Jumat, 07 Agustus 2026

Jangan Memanjangkan Pandangan (3 Pesan Al-Qur'an)



Halimi Zuhdy

Menarik kalau kita taddabburi Ayat 88 Al-Hijr: 

لَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ
Agak asing penggunakan kalimat "memanjangkan pandangan", biasanya yang panjang adalah tangan, kaki, rambut, atau benda-benda yang memanjang. Lhah, ini menggunakan kata "la tamuddanna ainaika"? Kira-kira apa artinya?

Menurut Ibnu 'Asyur, "memanjangkan pandangan" (مد العين) bukan hanya melihat biasa, tetapi melihat dengan rasa kagum, iri, dan berharap memiliki apa yang dimiliki orang lain. Seakan-akan mata "terulur" karena terpikat oleh kemewahan mereka.

Toyyib. Ada satu penyakit yang sering tidak disadari oleh banyak manusia, tapi ia diam-diam sangat menggerogoti hati, apa? Yaitu terlalu sering memandang kehidupan orang lain. 

Lho bagaimana tidak memandang kehidupan orang lain, wong hari ini kehidupan mereka dipampang di status dan di medsos? 

Allah tidak melarang kita melihat dunia, tetapi melarang "memanjangkan pandangan" kepadanya. Dalam bahasa Arab digunakan ungkapan لَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ, yakni jangan sampai matamu terus terpaku, kagum, iri, dan tenggelam dalam kenikmatan yang dimiliki orang lain. Lha, boleh melihat, tapi tidak terpaku dan tenggelam, sampai lupa pada kenikmatan yang Allah berikan kepada kita. 

Banyak orang sebenarnya tidak miskin, tetapi merasa miskin karena setiap hari membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain. Dan anehnya, bukan karena nikmat Allah kurang memberikan nikamt itu, melainkan karena mata lebih sibuk menghitung nikmat orang lain daripada mensyukuri nikmat sendiri.

Setelah melarang kita terpikat oleh dunia, Allah berfirman: "Jangan bersedih karena mereka." Jangan habiskan energi untuk meratapi orang yang memilih jalan yang salah atau menolak kebenaran. Tugas seorang mukmin adalah menyampaikan kebaikan, bukan memikul beban hidayah orang lain. Ini yang terkadang, menjadi urusan berat, karena tidak paham, bahkan kadang memaksa. 

Lalu Allah menutup ayat ini dengan perintah: "Rendahkanlah sayapmu kepada orang-orang beriman." Betapa indah urutannya. Jangan sibuk melihat ke atas kepada orang-orang yang bergelimang dunia, tetapi dekatkanlah dirimu kepada orang-orang yang beriman. Bersikaplah rendah hati, lembut, dan penuh kasih kepada mereka.

Sekarang lihatlah medos? Bagaimana antar saudara seiman saja, gaya bahasanya yang digunakan kadang seperti musuh?! Bagaimana kalimat "rendahkan sayapmu"! Tawadu', rendah hati, dan lembut. 

Hari ini media sosial membuat kita mudah "memanjangkan pandangan". Kita melihat rumah orang lain, kendaraan orang lain, liburan orang lain, jabatan orang lain, lalu tanpa sadar hati mulai gelisah. Padahal yang ditampilkan hanyalah potongan kehidupan, bukan keseluruhan kenyataan.🫩

Mungkin karena itulah Allah tidak memerintahkan kita mengawasi nikmat orang lain, tetapi menjaga pandangan hati kita sendiri. Ya Allah. 

Toyyib. Kbahagiaan tidak dimulai ketika kita memiliki lebih banyak, tetapi ketika kita berhenti membandingkan. Orang yang paling kaya bukanlah yang memiliki dunia paling banyak, melainkan yang paling sedikit menoleh kepada milik orang lain dan paling banyak menoleh kepada karunia Allah. Anak pun tak mau dibandingkan, apalagi istri? 😁

Semoga Allah menjadikan hati kita kaya dengan syukur, mata kita terjaga dari iri, lisan kita dipenuhi zikir, dan jiwa kita tenteram karena merasa cukup dengan apa yang Allah anugerahkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar