Jumat, 18 September 2026

Setiap Fir‘aun Memiliki Lautnya, Setiap Musa Memiliki Rabb-nya



Halimi Zuhdy 

لِكُلِّ فِرْعَوْنَ بَحْرٌ سَوْفَ يُغْرِقُهُ
وَكُلُّ مُوسَى لَهُ رَبٌّ سَيُنْجِيهِ

“Setiap Fir‘aun memiliki laut yang kelak akan menenggelamkannya, dan setiap Musa memiliki Tuhan yang akan menyelamatkannya.”
Kalimat ini, cukup masyhur medsos, dan terus viral sampai kapan pun. Mengapa? Karena ia realitas kehidupan dalam setiap masany. Hanya, berbeda manusia dan masa, dan kalimat di atas terasa semakin relevan ketika dibawa ke dalam kehidupan hari ini. 

Ia berbicara tentang Fir‘aun dan Musa, tetapi sesungguhnya juga berbicara tentang kita: tentang orang-orang yang merasa kuat dan mereka yang sedang berjuang; tentang mereka yang berada di atas dan mereka yang sedang terdesak; tentang kekuasaan, kesombongan, tekanan, sekaligus harapan.

Dalam kehidupan modern, Fir‘aun tidak selalu hadir sebagai seorang raja. Ia bisa menjelma menjadi seseorang yang merasa paling berkuasa, atasan yang menekan, orang yang menggunakan kedudukannya untuk merendahkan orang lain, sistem yang tidak adil, atau bahkan ego dalam diri kita sendiri.

Sebaliknya, “Musa” bisa hadir dalam diri siapa saja yang sedang berjuang mempertahankan kebenaran, menjaga harga diri, mencari nafkah, membangun keluarga, menyelesaikan pendidikan, menghadapi ketidakadilan, atau sekadar berusaha bertahan di tengah hidup yang semakin tidak sederhana.

Menariknya, kalimat ini tidak mengatakan bahwa Musa tidak memiliki masalah. Justru Musa memiliki masalah yang sangat besar: di belakangnya ada Fir‘aun, di depannya terbentang laut.

Bukankah sering kali kehidupan kita juga demikian?

Di belakang ada masalah yang mengejar. Di depan ada sesuatu yang belum kita ketahui. Pekerjaan belum selesai, ekonomi sedang sulit, hubungan sedang diuji, rencana belum berjalan, bahkan terkadang kita harus berhadapan dengan orang-orang yang memiliki kekuasaan jauh lebih besar daripada yang kita miliki.

Pada titik seperti itu, manusia mudah merasa kalah sebelum benar-benar berjuang. Kita sering melihat besarnya Fir‘aun, tetapi lupa melihat besarnya Rabb Musa.

Fir‘aun memiliki tentara. Musa hanya memiliki tongkat. Fir‘aun memiliki kekuasaan. Musa membawa keyakinan. Fir‘aun mengejar dengan kesombongan, sementara Musa berjalan dengan pertolongan Allah.

https://www.facebook.com/share/p/1EuEyvkjxE/

Di sinilah pesan kalimat tersebut: _jangan terlalu kagum kepada mereka yang sedang berada di atas, dan jangan terlalu rendah diri ketika kita sedang berada di bawah._ Sebab setiap kekuasaan memiliki batas. Setiap kesombongan memiliki akhir. Dan setiap manusia, betapapun kuatnya, tetap berada di bawah kekuasaan Allah.

Namun, kalimat ini juga bukan alasan untuk pasrah tanpa ikhtiar. Musa tidak hanya berdoa lalu berhenti berjalan. Ia tetap bergerak, tetap menghadapi keadaan, dan tetap mengikuti petunjuk Allah. Maka dalam kehidupan kita hari ini, tawakal bukan berarti duduk menunggu keajaiban. Tawakal adalah terus berjalan ketika hasil belum terlihat, terus berusaha ketika keadaan belum berubah, dan tetap percaya bahwa Allah tidak pernah kehilangan kendali atas kehidupan kita.

Barangkali hari ini kita sedang berhadapan dengan “Fir‘aun” kita masing-masing. Barangkali pula kita sedang berdiri di depan “laut” yang terasa mustahil diseberangi.

Jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa semuanya telah berakhir.

Bisa jadi, laut yang kita takuti justru menjadi jalan keselamatan yang belum kita pahami. Karena itu, ketika jalan terasa buntu, jangan hanya bertanya, “Bagaimana aku bisa keluar dari masalah ini?”

Tanyakan pula kepada diri sendiri: “Kepada siapa selama ini aku bersandar?” Sebab manusia bisa berubah. Jabatan bisa hilang. Kekuasaan bisa runtuh. Uang bisa habis. Orang-orang yang hari ini berada di samping kita pun suatu saat bisa pergi. Tetapi Allah tetap ada.

Setiap Fir‘aun memiliki lautnya. Dan setiap Musa memiliki Rabb-nya. Maka tetaplah berjalan. Tetaplah berikhtiar. Perbanyak doa. Dan jangan biarkan besarnya masalah membuat kita lupa kepada Dzat Yang Mahabesar.

Allah tidak selalu menghilangkan laut dari hadapan kita. Terkadang Dia justru membukakan jalan di tengah laut itu.

@halimizudhy3011

Jumat Mubarokah, 18/09/26

Tidak ada komentar:

Posting Komentar