Minggu, 18 November 2018

"Jancok" Benarkah dari Bahasa Arab?

(Mencari Asal kata,  Analisis Bahasa Sederhana)
Halimi Zuhdy

IG: @halimizuhdy3011
Awalnya, ketika saya ingin menulis judul di atas agak geli, tetapi karena untuk menganalisis dan mencari kebenaran, atau mendekati kebenaran, atau mengundang orang lain untuk mengritik tulisan saya, maka saya beranikan diri untuk mengulasnya secara sederhana, dan suatu saat kalau bisa berlama-lama duduk, akan saya tulis dengan lengkap, atau bisa saya masukkan di jurnal. He

Tulisan di atas berawal dari dialog mahasiswa, yang keduanya mengucapkan kata-kata “Jancok” tanpa risau, dan sepertinya tidak ada yang merasa bersalah. Saya yang bukan berasal dari Jawa (walau masih Jawa Timur. He), agak kaget, karena selama ini bahasa tersebut paling saya takuti, karena dianggap “memisuh”, atau “mengumpat”, seperti mengungkapkan kekecewaan dan kekesalan yang luar biasa, “brengsek, keparat dan lainnya”.

Percakapan dua mahasiswa tersebut sebagaimana berikut:
“Dang, Jancok Kon, Nangendi?”, Sambil tersenyum.
“Arep, neng Kampus”, Tak ada raut wajah marah sedikitpun, ketika menjawab pertanyaan yang ada kata tersebut.
“Loh, kok misah-misuh si rek? Saya dengan nada agak marah. Karena pemahaman saya, kata itu tidak laik diungkapkan.
“Katanya, “Jancok” dari bahasa Arab ustadz?” sambil saya terbelalak朗, saya berfikir,  benarkah kata tersebut dari Bahasa Arab. Kemudian saya googling dan menemukan dibeberapa laman. 


Saya tidak akan membahas banyak tentang kata “Jancok” baik;  sejarahnya, dampaknya, dan lainnya. Saya hanya fokus pada kata tersebut, dari “asalnya” yang katanya dari Bahasa Arab. Ketika kata tersebut dikaitkan dengan bahasa Arab, adrenalin saya naik, he. 

Kata tersebut di laman wikipedia tertulis: "Versi Kedatangan Pedagang Arab : Konon Jancok berasal dari kata Da’ Suk. Da’ artinya meninggalkanlah kamu, dan assyu’a artinya kejelekan, digabung menjadi Da’Suk yang artinya tinggalkanlah keburukan. Tapi karena logat dan mulut arek Suroboyo menjadi dilafalkan JANCOK !". Asal kata tersebut oleh wikipedia ini mengambil dari laman: janjuk-id.blogspot. com. saya tidak mengedit kalimat di atas sedikit pun. He

Bila kita perhatikan dari aspek fonologi "Jancok" dengan "Da'Suk"  itu terdapat perbedaan yang cukup signifikan. "J" termasuk fonem konsonan palatal, berdasarkan daerah artikulasi bunyi terdapat beberapa macam: bilabeal, retrofleks, palatal, velar. "J" masuk pada palatal, bunyi yang dihasilkan oleh pelepasan daun lidah yang menempel pada langit-langit keras yang disertai hembusan udara dari paru-paru. Demikian juga dengan huruf "C". Keduanya merupakan kata pembeda antara "J"an"C"uk dengan "D"a "S" uk. 

Sedangkan "Da' Su'" berasal dari dua kata "Da' " ( دع) Dan "Su' " (سوء), perbedaan dengan kata "Jancok" ada huruf awal (D)  dan huruf tengah (S), dua huruf ini dalam artikulasi bunyi masuk pada bunyi  alveolar atau dental, yaitu bunyi bahasa yang dihasilkan oleh daun lidah yang menempel pada gigi atau gusi depan atas bagian dalam.

Dalam makharijul huruf "J" dan "C" mendekati "Jim" (جيم) tampatnya adalah di tenggah-tenggah lidah (wasth lisan), sedangkan "D" ujung lidah (thorf lisan). 

Dari aspek ini saja, keduanya terdapat perbedaan yang sangat signifikan, antara "J" dan "D" dari fonem konsonan yang berbeda. Walau perbedaan tersebut kadang terdapat dalam kata yang lain, namun dua fonem khusus ini, antara bahasa Jawa (juga Indonesia) dan Arab  tidak jauh berbeda.
Secara literal, "Janjuk" adalah satu ungkapan, atau satu kata yang menunjukkan sesuatu yang tidak disenangi, yang diungkap dengan satu kata "jancok". Sedangkan, "Da' Su' ", adalah gabungan dari dua kata, " Da' " yang bermakna "perintah untuk meninggalkan sesuatu" yaitu bermakna "tinggalkanlah", "Jauhkan", sebagaimana dalam kamus Ma'ani:
دَعْ مَا لاَ شَأْنَ لَكَ بِهِ : اُتْرُكْهُ دَعْنَا فِي حَالِنَا.

Sedangkan kata " su' " bermakna "kejelekan", "keburukan".
السُّوء : كل ما يقْبُحُ ، شرّ ، فساد ، قُبْح ، نقص ، عيْب ، كلّ ما يَسوء ، وقد تجمع على مساوئ على غير قياس.
Kalau dilihat dari realitas ungkapan selama ini, maka "Da'su'" , tidak memiliki siginifikansi sama sekali dengan kata "jancok", bagaimana ia mengumpat dengan cara melarang, atau melarang untuk meninggalkan keburukan, tetapi ia melakukan keburukan lain. Maka, secara makna pun,  tidak dapat dirasionalisasikan bahwa kata Da'Suk adalah asal kata dari Jancok. 

Di beberapa daerah, kata "Jancok" itu sudah mengalami perubahan makna, walau pada dasarnya, tetap masih berlaku istilah yang lebih umum (jelek), bahwa ia adalah ungkapan "brengsek dan lainnya".  Dalam kajian semantik, kata itu dapat mengalami perubahan, baik secara singkronik dan diakronik. Baik berubah kepada hal positif atau sebaliknya. Atau ada penyempitan makna, perluasan, kasar, halus, atau berubah total. 

Terkait dengan kata ini, "Jancok" , beberapa komunitas memberi makna berbeda, menuju pada hal positif, persahabatan dan lainnya, sehingga ungkapan tersebut tidak lagi dianggap jelek, tetapi dianggap baik, ini disebut dengan Ameliorasi. Sama  dengan ungkapan, "Kalb" dalam bahasa Arab, bila ungkapan itu digunakan oleh seseorang untuk ungkapan  kesetiaan, maka makna Kalb itu berubah. "Anta kalb, fi shohaby", Engkau bagai anjng dalam persahabatan. 

Belum lagi kata, akan berubah bila nabr (tekanan) juga berubah, bila "Jancok" diungkapkan dengan amarah,  memerah, dan bringas, maka sulit dimaknai dengan makna yang lain, kecuali sebuah ungkapan yang mengarah pada "memisuh, brengsek dll". Namun, bila diungkapkan sambil: ketawa, cengegesan, dan tersenyum, maka dapat memiliki makna  kekangenan, keakraban dan lainnya. 

Disinilah, setiap kata itu akan memiliki makna berbeda, walau satu kata itu sama, bila berkaitan dengan sintagmatik-paradikmatik, belum lagi bila dikaji dengan ilmu sosiolingistik, atau dikaji dengan ilmu dalalah yang disana ada siyaq, nabr (tekanan suara), mauqif, dan lainnya,  maka akan memiliki makna yang berbeda. namun penulis tidak akan mengkaji ini di sini. Karena harus turun Dari Bis. He. 

Kembali kepada kajian asal kata "Jancok", dengan beberapa realitas di atas, maka menurut penulis, kata "Jancok" itu tidak berasal dari bahasa Arab, karena hubungan keduanya sangat jauh: katanya, maknanya dan realitas sosialnya kini. Toh, kalau masih tetap dianggap dari "Da' su'", itu terlalu dipaksakan. Apalagi, tidak ada referensi yang mendukung hal tersebut.

Kata dalam suatu bahasa, banyak yang berasal dari bahasa lain, dalam bahasa Indonesia, kata-kata yang ada didalamnya dibantu (donor) dari 10 bahasa, sebagaimana dalam buku,  'Senarai Kata Serapan Dalam Bahasa Indonesia’. Dalam buku tersebut ada dari bahasa; Belanda (3.280 kata), Inggris (1.610), Arab (1.495), Sanskerta-Jawa Kuna (677), China (290), Portugis (131), Tamil (83), Parsi/Persia (63) dan Hindi (7). Demikian juga dengan bahasa Jawa, yang banyak dipengaruhi oleh Sangsekerta, dan beberapa bahasa lainnya.

Sesiapa yang merasa berdosa dengan membaca tulisan di atas, terutama ketika membaca kata "JC", maka saya anjurkan untuk beristighfar, sesuai dengan banyaknya kata dalam tulisan ini, atau bisa lebih banyak. 

Dan saya mohon maaf, bila kata ini saya ulas, walau hanya sederhana. Agar tidak memaksakan sebuah; kata, ungkapan, atau apapun, untuk ditarik kepada bahasa lain (asal), kecuali ada referensi yang mendukungnya. Dan hal di atas, kemudian menjadi sebuah pembenaran bagi yang mengamini, sebagaimana dialog mahasiswa di atas. 

Di atas Bis Malang-Surabaya, 18/11/2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar