūrī.

Kitab yang cukup tebal ini dibagikan gratis oleh Kerajaan Saudi Arabia kepada ribuan mahasiswa di UIN Malang (sekitar tahun 2000). Rasanya seperti mendapat harta berharga sebuah buku yang bukan hanya menyajikan kisah hidup Nabi secara detail, tetapi juga menyingkapnya dengan gaya ilmiah yang kuat, berbasis sumber-sumber klasik yang otoritatif.

Dan benar saja, hingga hari ini, Ar-Rahīq al-Makhtūm masih sangat populer, dipelajari di berbagai lembaga, diterjemahkan ke banyak bahasa, dan menjadi rujukan utama dalam memahami perjalanan Nabi Muhammad SAW.

Toyyib. Sejarah dalam tradisi penulisan Sīrah mulai berkembang pada awal era Abbasiyah (abad ke-8 M). Dua tokoh besar menjadi peletak dasarnya: Ibnu Ishaq (w. 767 M), yang pertama kali mengumpulkan riwayat tentang Nabi. Ibnu Hisham (w. 833 M), muridnya, yang menyusun ulang karya gurunya hingga lebih sistematis. Al-Wāqidī (w. 823 M), penulis Kitāb al-Maghāzī yang berfokus pada peperangan Nabi.

Sejak itu, karya-karya Sīrah berkembang pesat, mencatat kelahiran Nabi, silsilah, masa muda, hingga momen besar dakwah dan peperangan kaum Muslimin.

Mengapa Sīrah Begitu Penting?

Di Indonesia, khususnya, perayaan Maulid Nabi Muhammad begitu marak, dan kesempatan yang luar biasa untuk mengenalkan Nabi Muhammad dan akhlaknya. Setiap kali ada majlis shalawat, maka di sana ada sejarah kehidupan Sang Nabi Muhammad diceritakan dengan apik. 

Bagi umat Islam, kehidupan Nabi bukan hanya sejarah, tetapi teladan. Al-Qur’an menegaskan bahwa Nabi adalah manusia, tetapi juga dimuliakan di atas manusia lainnya. Karena itu, meneladani akhlak dan perjalanan beliau menjadi nilai iman. Lebih dari itu, hadis sebagai sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an  erat kaitannya dengan peristiwa kehidupan Nabi. Maka, memahami Sīrah berarti memahami konteks ajaran Islam itu sendiri.

Menariknya, bukan hanya Muslim yang menaruh perhatian. Sejarawan Barat juga mengkaji Sīrah. Mereka terbagi dalam tiga aliran: 1. Tradisional, moderat menerima kisah klasik, hanya menolak bagian mukjizat. 2. Kritis Skeptis, menerima kerangka besar cerita, tetapi meragukan detail tertentu seperti Ignaz Goldziher. 3. Radikal,  menolak seluruh riwayat Islam klasik dan hanya mengandalkan sumber luar seperti yang ditulis Patricia Crone & Michael Cook.

Meskipun begitu, karya-karya klasik tetap menjadi sumber utama dan terus dilestarikan. Di berbagai perpustakaan dunia, tersimpan manuskrip Sīrah berusia ratusan tahun, dari abad ke-13 hingga ke-19. Beberapa di antaranya adalah: Kitab al-Syifāʾ karya Qādī ʿIyāḍ, yang menjelaskan hak-hak Nabi Muhammad SAW. Manuskrip berbahasa Arab yang mendokumentasikan perjalanan hidup beliau. Cetakan awal di Mesir, termasuk karya yang kemudian diterjemahkan ke bahasa Inggris.

Sīrah Nabawiyah bukan hanya milik umat Islam, tapi juga warisan peradaban manusia. Ia menyatukan sejarah, spiritualitas, dan ilmu pengetahuan dalam satu kisah agung: perjalanan seorang Nabi yang membawa cahaya bagi dunia.

Semoga dalam setiap rumah ada Sirah Nabawiyah yang tidak menjadi kitab sejarah, tapi menjadi panduan dan teladan dalam kehidupan.🙏📿

Cara Thalhah Mengubah Buruk Sangka Jadi Cahaya


Halimi Zuhdy

Kisah berikut adalah salah satu contoh paling indah tentang husnudhan, berprasangka baik. Kisah ini datang dari sosok mulia, Thalhah bin Abdurrahman bin Auf, seorang Quraisy yang dikenal paling dermawan di masanya.

Suatu hari, istrinya menyampaikan unek-unek dengan nada kesal, “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih buruk daripada saudara-saudaramu, wahai suamiku.”
Thalhah terkejut, lalu bertanya lembut, “Mengapa engkau berkata begitu?”

Sang istri menjelaskan, “Aku memperhatikan mereka. Saat engkau memiliki banyak harta, mereka begitu baik dan selalu dekat denganmu. Tapi saat engkau tidak punya apa-apa, mereka meninggalkanmu.”

Mendengar itu, Thalhah justru tersenyum. Dengan tenang ia menjawab, “Demi Allah, justru itu kemuliaan mereka. Mereka mendatangi kita ketika kita mampu menghormati mereka, dan meninggalkan kita ketika kita sedang tak mampu melakukannya.”

Betapa indah cara pandang Thalhah. Ia melihat sesuatu yang bisa dianggap negatif, lalu membaliknya menjadi kebaikan. Inilah buah dari hati yang lapang dan pikiran yang positif. Orang-orang seperti Thalhah akan selalu menemukan cahaya, meski orang lain hanya melihat gelap.

Sikap ini menjadi pelajaran besar. Kadang seorang istri tidak tahan melihat kesabaran suaminya, lalu melontarkan pertanyaan atau bahkan tuduhan yang bisa memancing prasangka buruk. Tetapi, seorang suami yang bijak akan meredam kegelisahan itu dengan hikmah. Ia mengubah sudut pandang, agar hati tetap damai.

Berprasangka baik bukan berarti menutup mata dari kenyataan, tapi menjaga hati agar tidak mudah terjerumus pada buruk sangka. Sebab prasangka itu, apalagi yang salah, bisa berujung pada dosa besar: fitnah dan ghibah. Bahkan kalaupun sebuah keburukan nyata adanya, menyebarkannya tetap tidak dibenarkan dalam agama, apalagi bila menyangkut urusan pribadi.

Thalhah menunjukkan jalan yang indah: ia menyebut saudaranya karim (mulia), padahal sang istri melihatnya sebaliknya. Dari sanalah kita belajar, bahwa husnudhan tidak hanya menenangkan hati, tapi juga mengajarkan kita melihat sesuatu dari sisi yang lebih baik.

Sebagaimana ungkapan indah dalam bahasa Arab:

قالت: أراهم إذا اغتنيت لزِموك، وإذا افتقرت تركوك
قال طلحة: هذا والله من كرم أخلاقهم
يأتوننا في حال قدرتنا على إكرامهم، ويتركوننا في حال العجز عن ذلك.

Sang istri berkata:
“Aku lihat mereka selalu mendekatimu ketika engkau kaya, dan meninggalkanmu ketika engkau miskin.”

Thalhah menjawab:
“Itu, demi Allah, bagian dari kemuliaan akhlak mereka. Mereka datang ketika aku mampu memuliakan mereka, dan pergi ketika aku tidak sanggup melakukannya.”

Indah sekali. Kisah singkat ini meninggalkan pesan besar: lebih baik salah dalam berprasangka baik, daripada benar dalam berprasangka buruk.

Jumat, 18 Juli 2025

Menilik Asal Kata "Dakwah" dan Falsafahnya


Halimi Zuhdy 

Kemenag Kota Malang menghadirkan 100 Da'i Daiyah Kota Malang dari berbagai organisasi keagamaan, seperti NU, Muhammadiyah, Al-Irsyad, Persis, LDII, dan lainnya dengan badan-badan otonomnya yang bergerak dalam dakwah, Muslimat, Fatayat, Aisyiah, Nasyatul Aisyiah, LDNU, IPNU, IPPNU, Pemuda Muhammadiyah dan lainnya. Acara ini dibingkai "Pembinaan Dai Daiyah Tingkat Kota Tahun 2025". 
Menarik dalam pembukaan acara yang disampaikan oleh KH. Achmad Shampton Masduqie Kepala Kemenag Kota Malang "Dai dan Daiyah harus sudah selesai dengan dirinya" kalimat ini cukup dalam, bagaimna seorang dai daiyah sudah selesai dengan dirinya, artinya kebutuhan keilmuan agamanya, emosinya, akhlaknya dan lainnya, walau memang harus terus belajar. Demikian juga apa yang disampaikan oleh KASI BIMAS Islam Kemenag, Ustadz Ahmad Hadiri, M.Ag, bahwa visi dai adalah memperbaiki umat, bukan sebaliknya, mengantarkan umat pada kebaikan-kebaikan, dan acara di atas sebagai ajang silaturahim dan memperkuat kesatuan para dai daiyah Se Kota Malang menuju satu gerakan, "memperbaiki umat"

Toyyib. Tadi pagi, sebelum memberikan materi tentang peluang dan tantangan Dai Daiyah di Era Gigital, sekilas saya menyampaikan tentang asal usul kata "Dakwah" beserta derivasinya. Karena, tidak sedikit orang atau juga dai yang memahami bahwa dakwah hanya sebagai "ceramah" atau ajakan lisan semata. Padahal, bila kita menelusuri lebih dalam, baik dari sisi bahasa Arab maupun pemaknaan istilahnya dalam Islam, dakwah (الدعوة) adalah konsep yang jauh lebih kaya dan mendalam. 
Pemahaman yang benar tentang asal katanya akan memperkaya cara kita memandang dan menjalankan misi dakwah itu sendiri. Secara bahasa, الدعوة berasal dari akar kata kerja دعا – يدعو – دعوةً, yang berarti “memanggil”, “mengajak”, atau “menyeru”. Orang yang melakukannya disebut داعية, dan dalam bentuk jamak disebut دعاة. Dari sinilah kita mengenal istilah dai atau pendakwah dalam bahasa Indonesia. (Kamus Ma'ani). 

Menariknya, para ahli bahasa Arab (lugawiyun) mengungkapkan bahwa kata الدعوة dalam penggunaannya memiliki banyak makna. Tidak hanya berarti ajakan, tetapi juga bisa bermakna: النداء (seruan), الطلب (permintaan), الدعاء (doa atau permohonan kepada Allah), الاستمالة (usaha untuk menarik hati seseorang), sebagaimana dikatakan oleh az Zamakhsyari: "دعوت فلاناً وبفلان ناديته وصحت به" "Aku memanggil si Fulan, menyerunya dan bersuara keras kepadanya." (dalam Asasul Lughah). 
 Sedangkan Al-Razi juga menambahkan "والدعوة إلى الطعام بالفتح، أي كنا في دعوة فلان"  "kata الدعوة jika dibaca fathah berarti undangan, seperti dalam kalimat 'kami berada dalam undangan si Fulan'." Dari sini kita memahami bahwa dakwah adalah aktivitas aktif untuk memanggil, menyeru, bahkan menarik simpati orang lain kepada sesuatu yang dianggap benar dan penting.

Dalam perspektif Islam, makna الدعوة tidak berhenti pada tataran bahasa. Secara istilah, kata ini berkembang menjadi dua makna besar: (1) Dakwah sebagai sinonim dari Islam itu sendiri, yaitu ketika الدعوة merujuk kepada agama Allah yang dibawa para nabi, sebagaimana disebut dalam salah satu definisi:"هي دين الله الذي بعث به الأنبياء جميعاً..." "Ia adalah agama Allah yang diutus bersama semua nabi..."

Sedangkan yang 2) Dakwah sebagai proses menyampaikan dan menyebarkan ajaran Islam. Dalam makna inilah, dakwah menjadi misi para ulama, dai, pendidik, bahkan siapa pun yang berusaha menghadirkan Islam di tengah umat manusia. Selain itu, dakwah juga dimaknai sebagai "الحث على فعل الخير واجتناب الشر، والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر..." "Dorongan untuk berbuat baik, menjauhi keburukan, memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran."

Maka, melihat keluasan makna ini, menjadi jelas bahwa dakwah bukan hanya pekerjaan lisan atau podium, tetapi misi hidup yang mencakup seluruh aspek ajakan kepada kebaikan, nilai, akhlak, dan tauhid. Bahkan ketika seseorang menulis kebaikan, membantu sesama, atau memberikan teladan dalam perilaku sehari-hari, itu pun bagian dari dakwah. Apalagi jika kita menilik salah satu ayat Al-Qur’an yang menggambarkan suasana penghuni surga: دَعْوَاهُمْ فِيهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ  [Yunus: 10] "Seruan mereka di dalamnya adalah 'subhanakallahumma'..." Ini menunjukkan bahwa dakwah juga bisa bermakna doa, seruan, atau ekspresi ketundukan kepada Allah, dan bukan semata-mata ajakan kepada orang lain.

Oh ia, dalam penggunaannya juga vareatif  dan tergantung konteksnya. Kata الدعاء juga berarti memanggil atau memohon. Menurut Imam az-Zabidi, الدعاء dengan dhammah di awal dan huruf panjang di akhir, bermakna permohonan atau kerinduan kepada Allah atas kebaikan yang ada di sisi-Nya, disertai dengan pengharapan dan permintaan, sebagaimana dalam firman Allah:  ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً  (Al-A’raf: 55). Sementara itu, menurut Ibnu Faris, sebagian orang Arab menyebut الدعوة dalam bentuk muannast dengan tambahan alif di akhir menjadi الدعوى. 

Kata الدعوى juga digunakan dalam doa, seperti dalam ungkapan kaum muslimin: اللهم أشركنا في دعوى المسلمين yang berarti "Ya Allah, sertakan kami dalam doa kaum muslimin". Dalam Al-Qur’an, bentuk ini juga muncul dalam Ayat:  دَعْوَاهُمْ فِيهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ  (Yunus: 10), yang menunjukkan bahwa seruan atau doa mereka di surga adalah bentuk pengagungan kepada Allah. Dengan demikian, kata الدعاء dan الدعوى memiliki akar makna yang sama, yaitu menyeru atau memohon, namun penggunaannya dapat berbeda tergantung konteks.

Allahua'lam bishawab

Kamis, 17 Juli 2025

Kyai Tidak Memihak Orang Desa?


Halimi Zuhdy

Belakangan saya sering dengar komentar seperti: "Kyai itu tidak tahu realitas di desa," atau "Kyai hanya ngerti kitab, bukan perasaan orang kecil." "Hiburan dan kesenangan orang desa, kok selalu dilarang, kayak paling suci dewe" Jujur, saya bingung.

Bukankah kebanyakan kyai itu justru lahir dari desa? Hidup di tengah masyarakat desa, mendengar keluh kesah warga setiap hari dari masalah utang, tahlilan, jenazah yang belum punya kain kafan, sampai urusan rumah tangga. Bahkan kyai sering kali jadi tempat pertama yang didatangi orang desa saat ada musibah.
Lalu kenapa muncul anggapan bahwa kyai tidak paham realitas orang desa? Aneh saja. Justru yang sering bicara soal desa kadang malah bukan orang desa. Ada yang merasa paling "desa", paling paham orang kecil, padahal nongkrong saja jarang sama warga. Sibuk dengan analisis dan slogan, tapi jauh dari pergaulan.

Saya jadi ingat kisah orang tua saya di Madura. Beliau asli kampung. Tapi sejak kecil, saya tidak pernah diperbolehkan menonton kerapan sapi. Katanya, karena dulu ada fatwa haram menonton karena menyiksa hewan, apalagi kalau sampai luka-luka. Ada juga larangan nonton sronen, ludruk, atau tontonan lain yang bercampur laki-laki dan perempuan. Alasannya jelas, karena ada ikhtilat, hiburan yang bisa menjurus ke maksiat. Dan sampai sekarang, tidak pernah tahu nonton karapan sapi😁. 

Jadi kadang, bukan soal kyai tidak paham. Tapi kyai melihat dari kacamata hukum dan tanggung jawab akhirat. Kadang masyarakat ingin hiburan, ingin budaya tetap hidup. Tapi kyai melihat batas. Apa yang boleh, mana yang tidak. Memang tidak semua keinginan masyarakat bisa diiyakan. Maka, di sini dialog itu penting antar berbagai kepentingan-kepentingan, walau pada akhirnya harus haram, tapi minimal sudah tahu alasannya. Memang tidak semua harus menerima, karena setiap orang/kaum punya kepentingan, tapi dimana yang lebih maslahat, itu yang harus didahulukan?!

Bukan bermaksud memihak beberapa kyai, terutama kyai yang hidup di kampung. Mereka hidup dengan keras, ada yang bertani, beternak hewan, dan lainnya. Dan tidak sedikit yang tahu suara orang kampung. Maka, dari sini aneh, kalau semua kyai dianggap bersuara dari menara gading. Ya tentunya ada beberapa kyai.he

Dan memang, tidak semua yang lama harus dipertahankan. Tapi tidak semua yang "baru" juga pasti benar. Maka, butuh bijak, kebijaksanaan, atau kalau dipertahankan, tetap dilihat ulang kemaslahatannya. Kita perlu belajar bijak. Tidak buru-buru menuduh. Kyai bukan malaikat, tapi bukan pula orang yang tidak peduli. Banyak kyai yang diam bukan karena tidak tahu, tapi karena tahu kapan harus bicara dan kapan harus menahan diri. Dan tidak semua suara yang dikelaurkan kyai, juga pasti benar. Tidaklah. 

Nabiyuna, Muhammad SAW bersabda:
"من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيراً أو ليصمت"
"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam."HR. Bukhari dan Muslim

Jadi, sebelum menyimpulkan atau mengomentari yang tidak-tidak, mungkin kita perlu diam sejenak, lalu bertanya: "Apa yang sedang dijaga oleh para kyai itu?" Barangkali bukan hanya tradisi, tapi juga keselamatan hati dan akhirat kita semua.

Hidup Paling Nikmat

(Jangan Tinggalkan 3 Hal dalam Hidup)

Halimi Zuhdy

Kadang saya iri pada tukang becak yang bisa mendengkur di atas becaknya meski matahari terik. Tidurnya lelap sekali. Saya juga iri pada para petani yang makan lahap di pinggir sawah walau hanya ikan kering dan sayur sederhana. Nelayan yang diterpa ombak pun tampak nyaman seakan perahunya rumah paling damai. Atau para pemulung dan tukang sampah yang menyeruput kopi di tumpukan sampah, tak peduli bau menyengat, mereka tertawa bebas bersama kawan-kawannya. Asyik betul. Dulu waktu ikut orang ke kebun, nasi jagung, sayur maronggih, sambal acan, dan ikan kering adalah hidangan paling nikmat. Sampai hari ini, belum ada tandingannya. Aha.
Saya jadi teringat pesan seorang al-Hakim (orang bijak):

قال حكيمٌ لابنه: يا بنيّ، في حياتك لا تتنازل عن ثلاثة: أن تأكل أفضل الطعام، وتنام على أفضل الفراش، وتسكن في أفضل البيوت. فقال الابن: نحن فقراء، فكيف لي أن أفعل ذلك؟ فقال الحكيم: إذا أكلتَ فقط عندما تجوع، سيكون ما تأكله أفضل طعام. وإذا عملتَ كثيرًا وأنت متعب، سيكون فراشك أفضل فراش. وإذا عاملتَ الناس بالمعروف، سَتسكن في قلوبهم، وبهذا تكون سكنتَ في أفضل البيوت.

Seorang lelaki bijak berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, dalam hidup jangan pernah menyerah pada tiga hal: makanlah makanan terbaik, tidurlah di ranjang terbaik, dan tinggallah di rumah terbaik.” Anaknya menjawab, “Kita ini miskin. Bagaimana mungkin?” Si bijak berkata, “Jika kamu makan hanya ketika benar-benar lapar, apa pun yang kau makan akan terasa sebagai makanan terbaik. Jika kamu bekerja keras hingga lelah, tempat tidur apa pun akan menjadi paling nyaman. Dan jika kamu memperlakukan orang-orang dengan kebaikan, kamu akan tinggal di dalam hati mereka, itulah rumah terbaik.”

Pengalaman pribadi: waktu di pesantren, apa pun terasa enak. Tidur di mana pun nyenyak. Bahagia karena bersama teman-teman senasib; ngaji jauh pun ditempuh dengan gembira. Tidak kenal restoran, hotel, atau kafe. Makan ya duduk di dapur, kadang aroma sedap bercampur bau kamar mandi tetap saja lahap. 🤣

Ada lagi pesan kiai yang selalu saya ingat: “Santri kalau mau sukses lakukan tiga hal: satu, perbanyak tidur; dua, perbanyak makan; dan yang paling penting nomor tiga: kurangi belajar.”

Kita heran: kok bisa sukses kalau belajar justru dikurangi, sementara makan dan tidur diperbanyak? Kiai lalu menjelaskan sambil tersenyum. Maksud “perbanyak makan” adalah: santri akan makan lahap kalau belajarnya “berkurang” bukan malas, tapi selalu merasa kurang dalam belajar. Baca satu halaman kitab terasa belum cukup; lanjut lagi, dan lagi. Haus ilmu. Rakus kebaikan. Karena belajar tak pernah selesai, lapar pun gampang datang—makan jadi nikmat. Lelah belajar membuat tidur singkat pun terasa panjang dan pulas; inilah makna “perbanyak tidur.” Bukan jumlah jamnya, tapi kualitas tidurnya.

Jadi, apa yang disampaikan al-Hakim: hidup itu paling nikmat justru lewat letih yang bermakna. Al-ajru ba‘da ta‘ab pahala (dan kenikmatan) datang setelah lelah.

Banyuwangi, 17 Juli 2025

***
Gambar diambil dari OmanisForTolerance. com

Jumat, 27 Juni 2025

Dalam Al-Qur'an, Rahmat Allah Selalu Didahulukan dari MurkaNya


Halimi Zuhdy

Menarik bila kita telisik lebih dalam, bahwa struktur kata dan kalimat tentang rahmat (kasih sayang) lebih banyak didahulukan dari pada azab (siksa). Dan tambah menarik lagi bila struktur ini diterapkan dalam kehidupan beragama. Terkadang pesan-pesan agama kerap kali ditampilkan oleh sebagian (entah sebagian kecil atau sebagian besar.he) dengan nada ancaman, peringatan, dan penekanan pada murka Allah. Tak sedikit penceramah yang dengan lantang menggambarkan siksa neraka, azab kubur, dan kemarahan Allah atas dosa-dosa manusia. Padahal, dalam Al-Qur’an, "Rahmati wasi'at kulla syai'".
Dalam berbagai ayat Al-Qur’an, ketika rahmat dan azab disebut bersamaan, hampir selalu rahmat Allah disebut terlebih dahulu. Misalnya dalam firman-Nya
"يَغْفِرُ لِمَن يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَن يَشَاءُ"
"Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan mengazab siapa yang Dia kehendaki." (QS. Al-Ma’idah: 18)

"إِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغْفِرَةٍ وَذُو عِقَابٍ أَلِيمٍ"
"Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar memiliki ampunan dan juga azab yang pedih."* (QS. Fushshilat: 43)

Tidak berhenti di situ, bahkan dalam hadits yang masyhur, 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ:  لَمَّا قَضَى اللَّهُ الخَلْقَ، كَتَبَ عِنْدَهُ فَوْقَ عَرْشِهِ: إِنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ غَضَبِي  رواه البخاري (7453)، ومسلم (2751)

...Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului murka-Ku..

Ini adalah pesan yang sangat kuat dan relevan untuk terus digaungkan, bahwa kasih sayang Allah jauh melampaui murka-Nya. Maka dari itu, para pendakwah, penceramah, dan guru agama sebaiknya lebih banyak menonjolkan sisi rahmat dan cinta Allah dalam menyampaikan pesan-pesan agama. Bukan untuk mengabaikan peringatan dan ancaman, tetapi agar umat merasakan bahwa agama ini dibangun atas cinta, bukan ketakutan semata.

Azab dan murka Allah tentu ada dan nyata. Namun Al-Qur’an sendiri hanya menampilkan keduanya secara tegas dalam konteks tertentu seperti terhadap pelaku kriminal, perusak tatanan, dan mereka yang keras kepala dalam penentangan terhadap kebenaran. Dalam konteks itulah terkadang azab disebut lebih dulu, seperti dalam:

"يُعَذِّبُ مَن يَشَاءُ وَيَغْفِرُ لِمَن يَشَاءُ"
(QS. Al-Ma’idah: 40) karena sedang membahas tentang para perampok dan penjahat yang mengganggu ketenteraman masyarakat.

Namun untuk umat secara umum, dan terlebih untuk para pencari kebenaran, semestinya yang dikedepankan adalah pengharapan kepada rahmat-Nya, bukan ketakutan semata terhadap hukuman-Nya.

Allah tidak menciptakan manusia untuk disiksa, tapi untuk mendapatkan rahmat dan ampunan. Dalam banyak kesempatan, Allah membuka pintu taubat selebar-lebarnya, bahkan untuk dosa yang sebanyak buih di lautan. Maka tugas utama para pendidik dan pendakwah adalah menghadirkan Allah yang Maha Penyayang dan Maha Pemaaf. Sebab manusia akan lebih terdorong untuk berubah menjadi lebih baik ketika ia merasa dicintai dan diberi harapan.

Narasi keagamaan yang mendidik adalah yang menggabungkan antara harapan dan ketakutan, namun tetap dengan porsi yang seimbang dan dalam konteks umum, harapan hendaknya lebih dominan. Itulah yang diajarkan Al-Qur’an dan itulah yang lebih sesuai dengan fitrah manusia bahwa harapan adalah bahan bakar perubahan.

Senin, 24 Februari 2025

Mewujudkan Kampus yang Berkontribusi bagi Kebermanfaatan Umat


Halimi Zuhdy

Saya duduk di shaf kedua. Menunggu kedatangan Sekjen Kementerian Agama RI. Sambil berfikir, kira-kira apa hal baru yang akan beliau sampaikan. Atau hal lama yang mungkin beliau perkuat. Karena, setiap pemimpin baru pasti membawa visi dan misi yang akan diwujudkannya. Setengah jam menunggu, beliau hadir bersama Rektor UIN Malang, Prof M. Zainuddin yang didampingi oleh para wakil rektor dan beberapa jajaran lainnya. 
Acara dimulai, setelah sambutan rektor. Bapak Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Phil. Kamaruddin Amin, MA, menyampaikan orasinya. Dalam rangka Pengarahan Sekjen di Kampus III UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Dalam paparannya, beliau menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam memberikan manfaat bagi masyarakat, baik dalam lingkup lokal maupun global.

"Terdapat tiga kampus yang berpengaruh dalam diskursus keagamaan dunia, yakni Universitas Al-Azhar di Mesir, Universitas Islam Madinah di Arab Saudi, dan Universitas Al-Musthafa di Iran", Kata beliau, bahwa penyebutan tiga kampus tadi dari hasil penelitian dari seorang peneliti di Inggris (beliau tidak menyebutkan namanya). Tiga kampus tersebut tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga menjadi sumber pemikiran yang dibawa oleh mahasiswa asing ke negara masing-masing, menciptakan jaringan intelektual yang luas dan berkelanjutan.

Terus beliau menyinggung banyak kampus, khususnya di Indonesia. Kampus Islam. Yang harus terus bergerak, tidak hanya mengejar predikat kampus Internasional, tetapi harus benar-benar berdampak pada lingkungan sekitar (khususnya) dan juga pada Indonesia. Namun, fenomena yang terjadi di banyak kampus-kampus adalah keberadaan sumber daya manusia yang melimpah tetapi kurang memberikan dampak nyata bagi lingkungan sekitar. Banyak alumni yang berhasil dalam bidang akademik, namun realitas sosial di sekitar mereka tetap tertinggal. Ada lulusan yang tidak bisa membaca Al-Qur’an, terjadi perceraian dalam keluarga, anak-anak santri mengalami masalah ekonomi, dan kondisi sosial lainnya yang memprihatinkan. Kampus, dalam hal ini, tidak boleh menjadi entitas yang terisolasi dari realitas kehidupan masyarakat.

Untuk menjawab tantangan ini, beliau menyampaikan tentang pembangunan agama ke depan harus berorientasi pada visi “Rukun, Cerdas, dan Maslahah.” Kerukunan menjadi aspek utama, mengingat keberagaman masyarakat Indonesia yang multikultural. Kementerian Agama diberikan amanah untuk menjaga harmoni sosial, menjadikannya sebagai target utama dalam pembangunan keagamaan.

Lebih dari itu, agama harus mendatangkan kemaslahatan bagi umat. Pemahaman agama tidak boleh hanya terbatas pada aspek akidah, moral, surga, dan neraka, tetapi juga harus menjadi instrumen yang solutif dalam kehidupan sosial. Dalam konteks ini, kampus memiliki tanggung jawab besar untuk menerjemahkan ajaran agama ke dalam tindakan nyata yang mendukung kesejahteraan masyarakat.

Salah satu gagasan penting yang disampaikan dalam pengarahan ini adalah konsep ekoteologi, yaitu bagaimana agama dapat menjadi dasar dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Setiap elemen dalam masyarakat keagamaan, termasuk Kanwil Kementerian Agama, KUA, dan kampus, harus menginternalisasi nilai-nilai ekologis dalam setiap kebijakan dan aktivitasnya. Kesadaran hemat energi, pengelolaan air yang bijak, serta kebersihan lingkungan harus menjadi bagian dari dakwah bil hal (dakwah melalui tindakan nyata).

Tindakan konkret yang dapat dilakukan, misalnya, bukan hanya dengan mengirimkan karangan bunga dalam acara seremonial, tetapi juga dengan menanam pohon sebagai simbol keberlanjutan dan kepedulian terhadap lingkungan.

Anomali sosial-ekonomi di Indonesia masih menjadi tantangan besar. Saat ini, terdapat sekitar 27 juta orang miskin dan sekitar 2 juta penyandang disabilitas yang membutuhkan perhatian serius. Masalah ini bukan hanya tanggung jawab negara, tetapi juga tanggung jawab kolektif seluruh elemen masyarakat, termasuk akademisi.

Dalam dunia akademik, sering kali keberhasilan diukur dari jumlah jurnal yang diterbitkan, tetapi kurang menyoroti bagaimana ilmu yang dihasilkan dapat memberikan dampak bagi masyarakat luas. Dosen dan mahasiswa harus lebih aktif dalam membangun keterkaitan antara akademisi dan realitas sosial. Sebagai contoh, meskipun banyak ahli tafsir di lingkungan akademik, tetapi masih banyak masyarakat sekitar yang kurang mendapatkan akses terhadap kajian keislaman yang mendalam. Bahkan masih banyak yang belum bisa membaca Al-Qur'an. Terus SDM yang melimpah, tapi tidak memberikan kontribusi pada lingkungannya?! 

Selain itu, tingkat perceraian yang tinggi, masalah stunting, dan kondisi anak yatim yang terus meningkat juga perlu mendapatkan perhatian lebih. Jika dalam setahun terdapat sekitar 400 ribu kasus perceraian, maka muncul pertanyaan, berapa banyak anak yatim dan janda yang perlu mendapatkan bantuan sosial? Kampus dan akademisi harus hadir untuk menawarkan solusi nyata bagi permasalahan ini.

Salah satu tantangan besar bagi dunia akademik adalah bagaimana menjadikan kampus sebagai pusat kebermanfaatan bagi masyarakat. Keberhasilan akademik tidak boleh hanya diukur dari peringkat internasional, tetapi juga dari sejauh mana kampus mampu memberikan dampak positif bagi lingkungannya.

Alumni yang telah dicetak oleh kampus harus terus berkontribusi, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Masih banyak tugas yang harus dilakukan oleh dosen dan mahasiswa dalam membangun komunitas, memberdayakan masyarakat, dan menciptakan perubahan yang berarti. Penghargaan yang tinggi perlu diberikan kepada para akademisi yang tidak hanya mengajar di dalam kelas, tetapi juga aktif dalam membina masyarakat, menyampaikan khutbah, dan berkontribusi dalam pengembangan komunitas.

Pada akhirnya, kampus tidak boleh hanya menjadi menara gading yang terpaku pada keunggulan akademik, tetapi harus menjadi institusi yang benar-benar memberikan manfaat nyata bagi umat. Dengan semangat rukun, cerdas, dan maslahah, diharapkan perguruan tinggi Islam dapat menjadi pionir dalam membangun masyarakat yang lebih baik, adil, dan sejahtera.

Malang, 24 Februari 2025